Inevitable War

Inevitable War
Episode 74 : Sang Dokter



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



 


“Di mana dia?”


Aslan merangsek masuk ke kediaman Yesil membuat Yesil yang tengah meneliti darah milik Vladimir mendongakkan kepala.


Dini hari telah menjelang di bumi, menciptakan gelap nan berkabut di luar sana. Yesil sendiri malahan mengangkat alis, seolah tidak menduga bahwa Aslan akan hadir di tempat ini malam ini.


“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sedang dalam masa bertempur di medan perang?” tanya Yesil cepat.


Aslan hanya menipiskan bibir, lalu menatap ke arah Yesil dengan pandangan dingin.


“Akrep dan yang lainnya menginap di udara, mereka sedang mengepung musuh dengan rapat. Musuh sudah terdesak dan tinggal menunggu waktu sampai musuh dikalahkan dan dihabisi. Sayangnya, kami harus berhenti menyerang karena malam telah menjelang dan sesuai dengan aturan perang kita, kita tidak boleh saling menyerang di malam hari serta harus menunggu sampai matahari muncul kembali. Karena tidak ada yang bisa kulakukan di sana, aku pulang.”


“Kau menempuh perjalanan bolak balik yang begitu jauh hanya untuk bertemu Mischa?” tanya Yesil seolah tak percaya. “Kau meninggalkan medan perang untuk seorang manusia perempuan? Apakah kau benar-benar Aslan saudaraku yang dulu sangat gila berperang?” sambung Yesil kembali dengan nada menggoda.


Geraham Aslan mengeras sementara matanya berubah mengancam, melemparkan tatapan penuh peringatan ke arah Yesil agar lelaki itu berhenti menggodanya.


“Aku akan mengambil Mischa. Dimana dia?” ujar Aslan dengan nada tidak sabar, memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan Yesil sebelumnya.


“Mischa ada di kamar Sasha. Terakhir kali aku melihatnya, mereka sedang tidur,” Yesil menatap Aslan dengan tatapan penuh pertimbangan. “Kaza memberikan informasi yang didapatnya dari Sasha, dan menurutku itu membuat kita harus berhati-hati, Aslan,” ujarnya kemudian.


Aslan menyipitkan mata. “Kenapa?” tanyanya singkat.


“Mengenai Mischa… Sasha berkata kepada Kaza bahwa ayah Mischa adalah seorang ilmuwan yang meneliti tentang Bangsa Zodijak. Kita harus tetap berhati-hati dengan kemungkinan bahwa Mischa adalah senjata yang dibuat untuk melemahkanmu.”


Aslan mendengus. “Senjata atau bukan, manusia perempuan itu tidak akan bisa melukaiku,” ujarnya pongah meskipun matanya tampak bersinar waspada. “Terus cari informasi tentang ayah Mischa supaya kita tahu pasti tentang hal ini,” mata Aslan beralih pada apa yang sedang diteliti oleh Yesil dan langsung bertanya. “Darah Vladimir? Apakah kau mendapatkan informasi baru dari sana?”


Yesil mengangkat bahu. “Selain bahwa ada air suci Zodijak di darah ini? Aku menduga mereka mendapatkan suplai air suci Zodijak secara berkala terus menerus dalam dosis khusus sebagai percobaan, air ini diberikan dalam proses, bukan sekali jadi. Tapi hal itu tidak mengubah struktur darah mereka secara keseluruhan seperti yang terjadi pada Mischa. Mereka memang menjadi kuat, tetapi tidak sekuat kita, itu karena meskipun darah yang mengalir di tubuh para manusia super buatan ini mirip seperti milik kita, cangkang mereka tetaplah cangkang manusia biasa yang memiliki keterbatasan.”


Yesil mengamati hasil penelitiannya dengan tatapan serius,  “Siapapun yang berada di balik ini, memiliki keinginan untuk membangun pasukan kuat yang bisa melawan pasukan Zodijak. Saat ini dia masih kekurangan sumber daya, tetapi kita tidak tahu jika nanti dia mendapatkan banyak pemasok darah sejenis dengan Mischa, mungkin saja dia bisa menjadi musuh yang patut kita perhitungkan.”


