
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M ER
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Sasha langsung terbatuk-batuk dengan kuat, rasanya begitu panas, sakit menyiksa hingga air matanya keluar. Sementara itu, Kaza tampak tidak sabar dengan kecerobohan Sasha, lelaki itu bergerak duduk di tepi ranjang, lalu dengan kasar menepuk-nepuk punggung Sasha, seolah mencoba membantu tetapi tidak mau terlihat membantu.
“Kenapa untuk makan dengan normal saja kau tidak bisa?” Kaza terdengar menggerutu dengan suara jahat yang sengaja supaya didengar oleh Sasha, lelaki itu lalu mengambil segelas air yang sudah berada di atas nampan dan menyodorkannya ke depan wajah Sasha, begitu dekat seolah memaksa. “Ini, minum!”
Sekali lagi tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sasha selain menuruti sikap Kaza yang pemaksa, lagipula dia benar-benar butuh minum untuk meredakan rasa panas di mulut dan hidungnya.
Tangan kecil Sasha menerima gelas itu dari tangan Kaza, lalu dia meneguknya perlahan-lahan. Air itu cukup membantu, dan setelah merasa dirinya lebih baik, Sasha menghela napas dalam-dalam, menyadari bahwa Kaza sekarang berdiri begitu dekat di sampingnya. Hal itu membuatnya kembali merasa takut.
Kaza bukannya tidak bisa merasakan rasa takut yang melingkupi seluruh diri Sasha, dan itu membuatnya merasa kesal.
“Ayo makan lagi, kau lapar bukan? Kali ini jangan melukai dirimu sendiri dalam proses makan yang menjengkelkan ini,” Kaza berucap dengan nada kasar, dan ketika Sasha tidak berbuat apa-apa seolah takut bergerak, lelaki itu berdecak tidak sabar sebelum kemudian mengambil sendok dan menyendok makanan dari mangkuk sebelum menyodorkannya ke depan mulut Sasha. Anak itu sama sekali tidak membuka mulutnya, membuat Kaza melebarkan mata marah dan mendorong sendok itu dengan kasar ke mulut Sasha dengan kasar.
“Makan!” sekali lagi Kaza mengeraskan suaranya, tahu bahwa dia membuat anak itu ketakutan tetapi tidak bisa menahan rasa jengkelnya. Kaza sibuk dengan pikirannya sendiri, membandingkan dirinya dengan Kara tak terkendali. Dibayangkannya jika saat ini Kara yang memberi makan Sasha, anak perempuan itu pasti akan menerima dengan senang hati, bukan bersikap ketakutan setengah mati.
Sikap Kaza yang memaksa membuat mata Sasha berkaca-kaca, akhirnya tidak ada yang bisa dia lakukan selain membuka mulut. Dan ketika Kaza mendorong sendok itu masuk ke mulut Sasha, memaksanya menelan, air mata mengalir tak tertahankan di pipi Sasha, pertama begitu pelan lalu akhirnya membanijir tak terkendali.
Kaza menatap ke arah Sasha yang mulai menangis terisak-isak, dan rasa frustasi memenuhi dirinya.
Sebenarnya apa yang salah dengan anak ini? Apa yang salah dengan dirinya hingga ketika dia merendahkan diri serta mencoba bersikap baik, ujung-ujungnya Sasha malahan menangis dan bukannya berterima kasih?
Kaza berdiri dengan kesal, membanting sendok itu di mangkuk sup hingga menimbulkan dentang keras yang mencipratkan isi mangkuk ke mana-mana. Kedua tangannya terkepal, sementara tubuhnya menegang menahan marah.
“Kau pasti menginginkan Kara di sini, bukan? Karena dia selalu bersikap baik kepadamu… tapi, kau tidak akan mendapatkannya!” Kaza menggertakkan gigi, melawan rasa bersalah ketika melihat Sasha menangis berurai air mata lalu sengaja mengucapkan kata untuk menyakiti. “Karena Kara sekarang sudah bertemu dengan wanita yang dicintainya, dia akan sibuk dengan perempuan itu dan melupakanmu! Kau sekarang sendirian disini. Kakak Mischamu sedang sibuk dengan urusannya sendiri, dan hanya aku yang bisa mengurusimu, jadi jangan bersikap manja dan jangan merepotkan!” seru Kaza dengan nada kejam, lalu sengaja membalikkan badan, hendak pergi dan meninggalkan Sasha sendiri.
Langkah Kaza begitu cepat menuju pintu, seolah tidak sabar meninggalkan anak perempuan yang membuat emosi dan temperamennya campur aduk tak terkendali.
Anak itu menangis terisak seolah begitu sedih dan takut tetapi tidak punya pegangan untuk menenangkannya.
Dia hanyalah seorang anak-anak. Apa yang sebenarnya kau harapkan?
Hati nurani Kaza tiba-tiba berbisik di kedalaman jiwanya dengan nada mencela, membuat dada Kaza semakin sesak. Akhirnya, Kaza tidak bisa menahan diri lagi, dia menghela napas panjang dan membalikkan tubuh kembali, melangkah mendekat lagi ke arah Sasha, lalu menghela anak kecil itu ke pelukannya dengan niat menenangkan.
