Inevitable War

Inevitable War
Episode 102 : Aku membutuhkanmu



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




“Tentu saja kau senang, aku tahu kau akan membunuh Aslan kalau saja kau bisa dan kau berpikir bahwa ini adalah salah satu kesempatanmu. Tapi jangan lupa, Mischa, kau sedang mengandung anak Aslan, hal itu berarti bahwa hanya Aslanlah satu-satunya yang bisa melindungimu saat ini. Jika kau membiarkan Aslan mati, memangnya kau mau kabur kemana? Apakah kau pikir kaum manusiamu itu akan menerimamu? Kau mengandung bayi lelaki Zodijak, sudah jelas dalam kondisimu yang seperti itu, kau tidak akan diterima oleh kaum manusia karena dianggap pengkhianat. Mereka akan jijik kepadamu, bahkan aku menduga jika ada peneliti di kalangan manusia, mereka akan merobek perutmu dan menjadikanmu sebagai bahan penelitian karena anak yang kau kandung itu adalah satu-satunya anak percampuran manusia dengan Bangsa Zodijak. Aku menduga mereka akan dengan senang hati mencincang anak-anakmu di usianya yang belum siap lahir, mencabutnya dari rahimmu dan menghancurkannya…  karena anak-anakmu memiliki darah Zodijak musuh mereka di tubuhnya, darah dari pemimpin Bangsa Zodijak pula.”


Yesil tersenyum mengerikan ketika melihat Mischa terkesiap ketakutan karena kata-katanya, dia kemudian menyambung lagi kalimat yang disusunnya dengan cerdas untuk mempengaruhi Mischa,


“Dan jika kau menolak menyelamatkan Aslan lalu saudaraku itu mati, akulah yang akan turun tangan untuk menghukummu, Mischa. Kuharap kau tidak lupa bahwa ada Sasha yang berada di bawah perlindungan Aslan, dengan melindungi Sasha, Aslan menjauhkan adikmu itu dari jangkauan kami, karena kami tidak akan menyentuh apa yang dilindungi oleh Aslan. Jika kau menolak membantu Aslan dan Aslan mati, maka bukan hanya kau. Ingat, bukan hanya kau. Adikmu Sasha akan merasakan akibatnya. Tidak ada lagi yang melindung kalian.”


Kata-kata Yesil membuat Mischa tertegun, matanya membelalak dan mulutnya ternganga. Dia tidak menyangka bahwa Yesil bisa berubah menjadi begitu mengerikan di depan matanya.


Yesil termasuk salah satu pemimpin Zodijak yang Mischa anggap baik, karena lelaki itu bersikap melindungi dirinya dari Aslan, terlihat paling bijaksana dan selalu tersenyum ramah.Ternyata lelaki itu sama jahatnya dengan pemimpin Zodijak yang lain…


Yesil membalas tatapan mata Mischa, sekali lagi seolah bisa membaca pikiran Mischa, lalu seulas senyum getir muncul di bibirnya.


“Aku akan mencoba menemukan penawar racun itu sementara itu aku berharap dalam jeda waktu tersebut kau melakukan tugasmu, Mischa,” Yesil melangkah mendekat dan kegetiran makin tampak di wajahnya ketika refleks Mischa mundur menjauhinya.


Persahabatan rapuh yang terbentuk di antara mereka runtuhlah sudah. Yesil menghela napas perlahan, lalu melanjutkan.


“Aku akan kembali beberapa saat lagi untuk memeriksa.” sambung Yesil dingin kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya.



“Berisik! Kalian semua berisik…”


Aslan tiba-tiba mengerang dari arah ranjang, membuat Mischa yang masih terpaku di tengah ruangan menolehkan kepala.


Mischa meremas kedua jemari tangannya, tenggelam dalam kebingungan, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Sekali lagi, makhluk-makhluk jahat itu berhasil menyentuh kelemahannya yang terdalam dengan mengancam dirinya, juga mengancam Sasha.


Kenapa Mischa harus berada di posisi ini? Dipaksa melakukan sesuatu yang menentang hatinya?


Tetapi ketika matanya menyambar tubuh  Aslan dan menyadari kondisi lelaki itu yang kepayahan, seketika sebuah rasa aneh merayapi jiwanya, sebuah rasa yang Mischa pikir tidak akan mungkin dia rasakan terhadap Aslan.


Apa ini? Apakah ini rasa iba? Atau rasa prihatin?


Mischa tidak sempat menelaah perasaannya, dia menelan ludah, duduk di tepi ranjang dan matanya mengamati Aslan. Mungkin perasaan itu muncul karena dia tidak pernah membayangkan akan menghadapi Aslan dalam kondisi ini, terbaring kepayahan dengan wajah pucat memerah menahan demam, sementara keringat menetes dari sisi kepalanya, menandakan bahwa suhu badan lelaki itu benar-benar tinggi.


Mischa tidak pernah membayangkan Aslan yang begitu kuat bisa terlihat begini lemah di depan matanya, tetapi nyatanya itulah yang terjadi.


