
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Gedoran di pintu Yesil membuat lelaki itu mengerutkan kening.
Tidak pernah ada yang menggedor pintu sebelumnya. Mereka yang hendak masuk ke areanya menggunakan cara beradab, berbicara melalui kamera dan hanya masuk ketika diizinkan masuk.
Yesil memang kadang menggunakan penjaga di depan gerbang, tapi di saat-saat tertentu dia tidak memakai mereka karena dia tidak ingin ada prajurit-prajurit yang lalu lalang di area penelitiannya yang cukup rahasia, karena itu kadangkala Yesil sudah merasa cukup hanya mengandalkan kamera pengawas untuk menjaga pintu gerbangnya.
Kali ini sosok yang sedang berada di depan gerbangnya tampak begitu terdesak, sebab ketika Yesil tidak menjawab gedorannya, sosok itu mulai berteriak memanggilnya.
“Apa yang kau inginkan, Kaza?” Yesil berseru dari intercom yang menghubungkan suaranya dengan gerbang, lalu memencet tombol otomatis supaya kunci pelindung gerbang itu terbuka.
Tangannya kemudian bergerak cekatan untuk mematikan senjata-senjata jebakan tersembunyi yang berada di lokasi-lokasi tertentu di lorong yang terpampang jelas setelah gerbang terbuka itu.
Tidak menggunakan penjaga untuk mengawal gerbangnya, bukan berarti Yesil tidak menjaga areanya. Ada banyak sekali senjata tersembunyi di lorong yang menjadi pintu masuk ke areanya, siapapun yang mencoba menyusup masuk tanpa izin bisa mati bahkan musnah menjadi debu kalau melewati lorong-lorong area Yesil yang penuh dengan senjata dan racun mematikan.
Apa yang ada di dalam area ini merupakan hasil penelitian penting beserta obat-obatan yang cukup berharga, pencuri tidak diterima di sini dan pasti akan dihabisi.
Begitu pintu gerbang itu terbuka, Kaza tidak menunggu dua kali untuk menyerbu masuk dan dalam sekejap saja sudah sampai di depan Yesil yang sedang duduk di ruang santainya dan menikmati segelas minuman.
Mata Yesil menelusuri wajah Kaza yang tampak frustasi dan lelaki itu beralih menatap Kaza penuh rasa ingin tahu,
“Apa yang terjadi kepadamu, Kaza? kau tampak… berantakan,” simpulnya sambil mempelajari perlahan.
Napas Kaza tampak terengah, matanya mengawasi minuman yang sedang dinikmati oleh Yesil, lelaki itu merangsek kesana dan merenggut botol minuman yang terletak di meja samping tempat duduk Yesil, lalu menenggakknya tanpa ampun hingga hampir tandas.
Yesil sendiri mengangkat alis melihat kelakuan Kaza.“Itu minuman beralkohol yang sangat kuat yang kuracik sendiri, minuman itu untuk disesap perlahan-lahan dan dinikmati bukan langsung ditenggak dengan cara barbar. Kau akan mabuk dan mati rasa sebentar lagi,”
“Bagaimana dengan Kara? Bagaimana kondisinya?” Kaza menyeringai ketika rasa alkohol minuman itu membakar pencernaannya.
“Kara tadi tersadar, kepalanya baik-baik saja, dia ingat segalanya, hanya saja lukanya masih membuatnya begitu sakit, aku menyuntiknya dengan obat penenang khusus supaya dia bisa beristirahat dan tidak perlu menikmati rasa sakitnya. Saat ini Kara kembali tidur, itu lebih baik karena dengan beristirahat total, sel-sel tubuhnya akan memulihkan diri dengan cepat.”
Kaza menganggukkan kepala. “Aku menemui anak perempuan itu…” desisnya perlahan, matanya mulai berkunang-kunang, efek dari minuman yang ditenggaknya tadi. Tapi itu lebih baik, kehilangan kesadaran karena minuman itu lebih baik daripada efek membingungkan yang sedang melingkupi dirinya saat ini.
Yesil langsung menegakkan tubuh dengan waspada. “Anak perempuan itu? Maksudmu Sasha? Kau menemuinya tanpa izin Aslan? Apakah kau sudah gila? Kalau Aslan tahu, dia akan meremukkanmu!” serunya dengan nada memperingatkan.
Kaza tanpa sadar menyentuh lehernya, bekas cengkeraman Aslan yang masih terasa menyakitkan di sana.
