
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Apa yang kau inginkan?"
Aslan membuka pintu kamarnya dan menatap Kaza dengan dingin. Dirinya masih menyimpan kemarahan kepada Kaza atas perlakukan kurang ajarnya yang berani-beraninya menyentuh Mischa tanpa izin dan menyakiti Mischa sampai terluka, dan Aslan tidak menyembunyikan kemarahannya bahkan saat sedang berbicara tatap muka jarak dekat dengan Kaza.
Kaza menelan ludah, tadi dia begitu menggebu-gebu untuk menemui Aslan, terdorong oleh tindakan impulsif ketika melihat gelang peledak di kaki Sasha. Tetapi sekarang ketika bertatapan langsung dengan Aslan dirinya kehilangan kata-kata, bingung harus merangkai kalimat seperti apa.
“Sebentar,” Aslan melirik ke arah pintu di belakangnya, ke arah Mischa yang sedang asyik makan. Dari balik punggungnya dia merasakan lirikan penuh ingin tahu Mischa atas kehadiran Kaza di areanya. “Jangan di sini,” Aslan berucap tenang, lalu sengaja menutup pintu kamarnya agak keras dan membalikkan badan melewati lorong dan membiarkan Kaza mengikuti di belakangnya.
Aslan berjalan melalui beberapa ruangan lain sebelum kemudian membuka sebuah pintu besar berwarna hitam dan memimpin langkah Kaza untuk memasuki ruangan itu. Ruangan itu cukup luas, dengan dinding gelap dan pencahayaan hangat yang menampilkan pemandangan set sofa besar di tengah ruangan.
Yang membuat ruangan itu berbeda dengan ruang-ruang lainnya adalah apa yang terpajang di dindingnya.
Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak kaca tebal bertingkat memenuhi seluruh sisinya dari bagian bawah sampai titik teratas yang menyentuh atap. Dan yang ada di dalam rak itu bukanlah pajangan biasa, melainkan senjata-senjata kelas tinggi bangsa Zodijak, dari pisau belati ukuran terkecil sampai senjata berat dengan ukuran raksasa yang mungkin bisa meledakkan satu kota.
Aslan memang sangat menyukai senjata, dari ketujuh saudaranya, Aslan dikenal memiliki hasrat besar terhadap pertarungan baik dengan menggunakan senjata api maupun pertarungan jarak dekat yang membutuhkan keahlian khusus. Dan sepertinya Aslan sangat berbakat dalam hal itu karena dia sebagai seorang pemimpin Bangsa Zodijak, belum pernah dikalahkan.
“Apa yang ingin kau katakan?” Aslan membanting tubuhnya di sofa, menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kaki dengan gaya serampangan.
Kaza sendiri tidak mengikuti Aslan duduk, dia memilih berdiri dengan punggung menegang.
“Tentang Sasha,” ujar Kaza tenang, melemparkan umpan dan menunggu reaksi Aslan.
Ujaran Kaza itu membuat Aslan mengangkat alis. “Ah, tentang Sasha,” Aslan bukannya tak tahu kekuatan misterius yang sama-sama mengikat Kaza kepada Sasha, sama seperti yang terjadi pada dirinya. “Aku akan mengambil Sasha dalam wilayahku hari ini,” dengan tenang Aslan melanjutkan, seolah menunggu kesempatan Kaza untuk menentangnya.
Kaza sendiri menggeser posisi berdirinya dengan gelisah. “Aku meminta Sasha untuk diletakkan di areaku,” ujarnya cepat mengambil kesempatan.
“Dan akan kau apakan anak itu?” Aslan menyela dingin. “Dia tidak berguna untukmu, setidaknya untuk saat ini. Kau bahkan tidak bisa menyentuhnya karena dia masih anak-anak. Dia akan lebih berguna untukku.”
“Sebagai sandera?” Kaza menyambar cepat membuat tatapan Aslan menajam.
