
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M ER
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Beruntung sebuah interupsi terjadi di pintu kamar mereka yang terbuka dengan mudah.
Sosok Akrep muncul di sana, mengangkat sebelah alis melihat adegan di depannya dan memutuskan untuk bersuara ketika Aslan bahkan tidak memedulikan kehadirannya dan terus memaksakan ciumannya terhadap diri Mischa di depan mata Akrep.
“Aku pikir Mischa sudah selesai berganti pakaian karena kita sudah akan berangkat,” Akrep sengaja mengeraskan suaranya untuk mengingatkan Aslan. “Hal-hal yang sedang kau lakukan itu, mungkin kau bisa mempertimbangkannya untuk melakukan lain kali di waktu yang lebih tepat, Aslan.”
Aslan menggeram dengan bibir yang masih memagut bibir Mischa. Digigitnya perlahan bibir bawah Mischa seolah ingin memberi tanda, sebelum kemudian dilepaskannya perempuan itu dari cengkeramannya.
Tubuh Mischa langsung melenting menjauh, mengamankan dirinya dari jangkauan Aslan. Tangan Mischa bergerak refleks untuk mengusap bibirnya yang terasa begitu panas dan berdenyut akibat ciuman yang diberikan oleh Aslan kepadanya.
“Kurasa aku akan membiarkan tuan puteri kita ini berganti pakaian dengan tenang,” mata Aslan menyipit, sengaja membiarkan hasratnya berkobar di sana ketika dia menelusuri tubuh Mischa dengan pandangannya. “Aku akan menunggu di depan pintu. Lima menit, tidak lebih,” geramnya kemudian dengan nada jengkel sebelum melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan bersama Akrep dan membanting pintu di belakangnya.
Mischa mengusap bibirnya dengan kasar, seolah-olah hal itu bisa menyingkirkan sisa sentuhan Aslan di sana. Alien kurang ajar itu sekali lagi berhasil membungkamnya dengan menindas sisi feminim Mischa dan menenggelamkannya dengan kekuatan kelelakiannya yang arogan. Seandainya saja dia bisa membangkitkan kembali kekuatan besar yang ada di tubuhnya, mungkin saat ini Mischa akan lebih memilih untuk mengarahkannya ke tubuh Aslan, lalu menghancurkan tubuh alien kurang ajar itu hingga menjadi debu.
Mischa sendiri tidak tahu kenapa kekuatannya memilih keluar dan menyelamatkan Aslan ketika itu.
Apakah benar yang dikatakan oleh Aslan, bahwa jauh di dalam hatinya dia tidak mau lelaki itu mati? Tetapi kenapa? Bukankah Aslan adalah musuhnya? Bukankah kematian Aslan akan menjadi pembebasan besar bagi dirinya sekaligus pembalasan bagi kaum manusia yang dibelanya?
Kening Mischa berkerut semakin dalam ketika dirinya bergerak secara otomatis melepaskan pakaian dan menggantinya dengan pakaian Bangsa Zodijak yang secara kebetulan pas di tubuhnya.
Pertanyaan di dalam jiwanya masih tidak beruntung, karena sampai dengan detik ini tidak bisa bersua dengan jawabannya.
Mungkin Mischa menyelamatkan Aslan karena dorongan alami untuk menyelamatkan pasangannya. Mungkin genetik Zodijak yang ditanamkan oleh Imhotep di tubuhnyalah yang mengambil alih dan memilih menyelamatkan Aslan?
Mischa tanpa sadar menatap ke cermin besar yang terbentang di dinding dan matanya terpaku di sana. Langkahnya tanpa sadar mendekat ke arah cermin yang memantulkan pemandangan seluruh dirinya.
Saat ini Mischa mengenakan pakaian laki-laki, pakaian bertempur khas kaum Zodijak yang tampak legam, berkilat dan berat, tetapi di luar dugaan begitu ringan dan pas menempel di kulitnya.
