
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Aslan membawa Mischa melompat dari pintu pesawat yang tinggi. Lelaki itu bahkan tidak mau repot-repot menurunkan tangga. Mereka mendarat di atas hamparan pasir empuk dan Mischa langsung berusaha meronta untuk melepaskan diri dari cekalan Aslan.
Kali ini Aslan tidak menahannya, dia melepaskan tangan Mischa dengan tiba-tiba hingga membuat diri Mischa yang menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyentak sama sekali tidak siap dan dirinya terhuyung mundur.
Pasir itu begitu tebal, menenggelamkan kaki mungilnya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terduduk di atas pasir yang terasa hangat di bawah tubuhnya.
Aslan menatap Mischa dengan pandangan merendahkan, matanya melirik ke arah matahari, menghitung waktu dan menyadari bahwa sebentar lagi mentari akan tenggelam dan memberikan senja keemasan yang indah.
Ketika malam mulai menyapa batas cakrawala yang menggaris gurun ini, itulah waktu yang tepat untuk bercinta.
Mata Aslan melirik ke arah danau biru yang terselubungi pepohonan itu, menyelubungi sekeliling danau seolah menjadi tembok pembatas yang aman.
Aslanlah yang membangun tempat ini, sebagai pelarian pribadinya ketika dirinya tidak ingin bertemu dengan makhluk lain yang melewati garis batas kesendiriannya. Aslan adalah makhluk penyendiri, bahkan di antara saudara-saudaranya sekalipun.
Ketika dia sedang ingin menyendiri maka Aslan akan membangun tendanya di sini, menghabiskan malam dengan berendam di danau khusus dengan air yang dingin di siang hari tetapi berubah hangat ketika malam tiba, menatap langit sambil menelusuri bintang-bintang yang berkilauan dan berusaha menebak-nebak dimanakah planet asal mereka yang terpaksa mereka tinggalkan berada.
Ketika dirinya sedang butuh hiburan, maka dia tinggal meloncat turun dan melalui gurun pasir itu untuk mencapai kawasan kaum penyelinap yang dia tahu sedang bersembunyi di balik reruntuhan, lalu melakukan perburuan manusia yang menyenangkan dan biasanya berhasil menghibur hatinya.
Saat ini Aslan mengenakan lensa mata manusia lebih diakarenakan kebiasaan. Ketika berburu, Aslan memang lebih suka mengenakan lensa mata manusia, selain untuk menipu manusia-manusia bodoh itu, rasanya juga lebih menyenangkan ketika menatap teror di mata para manusia yang terkejut ketika menyadari bahwa sosok di depan mereka yang mereka pikir adalah teman manusia, ternyata adalah lelaki Zodijak paling kejam yang haus darah dan siap membantai mereka semua.
Mata Aslan menelusuri seluruh tubuh Mischa dengan penuh minat, lalu bibirnya menguarkan senyum tertahan penuh kepuasan.
Tempat ini adalah tempat pribadinya, sesuatu yang berada di dalam garis batas teritorialnya yang tidak pernah dia biarkan dimasuki oleh siapapun, bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri. Tetapi hari ini Aslan telah melanggar peraturannya sendiri dengan membawa Mischa masuk ke dalam wilayah pribadinya….
Meskipun sepertinya dirinya tidak akan menyesali hal ini.
Bercinta di sini dan menghabiskan malamnya di sini dengan memuaskan diri atas tubuh Mischa sepertinya sangatlah menarik.
Aslan melangkah mendekat, menyadari bahwa matahari telah mulai bergeser turun hingga menciptakan bayangan redup dari tubuhnya yang langsung menyapa tanah di bawah kakinya, tubuhnya tegak di hadapan Mischa yang masih terduduk di atas pasir.
“Buka pakaianmu,” perintahnya dengan nada arogan tak terbantahkan.
Mischa membelalakkan mata mendengar perintah tak terduga yang meluncur dari bibir Aslan.
“Kau pikir aku mau membuka pakaianku di tempat terbuka seperti ini? Kau gila!” jeritnya keras, berusaha beringsut menjauh dengan menyeret tubuhnya mundur. “Hal itu hanya akan terjadi dalam mimpimu dasar alien barbar!” tolaknya kasar.
Aslan menyipitkan mata, menatap Mischa dengan tatapan mengancam sementara tangannya bergerak untuk membuka kancing mantelnya satu-persatu.
“Bersikap primitif adalah kebanggaan bagi Bangsa kami, aku tidak keberatan telanjang di sini,” ujarnya perlahan, melemparkan tatapan menantang ke arah Mischa yang menganga tak percaya ketika Aslan melepas pakaiannya satu persatu.
Mischa langsung memalingkan muka, mengumpat dalam hati dengan penuh kemarahan.
Dasar alien tukang pamer! teriaknya dalam hati, memenuhi perasaannya meskipun tak terucapkan.
Aslan melangkah mendekat, dan Mischa yang menyadari itu langsung beringsut waspada, dirinya berusaha bangkit, mencoba menjauh tetapi kalah cepat, Aslan sudah membungkuk dan mengangkat Mischa ke dalam gendongannya, tidak dipedulikannya Mischa yang meronta dan berteriak meminta dilepaskan.
