
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Dan sebelum Mischa bisa mengucapkan kata-kata, tiba-tiba saja Aslan membawa Mischa ke arahnya, lalu ******* bibirnya yang terbuka dengan kasar, seolah tidak tahan untuk mencicipi seluruh rasanya dan memastikan bahwa yang ada di dalam pelukannya ini benar-benar Mischanya.
“Simpan dulu semua protes dari mulutmu yang liar itu,” Tatapan Aslan meredup ketika menatap bibir Mischa yang memerah dan basah karena lumatannya. “Akan ada waktunya nanti ketika kau mencakar serta menggigit dan aku melayanimu dengan senang hati. Saat ini yang harus kau lakukan hanya berpegangan erat kepadaku dan menjaga jangan sampai terlepas dariku. Aku akan menyelamatkan istri dan anakku.”
Entah sudah berapa lama Akrep melangkahkan kakinya dengan membabi buta, berusaha mencari lokasi keluar mereka.
Akrep berjuang menembus kabut asap bercampur api yang menghalangi pandangan matanya.Natasha masih berada di dalam gendongannya, tetapi Akrep tidak memiliki kesempatan untuk memeriksa keadaan perempuan itu, apakah masih bisa bertahan dari seluruh udara beracun dan panas berkobar yang melingkupi mereka atau malahan menyerah.
Akrep tentu mencemaskan tubuh manusia Natasha. Meskipun sudah pasti darah Natasha sama seperti Mischa, telah berubah sepenuhnya menjadi air suci Zodijak, tetapi tubuh Natasha tetaplah tubuh manusia yang lemah.
Kekuatan melukai Natasha hanya berlaku pada pasangan air sucinya, hanya kepada Kara, selain itu Akrep yakin bahwa Natasha tidak mempunyai kekuatan apa-apa.
Dan itu terasa membahayakan, apalagi udara yang pekat hasil pembakaran hebat akibat ledakan bom sudah pasti akan membuat kinerja paru-paru manusia milik Natasha kewalahan, belum lagi panas api yang berkobar, yang berkali-kali menyambar mereka seolah ingin mengajak larut dalam kobaran panasnya yang mematikan.
Akrep telah membungkus Natasha dengan mantel pelindung api miliknya, tetapi dia tahu bahwa mantel itu tidak menutup sepenuhnya karena itulah ada sebagian rambut dan kulit Natasha yang merah terbakar api, belum lagi kerusakan dalam yang tak terlihat oleh mata.
Mereka harus keluar dari sini segera. Dirinya mungkin bisa bertahan dengan segala kelebihan fisik yang dimiliki oleh Bangsa Zodijak yang membuatnya mampu melawan semua kobaran api ini dengan mudah mungkin akan ada beberapa luka bakar di sana sini, tetapi api sebesar ini tetaplah bukan masalah bagi permukaan kulit pelindungnya yang keras.
Kondisi Natasha mengkhawatirkannya, apalagi perempuan ini sama sekali tidak bergerak di dalam gendongannya, menandakan bahwa terjadi sesuatu pada tubuh Natasha yang hanya bisa diketahui setelah mereka berhasil membawanya dengan selamat ke laboratorium pemeriksaan di dalam Istana Bangsa Zodijak.
Mata Akrep memicing untuk menembus kabut asap yang mulai bergulung dan berwarna hitam pekat, berusaha untuk mencari cahaya. Dia tadi menghapal jalur mereka memasuki ruang bawah tanah yang berliku seperti labirin ini dan berharap bahwa ingatannya tidak membawa mereka ke arah yang salah.Dan rupanya keberuntungan masih berpihak kepadanya karena ada seberkas cahaya yang muncul dari bagian atap langit-langit.
Entah itu pintu masuk mereka tadi, ataukah itu adalah pintu yang roboh karena ledakan bom, Akrep tidak peduli, yang penting itu bisa menjadi akses mereka keluar dari tempat yang hampir hancur terkubur pasir dan bara api tersebut.Akrep berlari secepat kilat menuju kilasan cahaya yang tampak samar tersebut.
Api terus berkobar di belakang mereka, berusaha meraih dan menjilat bagaikan ajakan kematian yang tak rela ditinggalkan. Akrep mengabaikan itu semua, mempercepat langkahnya sampai kemudian dia begitu dekat dengan cahaya tersebut, mencapai permukaan.