“Itu sudah bukan masalah lagi, aku tidak ketahuan oleh Aslan, dia sedang pergi berperang,” Kaza menggerakkan tangan untuk menyentuh wajah, lalu mengusapnya seolah-olah putus asa. “Anak itu… ketika aku menatapnya dan dia menatapku, aku seperti dihantam oleh sebuah pesawat berkecepatan tinggi…”
“Kau merasakan hal yang berbeda?” Suara Yesil bahkan lebih waspada daripada sebelumnya.
Kaza menggosok wajahnya kembali dengan marah, ketika mengangkat wajah untuk menatap Yesil, ekspresinya dipenuhi oleh teror.
“Dia menarikku mendekat sekaligus melontarkanku menjauh, aku tidak bisa menjelaskannya…” serunya dengan nada frustasi. “Tentu saja aku tidak akan meletakkan tanganku padanya, aku tidak akan menyentuhnya, anak itu masih begitu kecil dan aku tidak berhasrat pada anak kecil… tapi… tapi…” sejenak Kaza tampak kehilangan kata-kata, “Aku terdorong untuk menyimpan anak itu di bawah teritoriku, di bawah pengawasanku untuk menjaganya….”
Yesil tersenyum kecut ketika berhasil menyimpulkan segalanya. “Kau sedang mengalami hal yang serupa seperti yang terjadi pada Aslan… dan juga Kara sebelumnya,” ucapnya perlahan, sedikit menganggukkan kepala dan berpikir. “Rupanya apa yang diduga oleh Kara benar adanya, ada sesuatu yang berbeda pada Sasha…”
“Dia masih anak-anak!” Kaza berteriak seolah kehilangan kendali, entah akibat minumannya atau memang karena rasa frustasinya yang menumpuk. “Dan dia juga manusia! Aku tidak akan berakhir seperti Kara dan Aslan, takluk pada manusia rendahan! Aku semakin yakin bahwa manusia-manusia perempuan itu adalah senjata untuk menghancurkan kita, lihat apa yang Natasha lakukan pada Kara, apa yang Mischa lakukan pada Aslan… dan sekarang apa yang anak kecil itu lakukan padaku… mereka adalah senjata…. dan sekarang aku tidak mampu membunuh anak perempuan kecil itu,” suara Kaza dipenuhi rasa frustasi yang menyiksa jiwanya.
Suara Yesil terhenti karena tubuh Kaza tiba-tiba roboh, jatuh kehilangan kesadaran di lantai.
Minuman berkadar alkohol tinggi yang ditenggaknya telah berhasil merenggut kesadaran Kaza sepenuhnya dan membawanya ke alam mimpi.
Kaza akan bangun dengan kepala luar biasa sakit kalau dia sadar nanti, tapi setidaknya pikiran saudaranya itu akan lebih jernih setelah ditidurkan dengan paksa.
Yesil menahan senyum dikulum. Salah sendiri Kaza langsung menenggak minuman itu tanpa bertanya dulu apa isinya.
Hingga malam menjelang, barulah Aslan sampai kembali ke istana Bangsa Zodijak.
Dirinya masih tampak segar meskipun menempuh perjalanan ke timur jauh, menghabiskan harinya untuk mengejar, menyerang, menembakkan senjata dan membunuh banyak musuh-musuhnya, menebarkan teror yang mengerikan atas lawan-lawannya sebelum kemudian menempuh perjalanan panjang lagi untuk pulang.
Aslan menipiskan bibir sementara matanya menajam. Pulang.Kalimat itu tidak pernah semenarik itu sebelumnya bagi dirinya.
Pulang… pulang ke tempat dimana Mischa berada.
Aslan menggertakkan gigi ketika menyadari bahwa pemikiran tentang Mischa saja langsung membuat dirinya rindu. Dia ingin berada di dekat perempuan itu, ingin menyentuh dan memeluknya sepuas hati.
Langkah Aslan terhenti ketika menyadari ada sosok yang dikenalnya, menunggu di area gerbang utama seolah tahu bahwa Aslan akan datang.
Mata gelap Aslan menyambar ke arah Yesil, tahu pasti bahwa dirinyalah yang sedang ditunggu oleh saudaranya itu.
