Inevitable War

Inevitable War
Episode 86 : Kelemahan Kaza



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



Kara hanya melirik ke arah Kaza yang tampak begitu panik, dirinya sendiri ingin tersenyum, tetapi menahan diri demi kepuasan mengganggu saudaranya.


Ekspresi panik Kaza yang biasanya selalu bersikap acuh tentu saja tidak ternilai harganya dan Kara tahu itu semua karena Sasha meskipun Kaza sama sekali tidak mau mengakuinya.


Dengan usaha keras, Kara menjaga supaya wajahnya tetap dingin sebelum kemudian menjawab asal-asalan.


“Kau bukan anak kecil, Kaza. Kau pasti tahu arti dari perkataanku tanpa aku harus menjelaskannya.” ujar Kara kemudian, sengaja berucap lambat-lambat supaya Kaza semakin panik. Kara bahkan berhasil bersikap tak peduli, tetap menggunakan kruknya untuk menopang langkah supaya bisa berjalan semakin cepat meninggalkan Kaza.


Cengkeraman di pundak Karalah yang menghentikannya, membuatnya menoleh untuk menatap wajah yang sama persis dengan wajahnya tetapi dengan ekspresi yang kebalikan dengan ekspresinya.


Saat ini Kara memasang wajah datar dan santai, sementara Kaza hampir-hampir tidak bisa menyembunyikan emosinya.


“Apakah maksudmu Aslan akan mengambil Sasha di bawah kuasanya?” desis Kaza lambat-lambat sementara wajahnya menggelap.


Kara memperhatikan wajah Kaza dan menyadari bahwa adik kembarnya itu seolah-olah akan meledak kalau tidak ditolong dengan segera. Hal itu membuat Kara tidak tega dan akhirnya menjawab,


“Ya. Aslan akan melakukannya, dia akan meletakkan Sasha di bawah perlindungannya. Hal itu atas permintaan Mischa yang ingin melindungi Sasha darimu, karena kau masih labil dan tidak bisa mengendalikan perasaanmu sendiri.”


Mata Kaza menggelap penuh kemarahan. “Mischa…” desisnya geram. “Perempuan itu menganggap aku ancaman yang paling berbahaya, dan dia tidak sadar bahwa Aslan lebih berbahaya dariku. Apa dia lupa bahwa Aslanlah yang memasang gelang kaki dengan peledak di kaki Sasha untuk mengancam dirinya? Apa Mischa tidak sadar bahwa dengan menyerahkan Sasha di bawah perlindungan Aslan, dia akan semakin mengancam nyawa Sasha?” serunya dengan nada suara meninggi.


Kara sendiri tetap berekspresi tenang, mengawasi Kaza dengan mata gelapnya yang tajam. “Kau sendiri, Kaza? Apakah kau yakin bahwa Sasha akan lebih aman bersamamu dibanding bersama Aslan? Aslan mungkin berbahaya, tetapi dia tidak akan melukai Sasha dengan tangannya sendiri karena dia hampir tidak pernah melukai anak kecil, baik anak kecil Zodijak, maupun anak kecil manusia sekalipun. Mischa hanya perlu mengikuti kehendak Aslan dengan tidak keluar dari batas zona yang telah ditandai untuk menjaga keselamatan Sasha, selebihnya Sasha akan baik-baik saja. Tetapi jika Sasha bersamamu dan kau memiliki akses bebas untuk mengunjunginya, akankah kau memegang prinsip seorang prajurit seperti Aslan dengan tidak melukai anak kecil? Ataukah jangan-jangan kau tidak bisa menahan rasa frustasimu dan melampiaskan kemarahanmu kepada Sasha?”


Kara menyipitkan mata, menatap Kaza dengan tatapan menyelidik. “Aku bahkan curiga bahwa kau bisa lepas kendali dan memilih membunuh Sasha hanya supaya kau bisa lepas dari ikatan misterius yang kau anggap sebagai kutukan atau serangan senjata untuk melemahkanmu.”


