Inevitable War

Inevitable War
Episode 135 : Ritual Mandi



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Meskipun ada sedikit perubahan dalam hubungan mereka sejak Aslan menembus bahaya untuk menyelamatkan Mischa, Mischa sendiri tetap tidak bisa melupakan bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Mischa masih menolak Aslan mati-matian, sementara alien yang satu itu bertingkah aneh, kadang-kadang begitu baik hingga mencurigakan, di lain waktu berubah begitu jahat hingga Mischa ingin menerjang dan mencakarnya.


“Sangat nyaman. Terima kasih,” Mischa menjawab dengan nada dingin, lalu mengerutkan kening dan menatap Aslan dengan pandangan menantang. “Apakah kau tidak mau menurunkan aku? Aku bisa berjalan sendiri.”


Aslan menunduk, membuat wajahnya begitu dekat dengan Mischa yang mendongak menantangnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.


“Baru saja membuka mata dan kau sudah bersiap mencakar serta menggigitku? Apakah kau tidak ingin mengucapkan terima kasih kepadaku?”


Mischa mencibir, menatap Aslan seolah mencemooh.“Kalau aku tidak salah ingat, kaulah yang harusnya mengucapkan terima kasih kepadaku. Aku menyelamatkanmu, bukan?” dengusnya cepat dengan nada angkuh


.Mata Aslan yang gelap berkilat mendengar perkataan Mischa. Lelaki itu menipiskan bibir, seolah-olah menahan kesabaran.


“Mari kita melangkah mundur sejenak sebelum kau menyelamatkanku…. Apakah kau lupa? Aku celaka karena berusaha menyelamatkanmu.” ujar Aslan dengan nada geram.


Mischa tentu saja ingat akan hal itu, pun dirinya juga ingat dengan bagaimana leganya dia ketika menemukan sosok Aslan datang untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi keangkuhan memenuhi dirinya, menutup jiwanya dengan harga diri.


Kalau Mischa merendahkan diri di depan Aslan, lelaki alien jahat ini akan menginjak-injaknya dan Mischa tidak mau diperlakukan seperti budak rendahan seperti niat Aslan untuk memperlakukan dirinya pada awalnya.


“Aku tidak minta kau selamatkan. Lagipula siapa yang menyuruhmu repot-repot datang menyelamatkanku?” seru Mischa dengan nada ketus dan balik bertanya.


Aslan merapatkan tubuh Mischa ke dadanya, seolah takut Mischa akan meloncat dari gendongannya. Langkahnya cepat dan lebar-lebar, melangkah memasuki pintu kamar peraduannya dan membanting pintunya cepat sebelum membawa Mischa ke tengah ruangan.


“Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Mischa. Bukan pertanyaan sulit. Kau hanya harus menjawabnya dengan jujur,” mata gelap Aslan yang hitam kelam tampak berkilat tajam menakutkan ketika menatap Mischa tajam. Sebuah pertanyaan dengan nada suara tak kalah tajamnya kemudian meluncur dari bibirnya, diucapkan dengan artikulasi jelas hingga Mischa tidak salah mengerti maksudnya.“Kau bisa saja membiarkanku terkubur reruntuhan itu dan kehabisan tenaga lalu mati, Mischa. Kenapa kau tidak melakukannya? Alih-alih kau malahan membangkitkan kekuatan misteriusmu untuk menyelamatkanku.”


Aslan mendekatkan wajahnya ke arah Mischa hingga Mischa tidak bisa berpaling. “Jawab pertanyaanku wahai manusia perempuan yang sedang mengandung anakku. Kenapa kau  memilih untuk menyelamatkanku?”


Pertanyaan itu menohok ke kedalaman jiwa Mischa, membuat perempuan itu ternganga sejenak dengan wajah pucat pasi, kehilangan suara untuk menjawab.


Ya… kenapa Mischa menyelamatkan Aslan? Kenapa kekuatan besar yang bahkan Mischa tidak tahu sebelumnya bisa terdorong muncul dengan spontan karena keinginannya yang besar untuk menyelamatkan Aslan? Dan kenapa Mischa sangat ingin menyelamatkan Aslan padahal lelaki itu adalah musuh besar yang seharusnya dia benci?


Keheningan membentang di antara mereka ketika Mischa memeras otak untuk menemukan jawaban. Tetapi, dia tidak bisa menemukannya. Pada akhirnya Mischa memilih bersikap defensif, mengalihkan mata dengan sengaja dan memasang ekspresi bermusuhan yang menyebalkan.


“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu itu dan kau tidak bisa memaksaku untuk menjawabnya,” Mischa berseru dengan nada ketus, menyadari bahwa Aslan masih membawa Mischa berjalan dalam gendongannya. “Sekarang turunkan aku!” perintah Mischa dengan nada mendesak.


Kedekatannya dengan Aslan sekarang terasa begitu tidak nyaman, entah kenapa membuat sekujur tubuhnya terasa panas membakar, terbakar oleh sesuatu yang tidak dia ketahui.


Aslan tampak menahan jengkel mendengar perkataan Mischa. Bibirnya menipis, sementara gerahamnya mengetat.


“Aku akan menurunkanmu. Nanti.” ujarnya dingin, melepaskan kontak matanya dengan Mischa dan menatap lurus ke depan.


“Turunkan aku sekarang!” sikap Aslan yang dingin itu memancing kemarahan Mischa, membuat suaranya meninggi.


Tidak disangkanya kali ini Aslan mengikuti kemauan Mischa, menurunkan tubuh perempuan itu tiba-tiba hingga Mischa memekik ketika kakinya sempoyongan menjejak tanah, membuatnya terpaksa berpegangan di dinding marmer nan dingin untuk menahan diri.


Dan sebelum Mischa menyadari apa yang terjadi, guyuran air hangat menerpa mereka berdua, membuat baik Mischa maupun Aslan basah kuyup oleh guyuran itu.


Mischa memandang ke sekeliling, lalu mendongak ke arah pancuran mandi yang mengguyurkan air deras ke arah mereka. Dia menolehkan kepala ke arah Aslan yang berdiri di belakangnya. Pikirannya dipenuhi curiga hingga dengan waspada setengah meloncat, Mischa membalikkan badan dengan defensif ke arah Aslan dengan punggungnya menimpa dinding marmer, terdesak di sana sementara Aslan semakin mendekat.


Lelaki itu bahkan sengaja bersikap mengintimidasi dengan meletakkan kedua lengannya di dinding, memagari Mischa di sisi kiri dan kanannya.Air hangat terus mengucur deras, membasahi mereka berdua hingga semakin kuyup.


“A… apa yang sedang kau lakukan?” sikap Aslan yang mendesaknya dengan tubuh sekuat baja itu membuat Mischa mau tak mau merasa gugup, dia berusaha menutupi rasa gugupnya itu dengan berucap ketus, meskipun tidak bisa menyembunyikan getaran dalam suaranya.


Aslan tersenyum miring, suasana hatinya benar-benar tidak tertebak untuk saat ini.


“Mandi. Kau dan aku sama-sama penuh pasir dan abu ledakan. Kita harus membersihkan diri.


”Mandi bersama?


“Aku bisa mandi serta membersihkan diriku sendiri, dan kau bisa melakukan hal yang sama! Sendiri-sendiri!” Mischa menegaskan maksudnya seolah sedang berbicara kepada orang bodoh.


Hal itu membuat Aslan menyeringai, ekspresinya yang tadinya keras tampak melembut seolah-olah lelaki itu geli dengan tingkah laku Mischa.


“Sayangnya aku sedang tidak ingin ‘sendiri-sendiri’. Bukankah berdua lebih baik daripada satu? Kau bisa membantu membersihkan punggungku dan aku bisa membantumu membersihkan area-area yang tidak bisa kau jangkau sendiri,” suara Aslan merendah penuh arti, membuat pipi Mischa memerah panas seolah terbakar. Rasa panas itu mengalir deras di seluruh pembuluh darahnya hingga memerahkan kulitnya.


Hal itu tidak lepas dari perhatian Aslan. Lelaki itu melepaskan salah satu lengannya yang memagari Mischa. Meskipun begitu, tubuh mereka begitu dekatnya hingga tetap saja Aslan memerangkap Mischa seperti benteng kokoh yang membuat Mischa tidak bisa melarikan diri.Jemari Aslan menelusuri permukaan merah di leher Mischa lalu menggesek dengan menggoda di batas dada Mischa, seolah-olah hendak mengintip di balik pakaiannya.


“Kau memerah sampai kemana-mana… aku ingin melihat keseluruhanmu,” bisik Aslan dengan suara parau.


Mischa berusaha menyingkirkan tangan Aslan dari tubuhnya, tetapi usahanya sia-sia belaka karena dia tidak bisa menahan kekuatan Aslan.


“Singkirkan tanganmu dari tubuhku!” ujar Mischa dengan suara tersekat, sementara jantungnya berdebar tak terkendali.


Aslan langsung menggelengkan kepala dengan tegas.


“Satu-satunya yang tidak akan pernah kulakukan adalah melepaskanmu dari peganganku, Mischa. Aku sudah pernah kehilanganmu, lebih dari sekali, jadi mulai sekarang tidak akan kubiarkan kau lepas lagi,” suara Aslan terdengar penuh tekad. “Kau adalah ibu dari anak-anakku, aku akan membuang semua kompromiku di masa lalu. Kau akan terus menjadi milikku selamanya, bahkan ketika kau sudah melahirkan anak-anak kita nanti.”


Wajah Mischa pucat pasi sementara matanya membelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Aslan, dia hendak membuka mulutnya untuk membantah, tetapi tanpa diduga, Aslan menyambar mulutnya yang terbuka dengan mulutnya sendiri, membenamkan ciuman penuh hasrat jauh di dalam sana.


Hasrat menguasai mereka berdua. Sebuah hasrat yang berasal dari dorongan tubuh yang saling merindu, meskipun hati masih berusaha saling memunggungi satu sama lain.


Aslan mencium bibir Mischa seolah-olah ingin melampiaskan perasaannya, dan ketika pertautan bibir mereka berdua terlepas, keduanya sama-sama kehabisan napas, meniupkan uap hangat di antara guyuran air yang menerpa serta membasahi mereka berdua.


“Mandi lalu bercinta. Setelah itu aku akan memberi kau dan anakmu makan. Lalu kita akan bercinta, bercinta, dan bercinta lagi,” geram Aslan penuh tekad, mendesak Mischa ke dinding sebelum kemudian membuka pakaiannya


 


 




Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY