
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Bangun.”
Guncangan perlahan di bahu Mischa memaksa Mischa lepas dari alam mimpi yang dipeluknya dengan nyenyak sepanjang malam. Tubuh Mischa sendiri sedang terbaring dengan posisi tengkurap sementara kepalanya miring ke samping, tenggelam dalam kenyamanan tempat tidur yang menyenangkan.
Perlahan Mischa mengerang, tidak mau dicabut dari lelap nikmat yang membungkus dirinya, tetapi guncangan itu terasa lagi, kali ini lebih mendesak dan memaksa.
“Bangun, Mischa.”
Mischa mengerutkan kening dipenuhi oleh rasa kesal, tetapi perlahan kesadaran menembus mimpinya, tahu siapa yang sedang mencoba membangunkan dirinya.
Itu suara Aslan…?
Pertanyaan yang kemudian berubah menjadi kenyataan itu langsung merenggut lelapnya tidur Mischa. Matanya terbuka mendadak, menatap nanar ke arah seisi kamar, masih dipenuhi kebingungan meskipun sudah mulai sadar akan sekitarnya.
Sosok yang mengganggu tidurnya sepertinya tahu bahwa Mischa telah membuka mata. Tubuh Mischa yang terngkurap langsung digulingkan supaya telentang sementara sosok itu, sosok Aslan, membungkuk di atasnya, tidak peduli pada Mischa yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran dan malahan menenggelamkan kepala di leher Mischa yang memilki aroma manis manusia yang begitu khas.
“Berani beraninya manusia sepertimu membuatku menunggu,” Aslan menggeram, tidak bisa menahan diri untuk mengecup tanda Leo miliknya di leher Mischa, menggigit kulit leher yang rapuh itu dengan lembut, bukan dengan maksud melukai, sementara geramannya kembali terdengar, tenggelam di sisi leher Mischa. “Kau tidak tahu betapa tersiksanya diriku menunggumu cukup tidur hingga aku bisa membangunkanmu, hah?”
Mischa sendiri mengerjapkan mata. Tanpa sadar tangannya bergerak, mencengkeram punggung berotot Aslan yang telanjang seolah mencari pegangan.
“Aslan…?” tanyanya lemah, bertanya di kamar yang remang tersebut.
Udara dingin yang menyambutnya seiring dengan suasana kamar yang masih menampilkan kegelapan membuatnya mau tak mau menempelkan diri ke tubuh Aslan yang entah kenapa terasa begitu nyaman untuk dipeluk.
“Ya ini aku, Aslan. Siapa lagi memangnya yang sedang kau tunggu, hah?” sekali lagi Aslan menggeram, kali ini mengangkat kepalanya dan membiarkan mata gelapnya menatap mata Mischa, hidung mereka bersentuhan sementara Aslan seolah sedang menggoda dirinya sendiri dengan menggesekkkan hidung mereka, lalu memiringkan kepala dan mengecupi bibir Mischa perlahan.
Mischa mendesah, berusaha memalingkan kepala, tetapi Aslan mencengkeram dagunya dan menciumnya paksa, ******* bibir Mischa dengan penuh semangat.
Pada akhirnya setelah ciuman penuh nafsu yang diberikan padanya, Aslan melonggarkan pegangannya dan membuat Mischa bisa melepaskan diri, menarik bibirnya dari bibir Aslan dan berusaha menghirup napas sebanyak-banyaknya dengan sekuat tenaga.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Mischa kemudian setelah napasnya kembali normal, suaranya sendiri dibaluri oleh keterkejutan yang nyata.
Ingatan terakhir Mischa adalah tidur sambil memeluk Sasha di dalam kamar perawatan setelah dia membacakan buku cerita sejarah yang diberikan oleh Yesil kepada Sasha. Lagipula Mischa tahu bahwa Aslan sedang berangkat ke medan perang untuk melakukan hobi kejamnya membantai manusia.
Sekarang dia terbangun di kamar Aslan, dengan lelaki itu menindih dirinya.Kenapa Aslan berada di sini?
Tentu Mischa pantas merasa bingung karena berdasarkan kata-kata Aslan kemarin, lelaki itu seolah menyatakan bahwa dia tidak akan kembali sampai perang yang sedang dia rasuki terselesaikan.
Jawaban itu membuat pipi Mischa memerah, teringat akan ciuman kasar yang diberikan Aslan pada hari kemarin yang kemudian disambung dengan geraman posesif bahwa dia akan melanjutkan apa yang sudah dia mulai begitu Aslan kembali dan menyelesaikan tugasnya di pertempuran.
Sepertinya alien mesum ini tidak sabar menunggu sampai peperangan selesai dan memutuskan pulang hanya untuk bercinta dengan Mischa?
Mischa memberanikan diri menatap mata legam yang kini bertumpu dan membungkuk di atasnya, menunduk menatap wajah Mischa denga kedua lengan di sisi kiri dan kanan kepalanya.
“Kau tidak perlu terburu-buru menepati janjimu,” ejek Mischa dengan suara mencela, sengaja menghina hasrat Aslan yang begitu besar terhadap dirinya.
Sayangnya apa yang tadinya dia tujukan sebagai penghinaan terhadap Aslan ternyata tak kesampaian, lelaki itu bukannya marah, malahan menyeringai seolah senang dengan perkataannya.
Aslan menganggap kata-kata Mischa sebagai pujian?
Seringaian Aslan berubah menjadi senyuman ke arah Mischa, dan lelaki itu seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri ketika berkata kemudian.
“Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, kepada siapapun. Bahkan di medan perang yang menjadi hasrat utamaku, konsentrasiku teralihkan, seolah-olah aku tidak akan bisa tenang sebelum menidurimu,” ujarnya cepat.
Mischa langsung memalingkan kepala setelah kembali melemparkan tatapan mata mencemooh ke arah Aslan.
“Tidak pernah merasakan hasrat kepada siapapun? Bukankah kau seharusnya melampiaskan hasratmu kepada wanita-wanita Zodijak yang lebih sempurna? Atau kepada calon pasangan sempurna yang telah disiapkan untukmu sejak lama? Mungkin kau sedang salah mengarahkan hasratmu. kepadaku yang harusnya kau arahkan kepadanya.”
Ucapan Mischa itu membuat ekspresi Aslan berubah. Keheningan langsung tercipta di antara mereka, dan tak lama kemudian, tangan Aslan bergerak kembali mencengkeram dagu Mischa sementara tubuhnya membungkuk semakin rapat menindih Mischa, menyisakan sedikit ruang untuk bergerak dan menahan Mischa dengan suaranya yang angkuh.
“Siapa yang mengatakan itu kepadamu?” Aslan mengendus perlahan sementara mata hitamnya menggelap, ketika dia baru menyadari aroma lain di tubuh Mischa yang tadi dia abaikan karena hasratnya yang memucak menunggu untuk dipuaskan dan mengalihkan perhatiannya. “Apakah Kaza? Karena aromanya masih tertinggal di tubuhmu. Saudaraku itu berani menempatkan tangannya untuk menyentuh tubuhmu, eh? Dan dia juga meracuni pikiranmu?”
Tubuh Mischa menggigil tanpa sadar ketika mendengar desisan Aslan yang penuh ancaman. Ada kemarahan menyeramkan di dalam nada suara lelaki itu, seolah-olah Aslan tidak akan segan membunuh atau menghajar Kaza seperti yang telah dia lakukan kepada Kara.
Ingatan Mischa langsung terarah pada kalimat yang diucapkan oleh Kaza yang tadinya tidak dia mengerti ketika Kaza terpaksa menyentuhnya untuk membantu Mischa menjaga keseimbangan dan saudara kembar Kara itu langsung melepaskan tubuh Mischa seolah tubuh Mischa menyimpan bara api sambil berkata bahwa dia menyentuh Mischa bukan dengan niat menyakiti.
Jadi karena ini Kaza berkata seperti itu kepadanya? Karena bahkan dengan tindakan remeh seperti menyentuh Mischa saja bisa membahayakan nyawanya?
“Kaza menolongku yang hampir terjatuh, kami bertabrakan tanpa sengaja di pintu. Itu saja. Dan tidak, Kaza tidak berkata-apa-apa kepadaku,” Mischa mengernyit dengan nada tidak suka, “Akreplah yang muncul untuk berkata kepadaku bahwa kau sebagai Bangsa Zodijak yang terhormat telah mengorbankan pasangan sempurna yang telah disiapkan untukmu demi manusia rendahan sepertiku. Kata-katanya menyiratkan bahwa aku seharusnya bersyukur karena kau tertarik kepadaku…” Mischa melemparkan tatapan benci ke arah Aslan dan tidak berusaha menutup-nutupinya. “Tetapi tidak, aku tidak pernah bersyukur. Aku benci kenyataan kau terikat kepada diriku, kenapa kau tidak bersatu dengan pasangan yang seharusnya menjadi pasanganmu saja dan melepaskan diriku? Kenapa kau tidak berhenti mengganggu diriku?” seru Mischa setengah mengerang dengan nada marah.
Aslan tertegun sejenak, lalu lelaki itu menipiskan bibirnya.
“Aku tidak menduga bahwa Akrep akan mencampuri urusanku,” suara Aslan menyiratkan janji bahwa lelaki itu akan menyelesaikan urusannya dengan Akrep nanti, lalu mata Aslan mengamati diri Mischa dengan mencemooh. “Kau berkata seolah-olah hasrat ini hanya satu arah.” desisnya setengah mengejek. “Apa kau lupa bahwa aku tahu… aku benar-benar, tahu bahwa kau menikmati percintaan kita?” Aslan menundukkan kepala dan bibirnya mencium.
Ciuman Aslan di pundaknya terasa panas seperti api membakar, membuat napas Mischa mulai terasa sesak.
“Tidak… aku tidak pernah menginginkanmu!” Mischa berhasil mengeluarkan suara bantahan dengan napas terengah.
Tangan kurusnya mencengkeram kedua bahu Aslan sementara lelaki itu mencumbu tubuhnya, berusaha mendorong tubuh kuat itu menjauh, tetapi seperti biasa berakhir pada kesia-siaan karena kekuatan Aslan sungguh tidak sebanding dengan Aslan.
“Tidak!” Mischa mengerang lagi sementara pandangannya mulai berkabut, terpengaruh akan sentuhan Aslan yang ahli. “Tidak, Aslan…!”
Mischa memekik sebagai usaha terakhirnya untuk mempertahankan kesadarannya sebelum jatuh tenggelam ke dalam godaan Aslan.Aslan mengangkat kepala, menghadiahkan Mischa senyuman penuh ironi sementara mata gelapnya yang pekat berkilauan dengan penuh gairah.
“Kenapa kau tidak memelukku saja, Mischa? Akrep memang benar, sebagai seorang manusia kau benar-benar beruntung, karena kau adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang kuberi kebebasan untuk menikmati diriku dan memilikiku.”
Setelah mengucapkan kalimat parau penuh nada kepemilikan itu, Aslan tidak menunggu lebih lama lagi untuk memiliki Mischa, menuntaskan hasratnya yang tertahan sebelumnya dengan tanpa kendali.