Inevitable War

Inevitable War
Episode 122 : Menemukan Musuh



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



 


 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 



 


 



“Apa maksudmu?”


Mischa berseru dengan nada waspada ketika mendengar kalimat Imhotep yang mengirimkan sinyal mengerikan di dalam tubuhnya.


“Aku akan menjawab pertanyaanmu sebelumnya mengenai apa yang telah kulakukan kepada Natasha,” Imhotep mengalihkan pandangan ke arah tubuh Natasha. “Ketika darah kalian bercampur dengan air suci Zodijak, darah kalian akan berubah menjadi air Zodijak dengan jenis yang lebih kuat, lebih mematikan apalagi terhadap pasangan air suci kalian. Aku menggunakan darah Natasha  sebagai serum kekuatan untuk menginjeksi pasukanku sehingga mereka menjadi lebih kuat,” Imhotep menatap Mischa dengan tatapan penuh arti. “Mungkin kau pernah berpapasan dengan salah satu dari mereka?”


Imhotep sebenarnya mengacu kepada Kale yang diperintahkan untuk menculik Mischa. Tetapi pikiran Mischa malahan tertuju kepada pasukan manusia mengerikan yang berusaha mengambilnya dari tangan Aslan ketika Aslan membawanya ke sebuah danau yang indah di tengah padang gurun. Pasukan manusia itu terlihat seperti bukan manusia, dan mereka jelas-jelas lebih kuat dari manusia biasa, meskipun pada akhirnya Aslan berhasil mengalahkan mereka semua.


Mata Mischa tertuju ke tubuh Natasha yang tampak ringkih dan bayangan mengerikan langsung memenuhi benaknya.


“Berapa… berapa jumlah pasukanmu?” tanyanya dengan suara gemetar.


Imhotep langsung menyeringai keji. “Puluhan ribu.” serunya tanpa belas kasihan. “Mereka semua mendapatkan suplai darah Natasha secara berkala bertahun-tahuan lamanya untuk membangun kekuatan. Aku menyedot darah Natasha dan menjadikannya serum kekuatan untuk pasukanku. Tentu saja aku menjaga supaya Natasha yang sangat penting ini tidak sampai mati kehabisan darah, aku menciptakan serum khusus untuk membuat produksi darah Natasha menjadi berlipat ganda sehingga tidak akan habis meskipun diambil dalam jumlah banyak.”


“Kau sangat kejam!” Mischa hampir menjeritkan kalimatnya sementara matanya yang terpaku pada tubuh Natasha berkaca-kaca menahan tangis. Membayangkan Natasha yang selama ini menghilang ternyata mengalami nasib yang begini mengerikan, membuat dada Mischa sesak oleh belas kasihan. Tidak disangkanya nasib Natasha setragis ini… andai saja Kara tahu, dia pasti akan sangat sedih…


“Selain sebagai serum kekuatan, aku juga menggunakan darah Natasha untuk keperluan lain,” Imhotep menyeringai lebar seolah belum cukup menunjukkan kekejamannya di depan Mischa, tangannya bergerak dan mengeluarkan sebutir peluru berwarna biru menyala dan menunjukkannya ke depan Mischa. “Aku menggunakan darah Natasa untuk membuat senjata. Darah Natasha yang menjadi air suci Zodijak sedianya tidak berbahaya bagi Bangsa Zodijak, tetapi aku memodifikasi gen di dalamnya, mengaktifkan kekuatanku yang terselip di darah itu. Dan hasilnya terciptalah peluru-peluru  berisi racun darah ini dalam jumlah yang sangat banyak. Senjata atau peledak apapun yang diisi oleh racun darah ini bisa melukai Bangsa Zodijak dengan sangat parah, meracuni darah mereka dan membunuh mereka jika tidak segera mendapatkan pertolongan. Karena racun darah ini terbuat dari darah Natasha, maka jika senjata ini terkena Kara, maka dia akan mati tanpa memiliki penawar.”


