Inevitable War

Inevitable War
Episode 82 : Menyentuh Lelaki Zodijak



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



Mata Mischa melebar, sedikit menahan marah karena ucapan Aslan yang arogan, tapi pada akhirnya dia memilih menurut karena tidak ingin memperpanjang konfrontasi dengan Aslan.


“Ya, Aslan,” Mischa menjawab dengan suara desisan penuh kemarahan, dan dia membiarkan Aslan tahu itu, bahwa dia merasa marah dan terluka karenanya.


Keheningan terbentang di antara mereka, seiring dengan tatapan Aslan yang mengawasi Mischa dengan seksama, tetapi kemudian Aslan sepertinya memutuskan bahwa dia cukup puas dengan jawaban Mischa, dan memilih mengalihkan pembahasan.


“Yesil pasti terkejut luar biasa ketika kau mengatakan itu,” Aslan mengacak rambutnya kembali, seolah tidak suka membayangkan apa yang akan dikatakan saudara-saudaranya ketika mengetahui bahwa Aslan telah mengizinkan Mischa menyentuhnya, di luar kebiasaan yang telah dianut oleh Bangsa Zodijak sejak awal mereka bermula.


“Ya. Dia terkejut,” Mischa mengangguk cepat karena masih terbayang di kepalanya bagaimana terkejutnya Yesil, dan juga Kara ketika mengetahui bahwa Aslan meminta Mischa menyentuhnya. “Dia lalu menjelaskan bahwa kalian, laki-laki Zodijak tidak pernah mengizinkan wanita menyentuh kalian, bahkan ketika bercinta sekalipun…”


“Dan kau ingin tahu kenapa?”  Aslan memiringkan kepala sedikit, matanya masih mengawasi.


Sejenak Mischa masih merasa ragu, tetapi kemudian dia memutuskan untuk menyuarakan keingintahuannya.


“Aku… maksudku… bagaimana mungkin kalian melakukan itu? Kenapa kalian tidak mengizinkan sentuhan ketika bercinta?” tanya Mischa kemudian.


Aslan terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat lagi sehingga tubuhnya berada tepat di depan Mischa. Tangannya lalu bergerak untuk menggenggam pergelangan tangan Mischa, kali ini tidak ada penolakan dari Mischa karena perempuan itu masih dipenuhi rasa ingin tahu dan sedang menunggu jawaban.


Aslan kemudian menyentuhkan tangan Mischa ke pipinya, membuat telapak tangan Mischa tertangkup di pipinya dan menahannya di sana.


“Bangsa Zodijak dilahirkan dengan kulit yang cukup keras, kau bisa merasakannya di sini.” Aslan membuat telapak tangan Mischa bergerak mengelus pipinya. “Setiap sentuhan dibuat supaya tidak terasa… itu semua karena kami diciptakan sebagai peralatan tempur. Kulit yang keras dan indra perasa yang tidak peka tersebut berfungsi untuk bisa membantu kami menahan rasa sakit ketika kami dipukul, terkena benda keras ataupun terluka. Dan ya… kami cenderung tidak bisa menikmati sentuhan. Kau pasti tahu bahwa kami tidak bisa mengeluarkan air mata, dan kami juga tidak memiliki perasaan lembut, penuh cinta dan kasih sayang seperti kalian. Perasaan itu melemahkan, begitupun dengan sentuhan.” Aslan menjelaskan dengan nada datar sementara matanya menatap Mischa dengan penuh rasa ingin tahu, menunggu pertanyaan berikutnya.


“Itu berarti kalian tidak bisa merasakan cinta dan kasih sayang? Bagaimana dengan kontrak pernikahan? Bagaimana dengan hubungan kasih sayang antara ibu dengan anaknya?" Mischa tak mengecewakan Aslan, langsung bertanya kebingungan.


”“Kami bukan manusia, jadi jangan pernah menggunakan standar manusia untuk mengukur kami. Kau tentu tidak akan menggunakan standar manusia untuk induk anjing yang memilih memakan anak-anaknya sendiri ketika dia merasakan bahaya yang terlalu besar untuk dia tanggung datang mendekat, bukan? Tentu kau tidak bisa mengatakan bahwa induk anjing itu tidak bermoral dan tidak punya hati nurani karena anjing memang tidak bertindak berdasarkan moral dan hati nurani, mereka bertindak berdasarkan insting.” Aslan tersenyum tipis. “Begitupun kami, kami melakukan segala hal berdasarkan insting mempertahankan diri, kami berperang, bereproduksi, membesarkan keturunan kami dan membuat sistem kehidupan semua itu dengan tujuan demi mempertahankan keberlangsungan ras kami.”


