Inevitable War

Inevitable War
Episode 20 : Lari



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


***



 


Mischa menatap Kara dengan tatapan curiga, bingung dengan alasan salah seorang pemimpin Zodijak ini kenapa menawarkan untuk membantunya yang berarti mengkhianati saudara-saudaranya sendiri.


Apakah lelaki ini memang ingin menolongnya, ataukah ingin melempar Mischa ke dalam jebakan yang lain?


“Kau mungkin meragukan motivasiku, tapi percayalah pada integritas Bangsa Zodijak. Ketika aku bilang ingin membantumu maka aku akan membantumu, lagipula aku butuh masuk ke kelompok manusia untuk mencari seseorang, dan aku tidak bisa menyamar sendirian karena penampilanku sudah pasti terlihat mencolok meskipun aku memakai mata ini,” Kara menunjuk ke arah matanya dan barulah Mischa menyadari bahwa Kara menggunakan lensa palsu yang menutup matanya dan membuat penampilannya kini  sama dengan manusia biasa.


Itu adalah lensa yang sama yang digunakan oleh Aslan untuk memerdaya Mischa sehingga membawa Aslan masuk ke dalam kelompoknya. Betapa bodoh dan naifnya Mischa saat itu. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari betapa mencoloknya penampilan Bangsa Zodijak meski dalam penyamaran sekalipun?


“Aku sudah cukup bagus untuk menyamar menjadi manusia, bukan?” Kara mengedipkan sebelah matanya dengan ironi. “Bahkan aku bisa berbicara dengan seluruh bahasa yang ada di bumi ini sehingga kau tidak perlu cemas ketika kita akan bertemu dengan orang-orang asing dari berbagai bahasa dalam pelarian kita nanti.”


Kara menyentuhkan telunjuknya di tenggorokan, “Kau pasti tahu bahwa kami memasang alat khusus di pita suara kami, alat canggih yang terhubung dengan alat lain di telinga kami, alat ini semacam penerjemah untuk pendengaran kami, dan penerjemah untuk lidah kami sehingga kendala bahasa tidak ada lagi ketika kami menjelajah untuk menemui bangsa-bangsa asing lainnya.”


Penjelasan Kara terdengar panjang lebar dan dijelaskan dengan sabar, tetapi Mischa hanya tertarik pada satu hal yang diucapkan oleh Kara tadi.


“Pelarian kita…?” tanyanya perlahan.


Kara langsung menganggukkan kepala dengan mantap mendengar pertanyaan Mischa itu,


“Ya. Kalau kau hendak meninggalkan tempat ini, maka aku akan pergi bersamamu. Kalau aku tetap tinggal disini setelah membantumu melarikan diri, tentu Aslan akan membunuhku,” Kara berucap dengan miris, bergerak pelan untuk meletakkan sesuatu ke pinggir ranjang, tidak lupa menyematkan senyuman sedihnya ketika menyadari bahwa Mischa refleks beringsut ketakutan. “Ini pakaian untukmu, pakaian yang dipakai oleh budak laki-lakiku supaya kau bisa melalui jalan keluar dengan aman,” jelas Kara perlahan, menatap sedih ke arah sobekan kain pakaian Mischa yang tadinya indah dan sekarang berhamburan di ranjang dan lantai.


Mischa melirik ke arah pakaian itu dengan rasa tertarik. Dirinya sekarang telanjang di balik selimutnya, merasa sangat tidak nyaman, dan tawaran untuk menutupi tubuhnya dengan pakaian terasa begitu menggoda.


Tapi bisakah sekarang dia meletakkan kepercayaan kepada Kara? Kepada lelaki Zodijak ini?


Kara memang tidak pernah bersikap kasar kepadanya, lelaki itu selalu ramah dan sopan… tapi apakah Mischa bisa memercayainya? Atau jangan-jangan lelaki itu memanfaatkannya untuk membawa masuk ke kawanan manusia, untuk kemudian dia akan memburu dan memangsa mereka satu-persatu?


“Kau bisa memakai pakaian itu dulu kalau kau memutuskan untuk ikut denganku, aku akan membalikkan badan,” Kara berucap dengan penuh pengertian, memahami keraguan di benak Mischa dan seketika membalikkan badan membelakangi Mischa.


Mischa memandang punggung Kara yang bidang dengan ragu, memandangnya dengan hati-hati untuk mempelajari gestur tubuhnya. Setelah diyakininya bahwa lelaki itu sama sekali tidak berniat membalikkan tubuh, Mischa memutuskan untuk mengambil pakaian itu dan memakainya.


Pakaian apapun lebih baik daripada tubuh telanjangnya saat ini. Mischa mengambil pakaian itu, merabanya dengan tangan sebelum kemudian mengambil kemeja atasan yang sepertinya milik budak laki-laki.


Mata Mischa sama sekali tidak lepas dari punggung Kara ketika dia memasukkan kemeja itu melalui kepala dan dengan cepat memasang celana untuk membungkus kakinya yang telanjang.


“Sudah?”


