
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Beberapa pemimpin Bangsa Zodijak membawa pasukannya ke negeri timur jauh dan menyerang di sana.” Kale melapor dengan suara perlahan di depan Sang Dokter yang duduk di kursi kerjanya tanpa kata, ”Kali ini tindakan mereka berbeda dengan sebelumnya, mereka tidak menyerang untuk bermain-main atau sekedar menghabiskan energi. Mereka menyerang untuk menghabisi.”
Sang Dokter mengangkat kepala, menatap Kale dangan alis terangkat.
“Maksudmu, para pemimpin Bangsa Zodijak itu ingin menyelesaikan perang terakhirnya yang selama ini mereka tunda?” geram Sang Dokter pelan.
“Melihat dari banyaknya pesawat perang dan pasukan yang mereka bawa, saya yakin bahwa mereka berniat menghabisi Bangsa Timur jauh yang tersisa sampai luluh lantak.” Kale menganggukkan kepala. “Apalagi pengamat saya dari Bangsa Timur jauh melaporkan bahwa kali ini bukan hanya satu pesawat pemimpin mereka yang menyerang, ada tiga pesawat sekaligus yang datang, pesawat hitam dengan ukuran besar yang kita ketahui hanya dipakai oleh pemimpin mereka. Itu berarti mereka menyerang dengan mengerahkan tiga pemimpin yang membawa pasukannya masing-masing sekaligus, sebuah hal yang sangat tidak biasa, karena selama ini Bangsa Zodijak biasanya hanya mengerahkan satu atau dua pemimpin yang membawa pasukannya sendiri-sendiri untuk menghabisi lawannya dan itupun biasanya dilakukan secara bergantian.”
Sekali lagi Sang Dokter menganggukkan kepala perlahan. “Dengan mengerahkan satu pemimpin dan pasukan yang dia bawahi saja, aku yakin Bangsa Zodijak akan bisa mengalahkan Bangsa Timur jauh itu dengan mudah. Peperangan selama ini yang sengaja diperpanjang hanya karena Bangsa Zodijak ingin bersenang-senang, telah menghabiskan segala daya upaya Bangsa Timur Jauh sampai tipis, mereka sudah kepayahan dan sudah beralih menjadi metode bertahan, tidak mampu menyerang lagi. Mungkin memang memerlukan waktu sedikit lebih panjang karena kita tahu betapa gigihnya Bangsa Timur jauh mempertahankan negaranya, membuat mereka menjadi satu-satunya bangsa yang bisa bertahan sampai saat ini, tetapi Bangsa Timur jauh pada akhirnya akan bisa dikalahkan.”
Sang Dokter tampak berpikir sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya. “Dengan mengirimkan tiga orang pemimpin sekaligus, itu menunjukkan bahwa Bangsa Zodijak ingin mengakhiri perang melawan manusia dengan segera. Mereka tidak ingin bersenang-senang lagi dan diburu untuk melakukan sesuatu.”
“Dan menurut Anda, apakah sesuatu itu?” Kale bertanya penuh nada ingin tahu, tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
“Aku sendiri masih menebak-nebaknya,” Sang Dokter menjawab cepat. “Bisa jadi mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka ingin melanjutkan ke langkah selanjutnya, hidup damai dan membangun peradaban mereka di bumi.”
Kale melebarkan matanya mendengar perkataan Sang Dokter tersebut. “Maksud Anda, mereka benar-benar akan menduduki bumi untuk selamanya?”
“Itu tujuan mereka selama ini, bukan? Mengambil alih bumi dan menguasainya,” Sang Dokter menyeringai kemudian. “Tetapi kita yang paling tahu, Kale. Bahwa Bangsa Zodijak tidak akan melakukan itu semua dengan mudah, karena ada kita yang siap melawan. Mereka tidak menyadari kehadiran kita dan ketika mereka sadar, semua sudah terlambat. Kita akan melawan mereka dengan kekuatan setara dan pada akhirnya mengambil alih bumi kembali ke tangan kita.”
“Kapan itu akan terjadi?” Kale mau tak mau mengungkapkan keraguannya. Peristiwa yang terjadi kemarin tentu saja semakin membuatnya ragu, dimana sepuluh pasukan terbaik mereka yang menerima air suci Zodijak yang diberikan secara berkala dan menjadi lebih kuat dari manusia biasa, ternyata dengan mudah bisa dikalahkan oleh satu orang prajurit Zodijak dan dihabisi tanpa tersisa.
