Inevitable War

Inevitable War
Episode 94 : Kaum Bawah Tanah



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 **PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


“Sangat kuat?” Khar mengejar diikuti yang lainnya melalui lorong-lorong gelap yang basah dan lembab menuruni tangga semakin ke bawah. “Bukankah mereka manusia?”


“Mereka bukan manusia biasa. Hanya itu saja yang kutahu,” Noel melemparkan pandangan gugup ke arah Khar. “Dengar, aku hanya berbicara berdasarkan pengalamanku. Dulu aku bergabung dengan kelompok kaum penyelinap kecil sebelum berada di sini, kelompokku di serang oleh mereka yang meminta disebut dengan nama kaum bawah tanah, mereka memindai seluruh anggota kelompok, mengambil laki-laki yang paling kuat, sehat dan tanpa cacat untuk dibawa. Mereka juga memindai kaum perempuan, menyuntikkan sesuatu yang seperti air ke tubuh mereka, tetapi sepertinya tidak menemukan apa-apa. Setelah mereka menyelesaikan apapun yang mereka inginkan, mereka mengangkut kaum laki-laki yang dipilih sementara seluruh anggota Kaum Penyelinap yang tersisa karena tidak memenuhi syarat dibunuh tanpa sisa.”


Noel menghela napas dengan sedih ketika mengingat itu semua sebelum kemudian menyambung perkataannya kembali. “Ketika itu aku sedang bertugas menjadi pengawas seperti sekarang ini, aku pulang dari tugas dan menemukan seluruh anggota kelompokku telah tewas, hanya salah satu yang masih hidup yang berhasil menceritakan semua kepadaku, tetapi dia juga terluka parah dan akhirnya meninggal.”


“Kau tidak pernah memperingatkan kelompok kita bahwa mereka ada,” Kelen akhirnya berbicara, napasnya terengah karena langkah mereka semua lebih cepat seakan berlari.


Noel mengerutkan kening penuh rasa bersalah. “Aku selama ini berpikir bahwa mereka tak ada… kupikir itu hanyalah halusinasi anggota kelompokku yang sedang sekarat menjelang kematian. Aku berpikir bahwa mereka dibantai oleh Bangsa Zodijak… siapa yang tidak berpikir begitu? Mereka katanya sangat kuat, memiliki senjata dan membunuh kaum manusia. Hanya saja ada satu hal yang tiba-tiba membuatku menyadari bahwa anggota kelompokku yang dulu tidak sedang berhalusinasi.”


“Apakah itu?” Kellen berseru, bertanya dengan penuh rasa ingin tahu sementara Khar dan Sevgil saling melempar pandang dengan tatapan penuh arti satu sama lain.


“Helikopter mereka…. anggota kelompokku yang menjadi saksi terakhir itu mengatakan bahwa kelompok kaum bawah tanah datang dengan menggunakan helikopter yang sangat berbeda dengan Bangsa Zodijak karena helikopter itu sangat berisik hingga suaranya bisa terdengar dari kejauhan.”


 



 


“Apakah kau mendapatkan info dari saudara-saudara kita di luar sana?”


Aslan langsung berkata begitu memasuki ruangan komando tempat Akrep berada. Saudaranya yang paling tua itu sedang berdiri memunggunginya, posisinya menghadap ke arah peta bumi yang direfeksikan dalam tampilan mendatar serupa hologram yang memenuhi salah satu dinding.


Seluruh area yang ada di peta itu ditandai dengan bendera hitam, menunjukkan area-area yang telah dikuasai oleh Bangsa Zodijak. Dan sekarang setelah Bangsa Timur Jauh berhasil dikalahkan, tidak ada satupun area di dalam peta itu yang tidak ditandai dengan bendera hitam milik Bangsa Zodijak.


“Mereka belum mengirimkan kabar ke dalam kepalaku,” Akrep membalikkan badan, menghadap ke arah Aslan sambil menyentuh dahinya sendiri penuh isyarat.


Ekspresi Aslan tampak tidak puas, dia lalu menghampiri meja besar yang terbentang di tengah ruangan dan duduk dengan serampangan di atasnya.


