
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Kedua penjaga itu berpandangan seolah ragu.
Mereka diperintahkan oleh Aslan untuk tidak membiarkan siapapun masuk. Tapi ini adalah Kaza, salah satu pemimpin Bangsa Zodijak yang merupakan saudara Aslan sendiri.
Seharusnya tidak apa-apa, bukan?
Mereka saling melempar isyarat menyetujui satu sama lain, lalu meminggirkan tubuh untuk mempersilahkan Kaza masuk.
Kaza tidak menunggu lama karena tahu bahwa kesempatannya sedikit. Dia tentu saja tidak akan membawa lari Sasha seperti perbuatan bodoh yang dilakukan oleh Kara ketika membawa lari Mischa.
Dia hanya akan melihat anak perempuan itu sebentar untuk mendapatkan informasi apapun yang bisa didapatkannya. Dan dia harus bergerak cepat sebelum Aslan menyadari bahwa dia telah berbuat sesuatu di luar sepengetahuannya.
Dengan cepat Kaza membuka pintu ruangan itu lalu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya sementara mata tertuju pada sosok anak kecil yang duduk di tepi ranjang.
Sebagai persiapan, Kaza telah memasang lensa mata palsu serupa manusia untuk menutupi mata legamnya yang ditakuti kaum manusia. Mungkin dengan membuat anak perempuan itu merasa berbicara dengan sesama manusia, informasi akan mengalir lancar dari mulutnya.
Kaza sama sekali tidak berencana berpura-pura bersikap bersahabat kepada Sasha. Dia tetap akan mengintimidasi dan mendesak anak itu dengan kasar supaya memberikan informasi. Tetapi, lensa mata palsu ini setidaknya bisa menyingkirkan sikap histeris kekanak-kanakan yang sudah pasti akan muncul dari anak itu kalau menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Bangsa Zodijak.
Waktu Kaza tidak banyak dan dia tidak mau menghabiskannya dengan menghadapi anak kecil yang menangis serta menjerit-jerit.
Begitu Kaza memasuki ruangan, anak perempuan itu langsung mendongakkan kepala menyadari kehadirannya.
Sasha tampak ketakutan, tetapi anak kecil itu menatap Kaza dengan mata lebarnya yang cerdas dan wajahnya langsung berubah pucat pasi.
“Kara…?” Sasha ternganga karena matanya menemukan sosok Kara, sosok lelaki yang melindungi dan menyelamatkan kakak angkatnya.
Tetapi, kenapa Kara tampak berbeda? Lelaki itu tampak jahat dan mengerikan, memindai Sasha dengan tatapan menelisik seolah ingin mengoyak lapisan perlindungan Sasha dan merogoh jiwanya dengan kasar.
Pikiran anak kecil yang polos bergolak ketakutan di dalam kepala Sasha, membuat ekspresinya dipenuhi kebingungan yang amat sangat, sementara Kaza menyeringai, tampak begitu mengerikan di mata Sasha.
“Aku bukan Kara.” ucap Kaza dalam desisan kejam yang membelah ruangan dan membuat bulu kuduk berdiri.
Mata lebar kanak-kanak itu menatap Kaza dengan penuh ketakutan, dan tubuh mungil itu langsung beringsut menjauh.
Kaza sendiri berusaha tampak garang dan menakutkan di depan anak perempuan kecil ini. Dia harus tampak mengintimidasi kalau menginginkan informasi karena sesuai dengan apa yang dipelajari olehnya, manusia yang takut akan menurut dan memberitahukan segalanya.
Sayangnya, ketika Kaza memusatkan perhatiannya dengan intens ke arah Sasha, sebuah hantaman tak kasat mata langsung menubruk jiwanya, begitu dahsyat dengan kekuatan tanpa ampun hingga membuat Kaza melangkahkan kakinya mundur tanpa sadar.
Bibir Kaza terbuka sementara tangannya mengepal, mata gelapnya menatap anak perempuan yang seolah tak tahu apa-apa itu dengan frustasi.
“Apa yang kau lakukan pada diriku, hah!? Apa yang kau lakukan pada kami?” Kaza menahan perasaan bergolak yang muncul di dalam jiwanya, berusaha menguatkan diri dan memaksa tubuhnya melangkah mendekati Sasha, sayangnya perasaan bergolak itu terlalu kuat, dan bukannya mereda malahan bertambah semakin dahsyat seiring dengan langkahnya yang semakin mendekati anak perempuan kecil itu.
Akhirnya Kaza hanya bisa menghentikan langkah, terpaku sambil menatap tajam ke arah Sasha yang masih gemetar ketakutan menatapnya.
“Kalian adalah senjata! Manusia kurang ajar!” desisnya marah, mengerutkan kening ketika pada akhirnya melangkah mundur. “Aku tidak akan membiarkannya… aku tidak akan membiarkan diriku dan saudara-saudaraku tunduk pada senjata seperti kalian!”
Kaza meneriakkan kalimat itu seperti sebuah janji dan memenuhi ruangan dengan suaranya sebelum kemudian tidak tahan lagi dengan perasaan aneh yang bergolak memenuhi dada ketika menatap Sasha yang tampak semakin beringsut ketakutan karena Kaza berteriak kepadanya.