“Itu akan segera terjadi kalau kau dan pasukanmu berhasil menemukan wanita-wanita lain untuk membantu Pasien nomor satu menyuplai darah bagi pasukan kita,” mata Sang Dokter menyipit tajam, menatap ke arah Kale dengan pandangan mengintimidasi. “Apakah ada kabar baik dari pasukanmu yang bisa kau sampaikan kepadaku?” tanyanya kemudian.
Ada sesuatu dalam nada pertanyaan Sang Dokter yang membuat Kale begidik ngeri. Meskipun selalu berpenampilan tenang dengan kata-kata halus dan tak pernah meninggikan nada suaranya, Sang Dokter selalu berhasil menguarkan aura mengancam yang seolah memaksa semua manusia tunduk kepadanya.
Kalau dipikir-pikir pasukan Sang Dokter sendiri sangat kuat, bukan? Mereka sebagian besar adalah mantan tentara atau lelaki-lelaki tangguh yang menjadi semakin tangguh dengan suntikan air suci Zodijak ke darah mereka. Kekuatan otot di tubuh mereka yang tampak nyata tentu tidak sebanding dengan Sang Dokter sendiri jika dibandingkan sekilas mata.
Sang Dokter adalah lelaki setengah baya dengan tubuh ramping dan tidak pernah menanggalkan jas putih dokter khas yang selalu dikenakannya.
Jika dibayangkan, para anak buah Sang Dokter itu bisa dengan mudah menghajar sosok pemimpin mereka ini dengan mudah, tetapi pada kenyataannya, mereka tidak melakukan itu semua.
Kale sendiri contohnya, dia memiliki kekuatan besar akibat suntikan air suci Zodijak, tetapi dia tidak pernah sekalipun dia memiliki keinginan untuk melawan Sang Dokter. Sebab jangankan melawan, ditatap tajam oleh mata Sang Dokter yang menguarkan aura mengintimidasi saja dirinya langsung gentar.
“Kenapa kau terdiam?” Sang Dokter memecah lamunan Kale dengan suaranya yang halus tetapi menusuk. “Kau tidak ingin aku mengulang pertanyaanku, bukan?” ancamnya kemudian.
Kale menelan ludah, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Maafkan saya,” ucap Kale dengan nada cepat, “Saya hanya sedang memikirkan situasi. Seluruh pasukan sudah saya kerahkan untuk memindai kaum penyelinap satu persatu. Tetapi selain menemukan kaum penyelinap yang tersisa yang sedang ketakutan, kami tidak menemukan apa-apa…” Kale menelan ludahnya. “Mereka seolah-olah telah dihabisi dan dibuat kocar-kacir bahkan sebelum kami tiba.”
Tubuh Sang Dokter langsung menegang. “Oleh siapa?” tanyanya dingin.
Sekali lagi Kale menelan ludah untuk menenangkan diri, “Desas-desus yang berkembang, beberapa waktu lalu, salah seorang pemimpin Bangsa Zodijak melakukan penyisiran ke sisa reruntuhan kota dan memporak-porandakan Kaum Penyelinap yang dia temukan, hanya untuk mencari seseorang.”
“Mencari siapa?” nada suara Sang Dokter terdengar mendesak, dipenuhi oleh rasa ingin tahu.
“Mereka mengatakan ada pengkhianat di kalangan pemimpin Bangsa Zodijak… bahkan isu yang paling liar mengatakan bahwa salah seorang pemimpin Bangsa Zodijak itu berkhianat dengan membawa kabur istri saudaranya. Ada yang berkata bahwa satu kelompok kaum penyelinap yang sedang sial pada akhirnya dihabisi tanpa kecuali karena kedapatan menampung pengkhianat itu,” Kale mengamati ekspresi Sang Dokter yang menggelap. “Yah meskipun hal itu masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Anda tahu bahwa manusia cenderung membesar-besarkan informasi dan setelah informasi itu sampai ke tangan kesekian, semakin besarlah informasi tersebut, dilebih-lebihkan hingga cenderung hampir meledak. Lagipula, sama sekali tidak ada saksi hidup yang bisa mengkonfirmasi telah melihat semua desas-desus itu dengan mata kepalanya sendiri, semua informasi yang beredar hanyalah hasil dugaan.”
“Tetap saja kau menemukan kelompok-kelompok kau penyelinap yang porak poranda setelah peristiwa yang didesas-desuskan itu, bukan?” Sang Dokter menyela cepat. “Apakah itu berarti Bangsa Zodijak masih melakukan pencarian atas pengkhianat itu, atau pengkhianat itu sudah tertangkap dan mereka mencari sesuatu yang lain?”
Kale setengah menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu, dokter. Yang saya tahu, ada beberapa prajurit Zodijak yang berkeliaran dan melakukan pemindaian terhadap kaum penyelinap.”
Sang Dokter menyentuh dagunya, setengah berpikir. “Entah kenapa aku memiliki firasat buruk bahwa mereka sedang melakukan hal yang sama dengan kita dan memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kita,” mata Sang Dokter menajam melihat kecemasan di wajah Kale. “Perintahkan anak buahmu untuk semakin berhati-hati, kita tidak boleh sampai bertemu dengan para prajurit Zodijak ini, tetapi usahakan kita bergerak di depan mereka. Jika firasat burukku ini benar, kemungkinan mereka belum menyadari bahwa kita ada, tetapi saat ini mereka sedang mencari manusia-manusia yang darahnya bisa dijadikan pemasok air suci Zodijak.”
Kale meringis. “Bagaimana kalau mereka sampai mendapatkan manusia-manusia itu terlebih dahulu daripada kita?” tanyanya perlahan, entah kenapa masih ragu bahwa mereka bisa selangkah lebih cepat daripada Bangsa Zodijak.
“Maka saudarimu itu, Natasha, dia akan menjadi pemasok tunggal pasukan kita tanpa bantuan. Aku tidak ingin melakukannya, Kale. Tetapi jika kau tidak bisa mendapatkan manusia-manusia lain untuk membantu Natasha, kita akan terpaksa mengeringkan darahnya terus-menerus,” Sang Dokter melemparkan tatapan mata keji ke arah Kale. “Kau tentu tidak ingin sampai itu semua terjadi, bukan?”
Aslan sudah menuntaskan hasratnya, tetapi lelaki itu sepertinya tidak berniat untuk meninggalkan tubuh Mischa dengan cepat.
Lelaki itu sedikit berguling ke sebelah Mischa, tetapi tetap membawa tubuh Mischa dalam rengkuhan lengannya dan tidak melepaskan, memaksa tubuh Mischa tenggelam di dalam pelukannya tanpa bisa menolak, sementara telapak tangannya yang besar dengan lembut menelusuri sisi tulang belakang Mischa dan mengusapnya perlahan dengan gerakan konstan berirama.
Sentuhan itu dan kelelahan karena gairah Aslan yang tiada habisnya, membuat Mischa mengantuk, matanya terpejam, berusaha menahan berat di kelopak mata yang menyiksanya, membuat Mischa hampir tidak mampu melawan dan ingin menyerah untuk jatuh tertidur.
Tubuh Mischa sendiri kaku dengan kedua lengan dijaga di kedua sisi tubuh, tidak mau menyentuh Aslan meskipun tubuh mereka dirapatkan dalam pelukan yang dipaksakan.Aslan menggeram perlahan, seperti kucing besar yang sedang puas dan menarik Mischa semakin rapat sementara kepalanya tenggelam di dalam kelembutan rambut Misch.
“Aku bisa berbaring di sini berjam-jam bersamamu dan tidak akan merasa bosan,” tangan Aslan menelusuri kulit punggung Mischa dengan gerakan menggoda. “Kau juga merasakan hal yang sama, kan? Bukankah menyenangkan berada dalam pelukanku?”
Pertanyaan provokatif itu membuat Mischa langsung meronta, dengan marah berusaha melepaskan diri dari pelukan Aslan. Tetapi lengan kuat itu merangkulnya semakin kencang, mendorong Mischa mendekat hingga dahi Mischa terbentur dada Aslan yang telanjang.
“Kelinci kecil liar yang mengancam, siap menggunakan kuku-kuku kecilnya untuk mencakar.” Aslan berucap dengan nada mengejek ketika melihat tangan Mischa terkepal, berusaha untuk melawan. “Pada akhirnya kau akan kujinakkan, dan ketika waktunya tiba, kau akan mendengkur kesenangan seperti kelinci manja yang minta dielus ketika aku memanggilmu untuk tenggelam ke dalam pelukanku.”
“Dalam mimpimu, dasar Alien sinting!”
Mischa berusaha berteriak meskipun kepalanya ditenggelamkan ke dada Aslan, berusaha menunjukkan sikap memberontaknya.Kata-kata kasarnya bukannya memancing kemarahan Aslan, malahan membuat lelaki itu tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak pernah dimunculkan sebelumnya, bergolak hingga memenuhi seisi ruangan sementara pelukannya semakin erat, menahan Mischa hingga tidak bisa menjauh.