“Aku tidak akan melukai Sasha!” Kaza berteriak lantang, memenuhi lorong dengan suaranya. Kemudian, ketika menerima tatapan Kara yang penuh arti, barulah Kaza bisa mengendalikan diri, menghembuskan napas panjang sambil menggerakkan tangan untuk mengacak rambutnya penuh rasa frustasi. “Aku… aku memang tidak menyukai anak itu juga ikatan misterius yang dibawanya, dan aku masih menganggapnya sebagai senjata hasil eksperimen manusia untuk melemahkan kita… kau sendiri tahu akibatnya pada dirimu sendiri, bukan? Apa kau tidak sadar apa yang dilakukan Natasha kepadamu?” sambung Kaza kemudian, seolah bingung merangkai kata lalu akhirnya memilih untuk menyerang.


Ekspresi Kara langsung menggelap ketika diingatkan pada Natasha, wajahnya berubah sedih, tetapi sekejap kemudian tatapannya berkilat mengancam ke arah Kara.


“Jangan pernah menyalahkan Natasha atas semua hal yang terjadi kepada diriku. Natasha tidak melemahkanku, dia menguatkanku menjadi lebih daripada diriku yang dulu. Ketika kau menyadari apa yang bisa Sasha lakukan padamu dan menerima ikatan yang menarikmu itu dengan hati terbuka, kau akan menyadari kebenaran kata-kataku,” Kara menggertakkan gigi menahan amarah. “Untuk saat ini, ketika kau tidak tahu apa-apa dan tidak pernah merasakan apa yang kurasakan, jangan pernah menghakimiku karena kau hanya tahu dari apa yang kau lihat, padahal apa yang kau lihat itu belum tentu benar.”


Kaza langsung terdiam, tertegun ketika menyadari bahwa dia tanpa sengaja telah memancing emosi Kara sampai batasnya. Saudara kembarnya itu biasanya sabar, tetapi sepertinya malam ini perasaan Kara sedang tidak enak, entah apa yang dikatakan oleh Yesil kepada Kara tadi.


Saat ini Kaza sedang tidak ingin memancing konfrontasi dengan Kara, dia membutuhkan Kara untuk memberinya informasi dan juga membantunya menemukan jalan keluar dari masalah ini.


“Aku tidak akan menyebut nama Natasha lagi dalam percakapan kita, kecuali kalau kau yang menyebutnya lebih dahulu. Aku berjanji,” Kaza langsung berkompromi, menyadari bahwa Kara masih mengerutkan kening ke arahnya. “Dan aku tidak akan menghakimimu sampai kita menemukan titik terang dari seluruh polemik ini.”


Kaza menganggukkan kepala, sekali lagi menghela napas panjang.“Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi,” ujarnya pelan, memilih kompromi paling mudah dengan tidak berpihak kemanapun, lalu pikirannya kembali pada permasalahan mereka tadi, dan dia langsung bertanya. “Apakah kau pikir… Aslan akan mengambil Sasha dengan segera?”


Kara menganggukkan kepala. “Jika Mischa berhasil membujuk Aslan malam ini, kurasa besok Aslan akan menjemput Sasha dan menempatkannya ke area miliknya. Kalau itu yang terjadi, kau tidak akan semudah itu menemui Sasha seperti ketika dia berada di bawah pengawasan Yesil.”


Kaza membelalakkan mata. “Bukannya aku ingin terus menerus menemui Sasha. Aku melihat anak itu hanya untuk memastikan dia tidak berbuat macam-macam. Kau tahu sendiri kan bahwa anak itu memiliki efek seperti Mischa kepada Aslan? ketika dia dewasa nanti dia akan membuatku gila,” ujar Kaza dengan suara ngeri. “Aku harus mengubah pikiran Aslan, membuatnya sadar bahwa Sasha lebih baik berada di bawah pengawasanku. Di areaku. Dia adalah senjata yang akan menjadi kelemahanku, bukannya tidak mungkin dia bisa membunuhku, sama seperti Mischa yang dengan mudah bisa melukai kulit Aslan yang kuat…. kau pasti berpikiran sama, bukan? Bahwa sudah seharusnya aku mengawasi kelemahanku dengan caraku sendiri?”


