
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
.Aslan mengunyah buah itu, sedikit mengerutkan kening ketika menelannya.
“Tentu saja kami bisa makan, kau pikir kami makhluk apa?” tanyanya dengan nada ironi, membuat Mischa ingin berteriak memberi tahu seandainya Aslan masih tidak sadar bahwa dirinya adalah alien aneh yang tidak seharusnya berada di bumi. “Tetapi kami tidak begitu menyukai makan, kecuali kalau terpaksa,” Aslan menyeringai, mengambil lagi satu buah merah yang sama di tangannya, “Makan hanya dilakukan oleh Bangsa Zodijak yang sakit dan butuh penambah kekuatan, semacam suplemen yang hanya diperlukan di saat-saat tertentu,” Aslan memasukkan buah itu kembali ke dalam mulutnya, membuat Mischa mengerutkan kening bingung.
“Kau masih sakit? Jadi kau makan?” tanya Mischa penuh rasa ingin tahu.
Pengalamannya selama ini menghabiskan waktu mengamati ayahnya yang meneliti Bangsa Zodijak membuat Mischa tanpa sadar selalu berusaha menggali hal-hal baru mengenai Bangsa Zodijak, seolah-olah dia melakukannya untuk ayahnya.
Aslan menggelengkan kepala, lalu tiba-tiba lelaki itu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Mischa dan tanpa permisi mencium bibirnya dengan menggoda.
Bibir Aslan terasa dingin dan basah karena sari buah manis yang masih ada di dalam mulutnya. Lidah Aslan ******* bibir bawah Mischa, menggoda dan mengetuk mulut Mischa lembut seolah meminta izin masuk dan tak ada yang bisa dilakukan oleh Mischa selain membuka mulutnya. Membuat lidah Aslan menyeruak masuk, memberikan kemanisan rasa yang masih tersisa di indra pencecapnya dan memaniskan mulut Mischa.
Aslan tidak berhenti sampai di situ, dia lalu mencium sekuat tenaga seolah-olah tak ada hari esok, dan ketika Mischa mengerang sambil memukul dada Aslan karena kehabisan napas, barulah lelaki itu melepaskannya.
Mischa menutup mulutnya dengan kedua tangan, memandang Aslan dengan tatapan ngeri dipenuhi teror sementara lelaki itu menyeringai puas, tidak bisa menyembunyikan kearoganan angkuh yang terpatri jelas di wajahnya.
“Aku hanya ingin mencoba ciuman dengan rasa yang berbeda. Kau tahu, variasi yang patut dicoba untuk bercumbu sebelum kita bercinta,” Aslan menarik meja penuh makanan itu mendekat, tidak memberi kesempatan Mischa untuk beradu argumentasi dengannya. “Sekarang makan. Lalu setelah itu kita bercinta,” ujarnya dengan nada arogan sementara sebelah tangannya mencengkeram pinggang Mischa dan merapatkan tubuh perempuan itu ke tubuhnya dengan isyarat penuh ancaman.
“Aku ingin melihat prajurit Kaum Bawah Tanah itu,” Kara melangkah masuk tertatih-tatih dengan menggunakan satu kruk saja.
Obat dari Yesil dan kemampuan tubuhnya untuk meregenerasi luka-lukanya telah menunjukkan perkembangan pesat. Kali ini langkah Kara sudah cukup kuat untuk menopang dirinya hanya dengan bantuan satu penyangga.Yesil yang sedang berada di dalam ruangan dengan Akrep,
Sevgil dan Khar menolehkan kepala, begitupun dengan yang lainnya.Yesil lalu menoleh ke arah saudara-saudaranya, dan begitu mendapatkan anggukan dari Akrep, Yesil langsung berucap kepada Kara.
Kara menyipitkan mata, menatap saudara-saudaranya dengan curiga.
“Apakah kalian menemukan darah Natasha mengaliri tubuh tahanan itu?” tanyanya kemudian, sedikit meringis untuk menyiapkan hati menerima jawaban.
Yesil sekali lagi menoleh untuk meminta persetujuan saudara-saudaranya, lalu lelaki itu menghela napas panjang dan menganggukkan kepala, sadar bahwa dia telah membuat ekspresi Kara semakin gelap.
“Ya, Kara. Darah Natasha yang telah berubah menjadi air suci Zodijak sangat kental di sana.” perlahan Yesil menimbang-nimbang seolah ingin menahan informasi dan sebelum dia bisa memutuskan, Akrep melangkah maju, menutupi tubuh Yesil dan berkata dengan nada dingin.
“Kau pasti tahu bahwa Aslan terluka karena senjata musuh,” Akrep melirik ke arah Khar dan Sevgil lalu berucap pada dua saudaranya itu. “Kalian melihat, bukan? Bagaimana tahanan kita menembak Aslan dan langsung menembus tubuhnya?” tanyanya kemudian.
Bagaikan dikomando, Khar dan Sevgil menganggukkan kepala.
“Peluru itu sangat berbahaya, Kara. Dan setelah aku mendengar penjelasan dari Yesil… aku berpikir bahwa kau harus berhati-hati,” Sevgil berbicara, menyambung kata-kata Akrep, “Karena peluru itu paling berbahaya jika sampai menembus dirimu.”
Kara memandang keempat saudara-saudaranya berganti-ganti, semuanya tampak siap menjelaskan, hanya Khar yang paling pendiam di antara mereka saja yang tampaknya memilih mengalihkan pandang dan mengunci mulut seolah tidak ingin menjadi penyampai berita buruk kepada Kara.
“Apa maksud kalian?” Kara menolehkan kepala ke arah Yesil dengan pandangan menunutut. “Jelaskan kepadaku, Yesil. Apa maksudmu? Kenapa peluru itu paling berbahaya untukku?” geramnya dengan nada mendesak.
“Peluru itu dibuat dengan darah Natasha yang telah dimodifikasi dengan sangat ahli. Kau pasti sudah tahu bahwa kita menduga Imhotep Sang Penyembuh Abadi yang mendalangi semuanya, dia memiliki kemampuan alkemis yang jauh di atas kita hingga aku bahkan kesulitan mencari jejak rancangan kimiawi apa yang bisa membuat peluru ini menjadi begitu berbahaya. Tetapi bahan utama peluru ini dibuat dari darah Natasha,” Yesil menghela napas panjang, menatap Kara dengan pandangan penuh penyesalan. “Kara… aku telah mengatakan hal yang sama pada Aslan dan itu membuat Aslan bersumpah tidak akan melepaskan Mischa dari genggamannya karena jika sampai Mischa jatuh ke tangan yang salah maka Mischa bisa membahayakan Aslan. Dengan sangat menyesal aku mengatakan bahwa manusia-manusia perempuan yang memiliki keterikatan dengan kalian itu… mereka seperti pedang bermata dua, bisa menyembuhkan tetapi bisa membunuhmu.”
“Jangan bertele-tele dan jelaskan padaku dengan sederhana! Apa maksudmu Natasha seperti pedang bermata dua bagiku?” seru Kara tanpa bisa menyembunyikan nada frustasi di dalam suaranya.
Yesil menatap Kara dalam seolah berusaha membaca reaksinya. “Peluru yang terbuat dari darah Natasha yang telah dimodifikasi itu… jika mengenai tubuhmu, maka akan menimbulkan luka parah seperti yang terjadi kepada Aslan. Bedanya… aku menduga bahwa kau tidak akan bisa tersembuhkan.”
Kara menyipitkan mata. “Meskipun senadainya Natasha ada dan aku menidurinya seperti yang dilakukan Aslan kepada Mischa?’ ujarnya penuh pertanyaan.
Yesil sekali lagi menghela napas panjang. “Ya. Meskipun jika kau melakukan itu. Racun darah Natasha yang termodifikasi di dalam tubuhnya terafilasi dengan darah ditubuhmu. Racun itu diciptakan untuk meracunimu tanpa titik balik, aku menduga bahwa meskipun kau meniduri Natasha -jika dia memang tersedia– untuk menyerap kekuatannya, itu sama sekali tidak akan berarti, kau tidak akan tersembuhkan. Jika racun itu terkena kepada Bangsa Zodijak lainnya seperti Aslan, racun itu bisa dibalikkan jika Aslan meniduri Mischa, tetapi tentu akan berakibat fatal kepada kami jika kami tidak segera menemukan manusia perempuan kami, pun dengan seluruh pasukan kita,” Yesil menatap Kara dengan hati-hati. “Aslan bisa sembuh dengan memanen Mischa karena racun itu terbuat dari darah Natasha. Seandainya saja mereka berhasil mengambil darah Mischa dan membuat racun yang sama dari darah Mischa lalu menembakkan peluru beracun tersebut ke Aslan, maka Aslanlah yang tidak akan selamat. Aslan tidak akan bisa menyembuhkan diri dengan meniduri Mischa kalau peluru dari darah Mischa yang menembus tubuhnya.”
“Jadi manusia-manusia perempuan ini benar-benar senjata untuk memusnahkan kita?” Kara menyeringai, tidak bisa menyembunyikan kepedihan dalam nada suaranya.
Mendengar bahwa Natasha bukanlah sosok jiwa penuh cinta yang memiliki hatinya… namun dibicarakan seperti sebuah benda, sebagai sebuah senjata telah merobek-robek hatinya yang bahkan sudah hancur berkeping-keping sejak dulu.
Kepedihan itu begitu nyata di wajah Kara, membuat wajahnya pucat pasi.Khar yang mengamati itu semua melangkah mendekat, menyentuh bahu Kara untuk memberinya kekuatan.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Khar dengan nada prihatin, tidak mampu menyembunyikan rasa iba di dalam suaranya.
“Kalian baru saja mengatakan bahwa Natasha adalah senjata khusus yang diciptakan untuk membunuhku, bagaimana mungkin aku baik-baik saja?” Kara menyeringai, ekspresinya seperti menahan sakit yang amat sangat.
“Setidaknya Natasha juga bisa menjadi penyembuhmu jika peluru yang melukaimu dibuat dari darah perempuan lainnya,” Sevgil berucap tiba-tiba dan mengangkat bahu ketika semua mata tertuju padanya. “Kau tahu, kalimat semacam itulah yang dikatakan Aslan ketika kami mengatakan bahwa kemungkinan besar Mischa adalah senjata yang dibuat untuk membunuhnya. Aslan berkata bahwa setidaknya Mischa menjadi penyembuhnya. Selalu ada hal baik di dalam segala sesuatu yang terlihat buruk, hanya saja hal baik itu tersembunyi dan menunggu waktu yang tepat sampai kita menemukannya,” sambung Sevil dengan nada menenangkan.
Kara menghela napas dalam lalu menghembuskannya keras-keras untuk menenangkan diri.
“Bawa aku melihat tahanan itu,” ujarnya dengan nada geram.Kembali Yesil menoleh ke arah Akrep. “Kara…”
“Tidak! Aku tidak mau mendengar penolakan!” Kara mendesis, nadanya tak terbantahkan, “Bawa aku kepada tahanan itu, biar aku yang mencari tahu sendiri kebenaran!”