
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
“Aslan tidak kembali semalam.” Akrep menatap saudara-saudaranya yang sedang duduk menikmati minuman di pagi hari yang cerah.
Mereka semua tinggal di sebuah istana, yang dibuat khusus dari bebatuan hitam yang berasal dari planet asli mereka. Bebatuan itu sangat kuat, berkilauan dan tidak tertembus oleh senjata apapun yang ada di dunia manusia. Istana itu berdiri megah, setengah melayang seolah menjadi atap teduh bagi sebuah kota yang mereka putuskan akan menjadi basis pertempuran mereka. Di sekeliling istana megah itu, tampak pasukan-pasukan Bangsa Zodijak sedang berlatih, lalu lalang di pelataran, pun dengan pesawat-pesawat super canggih yang menderu melewati jendela kaca bening tempat Akrep berdiri sekarang.
Istana ini dibangun sebagai pusat kendali pemerintahan yang baru, untuk memimpin perang dan mengarahkan pembangunan peradaban baru setelah mereka semua berhasil meluluh lantakkan peradaban lama hingga hilang tanpa bekas.
Ketujuh pemimpin Bangsa Zodijak biasanya berkeliling dunia untuk memimpin pasukannya masing-masing. Tetapi akhirnya mereka akan selalu kembali ke istana ini. Kali ini, secara kebetulan, mereka semua bisa berkumpul di pagi ini, kecuali Aslan yang memang tidak pulang semalaman.
Semua yang ada di dalam ruangan itu tampak mengangkat bahu tak peduli mendengar kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Akrep, mereka semua tahu bahwa Aslan sering lupa waktu ketika sedang berburu manusia, kadang Aslan bahkan tidak pulang selama berhari-hari, dan biasanya Akrep tidak memedulikan itu.
“Kenapa kau peduli? Bukankah Aslan memang sering tidak pulang ketika dia memutuskan untuk berburu?” Sevgil bertanya dengan tenang sambil menyesap minumannya dengan nikmat.
Air. Benda berharga yang membuat mereka semua beranjak mengarungi galaksi untuk mencarinya.
Bangsa Zodijak akan mati kalau tidak mendapatkan suplai air secara berkala air. Sebuah komoditas berharga yang menjadi penentu kelangsungan hidup mereka. Dan air yang mereka butuhkan bukanlah air biasa, air asli yang berasar dari planet Zodijak bisa memberikan makanan lahir batin dan air itulah yang membangun tubuh Bangsa Zodijak menjadi sekuat ini.
Sayangnya, Planet Zodijak yang mereka tinggali mengalami krisis air seiring dengan bertambah tua usia planet tersebut. Akhirnya, ketika air yang ada di planet mereka benar-benar menipis, Bangsa Zodijak akhirnya memilih pergi. Berbekal sisa air asli Zodijak yang bisa diselamatkan, mereka mengangkat senjata di bawah tujuh pimpinan terkuat mereka dan menjelajah galaksi untuk menemukan planet-planet yang menghasilkan air untuk dikuasai.
Setelahnya, Bangsa Zodijak menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menjajah begitu banyak planet dalam waktu panjang yang tak terhitung lagi. Mereka selalu meninggalkan jejak kemenangan absolut dimanapun mereka berlabuh.
Lalu mereka akhirnya menemukan bumi. Sebuah planet yang berwarna biru karena penuh dengan air. Mereka juga menemukan bahwa komposisi kimiawi air yang ada di permukaan bumi hampir identik dengan air asli yang dihasilkan oleh Planet Zodijak.
Bumi sangat cocok guna menjadi tempat pemberhentian terakhir, tempat di mana mereka bisa menetap, berhenti berkelana dan menjelajah, lalu mulai fokus untuk membangun peradaban baru. Dan untuk menciptakan itu semua, seluruh penghuni sebelumnya, yang hanya bisa mengotori tempat ini, harus dimusnahkan.
“Aku membutuhkan Aslan disini untuk mengatur strategi perang esok hari,” Akrep berujar dengan nada terganggu.
Hampir sama seperti Akrep, Aslan memiliki kemampuan mengatur strategi yang sangat hebat. Akrep sangat ahli dengan logika sistematiknya yang didukung dengan data dan penelitian, sementara Aslan cukup ahli memanfaatkan insting berburunya yang tajam untuk meraih kemenangan. Berdua, mereka akan menciptakan strategi perang yang tak mungkin dikalahkan oleh musuh-musuhnya.
“Dia akan pulang kalau sudah puas bersenang-senang.” Sevgil menyahut dengan nada tak peduli, dengan rambutnya yang sedikit panjang dan sikapnya yang acuh tak acuh, Sevgil memang yang paling tampak urakan di antara semua saudaranya.
