
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan yang sibuk memusatkan perhatiannya pada kelompok musuh tidak menyadari apa yang sedang dialami oleh Mischa, dia mengamati wajah-wajah di depannya dan menyeringai ketika tahu bahwa manusia-manusia itu menyimpan keterkejutan di ekspresinya, mereka tentu tidak menyangka satu orang manusia bisa melawan sosok manusia kuat yang sepuluh jumlahnya, apalagi sampai membuat mereka semua terpukul mundur.
Ketika debu pasir itu berjatuhan ke tanah dan menjernihkan kembali udara, mata-mata manusia yang sudah babak belur penuh lebam, bahkan sebagian sudah tidak mampu berdiri itu terbelalak karena melihat Aslan masih berdiri tegak di tempatnya semula tanpa kekurangan suatu apapun.
Kulitnya tidak tergores luka sama sekali padahal mereka sudah berusaha memukul sekuat tenaga dan beberapa kali mengenai lelaki ini, seharusnya lelaki ini setidaknya lebam, tapi ternyata tidak… bahkan napas lelaki itu sama sekali tidak terengah setelah menghajar mereka semua.
Dan lelaki itu juga memiliki kecepatan luar biasa, dia bisa menghindar dalam sedetik, menyerang dalam hajaran keras sedetik kemudian tanpa di duga, matanya juga awas seolah-olah gerakan mereka bisa diprediksi sebelumnya, membuat pertarungan yang tadinya terlihat mudah ini menjadi begitu sulit diselesaikan.
Pemimpin manusia itu yang sejak tadi mengawasi dalam posisi agak jauh, sempat merasa berbangga diri ketika melihat gumpalan pasir berkabut dan suara pukulan membahana satu demi satu. Tadinya dia dipenuhi keyakinan bahwa manusia yang terlihat sombong di depannya itu sudah babak belur. Tetapi sekarang pemimpin manusia itu tidak bisa menahan rasa terkejut ketika melihat apa yang terpampang di depannya, matanya melotot dan seringainya yang penuh keyakinan langsung menghilang.
Mata pemimpin manusia itu lalu melirik ke arah perempuan yang diincarnya yang kini berlutut di belakang kaki lelaki itu yang sekarang berdiri dan mengambil posisi melindungi seolah-olah menyatakan kalau ingin menyentuh perempuan itu harus melewati dirinya dulu.
Rona pucat mulai merayapi wajah pemimpin manusia itu ketika menatap Aslan dengan curiga, lelaki itu memberi isyarat tangan supaya anak buahnya mundur mendekatinya yang segera dituruti. Dengan tertatih-tatih, beberapa memapah teman-teman mereka yang hampir tidak mampu berjalan, mereka menyeret diri untuk mendekati pemimpin mereka.
“Siapa sebenarnya kau?” tanya pemimpin itu kemudian setengah berteriak.
Mereka tadinya merasa sangat percaya diri karena bisa dikatakan bahwa mereka sangat kuat, mereka yakin akan kekuatan itu sehingga terdorong untuk bersikap arogan terhadap yang lain yang dianggap lebih lemah.
Sudah merupakan sifat alami manusia ketika mereka merasa lebih kuat, pasti akan merasakan godaan menindas yang lebih lemah, dan itulah yang terjadi pada mereka saat ini.
Aslan menatap tajam ke arah manusia-manusia itu, kali ini dirinyalah yang menampilkan seringai mengerikan, penuh rasa haus untuk menumpahkan darah.
“Kenapa kalian berhenti? Bukankah kalian tadi yang tidak mau menerima negosiasi dan hanya ingin bertarung?” geramnya dengan suara mengejek, memberikan isyarat provokatif dengan tangannya. “Maju,” desisnya memerintah dengan suara dingin.
Pemimpin manusia itu memberikan tanda supaya anak buahnya tidak bergerak, dia balas menyeringai, masih menyisakan kesombongan di sana.
“Anak buahku mungkin masih baru dan belum terlatih dengan kekuatan mereka.” pemimpin manusia itu melangkah maju. “Namaku Vladimir, selagi masih sempat, kau mungkin ingin tahu siapa nama orang yang mencabut nyawamu,” ucapnya pongah, memamerkan otot-ototnya yang besar. “Kau akan kalah, sekuat apapun dirimu sebagai manusia, kau tidak akan bisa mengalahkan kami, kami adalah manusia terpilih yang menerima kekuatan suci sehingga bisa lebih kuat dari yang lain…”
“Maju.” Aslan mengulang lagi perintahnya dengan nada tak peduli. “Aku bukannya akan bertarung dengan mulutmu yang terus menerus mengeluarkan sampah. Jadi sebaiknya kau maju kalau memang kau ingin menunjukkan kekuatanmu.”
Mata Vladimir membelalak, tidak menyangka kata-katanya akan disela dengan hinaan yang tajam. Kemarahan langsung membuncah di dalam dirinya.
Vladimir langsung merangsek maju, menyerang dengan pukulan sekuat tenaga, mengincar sisi perut Aslan yang lemah, berusaha memukul sekuat tenaga untuk menghancurkan organ dalamnya.
