Inevitable War

Inevitable War
Episode 104 : Zodiak ke-13



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


 


Senyum Aslan tampak masam mendengar perkataannya.


“Memangnya kau mau pergi kemana dengan kondisimu yang seperti itu? Ke dunia manusia? Bergabung dengan Kaum Penyelinap? Seperti yang dikatakan oleh Yesil, mereka tidak akan menerimamu, apalagi ketika mereka tahu bahwa kau mengandung bayi alien.” Aslan tampak geli dengan perkataannya sendiri, “Lagipula, jika kau kembali ke sana, kau tidak akan bisa memenuhi selera makanmu yang semakin lama semakin besar seiring dengan membesarnya kandunganmu. Kau akan sangat kelaparan di luar sana, Mischa. Mungkin saking kelaparannya, kau akan memangsa manusia lain untuk memenuhi hasratmu akan makanan.”


Ekspresi Mischa benar-benar ngeri ketika mendengar kata-kata Aslan itu, apalagi dia tidak bisa membaca wajah Aslan sehingga tidak bisa menentukan apakah Aslan sedang bercanda atau bukan.


“Memakan manusia?” Mischa membelalakkan mata, setengah tak percaya  setengah ketakutan. “Aku.. aku lapar, tapi aku tidak berpikir akan memakan manusia… itu tidak akan terjadi kepadaku, bukan?” ketika Aslan hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya, Mischa berubah semakin panik. “Aslan! Aku tidak akan menjadi pemakan manusia, bukan?” teriaknya meminta penjelasan.


Jawaban Aslan berupa kekehan kecil yang sangat menyebalkan, membuat Mischa melotot karena tahu bahwa Aslan telah mempermainkannya.


“Tidak lucu tahu!” sembur Mischa kesal, menghentakkan kakinya dengan marah.


Kekehan Aslan berubah menjadi tawa tertahan melihat tingkah Mischa, dia lalu melemparkan tatapan mata mengejek ke arah Mischa.


“Kelinci kecil bodoh. Tentu saja aku bercanda. Bangsa Zodijak tidak memakan manusia, manusia itu pemakan sampah dan sudah pasti dagingnya tidak enak!” ejeknya mencemooh.


Mischa membelalakkan mata, kata-kata merendahkan kaum manusia itu menyinggungnya, membuatnya tanpa pikir panjang berusaha kembali menyerang Aslan, setidaknya dia ingin mencakar dan meninggalkan bekas luka di wajah nan angkuh itu, dengan begitu barulah dia bisa sedikit puas.


Sayangnya bahkan hanya untuk mencakar saja Mischa tidak mampu, Aslan yang telah mendapatkan kekuatannya kembali mencengkeram pergelangan tangan Mischa, lalu membawa tubuh Mischa mendekat ke arahnya.


“Tinggalah di sini, aku akan memastikan kau makan dengan baik dan tidak kekurangan suatu apapun. Menyerahlah di bawah kekuasaanku, Mischa. Dan aku akan menjagamu sebagai istriku. Jangan pernah meninggalkan aku dan kau akan kupuja dengan caraku sendiri,” Aslan berucap lembut, lalu tangannya bergerak melingkari pinggang Mischa untuk kemudian mengangkat tubuh mungil perempuan itu hingga sejajar dengan tubuhnya, sebelum menghadiahkan sebuah kecupan penuh hasrat ke bibir Mischa.


 


 



 


Setelah mengajukan pertanyaan itu, tanpa menunggu jawaban Akrep, Yesil melangkah menuju meja penelitian, tempat senjata dan peluru yang menembus tubuh Aslan ada di sana untuk diteliti.


Yesil tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, tetapi kali ini dia langsung mengangkat peluru itu ke arah cahaya dan memeriksanya dengan seksama.


Bangsa manusia tidak pernah melakukannya, tapi Bangsa Zodijak selalu memberikan tanda pada senjata-senjata mereka.Mata Yesil melebar ketika menemukan apa yang dia duga, lalu menyerahkan peluru tersebut pada Akrep dan meminta Akrep melakukan hal yang sama dengannya.


Akrep pun menurut melakukannya.Setelah Akrep selesai, Yesil dan Akrep saling melempar pandang, tatapan mereka menyuarakan pemikiran yang sama meskipun dalam keheningan.


Peluru itu memiliki lambang yang khas, garis lurus yang disatukan oleh lengkungan di bagian bawah yang diikat oleh lengkungan lain sebagai lambang seekor ular.



Lambang dari Ophiuchus, Zodiak ke tiga belas.


Istilah Sang Dokter mengingatkan mereka pada Sang Penyembuh, panggilan untuk salah satu Bangsa Zodijak kuno yang memiliki kekuatan lain daripada yang lain, dia memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Karena Sang Penyembuh adalah sebuah anomali, segala tentangnya berbeda dengan Bangsa Zodijak pada umumnya.


Sang Penyembuh memiliki nama asli Imhotep dan meskipun berumur panjang, dia ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan. Imhotep merupakan salah satu Bangsa Zodijak yang tertua, berasal dari masa kuno dan memilih hidup menyendiri karena dirinya adalah satu-satunya anomali, yang berbeda dari Bangsa Zodijak.