“Aku hendak menemui dan memeriksa kondisi Mischa, tapi kali ini kau memerintahkan budakmu mengunci pintu kamarnya, dan mereka menjaga pintu itu dengan taruhan nyawa, mengatakan dengan jelas bahwa tidak ada siapapun yang diizinkan masuk, bahkan aku sekalipun,” Yesil langsung berucap tanpa basa-basi. “Dia sudah mengenakan cincin pengikat itu, untuk apa kau menguncinya di kamar?”
Aslan menipiskan bibir. “Kau tidak dalam kapasitas untuk mempertanyakan kebijakanku, Yesil. Kalau aku ingin mengunci perempuan itu di kamarku, maka akan kulakukan, aku tidak membutuhkan pendapatmu.”
Yesil mengangkat alisnya. “Dia istrimu, Aslan. Dan mungkin akan hidup bersamamu dalam waktu lama. Kau tidak mungkin menahannya di kamar itu selamanya, kan? Itu tidak manusiawi.”
“Manusiawi? Karena dia manusia jadi kita harus memperlakukannya dengan manusiawi? Jadi sekarang Mischa menjadi seorang putri bagimu? Putri dari kalangan manusia rendahan dan aku harus memperlakukannya bak pangeran yang memuja Sang Putri? Itu tidak akan terjadi! istriku atau bukan, Mischa hanyalah manusia rendahan, kastanya tak lebih seperti budak di mataku, ketika aku ingin mengurung budakku, dia harus menerimanya, begitupun kalian!”
“Kau mengurungnya bukan karena kau menganggap Mischa budak.” Yesil menatap tajam ke arah Aslan. “Kau mengurungnya karena kau takut kehilangannya, bukan?”
“Tutup mulutmu!”
Aslan langsung meraung, seluruh tubuhnya kini menghadap Yesil dengan penuh ancaman.
Sementara itu Yesil tidak tampak gentar. Lelaki itu bersedekap dan menatap Aslan dengan tatapan menilai.
“Kau marah. Tidak tahukah kau bahwa kemarahanmu menunjukkan bahwa aku benar? Kau takut kehilangan perempuan itu, apalagi setelah dia sempat melarikan diri darimu kemarin. Kau takut kau akan mengalami nasib yang sama seperti Kara, bukan? Kehilangan manusia perempuannya yang berharga dan putus asa untuk menemukannya.”
“Kalau Mischa sampai melarikan diri dariku lagi, aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri. Aku akan menghancurkan perempuan itu berkeping-keping kalau dia berani-beraninya menentangku lagi,” Aslan mendesis dengan marah dari sela giginya yang gemretak murka. “Perempuan itu tidak berharga untukku.”
Yesil menggelengkan kepala, menatap Aslan dengan lelah. Sama seperti halnya Kaza, Aslan juga melakukan penyangkalan habis-habisan atas keterikatannya dengan manusia.
Yah… Yesil juga tidak akan menyalahkan mereka, jika saja dia yang berada di posisi Aslan, mungkin dia akan sama kebingungannya.
Pada akhirnya Yesil memutuskan untuk tidak mendesak Aslan.
“Aku ingin menemui Mischa untuk memastikan kondisinya,” ucapnya berkompromi.
“Dia akan baik-baik saja tanpa kau periksa,” Aslan sepertinya masih menahan kemarahan, nada tajam masih terselip di dalam suaranya.
Yesil mengangkat bahu, memutuskan bahwa kali ini lebih baik dia yang melunak karena Aslan tampaknya begitu murka dan siap menyerang.
“Mengenai pembicaraan kita sebelumnya…” Yesil mencoba mengalihkan pembicaraan, “Aku membutuhkan informasi dari Mischa. Segera setelah dia sembuh nanti, aku harap kau mempertimbangkan untuk memberi izin bagiku supaya bisa lebih dekat dengan Mischa, mengambil kepercayaannya dan mendapatkan lebih banyak informasi. Kau tahu bahwa hal ini harus dilakukan, Aslan. Kita membutuhkan jawaban atas berbagai peristiwa dan hal-hal mengejutkan yang saat ini tidak bisa dijelaskan. Dan kau tidak akan bisa melakukan peranku, dengan kelakuanmu yang layaknya makhluk barbar, Mischa tidak akan pernah bisa memercayaimu, berbeda denganku yang mungkin bisa lebih bersahabat dengannya dan meraih kepercayaannya.”
Aslan menatap ke arah Yesil dengan dingin, ekspresinya tidak terbaca.
“Kita lihat saja nanti setelah Mischa sembuh,” geramnya kaku sambil melangkah pergi dan meninggalkan Yesil.