
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 **PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Mischa tiba-tiba bergerak, hendak meloncat dari ranjang, tetapi Yesil rupanya lebih sigap dari dirinya, lelaki itu langsung menahan tubuh Mischa dan menahan perempuan itu supaya kembali berbaring telentang di ranjang.
Kedua tangan Yesil menahan tangan Mischa, tetapi Mischa terlalu histeris untuk menyerah, perempuan itu meronta-ronta, menendang sekuat tenaga, berusaha menggigit untuk melepaskan diri dengan histeris sementara teriakan kuat terus meluncur dari bibirnya, ditujukan kepada Aslan.
“Aku tidak mau mengandung anakmu! Lebih baik aku mati!”
Hal itu membuat ekspresi Aslan menggelap karena murka. Lelaki itu melangkah mendekat, siap memberikan hukuman pada perempuan dihadapannya, tetapi teriakan Yesil menghentikannya.
“Tahan emosimu, Aslan! Dia sedang mengandung dan sedang histeris. Kau bisa marah nanti, tetapi tidak sekarang!” Yesil berseru, lalu menoleh ke arah Aslan yang tertegun kaku mendengar perkataannya itu. “Bantu aku menahan Mischa, aku akan mengambil obat penenang.” ujarnya cepat, sedikit kewalahan karena Mischa meronta dengan histeris.
Aslan akhirnya mengangguk pelan, menggantikan Yesil untuk menahan Mischa. Begitu tubuhnya dipegang oleh Aslan, rontaan Mischa menjadi dua kali lipat lebih keras seolah-olah dorongannya untuk melepaskan diri begitu kuat, meledak sampai ke batas pertahannya.
Yesil sendiri melesat ke depan meja tempat dia meletakkan peralatannya. Dibukanya satu kotak berukuran tanggung yang berisi obat-obatan khusus, diambilnya satu yang berwarna bening dan berkilauan untuk kemudian dipompanya pindah ke tabung kecil berwarna emas.
Yesil lalu meloncat kembali ke atas ranjang, mengambil tangan Mischa yang masih berada dalam pegangan Aslan dan menempelkan ujung tabung emas itu ke permukaan kulit Mischa. Warna di tabung itu berangsur-angsur berubah menghitam ketika seluruh isi tabung telah berhasil dipindahkan ke tubuh Mischa, dan seiring dengan itu semua, rontaan Mischa melemah dan tubuhnya menjadi lunglai.
Mata Mischa kemudian terpejam pelan sementara kesadarannya terenggut paksa oleh obat penenang khusus yang dibuat untuk menidurkan makhluk lain supaya memasuki kelelapan dalam.
Aslan menunduk menatap ke arah Mischa yang terpejam lelap, lalu menoleh ke arah Yesil dengan alis berkerut.
“Apakah obat ini tidak membahayakan kandungannya?” tanyanya cepat.
Yesil melangkah mundur, menegakkan punggung dan bersedekap sambil menggelengkan kepala.
“Kau pasti tahu bahwa anakmu yang ada di dalam kandungan Mischa, dan Bangsa Zodijak sangat kuat bahkan ketika masih berupa janin,” Yesil menatap kecemasan Aslan yang belum juga pudar, lalu menghela napas panjang. “Tidak. Obat itu tidak berbahaya bahkan untuk janin manusia sekalipun,” jawabnya kemudian, berusaha menenangkan saudaranya.
Aslan melepaskan pegangannya dari tubuh Mischa, membiarkan tangan Mischa langsung terkulai jatuh di samping tubuhnya.
“Dia mengandung… sama seperti Natasha,” suara Aslan tampak mengambang di udara, “Apakah menurutmu anak itu akan selamat? Ataukah dia akan berakhir seperti bayi yang dikandung oleh Natasha?”
Yesil membutuhkan waktu lama untuk menjawab, tetapi pada akhirnya dia menjawab jujur.
“Aku tidak tahu. Tidak pernah ada yang berhasil melahirkan persilangan Bangsa Zodijak dengan kaum manusia sebelumnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengawasi Mischa dengan baik sepanjang prosesnya dan menjaganya. Aku bahkan belum tahu berapa anak yang ada di dalam kandungan Mischa. Jika memang jenis kandungannya sama seperti Bangsa Zodijak yang selalu dikandung dalam jumlah banyak, hal itu baru ketahuan setelah usia kandungan Mischa lebih dari dua bulan,”
“Menurutmu lebih dari satu?” Aslan menyambar cepat.
Khar menoleh ke arah Sevgil dan mengangkat sebelah alisnya.
“Apakah menurutmu ada gunanya kita berkelana dan menyamar seperti ini? Mungkin saja apa yang dikatakan oleh Yesil salah. Perempuan-perempuan yang kita duga itu, mereka mungkin cuma kebetulan ada karena kecelakaan genetika atau apalah. Tidak ada satu perempuan yang diciptakan untuk masing-masing dari kita.”
Mereka berdua sedang berdiri di bawah puing-puing reruntuhan bangunan yang dulu sepertinya adalah gedung tinggi nan megah yang sekarang berakhir menyedihkan akibat perang. Bongkahan puing itu sebagian besar berukuran raksasa, saling tumpang tindih membentuk atap untuk berlindung dari panasnya matahari di tengah kota yang telah berubah iklim secara ekstrim hingga menjadi padang gurun yang sangat luas membentang.
