Inevitable War

Inevitable War
Episode 137 : Air Mata Kara



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Mata Kaza beralih ke arah lampu yang menerangi ruangan dan seketika itu juga, dengan gerakan secepat kilat sambil berusaha terus membelakangi Sasha, Kaza mematikan seluruh lampu di ruangan tertutup ini hingga menciptakan nuansa gelap gulita dengan setitik cahaya dari alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuh Yesil yang hanya cukup untuk menciptakan bayangan siluet dalam kegelapan.


Bagi Kaza sendiri, kegelapan itu tidaklah menjadi masalah. Tidak ada bedanya dirinya berada di ruangan yang terang benderang ataupun gelap pekat. Sebagai bangsa predator yang memiliki kemampuan alami untuk berburu dan bersifat buas, mata Bangsa Zodijak didesain untuk beradaptasi dalam kondisi seperti apapun. Sehingga dalam kegelapan seperti ini, pengelihatan Kaza sama baiknya seperti di tempat terang.


Tetapi berbeda dengan Sasha, kegelapan tiba-tiba tentu saja menakutinya yang masih anak-anak. Sasha memekik ketakutan karenanya.


Nuansa gelap gulita bersama sosok laki-laki dewasa pemarah yang selalu bersikap memusuhinya, tentu saja menjadi perpaduan sempurna yang sangat menakutkan bagi anak kecil seperti dirinya. Apalagi ketika kemudian sosok Kaza yang sekarang menjadi siluet gelap bertubuh tegap itu melangkah lebar-lebar seolah penuh tekad ke arahnya.


Refleks Sasha mendorong dirinya untuk mundur sejauh mungkin di atas ranjang dan terkesiap ketika punggungnya membentur dinding tempat ranjangnya ditempatkan.


Tidak ada jalan untuk lari… satu-satunya jalan adalah meloncat ke depan, itupun sangat tidak mungkin karena Sasha harus melewati Kaza terlebih dahulu…


Kenapa lelaki itu mematikan lampu ruangan? Apakah Kaza ingin membunuhnya?


Yang bisa dilakukan oleh Sasha kemudian adalah memejamkan mata untuk mengurangi rasa takutnya akan pemandangan sosok siluet Kaza nan menyeramkan, sementara jeritan mulai keluar dari bibirnya, jeritan ketakutan seorang anak yang dilanda teror mengerikan dan tak tertahankan.


 



 


“Akrep, kau harus mengetuk pintu kamar Aslan. Jangan sampai dia bercinta dengan Mischa dan tidak bisa berhenti,” ujar Khar dengan sedikit ironi.


Akrep bangkit berdiri dari posisinya berlutut di samping sofa. Barusan dia sedang memeriksa kondisi Natasha yang masih tak bergerak di atas sofa tempatnya berbaring. Akrep memutuskan untuk membaringkan Natasha di sini dan segera memeriksa kondisinya karena tidak ada gunanya membawa ke area Yesil sebab dalam kondisi Yesil saat ini, saudaranya sudah pasti tidak bisa memeriksa Natasha.


Natasha masih belum mendapatkan kesadarannya. Tetapi Akrep berharap itu hanyalah efek dari obat aneh yang disuntikkan oleh Imhotep ke tubuhnya.


Sepertinya Imhotep telah menyuntik Natasha dengan obat-obatan tertentu yang membuatnya seperti mayat hidup supaya tetua mereka yang jahat itu bisa leluasa mengambil darahnya untuk amunusi serta serum kekuatan bagi pasukan-pasukannya.


Akrep tidak bisa menahan diri untuk menggertakkan gigi ketika melihat betapa banyaknya bekas suntikan yang sebagian besar telah menjadi memar di lengan Natasha, menunjukkan betapa darah Natasha benar-benar telah disedot habis-habisan tanpa ampun oleh Imhotep.


Kara pasti akan sangat marah melihat kondisi Natasha saat ini, melihat bagaimana Natasha diperlakukan hanya seperti sebuah komoditas penghasil keuntungan yang tidak punya arti lebih daripada itu.


Mereka semua telah salah paham kepada Natasha, dan saat ini yang Akrep inginkan adalah Natasha bertahan hidup sehingga setidaknya perempuan itu bisa menebus saat-saat penyiksaan yang dialaminya dengan perjumpaan dengan Kara kembali.


Butuh waktu beberapa lama bagi Akrep untuk memusatkan diri pada perkataan Khar tadi dan ketika dia mencerna semuanya, dahinya terangkat seolah-olah bingung.


“Kenapa aku harus menahan Aslan supaya tidak bercinta dengan Mischa? Aslan membutuhkan penyembuhan dan Mischalah obatnya. Dengan bercinta mereka akan saling menyembuhkan,” ujar Akrep dengan nada logis.


Khar saling melempar pandang dengan Sevgil yang sejak tadi terdiam di sudut ruangan. Pada akhirnya, Sevgilah yang berbicara untuk mewakili pendapat Khar.


“Apakah kau lupa? Berapa lama Aslan akan mengurung dirinya dengan Mischa setelah dia mendapatkan manusia perempuan itu kembali? Bisa tiga hari kalau beruntung dan jika kita sedang sial, Aslan tidak akan melepaskan Mischa sampai seminggu penuh, bahkan lebih. Dia akan terus mengurung dirinya di kamar itu bersama Mischa dan melupakan segalanya,” Sevgil berdehem seolah pembicaraan tentang bercinta membuat dirinya tidak nyaman. “Hanya kau yang berani menggedor pintu kamar Aslan ketika dia sedang berasyik masyuk dengan wanitanya dan tidak babak belur dihajar oleh saudara kita itu. Jadi kurasa kau yang harus melakukan tugas ini. Kau tentu tahu bahwa kita tidak bisa menunggu lagi. Kita harus mengejar Imhotep, belum lagi menemukan pasangan air suci Yesil.”


Akrep menganggukkan kepala perlahan, menyadari kebenaran kata-kata Sevgil. Mereka mungkin bisa beristirahat sejenak saat ini, tetapi hanya sebentar karena masih ada banyak hal yang harus mereka lakukan. Setidaknya di tengah jeda ini, mereka harus berkumpul lalu menyatukan kepingan-kepingin petunjuk yang saat ini masih berserakan dan butuh penyatuan. Setelah itu, barulah Akrep akan mengajak seluruh saudaranya untuk menyusun strategi menghadapi Imhotep.


Masih ada beberapa kepingan puzzle yang belum ditemukan, masih ada hal-hal yang tak terjelaskan, tetapi mereka akan menemukan jawabannya. Segera.


“Aku akan memberi waktu kepada Aslan selama beberapa jam untuk menyegarkan diri. Baru setelah itu aku akan menggedor pintunya seperti yang kalian inginkan,”


Menyegarkan diri  bagi Aslan jelas-jelas berarti lelaki itu sedang bercinta dengan Mischa. Itulah yang sudah pasti dilakukan oleh Aslan sekarang ini, tetapi Akrep memutuskan untuk tidak menyebutkan hal itu secara gamblang di depan Khar dan Sevgil. Toh tanpa disebutkan pun, Khar dan Sevgil pasti sudah bisa menduga apa yang dilakukan oleh Aslan kepada istrinya itu di dalam kamar yang tertutup rapat dan tidak mau diganggu gugat.


Suara pintu yang terbanting keras membuka hingga menggetarkan seluruh ruangan membuat Akrep tersentak dari pikirannya. Dirinya berserta Khar dan Sevgil langsung menoleh ke arah pintu untuk kemudian menemukan Kara yang terpaku di sana.


Mata Kara tidak tertuju pada mereka, tetapi sudah pasti tertuju pada satu titik yang selama ini telah menjadi pusat dunianya dan direnggut paksa darinya.


“Natasha…” bibir Kara bergetar ketika sosok yang dikiranya hanya akan ditemuinya dalam mimpi itu sekarang tampak jelas di depan matanya, begitu nyata dan sungguh ada, membuat air mata mengalir tanpa sadar dari sudut matanya dan membasahi pipi.