Kara bertanya tepat di saat Mischa kembali beringsut mundur setelah kembali memakai pakaiannya.


Mischa membuka mulut, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan, serak dan sakit akibat menangis dengan keras tadi.


“Mischa?” Kara bertanya lagi, tubuhnya bergerak sedikit seolah ingin membalikkan badan, tetapi ragu apakah Mischa sudah siap atau belum.


“Su.. sudah…” akhirnya Mischa bisa bersuara dengan suara lemah dan serak.


Kara membalikkan badan, menatap dengan pandangan terenyuh ke arah mata Mischa yang berkaca-kaca.


“Bisa berjalan?” Kara bertanya, memastikan bagaimana dia bisa membawa Mischa keluar dari area ini. Kalau Mischa tidak bisa berjalan, maka Kara terpaksa menggendongnya, dan hal itu akan terlihat mencolok di mata para pernjaga serta memperbesar resiko mereka ketahuan.


Tidak mungkin seorang pemimpin Zodijak sepertinya menggendong budaknya, bukan?


Mischa menganggukkan kepala. Tubuhnya memang terasa sakit dan nyeri, tapi dia yakin dirinya masih mampu untuk berjalan.


Kara sendiri sedikit lega ketika menyadari semangat yang mulai tumbuh di mata Mischa. Manusia perempuan ini cukup kuat, dan mereka membutuhkan kekuatan itu kalau mereka ingin melarikan diri dari sini.


Mischa membutuhkan Kara untuk pergi, dan Kara membutuhkan Mischa untuk membantunya menemukan Natasha, cinta sejatinya yang saat ini berada entah dimana.


Keputusan ini adalah keputusan terbaik. Kara tahu bahwa dengan melakukan ini dia akan menerima konsekuensi besar dari saudara-saudaranya, konsekuensi sebagai pengkhianat yang berarti membuang kedudukannya sebagai pemimpin Bangsa Zodijak dan diperbolehkan untuk dibunuh.


Tetapi itu semua sepadan…


Kara menjalani kehidupannya selama ini dengan hampa, ingin menemukan Natasha tapi tidak tahu bagaimana caranya. Kedatangan Mischa yang begitu mirip dengan Natasha seolah menjadi petunjuk baginya, pemicu Kara supaya berani mengambil langkah ini.


Entah bagaimana caranya, Kara yakin bahwa kemiripan Natasha dengan Mischa bukanlah kebetulan dan Mischa akan bisa mengantarkan Kara supaya bisa menemukan Natasha.


“Ayo,” ucapnya penuh tekad, meyakinkan diri bahwa setidaknya mereka bisa melarikan diri dari istana ini dulu sebelum ketahuan oleh Aslan sebelum memikirkan langkah selanjutnya.


Mischa memandang tangan yang terulur itu sementara keraguan meliputi hatinya. Betapapun takutnya dia, Kara tetaplah menawarkan sebuah harapan, harapan untuk meninggalkan tempat ini, karena jika Mischa menolak tawaran Kara saat ini, dia akan terjebak, terkungkung selamanya dalam kekuasaan Aslan yang kejam.


Memikirkan Aslan membuat dada Mischa terasa sakit. Sentuhkan kasar Aslan yang dipaksakan kepada dirinya masih terasa, dan ingatan menyakitkan itu masih menyiksa.


Mischa tidak akan pernah memaafkan Aslan, tidak akan pernah!


Saat ini mungkin dia hanyalah perempuan lemah yang menyerah dalam paksaan dan tidak bisa melawan, tapi Mischa berjanji dalam hati, ketika dia lebih kuat nanti, dia akan membalaskan dendamnya kepada Aslan.


Mischa menggerakkan tangannya yang gemetar dan menerima uluran tangan Kara. Kara langsung menggenggam tangan Mischa seolah takut Mischa berubah pikiran, lalu menarik Mischa untuk membantunya berdiri di tepi ranjang.


Semula Mischa masih terhuyung ketika mencoba melangkah, didera oleh rasa nyeri tak terperi yang masih tertinggal di tubuhnya.Kara mengernyit, menatap Mischa dengan penuh rasa bersalah.


“Apakah aku perlu menggendongmu?” bisiknya perlahan.


Mischa menggelengkan kepala dan menggigit bibir penuh tekad. “Tidak,” bisiknya serak, “Aku bisa sendiri.” ujarnya kemudian.


Kara mempererat genggamannya seolah ingin menyalurkan semangat, lalu bergerak cepat karena mereka tidak bisa membuang waktu lagi.


“Ayo,” ajaknya sambil membawa Mischa keluar dari kamar itu.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


“Kara melarikan istriku!”


Aslan membuka pintu dengan kasar, membuat Akrep yang masih duduk di ruang komando menoleh dengan terkejut, pun dengan  Khar dan Kaza yang sedang berada di ruang yang sama.


Kazalah yang tampak begitu pucat ketika berhasil mencerna kata-kata yang diteriakkan Aslan dengan begitu murka , lelaki itu langsung berdiri, memandang Aslan dengan tidak percaya.