Saat ini, Mischa seolah kehilangan jati dirinya. Bayangan dirinya yang menatap langsung ke arahnya ini, malahan serupa layaknya Bangsa Zodijak, bangsa musuh yang harusnya dia perangi.
Dan entah kenapa, saat ini ada ketakutan yang menyusup di dalam hati Mischa, sebuah ketakutan bahwa sisi manusianya pada akhirnya nanti akan tenggelam dan sisi Zodijaknya akan menguasai dirinya.
Imhotep memutuskan untuk menahan diri dan melihat kondisi tawanan terbarunya itu sebelum berangkat lagi untuk berburu.
Satu perempuan air suci pasangan para pemimpin Zodijak telah berhasil dia kuasai di tangannya dan yang lainnya akan menyusul dengan cepat. Imhotep memutuskan untuk tidak bergerak seorang diri guna berburu.
Sisa pasangan air suci para pemimpin Zodijak tersebar dalam berbagai lokasi yang terpencar, jadi dia menyebar pasukannya untuk melaksanakan tugas menemukan perempuan-perempuan itu secara serentak.
“Kami sudah menyuntikkan obat yang sama untuk membunuh kesadarannya,” seorang petugas di laboratorium khusus yang berada di markas barunya yang berpakaian putih dan merupakan penanggung jawab lab tersebut langsung menjawab dengan nada hormat. “Dosis yang kami berikan saat ini hanya untuk menghilangkan kesadarannya. Jika Anda memutuskan bahwa perempuan ini adalah tubuh yang cocok sebagai pengganti Natasha, kami akan menambahkan dosis khusus untuk membuatnya menjadi mayat hidup seperti Natasha. Anda tinggal bilang dan setelah dosis khusus itu diberikan, hanya tinggal menunggu beberapa saat, tubuh perempuan ini akan siap menjadi donor serum untuk senjata kita,”
Imhotep menatap sosok perempuan lemah yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Keningnya sedikit berkerut ketika mengawasi tubuh kurus yang lemah itu. Perempuan ini masih begitu muda, mungkin beberapa tahun lebih muda jika dibandingkan dengan Mischa dan tentu saja tampak lebih lemah.
Bibir Imhotep mengerut ketika membayangkan Mischa dan perlawanan yang diberikan oleh perempuan itu kepadanya. Mischa sudah jelas menjadi yang terkuat di antara semua saudaranya. Imhotep memang memberikan genetiknya dalam wujud yang bervariasi, dia juga mengubah susunan genetika para perempuan pasangan air suci para pemimpin Bangsa Zodijak ini supaya sesuai dengan pasangan mereka masing-masing.
Baik Aslan, Akrep, Yesil, Sevgil, Khar, Kara dan Kaza, semua memiliki karakteristik yang berpadu dengan kekuatan serta kelemahan masing-masing.
Dan perempuan ini, diciptakan untuk melengkapi seluruh karakteristik tersebut.
Para perempuan ini akan menjadi pelengkap sekaligus penghancur para pemimpin Bangsa Zodijak. Mereka bagaikan dua sisi mata uang yang berlawanan, bisa menguatkan tetapi bisa menjadi senjata pemusnah.
Dan karena Mischa diciptakan untuk menjadi pasangan Aslan, maka dia menjadi sosok yang paling kuat di antara semuanya.
Imhotep telah lengah dan melakukan kesalahan fatal sehingga kehilangan Mischa yang sebelumnya sudah ada di tangannya. Padahal, jika dia memiliki Mischa, dia sudah pasti bisa menggunakan kekuatan yang tersimpan di dalam tubuh Mischa itu sebagai senjata paling ampuh untuk memusnahkan musuh-musuhnya.