 



 


Bahkan sejak mereka dilahirkan pun ataupun ketika menjalani masa kecil, mereka tidak seperti bayi dan anak-anak manusia yang memiliki emosi yang bisa mendorong air mata tertumpah dari sudut mata mereka yang rapuh.


Tetapi Kara berbeda, seperti halnya Aslan yang telah menyerap sisi manusiawi dari diri Mischa. Kara juga melakukan hal yang sama.


Saat ini dia merasakan emosi meluap di dalam jiwanya yang tersembunyi dalam cangkang sedingin es.


Segala penantiannya, keputusasaannya, kepercayaannya yang hampir runtuh serta berpadu dengan cintanya yang tak kunjung menerima pemenuhan, semua itu bercampur aduk di dalam jiwanya, menciptakan emosi yang menyesakkan, mendesak rongga dadanya hingga hampir-hampir membuat dadanya pecah.


Lalu air mata itu tertumpah begitu saja, mengalir deras dari sudut mata dan membasahi pipinya tanpa bisa dibendung.


Matanya yang gelap menyapu tubuh Natasha yang dibaringkan di atas sofa, dalam kondisi tak sadarkan diri. Kara memindai seluruh tubuh Natasha, seolah-olah dia tidak yakin bahwa apa yang ada di hadapannya ini adalah nyata dan bukanlah mimpi semu dari seorang lelaki yang menahan rindu terlalu lama hingga hampir gila.


Seluruh saudaranya yang ada di dalam ruangan itu terpaku dengan mulut membisu. Mata mereka menatap dalam diam, tetapi memilih untuk tidak mengganggu kesyahduan pertemuan kembali dua kekasih yang terpisah lama.


Langkah Kara bergerak otomatis mendekati Natasha yang terbaring di sofa. Tubuhnya rubuh, bertumpu pada lutut disofa samping Natasha, sementara tangannya yang bergetar menyentuh pipi perempuan yang dicintainya itu.


Tubuh Natasha dingin dan Kara mendekatkan wajahnya ke wajah Natasha, ditempelkannya dahinya di sana, seperti yang dulu dilakukannya pada masa percintaan mereka yang hangat dengan perempuan itu.


Sayangnya mata Natasha tetap terpejam, seolah-olah sentuhan Kara sama sekali tidak memberikan pengaruh apapun kepadanya.


Kara mengangkat kepalanya, kembali tangannya menyusuri wajah Natasha, lalu bergerak ke tubuhnya yang lunglai. Matanya menajam ketika menemukan bilur-bilur biru dengan warna memar yang tersebar di seluruh titik di tubuh Natasha.


Para penjahat itu, mereka sudah pasti menggunakan metode lama untuk menyuntik tubuh Natasha dan mengambil darahnya tanpa ampun.


Kara meringis ngeri sekaligus sedih ketika membayangkan bagaimana jarum-jarum primitif itu ditusukkan ke permukaan kulit Natasha yang lembut tanpa ampun, menyedot darahnya dengan kejam seolah Natasha hanyalah komoditas menguntungkan yang tak bernyawa.


Begitu lama mereka dipisahkan, begitu lama Kara tenggelam dalam kesalahpahaman dan sakit hati yang parah sebelum akhirnya tersadar, dan pada masa-masa itu, Natasha sedang menderita tanpa sepengetahuannya, tanpa dia bisa menyelamatkannya.


Air mata Kara kembali menderas ketika dia bangkit dan mengangkat tubuh Natasha, duduk di sofa dan membawa perempuan itu ke atas pangkuannya. Direngkuhnya tubuh Natasha sehingga terangkat setengah duduk sambil bersandar di dada dan lengannya, dipeluknya tubuh lemah itu seolah takut kehilangan sementara wajahnya ditenggelamkan di sisi wajah Natasha, meluapkan kesedihan dan kerinduan yang seolah tanpa batas.


“Apa yang mereka lakukan pada dirimu, sayangku?” isak Kara dengan suara serak menyayat hati.


 




Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY