
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan terengah, berbaring telentang sambil memandang langit-langit kamarnya yang bernuansa gelap. Seluruh ruangan ini memang cenderung gelap, tapi bukan masalah karena Bangsa Zodijak bisa melihat di dalam kegelapan dengan sama baiknya.
Mata Aslan melirik tanpa menolehkan kepalanya, mencuri pandang dari sudut matanya ke arah Mischa yang berbaring meringkuk memunggunginya dengan tubuh yang hanya berbalut selimut.
Perempuan itu tidak mudah ditaklukkan, dan baru berhenti melawan setelah yang kesekian kalinya, memilih untuk berbaring diam layaknya batu dengan tatapan mata kosong dan membiarkan Aslan melakukan apapun yang dia suka.
Dalam ikatan kontrak pernikahan, laki-laki Bangsa Zodijak secara alami akan terdorong untuk menciptakan ikatan dengan pasangannya, baik ikatan tubuh maupun ikatan batin, dan baru akan berhenti ketika laki-laki Bangsa Zodijak mendapatkan kesadaran alami bahwa mereka benar-benar sudah terikat.
Sayangnya hingga saat ini Aslan mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu untuk bercinta dengan Mischa, dia tidak bisa merasakan ikatan itu terjalin, seolah-olah ikatan itu tidak bisa tersimpul sempurna, melainkan terurai lepas dan memberi kesempatan di masa depan untuk Mischa lolos dari ikatan tersebut dan kembali melarikan diri di masa depan.
Aslan secara perasaan tidak ingin terikat dengan manusia, manusia adalah makhluk dengan derajat lebih rendah baginya, makhluk dengan evolusi rendah yang secara fisik maupun peradaban berada jauh dibawah mereka yang bahkan tidak pantas untuk dipandang sebelah mata sekalipun. Tapi dengan Mischa, entah mengapa Aslan amat sangat ingin perempuan itu terikat erat kepadanya.
Memikirkan itu semua membuat Aslan bangkit setengah terduduk dari ranjang, tangannya bergerak untuk menyentuh bahu Mischa, mengusiknya dari kediaman.Begitu jarinya bersentuhan dengan kulit Mischa, seakan ada gelenyar beraliran listrik yang menyengat kulitnya dan itu sepertinya dirasakan oleh Mischa karena tubuh perempuan itu tersentak.
“Setelah kau membersihkan diri, kau akan memakai pakaian yang kusiapkan untukmu, lalu aku akan membawamu menemui Yesil,” Aslan mengamati punggung Mischa yang kaku, “Tubuhmu… meski saat ini terlihat baik-baik saja, tapi Yesil harus memastikan bahwa kau benar-benar tidak apa-apa.”
Mischa hanya terdiam, ingin membantah tapi tahu tidak ada gunanya.
Dia hanya ingin ditinggalkan sendirian… kenapa dia tidak bisa sendirian tanpa diganggu?
Tubuh Mischa tiba-tiba dibalik dengan sedikit kasar hingga dia telentang, Aslan dengan sigap membungkuk di atasnya, membuat mereka berhadap-hadapan dengan wajah begitu dekat.
Seketika itu juga Mischa mendorong dada Aslan supaya menjauh. Aslan sendiri tidak menahan, membiarkan tubuhnya didorong dan mata hitamnya mengamati lekat Mischa yang meloncat dari ranjang dan lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Aslan tidak mencekal lengan Mischa, hanya membiarkan perempuan itu mengikuti di belakangnya, dalam kediaman tanpa suara.
Mereka berjalan melalui lorong-lorong gelap yang menghubungkan antar istana Bangsa Zodijak tanpa dalam kesenyapan, menggaungkan suara jejak kaki sepatu Aslan yang berat hingga menggema di sepanjang lorong.
Aslan sendiri sudah membersihkan diri, rambutnya basah, mengenakan pakaian hitam-hitamnya yang biasa dan Mischa mengenakan gaun biru yang mirip dengan gaun yang pernah diberikan kepadanya sebelumnya.
Di beberapa lorong, terdapat pintu-pintu yang menghubungkan ke ruangan tempat prajurit Zodijak berkumpul. Sebagian yang lain berlalu lalang dan langsun memberi hormat ketika berpapasan dengan mereka.
Mischa tidak pernah menyangka bahwa saat ini dia berada di tengah kumpulan Bangsa Zodijak dan sama sekali tidak merasa takut.Langkah yang dimpimpin Aslan kemudian membawa mereka melalui gerbang-gerbang tinggi sebelum kemudian sampai ke sisi ujung dengan atap berbentuk kubah bening dengan nuansa abu-abu lembut yang melingkupi.