Tiba-tiba saja ada dorongan kuat yang menerpa Kaza, membuatnya ingin memeluk anak perempuan itu dan menenangkannya, mengatakan bahwa anak itu akan baik-baik saja, bahwa dia tidak akan menyakitinya…
Kaza menyipitkan mata sementara tangannya mengepal dengan begitu kuat sampai terasa sakit. Pada akhirnya lelaki itu membalikkan badan dan bergegas membuka pintu, melesat keluar dari ruangan dan meninggalkan para penjaga yang tampak kebingungan.
“Kau akan pergi?”
Aslan yang sedang memasang kancing rompi pelindungnya menolehkan kepala mendengar pertanyaan itu. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat Akrep ada di sana, melongok ke ruang senjata untuk mencari keberadaannya.
Aslan tidak bisa berdiam begitu saja, menunggu manusia perempuannya tersadar dan tidak berbuat apa-apa. Dia harus melakukan sesuatu, dan berperang, bertarung atau membunuh musuh-musuhnya adalah satu-satunya jalan yang dia tahu untuk melampiaskan rasa frustasinya.
Dengan tak acuh Aslan mengalihkan perhatiannya kembali kepada senjata-senjata yang terhampar di meja depannya. Berbagai pistol, senjata api dan senjata laser canggih terhampar di sana, tampak mengerikan dengan warna hitam legam dan ukuran yang bervariasi. Semua senjata itu bisa digunakan secara efektif untuk menyerang musuh jika berada di tangan yang tepat, meskipun kadang Aslan lebih suka menggunakan tangan kosong untuk melumpuhkan musuh-musuhnya.
Insting pembunuhnya sebagai Bangsa Zodijak terlalu kuat untuk dibantu dengan senjata, lagipula kepuasan akan lebih terasa jika berhasil menaklukkan lawan dengan kekuatannya sendiri.
Meskipun begitu, bukan berarti Aslan tidak membawa senjata ke medan perang, kadang-kadang hal itu diperlukan, untuk serangan jarak jauh misalnya. Manusia di sisi timur yang belum mereka taklukkan masih gigih mempertahankan daerahnya meskipun mereka sudah kehabisan segala daya dan makin terpojok. Manusia-manusi itu membangun tembok besar yang dilapisi berbagai senjata kuat, dijaga habis-habisan dengan segala upaya untuk mempertahankan diri.
Saat ini manusia di sisi timur itu merupakan satu-satunya Bangsa Manusia yang belum dibumihanguskan oleh Bangsa Zodijak. Mereka masih melawan sekuat tenaga meskipun pada akhirnya mereka pasti akan hancur, sama seperti Bangsa Manusia lainnya yang sudah diluluh lantakkan.
Aslan tersenyum sinis membayangkan bagaimana dia dan saudara-saudaranya begitu menikmati pertarungan ini. Bangsa terakhir yang masih bertahan tersebut membutuhkan waktu lama untuk ditaklukkan bukan karena manusia-manusia itu sulit dikalahkan, tetapi lebih karena Bangsa Zodijak ingin lebih lama bermain-main dengan satu-satunya musuh yang tersisa.
Jika mereka menghancurkan musuh ini dengan cepat, mereka akan bosan setelahnya karena tidak akan ada yang bisa dikalahkan lagi. Prajurit Zodijak menyukai perang, menyukai perburuan untuk mengisi hari-hari mereka, dan jika nanti tidak ada lagi yang diajak bertarung, bisa dibayangkan betapa bosannya kehidupan mereka nanti.
Yesil bilang jika air bumi benar-benar berubah menjadi air Zodijak, itu berarti pencarian mereka akan berhenti. Mereka tidak perlu lagi berkelana mengelilingi galaksi dan menaklukkan daerah satu demi satu hanya untuk mencari air yang menunjang kehidupan dan kekuatan mereka.
Mereka semua harus bersiap untuk menetap dan membangun peradaban baru, mengalihkan tenaga mereka untuk naik ke tingkat selanjutnya : menyempurnakan peradaban.
Bisakah dia menjalani kehidupan seperti itu? Tanpa perang, tanpa mengangkat senjata dan tanpa pertumpahan darah?
Aslan mengerutkan kening ketika memasang senjata-senjata itu di balik rompi yang dipakainya. Kegiatan itu membuatnya sibuk selama beberapa saat dan melupakan keberadaan Akrep. Setelah selesai, Aslan menolehkan kepala lalu mengerutkan kening ketika menyadari bahwa Akrep masih berdiri di ambang pintu, dengan sabar menunggu entah untuk apa.
“Kenapa kau masih di sini?” Aslan membaikkan tubuh, menatap ke arah Akrep yang memasang ekspresi serius.
Akrep sendiri malahan menghela napas, seolah-olah apa yang ingin dikatakannya itu begitu berat, menggayuti tenggorokannya hingga tak bisa dilepaskan.
“Tentang Mischa,” Akrep menghentikan kata-katanya untuk menilai ekspresi Aslan yang langsung menggelap.
Aslan menyeringai penuh ironi. “Tentang manusia perempuan sialan itu lagi,” seiring dengan kata-katanya, Aslan menatap Akrep dengan jengkel. “Tidak bisakah aku hidup tenang sebentar saja dan melupakan manusia perempuan itu?”