Dia juga kecolongan karena sama sekali tidak menyangka bahwa perpaduan genetik antara ‘anak-anak perempuannya’ dengan para pemimpin Bangsa Zodijak ternyata bisa membuahkan keturunan. Calon anak yang ada di perut Mischa telah merusak segalanya, membuyarkan seluruh rencananya untuk memanfaatkan darah Mischa. Calon anak itu melindungi tubuh ibunya dengan kekuatan yang tidak disangka, dan Imhotep tahu jika dia tidak menemukan jalan untuk memusnahkan bayi di dalam kandungan Mischa, maka dia tidak akan bisa memanfaatkan Mischa untuk membunuh Aslan.
Padahal Aslan adalah yang terkuat dari para pemimpin Bangsa Zodijak dan Aslan pulalah yang harus dimusnahkannya terlebih dahulu.
“Apakah Anda memutuskan untuk menggunakan wanita ini, Dokter?” penanggung jawab laboratorium khususnya berucap dengan nada hati-hati, membuyarkan Imhotep dari lamunannya.
Sekali lagi mata Imhotep menelusuri tubuh perempuan yang kehilangan kesadaran di depannya. Dia lalu menatap anak buahnya dengan pandangan penuh ingin tahu.
“Apakah kau sudah bisa mengidentifikasi dari genetiknya, pasangan siapakah anak perempuan ini? Seperti yang sudah direncanakan ketika Imhotep menyelimpkan rekayasa genetiknya ke tubuh perempuan-perempuan ini, dia memberikan ciri khas kharakteristik tersendiri pada setiap individu. Dengan pemeriksaan darah, dengan mudah akan ditemukannya pasangan siapakah perempuan ini.
Pemimpin laboratorium itu menganggukkan kepala.
“Perempuan ini sudah bisa dipastikan adalah pasangan Yesil.” jawabnya cepat.
Imhotep menyeringai lalu langsung menggelengkan kepala ketika mendengar informasi itu.
“Kalau begitu, kita harus menunggu sampai saudari-saudari perempuan yang lain terkumpul. Pasangan Yesil memiliki karakteristik darah yang berbeda, karena Yesil adalah penyembuh dan membawa genetik penyembuh di tubuhnya, begitupun dengan pasangannya. Perempuan ini tidak akan efektif menjadi donor serum, darahnya tidak bisa menjadi racun, malahan nanti menjadi penawar atas senjata beracun yang kubuat. Struktur darahnya berbeda dengan Mischa yang menjadi pasangan Aslan yang bersifat penghancur, yang karenanya. darah Mischa akan sangat efektif sebagai amunisi senjata penghancur kita,” Imhotep menipiskan bibir dengan marah ketika mengingat betapa banyaknya senjata yang hancur sia-sia karena para pemimpin Zodijak itu menghancurkan markasnya yang berada di tengah gurun.
Tetapi, saat ini dia masih memiliki banyak cadangan senjata. Yang paling dibutuhkannya sekarang adalah serum penguat yang menipis padahal serum itu dibutuhkan untuk menginjeksi pasukannya guna persiapan perang melawan Bangsa Zodijak.
Perang besar tidak akan terhindarkan lagi. Dan ketika saat itu tiba, Imhotep bukan hanya harus memiliki persediaan senjata yang kuat, dia harus memiliki pasukan yang kuat untuk mengoperasikan senjata.
Sebagian besar pasukannya yang terkuat mati bersamaan dengan hancurnya markas mereka dan saat ini Imhotep membutuhkan serum dalam jumlah banyak untuk menginjeksi pasukannya yang berada di markas lainnya ini supaya kekuatan mereka bertambah berkali-kali lipat dengan instan.
“Kita harus mendapatkan perempuan pasangan dari pemimpin Zodijak yang memiliki darah yang bersifat pemberi supaya perempuan itu bisa menjadi donor serum yang efektif. Kita sudah kehilangan Natasha, dan hanya ada satu yang bisa menggantikannya.” sambungnya kemudian, tampak berpikir. Pemimpin laboratorium itu menatap Imhotep dengan penuh ingin tahu.
“Apakah Anda memikirkan hal yang sama dengan yang saya pikirkan?” tebaknya kemudian.