Sudah sejak lama mereka semua kehilangan jejak Imhotep, bahkan beberapa menganggap bahwa Imhotep sudah mati.


Imhotep memang menghilang dan tak pernah menampakkan dirinya lagi sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum Akrep dan saudara-saudaranya dilahirkan di dunia ini, karena itulah keberadaan Imhotep bagi mereka sudah seperti sebuah cerita legenda yang ada tetapi tidak pernah dirasakan.


Segala sesuatu tentang Imhotep berbeda, penampilannya, kekuatannya, kemampuannya berperang, dan yang paling mencolok adalah kemampuannya menyembuhkan, seolah-olah Imhotep bukan ditakdirkan sebagai bagian dari Bangsa Zodijak.


Bahkan rasi bintang yang menaunginya bukanlah salah satu dari keduabelas rasi bintang Zodijak.


Imhotep dilindungi di bawah rasi bintang berlambang ular. Rasi bintang ke tiga belas yang dianggap ada dan tiada, yang dianggap ada tapi tidak diakui.


Mereka semua tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tetapi entah kenapa, lambang yang mereka temukan di peluru dan juga julukan Sang Dokter bagi pemimpin kelompok dengan kekuatan aneh tersebut yang memiliki asosiasi sama dengan Sang Penyembuh, belum lagi ditambah dengan pengetahuan musuh mereka mengenai air suci Zodijak yang seharusnya hanya diketahui oleh Bangsa Zodijak saja, membuat mereka mau tak mau berpikir ke arah sana.


Lambang ular selalu diasosiasikan dengan lambang kedokteran, obat atau penyembuhan, bahkan di bumi sekalipun lambang kesehatan diwujudkan dalam bentuk ular. Apakah mungkin meskipun ini mustahil? Bahwa Imhotep sudah mendahului mereka dan menyambangi bumi sejak masa lampau?


 


 



 


Keheningan di antara Yesil dan Akrep terpecahkan  ketika Aslan memasuki ruangan. Lelaki itu mengerutkan kening ketika melihat ekspresi serius kedua saudaranya ketika bercakap-cakap.


“Apakah aku ketinggalan sesuatu?” Aslan menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, menatap dalam ke arah dua saudaranya.


Sementara itu Akrep yang menyadari kehadiran Aslan langsung balas mengamati Aslan dengan seksama.


“Kau sudah sembuh,eh?” tanyanya dengan nada penuh arti, sengaja melemparkan pandangan mengejek ke arah Aslan.


Aslan menipiskan bibir menerima isyarat tak terucap tersebut, dia lalu membalas tatapan mata Akrep dengan tajam.


“Hanya butuh bercinta semalaman dengan Mischa untuk menyembuhkan diriku,” sejenak Aslan tidak bisa menyembunyikan seringai puas di wajahnya yang muncul ketika mengingat percintaannya semalam dengan Mischa. “Meskipun begitu, tentu aku tidak bisa mengabaikan peluru yang berhasil menembus kulit dan melukaiku. Kerusakannya amat dahsyat dan aku tidak pernah terluka sampai seperti itu sebelumnya. Jika Mischa tidak ada untuk menyembuhkanku, mungkin aku benar-benar mati,” Aslan mengerutkan kening, menatap Yesil dengan tidak menyembunyikan nada menuntut di dalam suaranya, “Apakah kau sudah berhasil mengetahui apa yang terjadi?”


Yesil menggelengkan kepala. “Saksi mata kita masih belum mau membuka mulut, kami hanya tahu dia bernama Kale dan senjata yang dibuatnya berasal dari Sang Dokter.”


“Sang Dokter… sosok yang sama seperti yang diinformasikan oleh Khar dan Sevgil sebelumnya.” Aslan menganggukkan kepala sedikit, “Ada petunjuk lain yang kau temukan? Siapakah Sang Dokter ini dan kenapa dia bisa sehebat itu?”


Yesil mengangsurkan peluru yang sebelumnya tertanam dalam tubuh Aslan, dan Aslan menerimanya sambil mengerutkan kening


.“Apa ini?” tanyanya tidak mengerti.


“Lihatlah di bawah cahaya,” ujar Yesil tenang dengan nada menyuruh tersembunyi.


Aslan langsung melakukannya, dan ketika dia melihat tanda rasi bintang ketiga belas terukir menyala berwarna biru di peluru itu, wajahnya memucat.


“Imhotep? Sang Penyembuh abadi?” Aslan menyerahkan kembali peluru itu kepada Yesil yang langsung menyimpannya dengan hati-hati. “Apa maksudmu? Bukankah Imhotep sudah menghilang dari planet kita sejak masa lampau? Mitologi yang berkembang mengatakan bahwa Imhotep membunuh dirinya sendiri karena tidak tahan sendirian dalam segalanya, dia adalah anomali, satu yang paling berbeda di antara seluruh Bangsa Zodijak.”


Yesil menghela napas.


“Bagaimana jika Imhotep bukannya bunuh diri tetapi memindahkan dirinya ke bumi? Aku menduga dia sudah mendarat di bumi pada jaman bumi masa lampau.”


“Kenapa kau berpikir bahwa Imhotep sudah ada di bumi masa lampau?” Akrep kali ini yang bertanya sambil bersedekap, ekspresi wajahnya tampak serius ketika mendengarkan dugaan Yesil.