
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Mischa mengatupkan tudung jaketnya untuk melindungi kepala dari hempasan angin padang pasir bersuhu dingin yang begitu kering dan menyiksa. Mereka sudah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya, mencoba bersembunyi dan menyelinap melalui reruntuhan bangunan yang akan melindungi mereka jika nanti ternyata ada pencarian udara yang dikirimkan dari istana Zodijak sesuai dengan dugaan Kara.
Kara melirik ke arah Mischa yang tampak mulai kepayahan karena sudah berjalan berjam-jam menembus udara panas untuk menemukan kaum penyelinap lain yang bisa menjadi pemberhentian mereka sementara waktu.
Saat ini mereka membutuhkan koloni sebagai kamuflase keberadaan mereka. Berada dalam satu koloni akan membuat Kara dan Mischa tersamarkan, sedangkan mempertahankan untuk terus berdua saja akan membuat mereka mudah ditemukan.
Lagipula Kara membutuhkan informasi yang mungkin bisa didapatnya dari kaum penyelinap yang akan mereka temui nanti. Mungkin saja salah satu dari mereka pernah bertemu atau bahkan pernah mengenal Natasha. Dan bukannya tidak mungkin Natasha menjadi salah satu di antara mereka.
Membayangkan tentang Natasha dan kemanusiaannya yang menggoda membuat Kara mau tak mau menolehkan kepala dan memandang ke arah Mischa yang sedang berjalan di sampingnya dengan napas terengah. Perempuan ini memiliki tekad yang sama-sama kuat, tersembunyi di balik tubuh manusia mereka yang rapuh. Padahal Kara yakin bahwa saat ini seluruh tubuh Mischa pasti terasa nyeri karena dia baru saja dipanen oleh Aslan.
Mengingat tentang Aslan langsung menyelipkan kecemasan di dalam benak Kara. Ya, dia telah melakukan sebuah keputusan nekat dengan membelot dan membawa kabur pengantin Aslan.Aslan sudah pasti tidak akan membiarkan pengantinnya direnggut begitu saja. Lelaki itu akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menemukan Mischa kembali. Dan jika itu yang akan terjadi, entah apa yang akan dilakukan Aslan kepadanya nanti.
Kara berusaha mengalihkan pikirannya dari Aslan dan kengerian yang mungkin akan mereka hadapi, lalu menyodorkan botol minuman yang dibawanya ke arah Mischa. Mereka hanya membawa minuman sedikit dan mereka harus berbagi serta memanfaatkannya dengan efektif. Kara memberikan minum lebih banyak kepada Mischa karena tubuh Lelaki Zodijak meskipun tetap membutuhkan air, masih bisa bertahan jika tidak dipasok air dalam waktu lama.
“Kita beristirahat dulu,” Kara menghentikan langkah, melemparkan tatapan mata kasihan ke arah Mischa. Kekuatan perempuan itu, meskipun didorong oleh tekad yang kuat, tetap saja dibatasi oleh tubuh manusianya yang rapuh. Berbeda dengan Kara yang bahkan napasnya tidak terengah sedikitpun, Mischa sudah terengah-engah dan kepayahan sejak tadi meskipun perempuan itu mencoba memaksakan diri.
Mischa menganggukkan kepala, merasa lega karena mereka memiliki waktu untuk beristirahat. Dirinya bersandar di salah satu dinding reruntuhan dengan sedikit atap yang masih bertahan dan menaungi mereka dari teriknya matahari yang menyakiti kulit.
Beruntung Kara sudah menyiapkan segalanya dari pakaian yang melindungi mereka dari terik matahari, jaket, pelindung kepala, bahkan juga sepatu khusus yang cukup ringan tapi kuat untuk dipakai berjalan di atas pasir panas.
Mischa menerima botol air itu dari Kara, menelan ludahnya karena tenggorokannya terasa benar-benar kering, lalu meneguk air di botol itu sedikit demi sedikit, melawan dorongan kehausan yang mencoba mendorong memaksanya untuk menenggak minuman itu sampai habis. Setelah merasa cukup membasahi tenggorokan, Mischa menyerahkan kembali botol minuman itu kepada Kara meskipun diliputi perasaan tidak rela.