Khar dan Sevgil sama-sama memakai lensa mata palsu untuk memudahkan mereka membaur ketika mereka bertemu dengan kaum penyelinap di ruang-ruang bawah tanah, mereka bahkan sengaja mengganti pakaian mereka menjadi lebih membumi supaya semakin tak mencolok, dengan menggunakan pakaian dari kain bumi yang sengaja dibuat semirip mungkin dengan pakaian manusia.
Dan tentu saja mereka berhasil, dengan penampilan mirip manusia dan kemampuan menyamar yang baik, Khar dan Sevgil berhasil bergabung dari satu kelompok kaum penyelinap ke kelompok kaum penyelinap lainnya.
Saat ini mereka sedang bergabung dengan salah satu kaum penyelinap dengan anggota cukup banyak dan sedang ditugaskan untuk mengintai kondisi di dunia atas.
Mereka berkeliling menyeberang dari satu wilayah ke wilayah yang lain untuk menemukan dua hal, manusia kuat seperti Vladirmir seperti yang dibawa oleh Aslan ke istana mereka, dan juga perempuan seperti Mischa yang diyakini ada lebih banyak lagi bertebaran di persembunyian-persembunyian kaum penyelinap tersebut.
Sayangnya sampai saat ini apa yang mereka cari sama sekali belum menemukan titik terang. Yang mereka temui adalah kaum-kaum penyelinap yang menyedihkan, bergabung dalam kelompok-kelompok kecil dan berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.
Tidak ada manusia kuat seperti yang diceritakan oleh Aslan dan juga tidak ada perempuan dengan aura sama menariknya dengan Mischa seperti yang diharapkan oleh Yesil.
“Mungkin kita harus kembali terlebih dahulu dan membuat laporan?” Sevgil menatap lurus ke depan, ke hamparan pasir emas yang membentang sampai ke batas cakrawala, menimbang-nimbang sejenak.
“Aku setuju denganmu. Mungkin seluruh manusia kuat itu sudah dihabisi oleh Aslan sehingga tidak ada yang tersisa. Musuh yang kita perkirakan ada sekarang mungkin sudah tidak ada lagi,” jawab Khar sambil menganggukkan kepala.
“Kalau begitu kita lebih baik ke pesawat sekarang,” Sevgil menegakkan punggung, lalu hendak memimpin langkah meninggalkan tempat persembunyian itu, tetapi kemudian langkahnya terhenti ketika mendengar gemuruh dari kejauhan.
Khar langsung waspada, menoleh ke arah Sevgil yang membalas tatapannya dengan pemikiran yang sama.
“Itu suara helikopter?” tanya Khar cepat dan Sevgil langsung menganggukkan kepala,
“Bukan milik kita. Helikopter kita tidak mengeluarkan bunyi. Yang ini sangat bising, seperti kendaraan terbang milik manusia,” ujar Sevgil tenang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya yang awas menemukan titik hitam yang masih begitu jauh tetapi semakin lama semakin dekat.
Mereka menghentikan pembicaraan ketika melihat dua orang manusia lain muncul dari tempat persembunyian di seberang dan berlari cepat mendekati mereka berdua. Noel dan Kelen adalah salah satu dari laki-laki muda di kelompok kaum penyelinap tempat mereka bergabung yang juga mendapat tugas untuk mengawasi keadaan di seberang area.
“Menurutmu apa itu? Apakah itu Bangsa Zodijak?” Sevgil yang telah diterima dengan baik sebagai anggota kelompok pura-pura bertanya untuk mencari tahu.
Noel mendongak ke udara, ke arah titik hitam di langit yang mulai muncul dan mendekat,
“Bukan… pesawat Bangsa Zodijak selalu senyap tidak bersuara sama sekali, karena itulah kita memasang orang-orang untuk menjadi pengawas di permukaan tanah supaya bisa memberi peringatan awal, karena kita bahkan kesulitan untuk mengetahui kapan Bangsa Zodijak datang ketika mereka tidak bersuara. Kurasa kali ini kita harus meminta seluruh anggota kelompok berlindung supaya lepas dari jangkauan. Mereka adalah kaum bawah tanah, aku mendengarnya dari anggota kelompokku sebelumnya yang sekarang sudah punah tanpa sisa.”
“Kaum bawah tanah? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya? Kupikir kita kaum penyelinap adalah satu-satunya kelompok manusia yang masih bertahan di sisa-sisa puing peperangan ini,” Sevgil bertanya lagi dengan penuh rasa ingin tahu, mencoba mengorek informasi.
“Mereka ada tetapi tidak pernah muncul, bahkan dianggap sebagai desas-desus saja…” Noel menelan ludah, seolah bingung harus berkata apa, “Aku juga dulu beranggapan begitu, tapi… sepertinya mereka benar-benar nyata…”
“Apakah mereka kawan atau lawan?” kali ini Khar yang bertanya, matanya melirik ke arah Kelen yang berada di belakang punggung Noel yang juga tampak mendongakkan kepala dengan cemas sambil mengamati titik hitam itu semakin lama semakin mendekat.
“Sayangnya mereka bukan kawan, apalagi untuk kelompok yang lemah seperti kita,” Noel tiba-tiba bergerak menuruni tangga menuju ruang bawah tanah yang dulunya merupakan bekas stasiun bawah tanah yang menghubungkan semua wilayah di area ini. “Ayo, kita harus memperingatkan yang lain supaya bersembunyi. Dikatakan kalau kaum penyelinap bertemu dengan Kaum bawah tanah, kita akan dilkalahkan karena mereka sangat kuat.”