“Kelemahanmu?” Kara kembali menahan senyum. “Apakah seperti itu caramu memandang  Sasha?”


“Memangnya bagaimana lagi aku harus memandang anak kecil sialan itu?” sela Kaza cepat, kembali tersulut emosinya.


Kali ini Kara tidak bisa menahan seringainya, sengaja membuat Kaza kesal dengan jawabannya,


“Mungkin lebih tepat kau menyebut Sasha dengan sebutan ‘perempuan yang akan membuatmu tergila-gila setengah mati di masa depan’, begitu rasanya lebih tepat,” ujar Kaza dengan nada mengejek.



 


Mischa terperangah, mulutnya menganga dan lupa untuk menutup kembali, menatap tidak percaya ke arah Aslan dan kalimat yang baru saja diucapkan oleh laki-laki itu tadi.


Mata Mischa menelusuri wajah Aslan yang tampak santai, pun dengan tangannya yang menepuk-nepuk pahanya sendiri dengan gerakan mengundang. Mata Mischa beralih ke mata Aslan dan dia mengerutkan kening ragu,


“Kenapa aku harus mendekatimu?” tanya Mischa dengan waspada.


Aslan melirik ke arah Mischa seolah Mischa adalah anak bodoh yang sudah diberi penjelasan.


“Ya. Kau akan menyentuhku, bukan? Kurasa akan lebih enak kalau posisimu di ada di dekatku. Aku bahkan akan mengizinkanmu duduk di pangkuanku,” ujarnya tenang.


“Lebih enak?” Mischa meringis ketika wajahnya benar-benar merah ketika pikirannya sudah kemana-mana, membuatnya merasa malu.


“Tentu saja lebih enak. Kau bisa menyentuhku pelan-pelan dan aku berjanji tidak akan menghalangimu,” Aslan menjawab sekenanya dengan nada suara seolah menahan tawa. Tetapi ketika menyambung kalimatnya, ekpresi Aslan berubah serius bahkan sedikit mengancam, “Tunggu apa lagi, Mischa? Kau ingin menyelamatkan Sasha, bukan?” ujarnya mengingatkan.


Mischa menelan ludah ketika nama Sasha disebut, tahu pasti bahwa di saat inilah dia harus menerapkan apa yang diajarkan oleh Kara kepadanya.


Tadinya setelah Aslan memuaskan diri dengan tubuhnya baik di bawah pancuran maupun di ranjang sebelumnya, Mischa berpikir bahwa Aslan sudah lupa dengan janjinya dan merasa senang karena dia tidak perlu melakukan hal-hal yang begitu berat terasa untuk dilakukan seperti menyentuh Aslan.


Sayangnya alien mesum yang satu ini rupanya tidak mudah lupa, apalagi menyangkut hal-hal mesum di otaknya.Mischa menggigit bibir, melemparkan tatapan marah ke arah Aslan, tapi mau tak mau melangkah dan menaiki ranjang.


“Kemarilah,” Aslan membungkuk ketika Mischa sudah berada di dalam jangkauanya, mencengkeram pergelangan tangan Mischa lalu menariknya kasar supaya Mischa terjerembab di pelukannya. Setelah itu kedua tangannya yang kuat mencengkeram pinggang kurus Mischa dan menariknya supaya duduk di atas pangkuannya.Mischa benar-benar duduk di atas paha Aslan, dengan kedua kaki di sisi kiri dan kanan  panggul Aslan, terdiam kaku di sana dan tak berani bergerak.Aslan sendiri seolah-olah tak peduli dengan sikap kaku yang ditunjukkan oleh Mischa.


Saat ini tubuh Mischa yang mungil membuat posisi wajah mereka menjadi sejajar meskipun Mischa sedang duduk di pangkuan Aslan.Aslan lalu menyentuhkan tangannya ke tangan Mischa, dielusnya lembut kulit tangan Mischa dengan jemarinya, kemudian dibawanya tangan itu ke wajahnya, ditangkupkannya tangan Mischa di sana.


“Sentuh aku, Mischa,” perintahnya dengan nada arogan tak terbantahkan.