Inevitable War

Inevitable War
Episode 115 : Khawatir



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Akrep menghela napas panjang, tangannya tanpa sadar terulur untuk memijit tengkuk untuk menahankan rasa frustasi yang merayapi dirinya. Dia tidak pernah merasa tak berdaya dan kehabisan akal seperti ini sebelumnya.


Selama ini dia terlatih untuk berpikir strategis, setiap langkah yang dia ambil, dia sudah memiliki gambaran sepuluh langkah ke depannya. Baru kali ini Akrep seolah berada di ruang hampa udara, tidak berani melangkah karena tidak punya pijakan.


Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Yesil adalah dengan menemukan wanita yang menjadi pasangan air sucinya yang sekarang mungkin entah berada di mana.Bagaimana cara mereka menemukannya?


Dahulu kala Natasha datang kepada mereka tanpa direncanakan. Sementara itu Aslan juga membawa Mischa secara kebetulan dengan mendapatkan Sasha sebagai bonusnya. Akankah kebetulan-kebetulan semacam itu datang lagi kepada mereka sebagai sebuah keberuntungan?


Akrep tidak yakin dengan jawaban atas pertanyaan itu.Suara derap langkah kaki yang berjalan mendekat mengalihkan Akrep dari pemikiran kusutnya yang berkecamuk. Kepalanya menoleh dengan waspada ke arah lorong terbuka yang terlihat dari pintu masuk ruang perawatan Yesil dan dahinya berkerut ketika melihat Kaza yang datang berlari begitu cepat sambil membawa Sasha yang lunglai dalam gendongannya.


“Apakah Yesil ada?” Kaza berucap cepat bahkan sebelum dirinya mencapai ambang pintu, ekspresinya dipenuhi kecemasan sementara matanya tidak menatap Akrep, malahan terpaku pada Sasha di dalam gendongannya.


Ketika tidak mendapat jawaban dari Akrep, Kaza mengangkat kepala dan otomatis mengikuti arah pandangan Akrep. Mulutnya ternganga ketika melihat Yesil yang berbaring tak sadarkan diri, penuh luka dan bergantung pada alat penunjang kehidupan di atas ranjang.


“Astaga…” Kaza mendesahkan keterkejutannya, matanya yang masih memakai lensa manusia beralih ke arah Akrep sementara keingintahuan mendesak di sana. “Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba terjadi ledakan dan…”


“Tahanan yang menjadi saksi kunci, tahanan yang menembak Aslan, ternyata dia menyimpan bom di dalam tubuhnya, bom beracun dari darah Natasha…” Akrep menjawab singkat dan mengedikkan dagunya ke arah Yesil. “Ketika itu Yesil sedang bersama dengan Kara melakukan interograsi, Yesil melindungi Kara dari ledakan menggunakan tubuhnya, karena Yesil tahu jika Kara terkena racun darah Natasha, dia tidak akan mungkin diselamatkan.”


“Tapi Yesil mengorbankan dirinya. Meskipun dia masih lebih punya harapan jika dibandingkan dengan Kara di atas kertas menyangkut racun darah Natasha ini, harapannya adalah kemustahilan. Bagaimana mungkin dan bagaimana caranya kita menemukan perempuan pasangan air suci milik Yesil dalam waktu singkat sebelum terlambat?” Kaza berucap perlahan menyimpulkan, ada nada takut terselip di sana ketika menyadari betapa seriusnya kondisi yang sedang mereka hadapi saat ini.


“Perempuan-perempuan ini…” mau tak mau Kaza menyapukan pandangan ke arah tubuh Sasha di dalam gendongannya. “Seperti dugaanku, mereka disiapkan untuk menjadi senjata pembunuh kita. Kita lemah akan darah mereka. Jika Natasha memang bergabung bersama para musuh, sudah pasti kita akan kesulitan.” sambung Kaza kemudian dengan suara getir.


Akrep langsung menggelengkan kepala, menunjukkan ketidaksetujuannya akan pendapat Kaza.


“Tawanan itu memberikan informasi yang mungkin bisa membuka pikiranmu, Kaza. Natasha tidak pernah mengkhianati Kara, dia ditawan di luar kemauannya dan saat ini terbaring koma sebagai tubuh tak berdaya tanpa kesadaran yang diambil darahnya terus-menerus. Hal pertama yang ingin dilakukan Kara pastilah menyelamatkan Natasha, dan aku ingin kau mendukungnya,” ujar Akrep dengan penuh perhitungan.


Kaza sekali lagi terkejut oleh informasi yang disampaikan kepadanya dan tidak disangka-sangkanya itu. Selama ini dia selalu membangun keyakinan teguh yang dipupuknya terus menerus, sebuah keyakinan bahwa Kara, saudaranya berbuat kebodohan dengan mencintai manusia perempuan yang mengkhianatinya.


Tanpa sadar tangan Kaza bergerak, merapatkan tubuh Sasha ke dalam pelukannya, dan hal itu tidak lepas dari pengawasan Akrep yang tajam.


“Manusia-manusia perempuan yang muncul sebagai pasangan air suci takdir kita, mereka memang bisa menjadi senjata yang mematikan untuk masing-masing dari kita. Tetapi kau tentu tidak lupa bahwa mereka bisa menyelamatkan kita. Kau lihat sendiri apa yang terjadi pada Aslan bukan? Jika bukan karena Mischa, Aslan mungkin tidak akan selamat dan sehat kembali seperti saat ini,” mata Akrep menyipit dan tertuju pada tubuh Sasha. “Kurasa kau menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan manusia perempuan pasanganmu karena mungkin suatu saat nyawamu bergantung kepadanya. Apa yang terjadi pada Sasha?” tanya Akrep kemudian, menyambung kalimatnya dengan pengalih pembicaraan tanpa memberikan jeda.


Kaza tampak masih tertegun oleh kata-kata Akrep yang sambung menyambung. Lama kemudian dia baru menyadari pertanyaan Akrep dan merujuk ke arah Sasha.


“Dia tertimpa reruntuhan, aku sudah melindunginya tetapi waktu itu kejadiannya begitu cepat sehingga ada batu yang menimpa kepalanya dan lolos dari perlindunganku,” Kaza menunduk dan menyapi darah yang tampak mulai mengering dari pelipis Sasha. “Aku kemari hendak meminta pertolongan Yesil, tapi kau tahu sendiri kondisi Yesil saat ini…” sambung Kaza dengan suara ragu.


Akrep menganggukkan kepala, lalu menunjuk satu tempat tidur kosong yang ada di dalam ruangan yang sama dengan tempat Yesil dibaringkan.


“Aku bisa menangani untuk luka-luka kecil. Baringkan anak itu di situ,” ujarnya cepat sambil melangkah ke dalam lemari obat-obatan untuk menyiapkan peralatan.Kaza menurut dan membaringkan Sasha di tempat tidur sementara dirinya memilih duduk di sisi ranjang sambil menunggu Akrep.


Akrep kemudian datang mendekat dan berdiri di sisi kepala Sasha. Perlahan dengan gerakan lembut dan cekatan, Akrep menyisihkan rambut panjang Sasha yang lengket oleh darah dan mengenai pelipisnya.


Dengan cepat Akrep membasuh darah mengering yang cukup banyak di pelipis Sasha untuk menemukan sumber lukanya.Dahi Akrep mengerut ketika melihat luka sayatan memanjang di sisi pelipis Sasha, luka itu cukup lumayan untuk ditanggung anak kecil seusia Sasha dan terbuka lebar meskipun darah yang mengalir sudah mengering sebagian dan menggumpal memenuhi koyakan sayatan itu.


Perlahan Akrep mengambil pinset untuk mengambil gumpalan darah hingga bersih, dan ketika dia selesai melakukannya, darah segar mulai mengalir lagi dan mungkin karena merasa sakit, Sasha mengerang meskipun matanya masih terpejam, masih tenggelam dalam ketidaksadaran.


Dengan gerakan cepat seolah meloncat, Kaza sudah berdiri di sisi ranjang yang lain, membungkuk untuk melihat kondisi kepala Sasha. Lelaki itu langsung menyeringai melihat luka di pelipis Sasha yang tampak lebih jelas setelah darahnya dibersihkan.


“Kondisinya buruk, ya?” ujarnya sedikit berbisik seolah tidak mau membangunkan Sasha dari ketidaksadaran yang melindunginya.


Akrep menggeleng sedikit. “Hanya memerlukan beberapa jahitan dan dia akan baik-baik saja, lukanya memang memanjang dan cukup lebar, tetapi untungnya tidak dalam.” tangan Akrep bergerak memberikan obat di sepanjang luka sayatan Sasha, lalu mulai menjahit luka itu dengan alat khusus, cukup ditempelkan di luka yang telah dikatupkan dan alat itu akan bertindak untuk menyatukan koyakan di kulit dengan rapi dan menutup lubang pendarahan.


Setelah selesai, Akrep menutup jahitan luka tersebut dengan perban untuk berjaga-jaga lalu membereskan peralatannya dan mencuci tangan.


“Kau bisa membawanya ke areamu, Kaza jika kau merasa di sini tidak aman. Kami semua akan pergi melakukan penyerangan dan berbagai strategi lainnya dan Yesil tidak sadarkan diri untuk menjaga areanya sendiri.” ujar Akrep dengan nada bijaksana.