Yesil bilang dia harus melakukan tugasnya, bercinta dengan Aslan. Tetapi bagaimana caranya?


Selama ini Aslan yang bercinta dengannya, bukan sebaliknya.Mischa menggigit bibir, menahan rasa ingin menangis, antara bingung harus melakukan apa dan juga bercampur dengan rasa tertekan karena dipaksa melakukan sesuatu di bawah ancaman.


Pada akhirnya, Mischa yang duduk di tepi ranjang, menggeser tubuhnya supaya lebih dekat dengan Aslan, lalu dia membungkuk dan menyentuhkan jemarinya ke pipi Aslan, pada mulanya hanya ingin mengukur seberapa panas demam Aslan.


Seketika itu juga mata Aslan membuka, membuat Mischa terkesiap. Dia hendak menarik tangannya supaya lepas, tetapi Aslan menggerakkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan Mischa supaya tetap menempel di pipinya.


“Kau terasa sejuk.” suara Aslan terdengar parau sementara napasnya memburu, seolah menahan rasa sakit. Meskipun begitu, cengkeraman Aslan di tangan Mischa masih terasa begitu kuat bahkan di saat Aslan terluka seperti ini.


Mischa berusaha menarik tangannya kembali, tetapi sekali lagi juga Aslan menahannya. Lelaki itu malahan menarik Mischa supaya jatuh setengah menimpa tubuhnya dan kali ini Mischa benar-benar merasakan bahwa tubuh Aslan panas membara seperti api.


“Aku membutuhkanmu, Mischa,” Aslan mengerang parau, mengerutkan kening karena rasa sakit, lalu tiba-tiba memposisikan Mischa dengan tepat di atas tubuhnya.Aslan memejamkan mata seolah setengah sadar, tangannya masih mencengkeram tangan Mischa dan menangkupkan telapak tangan Mischa ke pipinya, haus akan rasa sejuk yang ditawarkan tubuh Mischa kepadanya. “Bercintalah denganku, sembuhkan aku, sejukkan aku…” kali ini ada nada permohonan yang kental di suara Aslan, sebuah permohonan bercampur putus asa yang tidak pernah didengar Mischa sebelumnya dari mulut Aslan.



“Apakah kau menemukan sesuatu?”


Akrep melangkah masuk ke ruang penelitian Yesil, ekspresinya masih gundah, sama seperti mereka semua yang tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi.


Akrep melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika pemimpin pasukan kaum bawah tanah itu menembakkan senjatanya, dengan peluru aneh yang meninggalkan jejak kebiruan di udara, lalu tanpa disangka berhasil menembus ke tubuh Aslan dan melukainya.


Tubuh Kaum Zodijak dilapisi kulit keras yang sangat kuat yang berfungsi sebagai perisai alami dan pelindung tubuh. Kulit mereka memang terasa lentur jika dipegang dengan tekstur mirip seperti manusia, tetapi struktur kulit Bangsa Zodijak memiliki bagian yang saling mengikat kuat satu sama lain hingga tidak tertembus oleh senjata tajam maupun peluru sekalipun. Bahkan kulit tersebut juga melindungi Bangsa Zodijak ketika mereka menerima ledakan jarak dekat, menghindarkannya dari luka apapun.


Bisa dikatakan dengan kulit yang sangat kuat tersebut, Bangsa Zodijak bahkan sulit untuk tergores. Mereka tidak mudah memar melalui pukulan, pun dengan serangan di area sensitif mereka sekalipun tidak akan berimbas fatal seperti yang terjadi pada manusia.


Bagian manapun dari tubuh Kaum Zodijak yang dilapisi kulit, itu adalah bagian yang sulit dilukai.


Sekarang pengetahuan itu dipatahkan oleh sesuatu yang tidak diduga, sebuah senjata yang tanpa disangka bisa menembus kulit mereka.


Siapapun yang memimpin penelitian dan menemukan senjata ini, pasti bukanlah manusia biasa. Dan mengingat bahwa yang memegang senjata ini hanyalah pemimpin pasukan, hal itu menunjukkan bahwa senjata ini belumlah diproduksi secara massal, bahkan mungkin baru dibawa untuk diuji cobakan.


Semoga saja begitu.Yesil harus mempelajari senjata itu sambil berusaha memastikan bahwa tidak ada senjata semacam itu lagi yang diproduksi, jika musuh mereka tahu bahwa senjata itu bisa melukai pemimpin Bangsa Zodijak, bukan tidak mungkin mereka akan mengembangkannya secara masal.


Sebelum itu semua terjadi, Yesil harus menemukan cara untuk melawan senjata tersebut.


“Aku sedang mempelajarinya. Mischa juga sedang melakukan tugasnya untuk menyembuhkan Aslan. Kuharap kita bisa menemukan titik terang segera,” mata Yesil menatap Akrep dengan penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana dengan pemimpin pasukan yang kau ringkus itu? Apakah kau mendapatkan sesuatu darinya?”