Aslan kali ini tersenyum lebar. “Terserah kau mau mengukur kami seperti apa. Kalau kau menyebut kami sebagai hewan, mungkin kami ini termasuk hewan dengan tingkat evolusi tertinggi, jika dibandingkan dengan kalian para manusia.”


Ucapan Aslan yang merendahkan kaum manusia itu membuat kemarahan Mischa kembali tersulut dan perempuan itu langsung mendongakkan dagunya kembali, kebiasaan yang dia lakukan ketika sedang merasa marah.


“Evolusi tertinggi yang membedakan manusia dengan hewan adalah karena kami memiliki akal dan budi untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kami juga memiliki hati nurani dan perasaan. Hal itulah yang membedakan kami dengan hewan, dan itu bukanlah suatu kelemahan yang dianggap rendah seperti cara kalian Bangsa Zodijak memandang rendah kami!” serunya cepat, memaparkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan menggebu.


“Tapi itu adalah kelemahan di mata kami,” Aslan menjawab santai, tidak peduli dengan kemarahan Mischa, “Kalian manusia adalah makhluk yang bisa dikatakan hidup dalam kedamaian, kalian hanya pernah mengalami berperang dengan bangsa kalian sendiri sementara kalian buta atas perang dan kehancuran yang terjadi di luar galaksi kalian yang sepi. Kehidupan di luar galaksi tidak sama dengan kehidupan di bumi, di sana begitu keras, makhluk-makhluk penjelajah dari berbagai galaksi selalu datang dan pergi, berusaha mencapai planet terbaik untuk dikuasai. Dan dalam kondisi seperti itu, yang lemah serta dikuasi oleh perasaan, tidak akan bisa bertahan.”


Aslan melihat keterkejutan di mata Mischa dan sekali lagi senyumnya melebar. “Kau pikir hanya kami yang berada di luar sana untuk berkeliaran antar planet? Ada banyak jenis kaum penjelajah seperti kami meskipun ada juga kaum damai yang menetap di luar sana. Kaum penjelajah itu kadang lebih ganas, lebih licik, tapi bisa juga lebih lemah, itu semua tergantung pada pengalaman mereka menjelajahi galaksi. Kami harus berperang untuk mempertahankan wilayah, dan bagaimana mungkin kami bisa berperang dengan baik jika hati kami masih dipenuhi berbagai perasaan melankolis dan haus akan sentuhan? Bagaimana kami bisa membidik musuh dengan tepat ketika kami masih memikirkan wanita-wanita yang merenggut hati kami dan anak-anak yang menunggu kasih sayang kami? Bagaimana kami bisa membunuh tanpa hati kalau hati kami masih memikirkan bayi-bayi kami yang masih kecil dan tanpa salah? Bagi kaum wanita juga, bagaimana mereka bisa menjalankan tugas untuk mengasuh anak-anak menjadi pasukan perang terbaik kalau mereka lembek, penuh perasaan, penuh kasih sayang dan menangis-nangis karena merindukan kasih sayang suaminya yang sedang berperang atau menjelajah galaksi hingga ratusan tahun lamanya baru bisa kembali pulang??”


Aslan meringis sementara ekspresinya menggelap sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya. “Kami diciptakan dengan porsi kami masing-masing, laki-laki dan perempuan memiliki tugasnya masing-masing dan itu berlangsung baik sampai saat ini. Bagi bangsa yang selalu menjelajah dan berperang, aturan kami berbeda dengan aturan kalian para manusia. Dan percayalah, sekarang setelah merasakannya sendiri, aku tahu bahwa memiliki perasaan, setitik apapun, itu akan sangat mengganggu konsentrasimu.”


“Mengganggu konsentrasimu?” Mischa tanpa sadar mengulang kalimat terakhir Aslan yang menggelitik perasaannya.


Mata Aslan menajam sementara bibirnya menyunggingkan senyum penuh ironi.