Mischa teringat penjelasan Akrep dan Yesil kepadanya setelah apa yang terjadi pada Aslan. Saat itu Aslan terluka parah, dan itu pasti karena peluru yang berasal dari darah Natasha. Jika peluru itu berasal dari darah yang bukan merupakan wanita pasangan air sucinya, maka seperti halnya Aslan yang terkena peluru racun darah Natasha, masih bisa diselamatkan oleh Mischa.


Tetapi jika Aslan terkena peluru yang berisi racun yang diambil dari darah Mischa…


Lelaki Zodijak jahat dan kejam berkedok Sang Penyembuh ini ingin mengambil darahnya untuk senjata! Sama seperti yang telah dilakukannya kepada Natasha!


Imhotep menyadari pengetahuan yang muncul di wajah Mischa dan tersenyum lebar karena apa yang ingin dia sampaikan telah dimengerti. Lelaki itu meletakkan peluru di tangannya, lalu mengambil alat seperti jarum suntik besar yang sangat mengerikan sebelum kemudian melangkah lambat-lambat mendekati Mischa.


“Sekarang kau telah mengerti bahwa aku akan menggunakan darahmu persis sama seperti yang akan kugunakan kepada Natasha,” bisik Imhotep mengancam. “Kau akan menjadi senjata untuk melumpuhkan Bangsa Zodijak dan untuk membunuh Aslan khususnya,” mata gelap Imhotep tampak semakin gelap seiring dengan langkahnya yang mendekat ke arah Mischa. “Dan aku belum mengatakan sesuatu kepadamu. Karena kau yang terkuat dari para saudarimu, kau adalah pasangan Aslan yang membuatmu menjadi pemimpin dari ketujuh saudarimu, maka darahmu bisa digunakan untuk memancing saudari-saudarimu yang lain yang terpencar di seluruh penjuru bumi untuk datang mendekat.”


Imhotep tampak puas ketika melihat kengerian terpancar di wajah Mischa. “Ya, Mischa. Dengan menangkapmu, akan sangat mudah bagiku mengumpulkan sisa saudarimu yang belum tertangkap. Dan ketika aku berhasil mengumpulkan mereka semua, percayalah, itu adalah akhir dari peradaban Bangsa Zodijak dan peradaban manusia. Akan tercipta satu peradaban, peradaban Imhotep, peradaban yang dipimpin olehku. Aku akan menguasai bumi dan menjadikannya kekuasaanku.”


Suara Imhotep meninggi penuh semangat sementara tangannya bergerak hendak menancapkan ujung alat suntik mengerikan yang ada di tangannya ke tubuh Mishca. Mischa meronta sekuat tenaga, berusaha menyelamatkan diri dengan sia-sia karena saat ini kedua tangannya terborgol kuat dan membuatnya tak bisa melepaskan diri.


Akhirnya ketika ujung jarum suntik yang dingin tersebut menyentuh kulitnya, yang bisa dilakukan Mischa adalah memejamkan mata, pasrah dan ketakutan akan apa yang terjadi di masa depan.


 



 


“Areanya ada di sana,” Aslan memandang lurus ke garis padang pasir yang tampak sama jauh di depannya. Seluruh area itu ditutup oleh pasir berwarna cokelat yang tampak sangat panas, menciptakan hawa fatamorgana berupa udara dengan gelombang berkelok nan menipu mata.


“Markas kelompok bawah tanah itu ada di bawah tanah itu?” Sevgil mengerutkan kening, menatap ke arah Aslan dengan tatapan mata tidak yakin. “Segalanya tampak sama, bahkan pemindai pesawat tidak bisa mendeteksi adanya aktivitas tersembunyi di bawah padang pasir itu.”


Mereka telah menempuh perjalanan cukup lama untuk mencapai area ini dan saat ini mereka hanya mengandalkan kemampuan Aslan dalam membaca pikiran Vladimir dan menerjemahkannya di peta bumi yang berada di hadapan mereka.