Mischa memandang sekeliling, berusaha memindai apa yang ada ditangkap oleh matanya dan merekam semua ke dalam ingatan. Sepanjang jalan tadi dirinya berusaha menghapalkan lorong-lorong rumit yang mereka lalui, berharap hal itu akan berguna untuk dirinya nanti.Aslan sendiri berbicara dengan penjaga melalui intercom dan kamera yang terpasang di gerbang tinggi itu, lalu menunggu sambil melirik ke arah Mischa, mengangkat alis ketika menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Mischa.
“Kau bebas menjelajahi seluruh sudut istana ini. Tetapi ketika batu cincinmu berubah warna menjadi merah, itu tandanya kau harus mundur dan berbalik arah karena kau sama saja sudah melampaui batas wilayah yang kutetapkan. Kalau kau tidak mundur kau akan memicu bom pada gelang kaki adikmu. Kau tidak mau itu terjadi, bukan?” Aslan memandang Mischa dan mengkat alis ketika Mischa memilih untuk melengos dan tidak membalas perkataannya.
Dasar manusa perempuan. Aslan sudah berusaha bersikap baik, tapi perempuan itu malahan bersikap tidak tahu terima kasih.
“Kau bebas berkeliaran di siang hari. Tapi di malam hari kau harus kembali ke kamarku dan bersiap di sana.” Aslan membalikkan badan, menyentuh dagu Mischa dan mengangkatnya supaya wajah Mischa menengadah ke arahnya, “Karena di malam hari, kau milikku.” sambungnya dengan suara mengancam.
Mischa mengernyitkan kening, melemparkan tatapan menantang ke arah Aslan.
“Kenapa kalian Bangsa Zodijak melakukan ini pada Bangsa Manusia?” tanyanya getir. “Kami… kaum manusia tidak pernah mengganggu kalian, tapi bangsa kalian datang, merusak dan menghancurkan dengan kejam seluruh kehidupan bangsa kami yang dulunya damai.”
Aslan menipiskan bibir mendengar pertanyaan itu, menatap Mischa dengan sinis seolah-olah Mischa orang bodoh karena bertanya.
“Kalian kaum manusia hanyalah makhluk lemah di alam semesta, merasa kuat dan menjadi tumpul karena seluruh kebutuhan hidup kalian dipenuhi oleh bumi. Kalian terlalu lama bermalas-malasan dan pongah hingga tidak menyadari ada banyak pejuang-pejuang lain di alam semesta ini yang berusaha untuk lebih maju dan lebih kuat demi penghidupannya.”
Aslan menyipitkan mata. “Kami tidak menyimpan sentimen pada satu bangsa tertentu, dan seluruh planet lain yang kami serang kami hancurkan tanpa sisa. Bangsamu, bangsa manusia tidak istimewa, tapi aku akan selalu mengingat kalian sebagai yang terlemah di antara semua. Meskipun, planet kalian adalah yang terkaya dari semua yang pernah kami taklukkan. Bumi diperuntukkan bagi makhluk kuat seperti kami yang bisa menjaga dan memanfaatkannya tanpa merusak, bukan bagi kalian manusia, makhluk tidak tahu terima kasih yang bersikap seperti parasit dan menghancurkan apapun yang kalian injak.” Aslan memandang Mischa dengan tatapan mengejek. “Aku hanya tidak menyangka harus memperistri salah satu manusia perempuan yang merupakan makhluk rendahan bagiku,” sambungnya mencemooh.
Mischa membelalakkan mata atas penghinaan akan kaumnya yang tidak disembunyikan itu, ditatapnya Aslan dengan menantang.
“Oh ya?” Aslan tersenyum miring dengan nada mencemooh yang kental, “Kelebihan katamu? Bagiku ikatan aneh yang kuat antar manusia bukanlah sebuah kelebihan, melainkan kekurangan. Aku menggunakan ikatan yang kau jalin dengan Sasha untuk mengendalikanmu, bukan? Dan kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan,” cemoohnya telak, beriringan dengan pintu gerbang kediaman Yesil yang terbuka.
“Dia baik-baik saja.”Yesil telah melakukan pemeriksaan menyeluruh ke seluruh diri Mischa, tidak melewatkan satupun hingga membuat Mischa jengah. Tatapan Yesil tampak penuh arti ke arah Mischa, antara terkejut sekaligus kagum.
Yesil tentu saja bisa menduga apa yang dilakukan Aslan terhadap Mischa selama tiga hari dia mengurung pengantinnya itu di kamar. Yang tidak Yesil duga sebelumnya adalah bahwa tubuh Mischa di luar ekspetasi ternyata mampu menahan hantaman hasrat Aslan tanpa kekurangan suatu apapun.