Ruangan itu gelap dan segala sesuatu yang ada di sana tampak samar-samar, belum lagi dengan hawa dingin menusuk yang membekukan udara, membuat siapapun yang kebetulan berada di dalam ruangan ini pasti menggigil kedinginan.
Tetapi di luar dugaan, ada makhluk-makhluk yang tampak tidak terpengaruh dengan hawa dingin membekukan itu, tepatnya ada dua makhluk. Makhluk itu mewujudkan diri sebagai sosok serupa manusia yang menyaru sebagai siluet dan menyembunyikan wajah mereka dalam kegelapan dengan tudung-tudung yang mereka pakai untuk memayungi wajah, sosok mereka tampak membungkuk, mengerjakan sesuatu di atas meja besar yang terhampar di salah satu sisi ruangan.
Salah satu sosok itu sedang menyiapkan jarum suntik besar yang akan digunakan, memasangnya ke tabung suntik, lalu menoleh ke sosok yang lainnya.
“Sudah siap,” ujarnya dengan suara rendah, tetapi tetap saja menggema dengan keras di dalam ruangan yang begitu senyap.
Sosok yang lainnya menganggukkan kepala seolah memberi persetujuan dan mereka berdua melangkah ke tengah ruangan, tempat sebuah tempat tidur besar diletakkan.
Seorang perempuan yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri begitu lama tampak berbaring di sana, wajahnya pucat, tubuhnya kaku tak bergerak laksana mayat.
Tetapi itu bukan mayat karena ada gerakan samar di dada, memberikan bukti nyata bahwa sosok perempuan itu masih bernafas meskipun begitu samar.
Mata salah satu sosok misterius itu menatap nanar ke arah tubuh perempuan yang tak sadarkan diri tersebut, lalu dia menyingkir, memberikan tempat kepada sosok yang lain untuk mendekat.
Dengan jarum suntik di tangannya, sosok lain itu mendekat, lalu membungkuk untuk kemudian tangannya bergerak dan mengambil sebelah lengan sosok perempuan yang masih tak sadarkan diri tersebut.
Ada lebam-lebam seperti bekas suntikan di lengan perempuan itu, tetapi sosok misterius tersebut berhasil menemukan tempat lain selain di bekas lebam untuk mendaratkan ujung jarumnya.
Dia menusukkan jarum untuk mengambil darah…. dan anehnya, darah yang tesedot dari tubuh perempuan yang tak sadarkan diri tersebut bukannya berwarna merah seperti warna darah kebanyakan, melainkan berwarna biru.
Biru jernih laksana air bening yang masih murni dan tidak tercela oleh apapun.Sosok tersebut hanya mengambil seperlunya, lalu memindahkan cairan darah dengan tekstur dan warna serupa air itu ke dalam wadah khusus yang telah di siapkan. Sebuah wadah dengan tulisan label hitam yang sangat jelas dan terbaca, bahkan di ruangan yang begini remang sekalipun.
[[ Subyek 01 : NATASHA ]]
Mischa merasakan air hangat tersebut tertelan di tenggorokan, membuatnya megap-megap dan menggapai untuk naik ke permukaan. bagian tengah danau itu sebenarnya tidak begitu dalam, jika mereka berdiri di tengah danau dengan kaki menapaki dasar danau, maka air danau itu akan menutupinya sampai ke dada.
Tetapi saat ini Mischa dilemparkan ke danau dalam kondisi tidak siap, dengan kasar pula dan membuat kepalanya tenggelam ke dalam air, disusul oleh tubuhnya.
Beruntung meskipun sudah bertahun-tahun di masa lampau, Mischa masih teringat pelajaran berenang yang diberikan oleh ayahnya. Dia mencoba menggerakkan kepalanya untuk mendongak lalu menggunakan kekuatan lengan serta kakinya untuk mendorong tubuhnya naik ke permukaan.
Mischa sudah hampir berhasil sebelum kemudian sebuah tangan kuat meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke permukaan, sebelum kemudian membuat tubuh Mischa berdiri di hadapannya.Mischa langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya sekaligus memuntahkan air yang merasuk ke dalam saluran pernapasan dan membuatnya terbatuk-batuk tanpa ampun.
Setelah selesai, Mischa melemparkan tatapan marah ke arah Aslan untuk kemudian berusaha menendang dan memukul sekuat tenaga.
“Alien sialan! Kau mau membunuhku, hah?” jeritnya marah, tidak mempedulikan tenggorokannya yang masih terasa sakit dan berteriak sekuat tenaga.
Sayang cengkeramannya tidak bertahan lama karena Aslan menggunakan kedua tangannya untuk menahan tangan Mischa, lalu menariknya mendekat dengan paksa hingga tubuh Mischa membentur ke tubuhnya.Tanpa peringatan, Aslan mengangkat tubuh Mischa, setengah mengendongnya hingga kepala Mischa sejajar dengan kepalanya, lalu bibirnya bergerak tanpa permisi dan mencium Mischa.
Tentu saja Mischa meronta, tetapi Aslan menggunakan lengannya untuk merangkul tubuh Mischa dan memerangkap perempuan itu, tidak memedulikan penolakan yang sudah biasa diterimanya dan seperti yang dia katakan sebelumnya, dia tidak mampu menahan tangannya untuk tidak menyentuh, lalu memiliki perempuan itu.