Inevitable War

Inevitable War
Episode 144 : Pencarian Imhotep



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )



Akrep mengangkat bahu, menunjukkan bahwa dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu.


“Aku tidak tahu. Semua informasi ini terlalu simpang siur, berpotongan tanpa arah di semua sisi hingga aku bingung untuk memadu-madankan agar menjadi satu informasi yang utuh.” Akrep menghela napas panjang. “Tetapi saat ini kita hanya bisa berpatokan bahwa Mischa sudah jelas bukan manusia biasa. Dari darah yang mengalir ditubuhnya saja, kita bisa tahu bahwa dia bukan manusia murni, dia memiliki air suci Zodijak yang mengalir di sana, seolah-olah air suci Zodijak yang kuno itu ditanamkan di tubuhnya dengan sengaja.”


“Imhotep,” kali ini Khar yang menarik kesimpulan, ekspresinya tampak yakin. “Imhotep dikenal sebagai pelopor dunia kedokteran dan pengobatan pertama di bumi ini. Aku yakin dia menguasai kemampuan untuk merekayasa genetika seseorang. Hanya saja aku berpikir bahwa jika Imhotep terlibat dalam hal ini, dia membuat perempuan-perempuan itu… para pasangan air suci itu, bukan sebagai pasangan takdir biasa,”


Khar mengerutkan kening ketika menyimpulkan pemikirannya. “Mereka dibuat sebagai kelemahan kita, sebagai senjata kita. Ya… apa yang dicurigai oleh Kaza di masa lampau sepertinya benar, perempuan-perempuan itu adalah senjata yang dimaksudkan digunakan oleh Imhotep untuk mengalahkan kita,” simpulnya dengan nada waspada.


“Tapi kau tidak boleh lupa bahwa perempuan-perempuan itu ternyata bisa menyelamatkan kita. Apakah kau lupa bagaimana Aslan ketika dia keracunan peluru dari darah Natasha? Atau bagaimana Mischa menyelamatkan Aslan?” Kara langsung membantah, seolah tidak terima bahwa Natashanya dikatakan sebagai senjata pembunuh untuknya.


Sanggahan Kara itu membuat semua yang ada di ruangan itu terdiam. Lalu tak berapa lama kemudian, Sevgil berdiri seolah baru menyadari sesuatu, ekspresinya tampak panik.


“Celaka,” ujarnya kemudian, dengan nada mendesis yang mengejutkan, membuat saudara-saudaranya yang berada di ruangan itu memusatkan perhatian kepadanya.


Pada saat itulah Aslan muncul di ambang pintu, diikuti oleh Mischa yang tampak enggan di belakangnya. Pandangan saudara-saudara lelakinya langsung tertuju pada Mischa yang Aslan mengangkat alis, rupanya kalimat Sevgil tadi terdengar oleh inderanya yang tajam.


“Celaka karena apa?” tanya Aslan dengan nada ingin tahu.


Sevgil mengerutkan kening, lalu seolah tak tenang, lelaki itu melangkah mondar-mandir di ruangan. “Kalian bilang bahwa para perempuan manusia pasangan air suci itu adalah senjata untuk kelemaan kita,” Sevgil melemparkan pandangan tajam ke arah Mischa, membuat Mischa merasa tidak nyaman. “Jika memang begitu dan jika benar Imhotep terlibat, itu berarti Imhotep saat ini sangat menginginkan perempuan-perempuan yang lain yang belum bisa kita temukan. Imhotep telah kehilangan Natasha dan juga Mischa dalam pertempuran, dia juga tidak bisa mengambil Sasha di sini, karena itu kalau dugaanku benar, dia akan mencoba mencari perempuan-perempuan yang lain sebagai amunisinya.”


Sevgil menghentikan langkah lalu menatap saudara-saudaranya dengan waspada sebelum mengutarakan pemikirannya yang menegangkan. “Jika memang apa yang dilakukan Mischa membuat Natasha dan Sasha menampilkan citra yang sama dengannya, terselubungi sinar biru terang menembus ruangan hingga ke langit dalam waku lama… kemungkinan besar perempuan yang lain yang belum kita temukan juga mengalami hal yang sama. Dan jika sinarnya yang seterang  seterang itu… bukan tidak mungkin Imhotep bisa melacaknya. Sekarang di saat kita duduk di sini membicarakan semua, Imhotep mungkin sudah bergerak berburu untuk mendapatkan perempuan-perempuan kita terlebih dahulu."



Ketika isakan dari mulut kecil itu sudah mereda, dan gemetar di tubuhnya yang mungil tersebut sudah berhenti, Kaza mengerjapkan mata menyadari apa yang dilakukannya. Dengan segera dia memundurkan tubuh untuk melepaskan pelukan, kedua tangannya mendorong pundak kecil Sasha supaya menjauh dari tubuhnya dan menjaga jarak darinya.


“Kau sudah selesai menangis?” tanya Kaza dengan suara terpaksa. Matanya menelusuri sosok Sasha dan keningnya langsung berkerut.


Anak kecil ini sungguh kacau sekali, rambutnya sekarang berantakan, pun dengan wajahnya yang memerah, basah karena tangis dan mata sembab berwarna merah. Bagaimana mungkin dirinya berjodoh dengan anak ingusan yang bahkan secara penampilan sama sekali tidak memenuhi seleranya yang tinggi?


Kaza menyukai perempuan kuat, dengan tubuh berkulit keras seperti halnya wanita Zodijak. Para perempuan Zodijak sangatlah tangguh dengan tubuh berotot yang tinggi dan sangat sepadan untuk mengimbangi para lelaki Zodijak yang memang memiliki kekuatan fisik luar biasa. Sejak dahulu, Kaza selalu beranggapan bahwa dia akan memilih salah satu wanita Zodijak yang paling kuat sebagai pasangannya, sehingga mereka nanti bisa menghasilkan keturunan yang luar biasa kuat untuk memurnikan kekuatan ras Zodijak di masa depan yang akan menjadi ras paling disegani di seluruh alam semesta ini.


Sekarang, dia dihadapkan pada kenyataan memiliki pasangan air suci berwujud manusia. Dan bukan hanya manusia biasa, ini adalah sosok anak kecil yang dilihat dari sudut manapun sama sekali tidak menarik.


Sasha begitu kecil, begitu kurus dengan tubuh serta tulang rapuh dan kulit tipis pembungkus tubuh yang sangat mudah terkoyak, bahkan oleh benda paling tidak berbahaya di dunia sekalipun. Mata Kaza mengamati sosok Sasha yang sekarang menundukkan kepala seolah ketakutan karena ditatap dengan intens seperti itu. Bibir Kaza menipis ketika menyadari bahwa pundak anak perempuan itu gemetar lagi.


Astaga. Mungkin dia masih bisa kalau bernasib seperti Aslan. Meskipun terikat pada pasangan manusia, setidaknya Mischa sangat kuat dan memiliki jiwa pejuang, hampir sama dengan jiwa yang dimiliki oleh Bangsa Zodijak. Tetapi yang dia dapat? Kenapa dia mendapatkan yang penakut dan ringkih seperti ini?


Meskipun Sasha masih anak kecil, tetapi Kaza sudah bisa membayangkan kalau anak ini tumbuh besar dan siap dipanen. Dan hal itu sama sekali tidak membangkitkan seleranya. Anak ini, meskipun nanti menjadi wanita dewasa yang siap panen, pasti akan tetap saja menjadi perempuan yang kurus, ringkih, rapuh dan mudah terluka.


Ingin rasanya Kaza memprotes nasibnya, tetapi tiba-tiba saja, Sasha mendongakkan kepala. Anak itu akhirnya berani menentang tatapan matanya, balas menatap Kaza dengan matanya yang lebar dan berkilauan. Masih ada jejak air mata di sana, tetapi sepertinya suasana hati Sasha sudah membaik dan dia tidak terisak lagi.


“Te… terima kasih atas makanannya. Maafkan aku tersedak tadi. Aku…” Sasha tampak meremas kedua tangannya dengan gugup. “Aku akan makan dan menghabiskan makanan ini tanpa sisa.” mata Sasha menelusuri makanan yang terletak di atas nampan yang tadi ditinggalkan oleh Kaza karena kemarahannya.


Ketika Kaza hanya diam mengamati dan tidak mengatakan apapun, tangan kurus Sasha lalu bergerak untuk meraih sendok makan yang tergeletak begitu saja di meja. Digenggamnya sendok itu dengan ragu, lalu perlahan, setelah yakin bahwa Kaza tidak akan melakukan apapun untuk mencegahnya, Sasha menyendok sup yang mulai mendingin sebelum kemudian membawanya ke mulut.


Kaza sedikit menyipitkan mata ketika menatap Sasha yang menelan suapan pertamanya. Anak itu tidak berani menantang matanya lagi, dan kembali melahap suapan demi suapan makanan yang dibawakan oleh Kaza untuknya.


Tanpa bisa ditahan, hati Kaza melembut oleh rasa terenyuh yang membeludak begitu saja dari dalam jiwanya. Hati nuraninya seakan mengingatkan lagi bahwa dirinya seharusnya tidak menaruh ekspetasi terlalu besar kepada Sasha, karena anak ini masih begitu muda.


Usia Sasha masih sepuluh tahun berdasarkan usia manusia, dan anak ini bisa dibilang benar-benar masih anak-anak, apalagi dibandingkan dengan dirinya yang telah menjalani kehidupan ini begitu panjang sebagai Bangsa Zodijak yang mampu menempuh perjalanan ratusan tahun cahaya melintasi galaksi tanpa menua.


“Enak?” Kaza bertanya dengan suara lembut tak terduga, membuat gerakan mengunyah Sasha terhenti seketika.