Hal ini membuat Yesil semakin yakin bahwa ada sesuatu pada Mischa yang berhubungan erat dengan Aslan. Masalah air bumi yang berubah struktur molekul itu, dia juga harus membicarakan dengan Aslan.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” Yesil memberi isyarat sambil sedikit memiringkan kepala agar Aslan mengikuti.
Sejenak Aslan melirik ke arah Mischa yang masih duduk dengan tubuh kaku seolah menghindarinya. Aslan mengangkat bahu tak peduli, lalu melangkah mengikuti Yesil yang keluar dari ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya.
Ditinggalkan sendirian membuat Mischa sedikit kebingungan. Lama dirinya menunggu, tapi tidak terjadi apapun hingga lama-lama dirinya bosan hanya duduk tanpa arah seperti itu dan memutuskan untuk menjelajah. Banyak benda-benda menarik yang belum pernah dilihat oleh Mischa sebelumnya di ruangan ini, peralatan-peralatan canggih dengan bentuk aneh yang Mischa sendiri tidak tahu itu apa.
Ayahnya dulu seorang peneliti, mungkin bisa juga disebut ilmuwan, mirip seperti Yesil. Hanya saja mereka berdua berkebalikan, ayahnya mendedikasikan diri untuk meneliti Bangsa Zodijak, sementara Yesil menghabiskan waktunya untuk meneliti tentang kaum manusia.
Mischa meloncat turun dari kursi tinggi tempatnya duduk tanpa pikir panjang, lalu berdiri di atas karpet tebal tanpa alas kaki dan mengendus udara di sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu. Rasa familiar langsung menyeruak ke dalam jiwanya ketika mencium aroma yang sama, persis seperti aroma ruang kerja ayahnya dulu sebelum rumah mereka hancur oleh serangan Bangsa Zodijak. Aroma ini begitu khas,tercipta dari campuran bahan kimia, disinfektan dan juga obat-obatan yang pekat.
Lalu suara mesin yang konstan tiba-tiba terdengar sayup-sayup dan tertangkap oleh telinga Mischa, membuat Mischa menolehkan kepala ke arah sumber suara. Sepertinya tidak terdengar jauh dari situ dan hal itu menarik perhatian Mischa karena suaranya seperti alat penunjang kehidupan yang dipakai di rumah sakit-rumah sakit manusia.
Adakah yang sakit di sini?
Pikiran Mischa langsung merambat kemana-mana, bayangan buruk tentang penelitian-penelitian yang dilakukan Bangsa Zodijak terhadap tubuh-tubuh manusia yang tak berdaya, yang diculik dan dijadikan bahan eksperimen membuat Mischa sedikit begidik ngeri.
Apakah jangan-jangan ada ruangan khusus tempat Yesil menyimpan tubuh-tubuh manusia untuk dibedah dan diteliti?
Mischa langsung memikirkan Sasha. Dirinya tidak melihat Sasha lagi sejak Kara menyerahkan adik angkatnya ke tangan Khar. Jantung Mischa langsung berdegup kencang.
Apakah mungkin itu… Sasha?
Melupakan rasa takut dan ngeri yang muncul di benaknya, Mischa melangkah hati-hati ke arah sumber suara alat penunjang kehidupan yang didengarnya sayup-sayup.
Sepertinya dia sudah di arah yang benar karena suaranya terdengar semakin jelas dan semakin jelas sampai mengantarkan Mischa ke sebuah tirai berwarna putih di ujung lorong ruang pemeriksaan milik Yesil.
Udara dingin menusuk kulit Mischa, membuat Mischa mendongak dan menyadari bahwa pendingin ruangan dipasang pada suhu yang paling dingin, membekukan hingga hampir mencapai suhu yang tak tertahankan oleh tubuh manusia dan membuat Mischa mulai menggigil.
Mischa menggigit bibirnya, lalu bergerak dengan hati-hati, menggunakan tangan kurusnya untuk menyingkap tirai itu perlahan, dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang menyeruak di dalam hatinya.
Seketika setelah matanya berhasil menerjemahkan pemandangan yang terpapar di depannya, Mischa terkesiap sementara tangannya bergerak otomatis menutup mulut untuk menahan pekikan keterkejutan.
Itu Kara… berbaring di sana dengan kondisi tidak berdaya…
Seluruh tubuh Kara dibalut oleh perban, hanya menyisakan sedikit di bagian kepala dan wajah yang membuat Mischa bisa mengenalinya. Beberapa penyangga yang tampak kaku dan berat dipasang di sisi-sisi tubuhnya seperti leher, lengan, tulang punggung dan kaki.