Sayangnya, Aslan sudah bisa memprediksi gerakannya, Aslan melompat dengan ringan dan mendaratkan lututnya tepat di wajah Vladimir, tempurung lututnya yang keras menghantam dagu Vladimir, menimbulkan suara berderak keras yang mengerikan sebelum kemudian tangan Aslan terulur dan memukul kepala Vladimir dengan keras, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Lalu, sebelum Vladimir bisa melindungi diri, Aslan mendaratkan pukulan mematikan ke perutnya, ke dadanya, menghancurkan organ dalamnya dengan telak diiringi suara-suara mengerikan benturan tangan dengan tubuh yang hancur, sebelum akhirnya dia mendorong tubuh Vladimir yang sempoyongan dengan wajah dan mulut mengeluarkan darah, hingga pada akhirnya jatuh tersungkur di atas pasir.
Pandangan mata Vladimir berkunang-kunang dan telinganya berdenging keras sementara rasa nyeri menggigit menyakiti kepalanya. Dadanya terasa sesak dan rasa mual bergolak di dalam perutnya, mendorongnya untuk terbatuk dan memuntahkan darah segar dari bibir, mengalir juga di hidungnya.
Vladimir tidak menyangka dengan kekuatannya yang diyakininya sudah sangat hebat, dia bisa dipukul mundur semudah ini.
Sekarang untuk berdiri saja dia kesulitan, sementara anak buahnya di belakang tampak gemetaran ketika melihat pemimpin yang mereka agungkan, yang mereka anggap paling kuat dijatuhkan semudah itu hanya oleh satu manusia yang tadinya mereka pikir lemah.
Aslan menyeringai, senang karena musuhnya tidak langsung mati ketika dipukul. Manusia-manusia lain biasanya langsung mati dan itu membuat kesenangannya berhenti mendadak, mungkin dengan Vladimir dia bisa lebih banyak berolah raga, belum dengan anak buahnya yang ternyata tidak sekuat penampilannya.
“Kalian manusia adalah makhluk lemah,” Aslan menatap merendahkan ke arah Vladimir, “Meskipun kalian merasa kuat, kalian tidak akan sekuat kami,” tangan Aslan bergerak, ingin memberikan teror yang lebih dengan melepas lensa mata manusia palsunya dan menunjukkan mata hitamnya nan legam.
Seketika para manusia itu terkesiap, pun dengan Vladimir yang berlumuran darah, dia ternganga sementara suaranya gemetar, ketakutan merayapi dirinya.
Mata hitam itu menjelaskan segalanya, kenapa lelaki yang mereka kira manusia ini begitu kuat dan sulit dikalahkan. Mereka semua memang kuat, tetapi kekuatan mereka masih dalam perkembangan, tidak akan bisa jika harus berhadapan dengan prajurit Zodijak seperti yang ada di depan mereka saat ini.
Mungkin suatu saat nanti bisa, tetapi yang pasti bukan sekarang.
Mata Vladimir melirik sekilas ke arah perempuan yang berlutut sambil melindungi kepalanya di belakang lelaki Zodijak itu. Vladimir kebetulan sudah tahu seperti apa ciri fisik perempuan Zodijak meskipun mereka jarang turun ke medan perang dan hanya berfungsi sebagai alat untuk melahirkan keturunan bagi bangsanya.
Tapi meskipun pengetahuannya minim, Vladimir tahu persis bahwa perempuan Zodijak bertubuh tinggi besar dengan kulit dan tulang kokoh sama seperti kaum laki-lakinya.
Perempuan yang dilindungi oleh prajurit Zodijak itu sudah pasti bukan perempuan Zodijak, tubuhnya yang rapuh, kurus dan tampak lembut, menunjukkan dengan pasti bahwa dia adalah manusia.
Dan prajurit Zodijak yang mengerikan itu berkata bahwa perempuan itu adalah istrinya.
Seorang prajurit Zodijak beristrikan perempuan manusia? Bagaimana bisa?
Aslan sendiri tidak memerhatikan kebingungan yang menggayuti wajah Vladirmir, dia menggunakan waktunya untuk melirik ke arah Mischa.
Perempuan ini di luar kebiasaannya menurut, dengan kepala menunduk rapat, berlutut dan melindungi kepalanya sehingga wajahnya tidak terlihat.
Aslan mengerutkan kening, Mischa tidak bergerak dari tadi hingga Aslan mengira Mischa pingsan. Tetapi punggung perempuan itu menegang dan tubuhnya gemetaran, pertanda kesadaran masih ada di dalam dirinya.
Aslan tidak punya waktu untuk memerhatikan Mischa lebih jauh, yang penting baginya perempuan ini masih aman di dalam perlindungannya. Dia harus membereskan manusia-manusia ini lebih dulu.
Ketika Aslan menolehkan kepala, Vladimir memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengeluarkan senjata.
Musuh mereka ternyata adalah Bangsa Zodijak, dan sepertinya termasuk golongan yang cukup tangguh. Mereka tidak akan menang jika beradu kekuatan. Mereka harus menggunakan senjata, dan saat ini mereka semua secara bersamaan mengeluarkan senjatanya, siap membidik ke arah Aslan.