“Jangan menangis. Maafkan aku,” entah kenapa kali ini Kaza berhasil menyelipkan kelembutan dalam suaranya, terdengar begitu mirip dengan Kara saudaranya.
Mischa mendongakkan kepala begitu terdengar suara Aslan menutup pintu. Ekspresi lelaki itu tampak gelap, membuat Mischa mengangkat alis.
“Kau harus pergi?” tebak Mischa dengan telak. Dia meletakkan sendok makannya di atas piringnya yang telah tandas, merasa begitu puas karena nafsu makannya telah dipenuhi, sekaligus merasa bersalah karena nafsu makannya yang tak tertahan membuatnya dengan sukarela menerima pemberian dari Bangsa Zodijak yang seharusnya menjadi musuhnya.
“Dan kenapa kau tampak begitu senang karena aku akan pergi?” Aslan menjawab ketus sementara matanya memperhatikan ke arah Mischa. “Jika aku pergi, kau harus tinggal di sini sesuai perintah.” sambungnya kemudian sambil menyipitkan mata.
“Tidak.” Mischa langsung menyampaikan kalimat bantahan, mengangkat dagunya dengan menantang seolah siap untuk berperang.
Dan Aslan terpancing. Gerahamnya berkedut seolah menahan emosi, sementara suara yang keluar dari mulutnya terdengar lebih seperti geraman.
“Tidak? Apakah kau sedang dengan gamblang menantangku, Mischa?” ujar Aslan kemudian dengan mata menyiratkan peringatan.
Sayangnya, sikap tubuh Aslan tersebut tidak berhasil mengirimkan alarm peringatan ke tubuh Mischa, perempuan itu masih dengan sikap menantangnya yang keras, siap untuk melawan.
“Tidak. Aku tidak mau kau tinggalkan sendirian di kamar ini seperti seorang tawanan pasrah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin ikut dalam diskusimu bersama saudara-saudaramu. Kau tahu aku sudah terlibat dengan musuh kalian yang bernama Imhotep itu, bukan karena dia mengancam Bangsa Zodijak, tetapi karena dia juga memiliki tujuan untuk memusnahkan manusia dari bumi ini dan mengubah mereka sebagai tentara kuat tak berjiwa demi ambisinya,” Mischa mengucapkan kalimatnya dengan lantang. “Kau harus membawaku ke pertemuan itu.”
Mata Aslan melebar, lalu bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang secara ironis berseberangan dengan mata gelapnya yang berkilat penuh kemarahan. “Apakah kau tidak sadar posisimu sehingga dengan lupa diri kau merasa berhak menuntut hakmu?” Aslan mengucapkan kalimat penghinaannya dengan telak. “Kau bukanlah atasanku, kau tidak membayarku, kau tidak memberikan apapun kepadaku. Yang kau lakukan hanyalah hidup di bawah perlindunganku, makan makanan yang kuberikan dan menikmati segala fasilitas di tempat ini dengan gratis. Semua yang kuberikan kepadamu, kenyamanan, atap untuk berlindung, kesempatan beristirahat dengan tenang, bahkan perawatan atas penyakitmu, semuanya kau dapatkan tanpa membayar apapun kepadaku. Dan sekarang dengan tak tahu malu, kau berucap padaku dengan lantang. Kau hendak mengatur apa yang harus kulakukan seolah-olah kau punya hak untuk menuntutku melakukan kewajibanku? Kewajiban apa yang harus kuberikan pada seorang manusia perempuan yang tidak membayar apa-apa kepadaku? Apa kau tidak malu bertingkah menuntut dan mengatur, padahal kau hanyalah sosok tanpa daya yang menerima segala sesuatu dariku, tetapi lupa diri bahwa sebenarnya kau hanya meminta dan tidak pernah memberi?”
Perkataan Aslan yang tajam, diucapkan dengan nada menghina serta merendahkan yang kental itu membuat pipi Mischa langsung merah padam. Tetapi dia masih punya daya untuk membantah, untuk membela harga dirinya.
“Kau… kau berbicara seolah-olah kau tidak mengambil keuntungan dariku, dari tubuhku!” tangan Mischa menunjuk ke arah tempat tidur. “Apa kau lupa bagaimana dulu kau memperkosaku, lalu setelahnya dengan arogan menarik keuntungan dari tubuhku setiap saat?” teriaknya dengan penuh tantangan, mengingatkan Aslan akan kesalahannya.
Aslan malahan mengangkat alis, pandangan matanya semakin mencemooh ke arah Mischa.
“Jadi… kau merasa berhak mendapatkan bayaran karena telah memberikan tubuhmu?” desis Aslan dengan nada menghina. “Apakah kau telah lupa pada harga dirimu sehingga seolah menjual tubuhmu kepadaku, Mischa? Kenikmatan seksual harus dibayar dengan segala fasilitas dan perlakuan seperti tuan puteri, hah?”