Aslan menggeram pelan. “Sebelum itu semua terjadi, kita akan menghabisinya,” ujarnya dengan nada yakin, lalu tanpa meminta izin lagi, melangkah ke arah ruangan tempat Mischa dan Sasha berada.


“Aslan,” Yesil berucap perlahan, menghentikan langkah Aslan. “Jangan sampai membangunkan Sasha. Kau tidak memakai lensa mata palsu, kau akan membuat anak itu ketakutan jika dia sampai terbangun. Saat ini kami menciptakan suasana kondusif yang membuat Sasha berpikir bahwa dirinya berada di antara manusia, supaya kami bisa mengorek informasi yang lebih dalam darinya, jadi jangan kau rusak itu semua.”


Aslan tidak menjawab, hanya mengangguk singkat sebelum melangkah masuk untuk mengambil Mischa.



Langkah Aslan terhenti ketika dirinya mendapati Mischa yang tengah berbaring pulas dengan posisi tubuh miring menghadap ke arah Sasha yang anehnya mengambil posisi tubuh yang sama.


Mata Aslan yang awas langsung mengamati dan dirinya menemukan kemiripan yang sangat kental antara ciri fisik Mischa dengan Sasha.


Mereka semua mungkin benar… bahkan kemiripan Mischa dengan Natasha juga membuat Kara hampir hilang akal karenanya…


Aslan melangkah mendekat tanpa suara, dirinya sebagai seorang pemburu, memang sudah terlatih mendekati mangsa dalam senyap dan tanpa suara.


Mata Aslan mengamati wajah Mischa yang tertidur pulas, tidak berniat untuk mengganggu lelap perempuan itu. Aslan lalu membungkuk, merengkuh tubuh Mischa ke dalam lengannya dan mengangkat perempuan itu ke dalam gendongannya.


Sejenak Mischa menggeliat di dalam gendongan Aslan, lalu memosisikan diri dengan lebih nyaman sambil menyurukkan kepala di dada Aslan sebelum kemudian kembali tenggelam di dalam tidurnya.


Mata Aslan mengamati wajah Mischa yang damai. Perempuan ini mungkin selalu tampak meledak dan waspada jika sadar, melemparkan tatapan bermusuhan tanpa jeda kepada Aslan. Tetapi ketika tidur, Mischa tampak begitu damai seperti bayi yang baru lahir.


 



 


Aslan membaringkan tubuh Mischa di ranjang, sekali lagi menatap Mischa dalam keheningan. Dirinya lalu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bergabung bersama Mischa untuk beristirahat.


Bangsa Zodijak tidak membutuhkan tidur lama untuk mengembalikan kondisi tubuhnya supaya bugar kembali, dan bahkan Aslan hampir tidak pernah tidur sebelum dirinya bertemu dengan Mischa. Tetapi ekarang entah kenapa Aslan bisa memejamkan mata dalam tidur lelap yang menenangkan, lebih lama dari yang seharusnya ketika dia sedang bersama dengan Mischa… dan dia merindukan saat-saat itu.


Karena itukah dia pulang kemari? Hanya untuk memeluk Mischa dalam tidur lelap?


Aslan berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya dan membalikkan badan untuk melangkah ke kamar mandi, hendak mengguyur kepalanya dengan air dingin supaya logikanya yang kuat kembali berkuasa dan mengalahkan sisi melankolisnya yang melemahkan.


Beberapa lama kemudian, setelah selesai membersihkan diri, Aslan melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk besar yang melilit pinggangnya.


Mata gelapnya mengarah ke tubuh Mischa yang masih meringkuk lelap di atas ranjang dalam posisi miring memunggunginya, tidak berubah posisi dari ketika dirinya meletakkan tubuh Mischa di atas ranjang tadi.


Aslan melangkah perlahan lalu berdiri terpaku di samping tempat tidur.


Hanya menatap Mischa saja membuat hasratnya naik, ingin memeluk perempuan itu dan memilikinya.


Tetapi tidak, entah kenapa saat ini dia tidak ingin mengganggu tidur Mischa.