Kara tampak pucat pasi, memejamkan matanya rapat seolah-olah jiwanya berada di sisi lain dunia dan tak mampu memberi daya kepada tubuhnya untuk bergerak. Kabel-kabel yang tampak mengerikan terhubung ke tubuh Kara, berikut dengan selang-selang yang mengalirkan darah kental berwarna merah gelap nyaris hitam.
Hanya dari pandangan saja Mischa menyadari bahwa Kara benar-benar luluh lantak dan tak berdaya.
Mata Mischa terasa panas ketika air matanya terdorong keluar, dengan pedih, menyadari bahwa ini adalah perbuatan Aslan. Terakhir kali Mischa melihat Kara adalah ketika lelaki itu memutuskan untuk menantang Aslan demi memberi waktu Mischa melarikan diri, dan sekarang seperti inilah hasilnya.
Aslan yang kejam benar-benar tidak menahan-nahan diri, menghancurkan Kara sampai seperti ini.
Mischa sedang menggerakkan lengannya untuk mengusap air mata ketika tiba-tiba sebuah tangan kuat mendorongnya hingga mundur dengan keras, lalu sosok tubuh besar yang tak kalah kuat mendesaknya ke dinding dengan telapak tangan besar bergerak keras dan mencengkeram leher Mischa dengan kasar, menahannya di sana.
“Berani-beraninya kau kemari dasar manusia rendahan pembawa masalah,” mata yang hitam itu menatapnya dekat dan seketika itu juga Mischa menyadari bahwa dirinya sedang berada di bawah ancaman Kaza, saudara kembar Kara. “Setelah apa yang kau perbuat pada saudaraku. Kau lihat kondisinya sekarang? Kau lihat apa yang kau perbuat?” desis Kaza dengan suara dingin menahan amarah.
Mischa merasakan jantungnya berdebar kencang, seperti seorang mangsa yang terdesak dalam kematian di bawah ancaman predator bengis. Napasnya tidak bisa keluar karena lehernya dicengkeram erat, begitupun dengan suaranya. Yang bisa Mischa lakukan adalah berusaha meronta dan melepaskan diri terdorong oleh naluri alamiah mempertahankan nyawa.
Sayangnya Kaza yang dikuasai kemarahan sepertinya tidak ingin melepaskan Mischa, lelaki Zodijak itu malahan mempererat cengkeramannya ke leher Mischa seolah-olah dipenuhi keinginan meluap-luap untuk membunuh manusia perempuan lemah di depannya ini.
“Lain kali, kalau Kara, saudaraku yang bodoh itu menawarkan bantuan untuk menyelamatkanmu, maka tolaklah. Kau boleh melarikan diri semaumu, kau boleh mengumpankan nyawamu dan menyerang batas kesabaran Aslan hingga kau mati atau hancur dibunuh oleh Aslan, aku tak peduli,” suara Kaza merendah penuh kebencian. “Tapi jangan pernah, jangan pernah melibatkan saudaraku lagi dalam urusanmu!” serunya keras, sebelum kemudian menundukkan kepala ke leher Mischa.
Membuat Mischa melirik ngeri, dipenuhi oleh kesadaran bahwa Kaza sedang berniat untuk menggigit lehernya!
Dari ajaran ayahnya, Mischa tahu bahwa seorang manusia tidak boleh sampai digigit dua kali oleh dua orang Tuan Bangsa Zodijak. Ketika seorang manusia digigit oleh satu makhluk Zodijak, dia akan menjadi budak karena pengaruh dari racun penaklukan yang dialirkan melalui gigi taring Bangsa Zodijak yang menyalurkan bisa dan memasuki tubuh manusia serta mempengaruhi otaknya. Tapi jika manusia yang sudah digigit itu sampai mendapatkan gigitan lain di tubuhnya dari tuan yang berbeda, maka manusia itu akan mati karena tubuh manusianya yang rapuh tidak akan bisa menahan dua racun dari dua tuan Bangsa Zodijak.
Mischa mencoba mendorong kepala Kaza yang menunduk paksa ke lehernya, berjuang sekuat tenaga supaya tidak tergigit, meronta-ronta untuk menyelamatkan diri. Sayangnya semua itu sia-sia belaka, dan ketika Mischa sudah putus asa untuk berjuang, tahu bahwa dia tidak bisa melawan lagi, sebuah nama terlintas di dalam benaknya, membuatnya menjerit keras untuk meminta pertolongan pada satu-satunya makhluk yang sangat dibenci sekaligus menjadi satu-satunya harapannya.
“Aslan!”