“Kau mengganggu konsentrasiku,” Aslan menggertakkan gigi ketika mengungkapkan apa yang dia rasa. “Kau pasti tahu bagaimana aku menyukai perang dan menghabiskan setiap waktu yang kumiliki dengan menikmati kegiatan itu. Tetapi hari ini, aku bahkan hanya menghitung waktu untuk menyelesaikan semuanya, untuk segera pulang,” dengan lembut Aslan mengarahkan jemari Mischa ke bibirnya dan mengecup perlahan. “Karena kau, Mischa.”


Seketika itu juga pipi Mischa memerah, tidak menyangka bahwa Aslan akan mengatakan hal itu dengan suara lembut pula. Mischa langsung berusaha menarik tangannya dari Aslan, tetapi lelaki itu menahan tangan Mischa di sana, menggerakkan tangan Mischa supaya bergeser ke pipinya lagi dan menanggup di sana, sementara Aslan dengan tidak disangka-sangka menggesekkan pipinya di sana, seperti kucing kecil yang memohon untuk disentuh.


“Kau membuatku ingin tahu, karena bahkan sentuhanmu yang seperti ini…” Aslan memejamkan mata seolah menikmati tangan Mischa di kulitnya. “Bisa menembus kulitku dan mengirimkan sinyal panas ke darahku, membuat darahku bergolak. Terasa tidak nyaman dan salah, tetapi entah bagaimana, di luar dugaan aku sangat menikmatinya,” mata hitam Aslan terbuka, menatap Mischa dengan berkabut. “Karena itulah aku memintamu menyentuhku. Untuk mempelajari seberapa kuat aku bisa bertahan atas dirimu.”


Mischa tertegun, melebarkan mata tak percaya dengan kata-kata Aslan, ekspresinya itu rupanya menggoda Aslan dan membuat lelaki itu tidak tahan lagi, dipeluknya Mischa untuk kemudian kepalanya menunduk dan mencium bibir Mischa dalam-dalam.


Ketika bibir mereka terlepas dan napas terengah mereka saling berpadu, Aslan memutuskan untuk tidak menerima penolakan Mischa lagi, diangkatnya tubuh Mischa dalam gendongan, dan sebelum Mischa bisa menolak, lelaki itu membawanya masuk ke area pancuran air dingin yang telah mengucur dan membiarkan mereka berdua diterpa air pancuran yang cukup keras.


Air itu kena tepat di pucuk kepala Mischa, langsung ke wajah dan menutup hidungnya hingga membuat Mischa megap-megap kehabisan napas. Pakaiannya langsung basah dari ujung kepala sampai ujung kaki, menembus kulitnya dan membuatnya menggigil.


Mischa terbatuk-batuk sementara kedua tangannya memukul-mukul dada Aslan dengan marah, meminta diturunkan. Sikap Mischa itu memancing tawa Aslan karena lelaki itu terkekeh perlahan ketika menuruti permintaan Mischa untuk menurunkannya.Kaki Mischa menyentuh dinginnya lantai marmer, belum lagi dengan dinginnya air yang membasahi dan mengguyur tubuhnya, membuat Mischa mulai menggigil dan mendongak, menatap Aslan dengan marah.


“Kau sengaja ya?” semburnya kesal, berusaha menyingkir dari bawah pancuran, tetapi tidak bisa lari karena Aslan menghalangi jalan keluarnya, dipeluknya dirinya sendiri dengan kedua lengan untuk menahankan rasa dingin yang menggigit.


Aslan sendiri menyeringai, tidak menolak tuduhan Mischa.“Kau akan lebih hangat jika melepaskan pakaian basahmu,” seringai Aslan melebar ketika melihat Mischa melemparkan tatapan membunuh ke arahnya. “Lalu setelah itu aku akan memeluk tubuhmu untuk menghangatkanmu,” sambungnya penuh arti.


Aslan bergerak merengkuh Mischa ke dalam lengannya, sementara tangannya memaksa Mischa membuka pakaiannya yang basah.


“Kalau kau bersikap baik kepadaku, aku akan membalasnya dengan sikap baik yang sama, Mischa. Dengan senang hati akan kulakukan baik di sini maupun di atas tempat tidur nanti. Aku belum selesai denganmu, dan malam ini masih sangat sangat panjang,” bisik Aslan dengan nada riang menikmati.