“Ya, sebagai sanderaku. Sasha adalah pion penting untuk menahan Mischa di sini,” jawab Aslan dengan suara dingin mengancam.
Hal itu tidak mengena kepada Kaza karena dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Kau tidak perlu menahan Mischa sampai seperti itu, jika memang kau yakin pada pesonamu, Mischa tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanmu,” ucap Kaza memulai.
Aslan langsung mengerutkan kening tak setuju. “Kau pikir semudah itu memahami pikiran perempuan? Manusia perempuan? Kau pikir dengan memberikan adegan ranjang yang hebat dan perlindungan, mereka akan dengan mudahnya jatuh ke tangan kita dan tunduk menyerah?” Aslan menyeringai dengan sikap penuh ironi, “Kalau kau tahu betapa rumitnya pemikiran manusia perempuan, mungkin kau akan menyerah, Kaza. Kau boleh menuruti semua kemauan mereka, tetapi tetap saja tidak bisa menyenangkan mereka. Mereka akan tetap mencakarmu dengan buas kalau hatinya tidak senang.”
Aslan menyipitkan mata dan menatap Kaza penuh perhitungan. “Jika kau kalah dengan ketertarikanmu pada Sasha dan kau menyerahkan diri sepenuhnya tanpa bisa menahan diri, kau akan berakhir menderita dan menyedihkan seperti Kara.”
Ucapan Aslan membuat Kaza melebarkan mata seolah tersinggung. Ya, dirinya juga menganggap Kara bodoh karena saudara kembarnya itu meletakkan hati dan kepercayaannya begitu besar kepada Natasha, bahkan setelah bukti pengkhianatan Natasha yang sangat jelas di depan mereka, Kara masih saja bersikeras untuk percaya.
Kaza memang mengakui bahwa Kara bodoh, tetapi mendengarkan Aslan menjelek-jelekkan Kara di depannya entah kenapa membuat sisi defensif di dalam dirinya bermunculan tak terkendali.
“Kenapa kau begitu yakin bahwa dirimu tidak akan berakhir seperti Kara? Karena yang kulihat, kau sudah setengah jalan menuju itu.” ucap Kaza dengan suara sedikit meninggi.
Beruntung sindiran Kaza tersebut tidak berhasil memancing emosi Aslan, lelaki itu bersedekap, bersandar di kursinya dengan santai sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Kaza.
Kaza tercenung sejenak, tetapi pada akhirnya mengulang kembali perkataannya.
“Aku ingin Sasha dialihkan ke wilayahku.”
“Dan jika aku tidak mengabulkannya, kau mau apa?” Aslan menyahut cepat dengan nada menantang, membuat Kaza tertegun.
Jika Aslan tidak mengabulkannya? Yah dia bisa apa? Tidak pernah ada yang bisa menentang kemauan Aslan selama ini, dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kaza untuk mengubahnya.
“Setidaknya aku ingin kau melepas gelang kaki peledak di kaki Sasha.” pada akhirnya Kaza menyerah, tidak bisa mengatakan yang lain lagi.
“Kau seharusnya tidak memedulikan gelang kaki itu. Lagipula bagaimana aku bisa menahan Mischa untuk tidak lari lagi kalau begitu caranya?” Aslan bertanya dengan nada tajam, menunggu reaksi Kaza.
“Mischa tidak akan bisa lari lagi dari sini. Dulu dia kebetulan bisa lari karena bantuan Kara, sekarang Kara sudah pasti tidak akan berani mengulang kesalahannya yang dulu dan saudara-saudara kita yang lain tidak akan segila Kara untuk membantu Mischa kabur,” Kaza mendongakkan dagu dengan tatapan meyakinkan. “Kau hanya perlu sedikit berusaha untuk membuat Mischa terpesona kepadamu dan dia tidak akan pernah ingin meninggalkanmu.”
Perkataan Kara membuat Aslan seolah menahan senyum, tetapi lelaki itu berhasil memasang ekspresi datar yang kaku.