Kara sendiri menerima botol minuman itu dengan tatapan menyesal karena dia tidak bisa mengizinkan Mischa menghabiskan seluruh air di dalam botol seperti yang pasti diinginkan oleh Mischa saat ini.
Mereka masih belum menemukan kepastian untuk menemukan koloni kaum penyelinap yang bisa membantu mereka, karena itu untuk sekarang mereka harus berhati-hati mengatur persediaan minuman mereka.
Kara bergerak perlahan setelah menerima botol minuman itu dan bersandar di sisi tembok yang sama yang disandari oleh Mischa. Disadarinya bahwa Mischa langsung beringsut menjauh untuk menjaga jarak, membuatnya tersenyum kecut karena sampai sekarang sepertinya Mischa masih belum percaya kepadanya.
“Kalau kita tidak bisa menemukan koloni kaum penyelinap yang bisa menampung kita untuk sementara, maka kita harus mencari ruang bawah tanah yang bisa menyembunyikan dan menyamarkan diri kita untuk malam ini. Selain udara dingin menusuk tulang di malam hari, ancaman kita adalah Bangsa Zodijak yang sedang berburu. Mereka bisa mencium aroma manusia dengan mudah, maka aku akan menyamarkanmu dengan aromaku, karena aromaku pasti akan menyaru dengan aroma mereka sendiri sehingga membuat mereka bingung membedakan.”
“Bagaimana cara menyamarkan aromaku dengan aromamu?” Mischa tanpa sadar beringsut menjauh lagi, menatap Kara dengan curiga.Kara tersenyum, tahu ketakutan apa yang bermunculan di dalam benak Mischa.
“Kita akan bertukar jaket,” ucapnya tenang, menyadari bahwa pipi Mischa memerah mendengar jawabannya.Lama kemudian, Mischa memelorotkan tubuhya, masih bersandar di dinding tapi sekarang duduk sambil bersila, menatap Kara dengan ragu.
Kara sendiri memahami kondisi tubuh Mischa, lelaki itu menganggukkan kepala dan melemparkan tatapan lembut ke arah Mischa.
“Kau boleh tidur dulu, Mischa. Aku akan berjaga di sini. Akan kubangunkan dirimu ketika kurasa sudah cukup,” ujarnya perlahan.
“Terima kasih,” Mischa berucap pelan dengan suara penuh ketulusan, lalu memejamkan mata, menyerah pada kelelahannya dan membiarkan kesadarannya dibawa ke alam mimpi.
Koloni kaum penyelinap manapun yang ditemukan oleh Aslan dan pasukannya langsung dihabisi dan tempat perlindungan mereka dibakar sampai habis.
Aslan berdiri sambil memandang reruntuhan bekas terbakar yang menguarkan aroma asap meyesakkan di udara. Kaum penyelinap yang tertangkap langsung dipilah. Yang dianggap tidak berguna dihabisi sementara yang dianggap berguna langsung digigit untuk dijadikan budak pekerja.
Saat ini seluruh pasukan pemburunya berhasil mengobrak-abrik beberapa koloni kaum penyelinap yang bersembunyi dan memusnahkan mereka. Setelah menghabisi yang satu mereka akan terus bergerak maju dan melakukan penyisiran untuk menemukan lagi dan lagi.
Begitu terus sampai akhirnya nanti mereka bisa menemukan Mischa dan juga Kara.Aslan mengerutkan kening sementara ekspresi gusarnya menguarkan hawa kemarahan yang mengerikan, membuat semua orang menghindar, kecuali Khar yang tampak sudah terbiasa dengan sikap Aslan yang seperti itu.
“Mereka sepertinya sudah cukup jauh. Kara sangat ahli menerbangkan pesawat, kemungkinan dia memilih tempat yang benar-benar aman untuk mendaratkan pesawat dan melakukan kamuflase supaya bangkai pesawat yang ditinggalkannya tidak ditemukan,” Khar berucap tenang di samping Aslan. Dirinya ada di sini karena memang menawarkan diri untuk mendampingi Aslan dalam melakukan pencarian tersebut.
“Aku sudah tahu dia akan berbuat itu. Tapi tetap saja pasukan pemburuku sangat ahli dalam melakukan penyisiran, cepat atau lambat kita akan menemukan mereka,” Aslan menatap Khar dengan serius. “Apakah pasukan penerbangan Sevgil sudah menemukan sesuatu?”
Sevgil memang ditugaskan oleh Akrep, yang memang bertugas sebagai pengatur strategi perang mereka, untuk memimpin pasukan penerbang yang akan menyisir seluruh area dari udara. Akrep sudah memperhitungkan batas terjauh yang bisa ditempuh oleh Kara dengan pesawat berbahan bakar penuh yang dibawanya, lalu membuat lingkaran area kemungkinan yang bisa dijangkau oleh Kara dan mengatur penyisiran darat yang dipimpin langsung oleh Aslan dan penyisiran udara yang dipimpin oleh Sevgil.S
ementara itu, saudara-saudara mereka yang lain harus tetap menjalankan tugas untuk memimpin pasukan perang guna menaklukkan kaum manusia yang masih tetap bertahan dan melawan dengan gigih di area timur bumi.
“Mereka belum menemukan apapun. Tapi semua akan terus berpatroli tanpa jeda dan menyisir lokasi dari atas setiap saat. Cepat atau lambat mereka akan menemukan sesuatu,” Khar memandang sekeliling tempat sisa-sisa pemusnahan dan mengangkat alis. “Apakah kita akan melakukan sapu bersih terus-menerus setiap kita menemukan satu koloni kaum penyelinap yang bertahan? Jika kau menghabisi mereka semua maka hilang sudah kesenangan kita berburu di area ini.”
Area reruntuhan bangunan bekas ibukota negara yang telah hancur ini memang menyimpan banyak koloni kaum penyelinap yang masih bertahan, bersembunyi di area-area bawah tanah dan berjuang untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Kaum Penyelinap itu bertahan sekuat tenaga, tidak tahu bahwa sampai sekarang ini mereka masih bisa tetap hidup sebenarnya bukan semata-mata karena perjuangan mereka, tetapi lebih kepada Bangsa Zodijak sendiri yang membiarkan kaum penyelinap hidup untuk dijadikan mangsa buruan sebagai permainan menyenangkan di kala senggang.
“Kita akan menemukan banyak buruan di tempat lain. Nanti kalau lokasi timur jauh sudah benar-benar kita lumpuhkan. Untuk saat ini aku lebih memilih menghabisi koloni kaum penyelinap manapun yang kita temukan,” Aslan menjawab tegas, lalu melirik ke arah Khar dengan tatapan penuh arti.“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya menyelidik.
Khar menolehkan kepala, menatap ke arah Aslan dengan bingung.“Apa maksudmu? Aku ada di sini untuk membantumu memburu Mischa, bukan?” jawabnya tenang.
Aslan langsung menyeringai. “Kau tidak akan repot-repot berada di sini hanya untuk membantuku. Apa yang kau cari, Khar? Atau lebih tepatnya, siapa yang menyuruhmu?” geramnya dengan nada mengancam terselip di dalam sana.
Khar mengangkat bahu, mengerti bahwa insting Aslan terlalu tajam untuk dibohongi.“Kaza memohon pertolonganku. Dia ingin memastikan aku menjagamu supaya kau tidak membunuh Kara ketika kau menemukannya.”
Aslan mendengus kesal. “Bukankah sudah kubilang aku akan membawanya kembali ke dalam istana untuk diadili jika Kara tidak melawan?” sahutnya gusar.
Khar hanya mengangkat alis dan memandang Aslan dengan tatapan penuh arti.“Semua orang tahu betapa kejamnya dirimu jika kau marah, Aslan. Kaza pantas khawatir dan aku tidak menyalahkannya,” ucapnya cepat.
Mata hitam Aslan mengkilat karena tersinggung mendengar ucapan Khar, tetapi dia memilih tidak memperpanjang konfrontasi. Sekarang ini mereka harus fokus untuk menemukan Mischa terlebih dahulu, baru setelah itu memikirkan yang lainnya.