Aslan hanya menganggukkan kepala untuk menjawab Sevgil. Ekspresinya tegas sementara gerahamnya mengeras, membuat bibirnya menipis dan menunjukkan ketegangannya.


Jika dia tidak salah membaca apa yang berhasil direnggutnya dari otak dan ingatan Vladimir ini, markas milik Sang Dokter, pemimpin kaum bawah tanah yang mereka curigai sebagai Imhotep terletak di bawah area ini.


Aslan mencoba mengingat lagi apa yang dilihatnya di dalam ingatan Vladimir dan dia tahu pasti bahwa markas Sang Dokter bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan, terbentang luas ratusan kaki di bawah padang pasir, seukuran sebuah kota dengan lapisan pelindung berteknologi khusus yang membuat mereka tidak bisa dilacak melalui permukaan tanah.


Karena itulah radar pesawat pasukan Zodijak tidak pernah menemukan lokasi markas ini bahkan meskipun pesawat-pesawat dengan radar khusus berteknologi tinggi yang seharusnya tidak melewatkan apapun.


Kemampuan Sang Dokter membangun markas dan pusat perlindungan yang tidak terlacak selama ini tentu semakin memperkuat dugaan mereka semua bahwa Imhotep ada di balik semua ini dengan menggunakan nama Sang Dokter untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Belum lagi dengan kemampuan membangun infastruktu serupa kota modern di bawah tanah dalam waktu singkat yang memerlukan pengetahuan teknologi tinggi. Mengingat Imhotep juga dikenal oleh Bangsa Mesir kuno sebagai arsitek dunia yang pertama kali ada atas jasanya membangun piramida besar giza yang terkenal, mungkin menjadi hal yang mudah bagi Imhotep membangun markas perlindungan seperti itu.


Aslan memejamkan mata sejenak untuk menyegarkan ingatannya tentang gambaran yang dia baca dari ingatan Vladimir. Diingatnya peta wilayah dan jalur-jalur yang harus dilalui untuk memasuki wilayah markas bawah tanah tersebut, pun diperhatikannya sistem penjagaan yang dilakukan oleh tentara-tentara bersenjata lengkap seperti yang terekam dalam ingatan Vladimir.


Seluruh bagian bangunan itu tampak sempurna dan lengkap, itu berarti kemungkinan besar Aslan salah. Bisa saja Imhotep telah membangun tempat persembunyian ini diam-diam sejak lama, mempersiapkan segalanya dan membangun kekuatan besar di bawah tanah sambil menanti Bangsa Zodijak datang ke bumi pada akhirnya.


Jika memang itu yang terjadi, maka besar kemungkinan Imhotep sudah jauh beberapa langkah lebih maju dibandingkan mereka semua.


Ekspresi Aslan yang kalut membuat Sevgil yang sejak tadi mengawasi berdehem untuk menarik perhatian saudaranya tersebut. Mata Aslan menajam dan matanya kembali ke masa sekarang, menatap lurus ke depan dan memindai wilayah padang pasir yang tampak serupa itu.


“Di situ. Pintu masuk ke wilayah bawah tanah ada di balik bukit kecil tersebut, tersembunyi di belakang bebatuan,” gumam Aslan dengan nada yakin.


Sevgil menganggukkan kepala, lalu melirik ke arah Aslan untuk meminta persetujuan.


“Apakah menurutmu kita harus mendaratkan pesawat di area itu?” sebelah tangan Sevgil menunjuk area datar yang sedikit tersembunyi karena dikelilingi bebatuan yang menjorok membentuk tudung teduh sehingga lokasi pendaratan mereka, meskipun menggunakan pesawat tak kasat mata tetap terlindungi dari pengawasan apapun yang mungkin dilakukan oleh pihak musuh.


Aslan mengangguk.


“Beri tahu pasukan Akrep untuk mengikuti kita. Kita harus mengatur strategi dahulu untuk memasuki wilayah musuh.”