“Kau yakin?” Kaza bertanya perlahan. “Karena terakhir kali aku melihat Kara tadi, dia sedang tidur, beristirahat di area kami.”


Aslan melemparkan tatapan mencela ke arah Kaza. “Saudara kembarmu itu menyelinap ke areaku begitu kau meninggalkannya. Dia tahu bahwa aku selalu pergi berendam di permandian setelah bercinta dan memanfaatkan waktu itu untuk membawa lari istriku. Begitu aku selesai berendam dan kembali ke kamarku, Mischa sudah tidak ada lagi padahal dia tidak mungkin melarikan diri kalau sendirian, karena seluruh akses masuk dan keluar tidak mungkin bisa dilalui oleh manusia biasa tanpa daya apapun. Hanya salah satu dari tujuh pemimpin Bangsa Zodijak yang bisa menembus perimeter keamanan di dalam istana dengan bebas.”


Aslan menyipitkan mata sementara gerahamnya mengeras. “Mischa sudah pasti dibantu, kalau tidak dia tidak akan bisa kabur. Para pengawalku melihat Kara dan seorang budak keluar dari areaku, tapi karena itu adalah sosok Kara, mereka tidak curiga,” mata Aslan tertuju ke arah Kaza yang tampak syok. “Kau boleh memastikan ke area Kara, Kaza. Dan aku berani  menjamin bahwa saudara kembarmu itu sudah menghilang tanpa jejak, sambil membawa istriku,” geramnya


“Tenang,” Akrep tiba-tiba menyela, lelaki itu berhasil menutupi kecemasan di matanya. “Kalau memang Kara membawa lari Mischa, mereka tidak akan bisa lari jauh, pasukan kita pasti akan bisa mengejarnya.”


“Mereka mencuri pesawat, aku sudah melakukan pengecekan,”  Sevgil terdengar menyahut tiba-tiba, sosoknya menyusul dengan cepat dan muncul di belakang Aslan. “Kara mengambil pesawat tercepat kita dan dia merusak pesawat yang lain hingga membutuhkan beberapa perbaikan sebelum kita bisa berangkat mengejarnya. Dengan waktu yang terbuang untuk memperbaiki pesawat-pesawat itu, kita sudah tertinggal jauh dan mereka bisa berada di mana saja.” Begitu Aslan mengetahui bahwa Mischa tidak ada di kamarnya, dia setengah berlari keluar untuk menemui Akrep, lalu berpapasan dengan Sevgil dan menceritakan perihal pelarian Kara dan Mischa, Sevgil selaku penanggung jawab kendaraan perang langsung berinisiatif melakukan pemeriksaan, dan hasilnya adalah apa yang baru saja dia ucapkan.


Keheningan langsung menyelimuti ruangan mendengarkan informasi yang dilemparkan oleh Sevgil kepada mereka semua, sementara itu Aslan tampak terbakar oleh kemarahan.


“Begitu pesawat siap, aku ingin membawa pasukan terbaik bersamaku,” desis Aslan dengan suara geram. “Aku sendiri yang akan memimpin perburuan,” ujarnya memutuskan, lalu membalikkan badan dan meninggalkan ruangan dengan kasar.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


Aslan melangkah masuk ke kamar peraduannya yang sekarang kosong. Kosong dalam arti sebenarnya baik secara fisik maupun secara perasaan.


Mata Aslan terpaku pada ranjang yang masih berantakan, seakan mengejek dengan menampilkan sisa percintaan yang dipaksakannya ke tubuh Mischa.


Tatapan Aslan kemudian teralihkan pada sobekan pakaian Mischa yang berserakan di lantai, membawa langkahnya mendekat dan berdiri di pinggir ranjang.


Tanpa bisa menahan diri, Aslan duduk di tepi ranjang, meraihkan jemarinya untuk meraih salah satu sobekan kain itu, memandangnya untuk kemudian membawanya ke hidung untuk menghidu aromanya.


Mata Aslan terpejam ketika aroma tubuh Mischa yang menyenangkan terhidu, memenuhi seluruh dirinya dan menciptakan sesuatu yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.


Seketika itu juga mata Aslan membuka, kali ini menyala, dipenuhi dengan kemarahan yang membara.


Dia akan memburu Mischa, dan juga Kara tentu saja. Dan ketika dia berhasil menangkap Mischa, akan dibuatnya istrinya itu menyesal telah berani-beraninya menodai kontrak pernikahan mereka dengan melarikan diri.


Dan  tentang Kara… hukuman apa yang akan diberikan kepada saudaranya yang pengkhianat itu?


Mata Aslan menggelap ketika menemukan jawaban yang dibalur dengan rasa marah….


Hukuman mati. Sudah pasti dia akan menghabisi Kara karena kekurangajarannya.


Perburuan telah dimulai dan Aslan sendiri yang akan memimpin pasukannya, dia akan mengejar dan mendapatkan Mischa kembali, akan dibunuhnya siapapun yang menghalangi.


 


﴿﴿◌﴾﴾