“Aku akan memikirkan perkataanmu itu. Apakah kau tidak tahu bahwa aku mengambil alih Sasha atas permintaan Mischa? Dia cemas karena dirimu, Mischa sangat yakin bahwa kau akan menyakiti Sasha.”
Kaza menipiskan bibir dengan geram. “Dan kau lebih memilih mengabulkan permintaan istrimu daripada permintaan saudaramu?” ujarnya sinis.
Aslan mengangkat bahu, memasang ekspresi tak peduli.
“Mau bagaimana lagi, bukan kau yang bisa memuaskan nafsuku,” jawabnya dengan nada angkuh tak terperi.
“Apakah kau ingin tambah lagi?”
Aslan sudah kembali lagi di hadapan Mischa, mengangkat alis bingung ketika melihat Mischa kembali menghabiskan makanannya sampai tandas.
Mata Aslan yang gelap pekat menelusuri seluruh diri Mischa dengan penuh penilaian, menyadari ada sesuatu yang aneh dan tak beres dengan manusia perempuan di depannya itu.
Mischa sendiri seolah tak menyadari tatapan penuh penilaian Aslan, perempuan itu sibuk menunduk menatap piring makanannya yang tak terasa sudah habis tandas tak bersisa. Semua masakan itu entah kenapa terasa begitu enak dan dia merasakan dorongan untuk menghabiskannya bahkan meminta tambah.
Mischa menunduk dan mengusap perutnya sendiri, mencari tanda-tanda kenyang di sana, tetapi tidak menemukannya.
Pada akhirnya Mischa mendongak, menatap Aslan yang juga sedang terpaku menatap perutnya.
“Aku masih lapar,” ujarnya kemudian dengan nada tak percaya.Aslan langsung melebarkan mata, mulutnya sedikit ternganga, lalu mengatup lagi seolah-olah kata-kata yang sudah muncul di bibirnya tertahan untuk di keluarkan.
Mata Aslan kembali menelusuri seluruh diri Mischa sebelum kemudian berucap dengan bibir menipis penuh perhitungan.
“Apakah kau ingin aku meminta bagian dapur mengantarkan makanan lagi?”
Mischa ingin menolak, pipinya sudah memerah karena malu sebab kali ini dirinya benar-benar tampak rakus di depan Aslan. Tetapi sayangnya perutnya meronta-ronta meminta diisi dan keinginan untuk makan itu mengalahkan segalanya.
“Kalau kau tidak keberatan,” jawab Mischa terbata, menahankan rasa malu yang amat sangat.
Aslan tidak berkata apa-apa lagi, mengangkat sebelah alisnya sedikit sebelum kemudian tampak berkomunikasi melalui telepati kepada budak-budaknya.
“Kau akan mendapatkan makananmu sebentar lagi,” Aslan menganggukkan kepala sedikit ke arah Mischa. “Aku meminta dikirimkan dua porsi menu sekaligus untuk berjaga-jaga,” setelah berucap begitu, Aslan membalikkan badan hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan.
“Apakah menurutmu aku sakit?” Mischa tiba-tiba berkata pelan, membuat langkah Aslan yang sudah mencapai pintu terhenti dan lelaki itu menoleh untuk kemudian mendapati Mischa sedang menangkupkan telapak tangannya yang kurus ke dahinya sendiri.
“Apakah kau merasa sakit?” Aslan malah kembali bertanya sambil melemparkan tatapan mata menyelidik.Mischa menggelengkan kepala.
“Tidak. Aku hanya merasa… lapar.”
“Kalau begitu obatmu hanyalah makan,” Aslan menjawab dengan tenang, tetapi ketika melihat keraguan di wajah Mischa, Aslan akhirnya berucap lagi. “Aku akan meminta Yesil memeriksamu nanti setelah kau selesai makan.”
Sambil berkata begitu Aslan membalikkan badan kembali dan melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mischa sendirian menunggu makanannya datang.