Sambil menahan geraman, Aslan melepaskan handuknya, lalu berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimut besar untuk menutupi tubuh mereka berdua di atas ranjang. Dia berbaring telentang, menggunakan kedua tangan untuk menjadi penyangga kepala, menatap nyalang ke arah langit-langit kamar.


Keheningan terbentang beberapa lama di dalam kamar berhawa dingin itu sebelum kemudian tanpa diduga, tubuh Mischa berbalik, berguling ke arah Aslan dan mendekat untuk meringkuk ke dadanya, Mischa bahkan mengulurkan lengan dan kakinya untuk memeluk tubuh Aslan seperti guling yang enak dipeluk, membuat Aslan menunduk dengan ekspresi masam karena kembali dipaksa untuk menahan gairahnya.


“Aslan…”


Mischa mendesah dalam tidur, lalu bergelung dengan nyaman sambil menyurukkan kepala di dada Aslan.Dan panggilan tak terduga itu sudah cukup membuat mata Aslan nyalang sepanjang malam dengan tubuh panas membara.


Sia-sia saja Aslan mengguyur tubuhnya dengan air dingin tadi.



Sosok berjubah putih khas seorang ilmuwan melangkah memasuki kamar yang menjadi ruang pribadinya di area bawah tanah itu.


Kamar ini adalah ruangan rahasia yang hanya boleh dimasuki oleh dirinya sendiri, siapapun yang melanggar batas dan masuk kemari akan menerima hukuman mati tanpa kecuali dan tanpa pandang bulu.


Sang Dokter melepas jubah putihnya dan menyampirkan ke tempat yang telah tersedia. Matanya menatap ke sekeliling kamar dengan ekspresi puas.


Sebagian besar ruang kamar ini telah disulap menjadi pusat pengawasan baginya, penuh dengan layar-layar kecil yang menampilkan berbagai tampilan gambar tak terduga.


Kamera pengawas memang dipasang secara terbuka di beberapa sisi demi keamanan dan diketahui oleh anak buahnya, tetapi gambar yang muncul dari ratusan layar kamarnya ini, berasal dari kamera yang dipasang secara rahasia di tempat-tempat pribadi anak buahnya.


Hal ini bahkan hanya diketahui oleh dirinya sendiri karena seluruh teknisi yang bertugas memasang kamera tersembunyi ini telah dia bunuh demi menjaga kerahasiaan.


Dari sinilah Sang Dokter mengawasi Kale dan interaksinya dengan  Natasha tanpa sepengetahuan Kale sendiri.


Kale telah menjadi panglimanya perangnya yang cukup tangguh, kesembuhan yang diterima lelaki itu berkat air suci Zodijak telah mengubahnya menjadi abdi setia karena berutang nyawa. Tetapi akhir-akhir ini, interaksi Kale dengan tubuh Natasha yang tergolek tak sadarkan diri seolah-olah berubah menjadi interaksi penuh rasa bersalah yang membahayakan.


Dia harus berbuat sesuatu untuk menghentikan ini semua sebelum terlalu jauh.


Mata Sang Dokter berubah tajam ketika mengawasi gerak-gerik Kale dari tampilan layar di depannya. Lalu lelaki bertubuh tinggi itu melangkah ke area tempat tidurnya yang lebih privat, tempat istirahat yang disediakan untuknya… meskipun sebenarnya dia tidak pernah tidur.


Sang Dokter berdiri di depan meja besar dengan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya di dinding, dia lalu mengambil kotak kecil berwarna hitam dan membukanya.


Kotak itu berisi air bening yang berkilauan, seolah menanti.


Tangan Sang Dokter bergerak ke matanya untuk melepaskan sesuatu sebelum kemudian meletakkannya di dalam kotak air tersebut.


Sang Dokter menutup kotak hitam di tangannya, lalu menegakkan kepala dan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin.


Sang Dokter telah melepaskan lensa palsu yang selalu terpasang di matanya, dan sekarang, mata gelap berwarna hitam pekat tanpa warna putih sedikit pun membalas tatapan itu dari cermin di depannya.