“Jadi mereka tidak mendapatkan apa-apa?” Aslan merenung. “Manusia-manusia kuat itu kemungkinan besar bukan bagian dari Kaum Penyelinap. Mereka terlalu kuat untuk berada di sana. Khar dan Sevgil mungkin selama ini mencari di tempat yang salah, karena itulah mereka tidak bisa menemukan apa-apa.”


Akrep memiringkan kepala, tampak memikirkan perkataan Aslan, lalu mengangguk.


“Sepertinya memang begitu. Sepertinya kita harus merancang ulang strategi kita,” Akrep menatap Aslan meminta pendapat. “Perlu kupanggil Khar dan Sevgil supaya kembali?”


Sebelum sempat Aslan membuka mulut untuk memberikan jawaban, tiba-tiba saja Akrep menghadapkan telapak tangannya ke arah Aslan seolah meminta Aslan menghentikan apapun yang hendak dia lakukan atau katakan.


“Sebentar,” Akrep memejamkan mata dan Aslan menurutinya, tahu bahwa saat itu Akrep sedang menerima informasi dari dalam kepalanya. Dia tidak ikut bergabung dan memilih menunggu sampai Akrep selesai.Tak lama kemudian Akrep membuka mata, ekspresinya seolah-olah tidak mampu melukiskan tentang apa yang baru saja didengarnya.


“Sevgil melapor,” ujar Akrep kemudian. “Ada kelompok manusia kuat dengan nama Kaum Bawah Tanah sedang menuju lokasi tempat Kaum Penyelinap di mana Khar dan Sevgil bergabung. Mereka sedang dalam penyamaran dan menunggu lebih lanjut untuk menentukan akan bertindak seperti apa,” Akrep menghentikan kata-katanya, seolah berusaha menelaah apa yang telah berada di dalam otaknya. “Kau benar Aslan….” ujarnya kemudian. “Kemungkinan besar memang ada musuh tersembunyi yang selama ini tidak kita sadari.”


 



 


 


Matanya terpaku ke arah Mischa yang terlelap di atas ranjang. Perempuan itu sepertinya kelelahan setelah histeris tak terperi tadi dan juga karena Yesil telah menyuntikkan obat penenang khusus yang seharusnya tidak mengganggu kandungan Mischa.


Tadi Aslan mendatangi Akrep untuk menginformasikan tentang kehamilan Mischa, tetapi perkembangan baru itu membuat Aslan menahan informasi tersebut, setidaknya sampai seluruh urusan dibereskannya.


Informasi dari Sevgil membuat Aslan memutuskan bahwa mereka harus datang ke lokasi diam-diam, menggunakan pesawat pengintai yang tak kasat mata dan mengawasi sampai mereka bisa tahu lebih jelas wujud dari musuh mereka sebelum kemudian memutuskan strategi apa yang harus diambil untuk mengalahkan musuh itu.


Khar dan Sevgil akan tetap berada dalam penyamarannya di lokasi, dan jika mereka bilang Kaum Bawah Tanah itu melakukan penyisiran kepada manusia-manusia dengan tubuh kuat untuk diculik, semoga saja mereka tidak menyadari perbedaan Khar dan Sevgil dengan manusia sehingga tanpa sadar membawa Khar dan Sevgil ke markas mereka tanpa ketahuan.


Itulah yang diharapkan oleh Aslan supaya terjadi, karena dengan begitu Khar dan Sevgil bisa menyusup dari dalam dan mendapatkan informasi sebanyak mungkin.


Sayangnya, jika Kaum Bawah Tanah itu melakukan pemeriksaan secara teliti, sudah pasti Khar dan Sevgil akan ketahuan bahwa mereka bukanlah manusia. Dari kulit mereka yang lebih keras dari kaum manusia saja sudah pasti mereka akan terpindai sebagai Bangsa Zodijak.


Jika itu yang terjadi, tidak ada cara lain selain Aslan yang datang membawa pasukan dan mengawasi diam-diam, terpaksa meringkus mereka semua, kali ini dalam kondisi sehat dan hidup, bisa berbicara dan tak seperti Vladimir yang dia bawa dalam keadaan koma sehingga menyulitkan Yesil mendapatkan informasi.


Cara apapun yang akan mereka tempuh nanti, yang pasti mereka harus berhasil mendapatkan informasi penting mengenai siapakah musuh mereka itu, siapakah Kaum Bawah Tanah itu dan kekuatan seperti apa yang menggerakkan mereka.