Sevgil sedang sibuk menatap air bening di dalam gelasnya, menyesapnya lagi lalu tersenyum lebar.
“Tahukah kau bahwa air di bumi ini sangat unik? Berbeda dengan air di planet kita dulu yang rasanya selalu identik dari manapun sumbernya, air di bumi ini memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung sumber lokasi dimana kita mengambil airnya.”
Akrep mengangkat alis dengan skeptis mendengar perkataan Sevgil. “Air tetaplah air, sesuatu yang dibutuhkan tubuh kita. Mau bagaimana rasanya aku tidak peduli, yang penting itu adalah air dan itu sudah cukup.”
Sevgil mendengus, tidak suka dengan jawaban Akrep. “Lidahmu terlalu kaku, sama seperti keseluruhan dirimu. Aku sendiri sangat tertarik menjelajah perbedaan rasa air dari bumi ini. Seolah tak ada habisnya aku mencoba berbagai jenis air di bumi dan selalu terkejut ketika menemukan rasa yang baru. Air yang berasal dari dataran tinggi, muncul dari sumber di tengah hutan memiliki rasa segar tak terperi, berbalur rasa dingin alami yang hampir menyerupai es, rasanya seperti menelan udara dingin di pagi hari dalam bentuk cairan. Berbeda dengan air yang diambil dari dataran rendah, rasanya pekat dan berbau besi, mungkin terkontaminasi oleh lingkungan disekelilingnya yang tercermar.”
Sevgil mengerutkan kening, lalu menolehkan kepala dan menatap ke arah Khar, yang paling pendiam di antara mereka semua, tahu bahwa biasanya Khar jarang membantah pendapat saudara-saudaranya yang lain. Setelahnya dia melanjutkan kalimatnya. “Air di bumi sangat labil, sangat mudah terkontaminasi dengan lingkungan sekitarnya. Untuk menjaga rasa air di bumi tetap murni, kita diharuskan menjaga lingkungan sekitar. Sedang air dari planet asal kita meskipun memiliki komposisi kimiawi yang hampir sama, sangat kuat dan tak terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Rasanya selalu identik meskipun kita mengambilnya dari genangan di bawah tanah sekalipun.”
Sevgil terdiam, matanya mengawasi sekeliling, menunggu tanggapan dari saudara-saudaranya dan akhirnya hanya menghembuskan napas sedikit jengkel ketika mereka semua memilih tidak menanggapi. Meskipun begitu, Sevgil tidak menyerah, dia berbicara lagi ke arah Khar.
“Tahukah kau bahwa di bumi ini, air bukan hanya bisa dihasilkan dari sumber air seperti danau, laut atau sungai, tetapi kita bisa memerasnya dari buah-buahan?”
Khar hanya melirik sedikit, lalu membuang muka. Lelaki itu tidak suka berbicara dan sangat bertolak belakang dengan Sevgil yang suka mengoceh tanpa henti
“Aku sedang menikmati yang kau bilang itu. Sari yang diperas dari buah-buahan dan difermentasikan. Terus terang, minuman ini cukup enak,” Kara-lah yang menyahut kemudian dari sudut ruangan, menunjukkan gelas berisi cairan merah yang dipegangnya. “Ini diambil dari buah yang bernama anggur, dan sensasi rasanya cukup menyenangkan.”
Sevgil baru saja membuka mulut untuk menanggapi sahutan Kara ketika tiba-tiba saja pintu ruangan mereka didorong untuk terbuka lebar dengan kasar.
Semua yang ada di dalam ruangan itu menolehkan kepala, dan menatap Aslan yang memasang wajah muram, mengenakan pakaian hitam-hitam yang menambah kemuramannya dan memanggul seorang manusia… manusia perempuan di pundaknya.
“Kau tidak pernah membawa pulang jasad mangsa yang kau bunuh,” Akrep yang pertama menyahut, tubuhnya menegang ketika menatap Aslan dan makhluk yang dipanggulnya dengan curiga. “Ada apa?”
Aslan melangkah memasuki ruangan, masih membawa Mischa yang lunglai kehilangan kesadaran di pundaknya.
Sevgil mengangkat alis. “Kau membawa budak? Seorang perempuan untuk menjadi budak?” serunya diikuti oleh tatapan mata tak percaya oleh yang lain.
Aslan tidak pernah mengangkat seorang perempuan sebagai budak sebelumnya. Bahkan bisa dibilang Aslan sangat jarang mengangkat budak. Jadi melihat Aslan datang, membawa seorang budak perempuan tentu saja menjadi suatu hal yang mengejutkan bagi mereka semua.