Mereka harus mengenali musuh mereka terlebih dahulu sebelum kemudian menemukan kelemahannya.


Aslan memikirkan itu semua sambil berganti pakaian dengan cepat, mengganti pakaian santainya dengan pakaian khusus Zodijak yang digunakan untuk berperang.


Setelah selesai, dia lalu membalikkan badan dan mau tak mau mata kelamnya terpaku ke arah Mischa yang begitu lelapnya di atas ranjang hingga tidak menyadari kehadiran Aslan.


Seolah tertarik oleh magnet, Aslan melangkah mendekat, tubuhnya berhenti ketika kakinya menyentuh pinggiran ranjang untuk kemudian duduk di tepi ranjang, dekat sekali dengan tubuh Mischa yang terbaring di sana.


Bibir Mischa sedikit terbuka sementara matanya terpejam rapat dengan bulu mata tebal nan panjang membingkai kelopaknya nan terkatup.


Aslan mau tak mau melirik ke keseluruhan tubuh Mischa yang sudah tampak berisi meski masih belum cukup bagi Aslan. Matanya lalu terpaku ke perut Mischa dan pemikiran bahwa perut yang sebegitu mungil akan menampung lebih dari satu bayi Zodijak yang sangat kuat dan berukuran besar ketika dilahirkan, membuat Aslan mengerutkan keningnya.


Akankah Mischa selamat melahirkan anakknya, ataukah bayi itu akan membunuh manusia perempuan ini bahkan sebelum sempat dilahirkan ke dunia? Atau jangan-jangan mereka akan sama-sama tewas akibat kehamilan yang tak biasa ini?


Perkataan Mischa ketika histeris tadi terngiang-ngiang di kepala Aslan, bagaikan adegan berulang yang terus menerus diputar tanpa henti.


Pembunuh! Pembunuh! Aku menyesal bertemu denganmu!


Mata Aslan menyipit dan memerhatikan Mischa dengan lebih saksama, termenung cukup lama, sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Lalu setelah rentang waktu yang dihabiskan dalam keheningan itu berlalu, Aslan mengerjapkan mata seolah tersadar, tahu bahwa dia harus segera memimpin pasukannya menuju padang gurun tempat Khar dan Sevgil berada.


Dan didorong oleh keinginan impulsif yang entah karena apa, Aslan menundukkan kepala lalu mencium sisi pipi Mischa, yang dekat dengan bibir ranumnya,  membuat perempuan itu mendesah dan menggeliat pelan.


Bibir Aslan bergeser, mengecupi sisi kulit Mischa yang lembut untuk kemudian berakhir di telinga Mischa sebelum kemudian berbisik pelan.


“Aku tak pernah menyesalimu, kelinci kecil.”


 



 


“Kalian pergilah dulu, aku akan menyusul dengan pesawat tercepat,” Aslan langsung memberikan perintah ketika memasuki ruang pertemuan besar tempat mereka berkoordinasi sebelum berangkat.


Kaza, Akrep dan Aslan sendiri yang akan pergi untuk memantau kondisi Khar dan Sevgil sambil mengamati musuh mereka, kaum bawah tanah yang misterius. Sementara itu Yesil dan Kara tetap tinggal di dalam istana.Kaza mengangkat alis mendengar kata-kata Aslan.


“Kau lebih mementingkan Mischa lagi?” tanyanya cepat, tidak menyembunyikan nada mencemooh dalam suaranya.


Anehnya, Aslan tampaknya sama sekali tidak terpancing kemarahannya atas perkataan Kaza yang provokatif tersebut, dia malah tampak terdiam dan menimbang-nimbang, lalu melemparkan pandangan pada Akrep dan Kaza berganti-ganti sebelum kemudian memutuskan berbicara.


“Mischa sedang mengandung anakku,” ujarnya singkat tetapi menggema di ruangan dan mampu membuat Akrep dan Kaza ternganga karena terkejut luar biasa.


“Apa?” Akreplah yang akhirnya bisa mengeluarkan suara. “Bagaimana bisa?” ujarnya seolah tak percaya, menatap Aslan dengan mata membelalak lebar.