“Kau terluka? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?” Kaza yang sejak tadi diam langsung memberondong dengan pertanyaan.
Luka cakaran di pipi Aslan memang terlihat mencolok, luka itu sudah mengering tapi tetap saja menyisakan bekas luka yang tak bisa diabaikan.
Itu memang aneh mengingat Bangza Zodijak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri dengan cepat. Bekas luka seperti yang ada di pipi Aslan seharusnya bisa hilang tanpa bekas dalam sekejap bukannya masih menggores dengan garis merah mencolok di pipi Aslan seperti saat ini.
Aslan membanting tubuh lunglai Mischa di atas sofa yang kosong, berkacak pinggang dan menatap Mischa yang masih tidak sadarkan diri.
“Dia, manusia perempuan itu yang melakukannya,” ucap Aslan kemudian sambil mengedikkan dagu ke arah Mischa, membuat yang lainnya langsung menegang, menatap terkejut dan tak percaya
"Itu tidak mungkin!” Akrep melangkah maju dengan waspada, membungkuk di atas tubuh Mischa yang terbaring di atas sofa dan mata tajamnya langsung melirik ke kuku-kuku jari Mischa.
Ada darah mengering berwarna gelap di sana, dan Akrep menghidu aroma khas darah Aslan di sana. Itu saja sudah menjadi bukti nyata bahwa apa yang dikatakan oleh Aslan benar adanya.
Akrep terpaku, menatap ke arah Mischa dan Aslan bergantian, lalu ekspresinya berubah serius.
“Seorang perempuan biasa bisa melukai Kaum Zodijak dengan tangan kosong?” ujarnya lambat-lambat. “Jangan-jangan manusia perempuan ini adalah produk dari laboratorium senjata penelitian yang dibuat oleh manusia, untuk melawan kita?”
“Aku pikir juga begitu,” Mata Aslan yang gelap seluruhnya terpaku ke arah Mischa. “Jika memang mereka mengembangkan senjata seperti ini, berarti kita telah meremehkan kemampuan manusia selama ini. Mereka menciptakan makhluk kuat dalam bungkus tubuh manusia perempuan yang seolah rapuh tak berdaya. Kita harus mengatur ulang strategi kita karena musuh yang kita hadapi ternyata tak sebodoh yang kita kira.”
“Hei, berhenti bersikap terlalu serius,” Kara bangkit dari duduknya, melangkah ke depan, berdiri di samping Akrep lalu menunduk mengamati wajah Mischa yang tampak damai dengan mata terpejam.
“Perempuan yang cantik,” suara Kara berubah bimbang, membuat yang lainnya saling berpandangan karena mereka tahu pasti bahwa penampilan manusia perempuan ini seperti membuka kembali luka lama bagi Kara. “Aku pikir kita bisa menunggu sampai perempuan ini bangun. Siapa tahu dia akan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.”
“Kita memang harus menunggu perempuan ini bangun untuk mendapatkan jawaban,” Aslan menyela, mencoba mengalihkan tatapan mata Kara yang seolah terpaku ke wajah Mischa. “Aku sudah menggigit dan mengalirkan racunku ke darahnya. Dia akan terbangun dengan jiwa ‘kosong’ sebagai budakku dan aku harap dia akan mengalirkan informasi dengan patuh.”
“Dan kita memiliki tubuhnya untuk diteliti,” Akrep menyimpulkan dengan nada bijaksana, lalu menoleh ke arah Yesil yang sedang mengamati semua kejadian sambil menopang dagunya santai. “Yesil. Sebaiknya kau siapkan alat-alatmu, untuk meneliti tubuh perempuan ini.”
Yesil adalah satu-satunya saudara mereka yang memiliki kemampuan di bidang penelitian biologis, khususnya tubuh manusia. Mereka bisa mengalahkan manusia secara lebih efektif, selain berkat kekuatan fisik mereka, juga berkat penelitian dari Yesil yang menghasilkan data akurat menyangkut kelemahan-kelemahan tubuh manusia secara biologis.
“Dia terbangun,” Khar yang sejak tadi terdiam tiba-tiba berbicara, kali ini berhasil membuat seluruh tatapan mata gelap ketujuh lelaki pemimpin Bangsa Zodijak itu tertuju pada satu perempuan yang bergerak pelan dan mengerjapkan mata karena kesadarannya telah kembali.
﴿﴿◌﴾﴾
Mischa mengerjapkan mata, dia merasa mual dan kepalanya pusing. Dirinya kehilangan orientasi, tidak ingat kenapa dia ada, bagaimana dia ada, dan apa yang terjadi kepadanya.
Ketika berhasil membuka mata dan memusatkan pikiran, Mischa langsung terpekik ketika matanya menampilkan tujuh wajah asing dengan mata hitam pekat yang tertuju ke arahnya.
Teror langsung melanda ketika dia menyadari bahwa saat ini dirinya berada di satu ruangan, dengan beberapa pasang mata berwarna gelap memandangnya tajam.Ingatannya langsung kembali, ke dini hari yang mengerikan ketika dia diserang dan digigit oleh Aslan.
Mata Mischa bergerak dengan panik dan mencari sumber dari segala kesialan nasibnya di ruangan ini. Ketika dia mengenali wajah Aslan ada di salah satu dari makhluk buas yang mengelilinginya, ketakutan langsung merayapi jiwanya, membuat Mischa pucat pasi.
Mischa mencoba bangkit dalam refleknya untuk melindungi diri, berusaha meloncat dari sofa tempatnya berada dan berakhir di tembok yang menghalangi punggungnya.
“Menjauh dariku!” teriak Mischa panik, tubuhnya gemetar ketakutan sementara matanya menatap makhluk-makhluk asing di depannya berganti-ganti, dipenuhi teror layaknya mangsa yang dirubungi banyak predator yang siap menerkamnya.
“Pergi! Menjauh dariku!”
Kara membelalakkan mata melihat reaksi Mischa, dia memandang ke arah Aslan dengan takjub.
“Kau benar-benar sudah menggigitnya? Kenapa tingkahnya seperti itu?” desisnya tak percaya.
Aslan menganggukkan kepala sambil menggertakkan gigi, kali ini bahkan Aslan sendiri tampak kebingungan.
“Aku sudah menggigitnya. Kau bisa lihat bekas luka di lehernya, bukan? Jelas-jelas ada tandaku di sana,” geramnya marah.
Bekas luka itu memang tampak nyata di leher Mischa, membentuk bayangan urat hitam laksana tato yang mengalur dan menyambung menjadi satu huruf khas yang melambangkan diri Aslan yang dinaungi rasi bintang leo.
Guratan bekas gigitan yang terukir di tubuh manusia akan muncul berbeda-beda, tergantung siapa yang menggigit mereka dan racun siapa yang mengaliri darah mereka. Karena itulah guratan itu berguna untuk menentukan budak-budak itu digigit dan dimiliki oleh siapa.
Dan guratan yang terpampang jelas di leher Mischa menunjukkan bahwa dia memang sudah ditandai oleh Aslan. Ada lambing rasi bintang leo terpatri di kulit leher Mischa nan pucat, tampak kontras sekaligus mencolok
"Tapi dia tidak berubah menjadi budakmu. Dia masih memiliki kesadarannya yang lama, bukannya menjadi kosong tanpa jiwa,” Kara berbisik lagi, kali ini penuh dengan rasa tertarik. “Sepertinya racunmu tak mempan,” tanpa bisa dicegah dan didorong oleh rasa ingin tahu yang meluap, Kara melompati sofa lalu mendesak Mischa yang ketakutan di tembok. “Aku jadi penasaran.…”
Tangan Kara bergerak, hendak mencengkeram tangan Mischa, dan refleks, Mischa memukul, menyerang dan mencakar untuk mempertahankan diri. Sayangnya, berbeda dengan ketika dia menyerang Aslan, kulit Kara terasa begitu keras, begitu tak tertembus hingga seluruh usahanya sia-sia.
Kara terus mencoba mencengkeram tangan Mischa, dan Mischa terus menjerit karena tidak mau disentuh, sampai akhirnya, Aslan meloncat gesit, berdiri di antara Mischa dan Kara, membentengi dengan tubuhnya.
“Hentikan!” Aslan meraung, membuat Kara seketika berhenti dan terpaku.
Ruangan itu hening seiring dengan kemarahan Aslan yang menguar memenuhi seluruh penjurunya.Kara sendiri meremas pergelangan tangannya, menyentuh kulit dan pipinya yang tidak terluka suatu apapun dan menatap saudara-saudaranya berganti-ganti.
“Cakarannya tidak melukai kulitku sama sekali,” simpulnya pelan, mengabaikan bentakan garang Aslan sebelumnya. “Jangan-jangan…perempuan ini hanya bisa melukai Aslan. Sepertinya perempuan ini adalah sebuah senjata yang dibuat khusus untuk membunuh Aslan…”
﴿﴿◌﴾﴾