Kazza menggertakkan gigi memandang ke sekeliling. Padang pasir di bawah kakinya mulai berkobar. Rasa panas membakar melalui telapak kakinya dan menguar di udara, menunjukkan bahwa ruang bawah tanah yang sangat luas yang tadinya menjadi markas perlindungan musuh nan membentang entah seberapa jauhnya dari pandangan mata itu telah terbakar habis, menyisakan rongga penuh api di bawah kaki mereka.Ada beberapa lubang yang tercipta di pasir-pasir yang runtuh karena lapisan api di ruang bawah tanah itu telah rubuh dan menciptakan air terjun dengan berton-ton pasir yang tertumpah ke dalam, mengubur siapapun yang sedang sial terjebak di bawahnya tanpa ampun.
Lubang-lubang itu bukannya memperbaiki keadaan malah semakin memperburuk. Api sudah berkobar di bawah sana, dicampur dengan air terjun pasir yang mengeluarkan asap karena tercampur dengan hawa panas dan siap mengubur hidup-hidup.
Lubang yang tercipta dan mengalirkan air terjun pasir tidak bisa menjadi jalan keluar karena untuk naik ke atas menembus lubang itu, siapapun yang berada di bawah sana harus berjuang melawan arus pasir yang sangat berat dan pekat yang sedang terjun ke arah berlawanan.
Satu-satunya jalan keluar adalah pintu yang digunakan oleh pasukan masuk tadi. Pintu area depan sudah hancur lebur dan runtuh, menutup segala akses masuk ke dalam.
Sementara itu pintu area belakang masih terjaga dengan penyangga besi kuat di sekelilingnya, membuatnya membutuhkan waktu lebih lama untuk rubuh meskipun jika Akrep dan Aslan tidak segera keluar dari sana, mereka tidak akan memiliki akses sama sekali untuk keluar karena sudah pasti pintu itu akan segera rubuh seiring dengan hancurnya pondasi di bawah sana.
Saat ini Kaza memandang cemas ke lubang pintu yang menganga di bawah kakinya. Ada tangga menurun ke arah bawah, ke arah pemandangan mengerikan seumpama lautan api yang siap menelan siapapun yang cukup bodoh atau sedang sial untuk jatuh ke dalam sana.Kaza menggertakkan gigi dengan cemas.
Dia sudah meminta Khar dan Sevgil untuk mengambil persediaan air dengan pesawatnya dan menyemprotkannya ke lubang ini, berjaga jika Akrep dan Aslan menggunakan akses jalan keluar ini untuk meyelamatkan diri.
Kaza tidak suka menunggu dalam kecemasan dan ketidakpastian yang menyiksa seperti sekarang ini. Api yang berkobar di bawah sana seolah mengirimkan pesan berfirasat buruk yang semakin membuat dirinya cemas.
Seandainya saja melompat ke dalam sana dibutuhkan demi mencaritahu apakah Akrep atau Aslan membutuhkan bantuan, Kaza akan dengan senang hati melakukannya. Tetapi baik Khar maupun Sevgil melarangnya melakukan kebodohan itu. Khar berkata kalau sampai Kaza terjun ke bawah sana, maka akan menambah satu orang lagi untuk dicemaskan.
Dia harus percaya pada kemampuan saudara-saudaranya, apalagi Aslan dan Akrep adalah termasuk yang paling kuat di antara tujuh bersaudara.
Ketika akhirnya dada Kaza seolah mau pecah karena tidak tahan menunggu dan dia hampir-hampir mendorong dirinya sendiri untuk terjun langsung dan turun ke dalam ruang bawah tanah itu, sebuah gerakan mengalihkan perhatiannya.
Kaza langsung berjongkok, berusaha memperjelas pandangan menembus asap hitam dan api yang berkobar. Lalu dia menangkap sosok yang dikenalinya muncul, mendaki tangga dengan penuh tekad hingga naik ke permukaan.
“Akrep!” Kaza berseru dengan lega. Matanya menemukan sosok yang berada dalam panggulan Akrep dan sedikit melebar karenanya. “Natasha?” tanya Kara tidak yakin.Akrep menganggukkan kepala, berusaha naik ke permukaan.
Refleks Kara meraih Natasha yang lunglai ke dalam gendongannya untuk mempermudah Akrep dan Akrep langsung meloncat naik ke atas permukaan tanah.
“Dia tidak sadarkan diri,” dengan cepat Kara memeriksa tanda-tanda kehidupan Natasha dan kelegaan memenuhi dirinya ketika menemukan bahwa Natasha masih hidup. “Tapi dia masih hidup.”
“Dia sudah tidak sadarkan diri ketika kami menemukannya. Kita harus membawanya ke laboratorium untuk memeriksa apa yang dilakukan Imhotep pada Natasha hingga dia sampai tidak sadarkan diri seperti ini,” sambil berucap Akrep menoleh ke belakang, ke arah pintu yang berbentuk kotak besar dengan lubang horizontal sejajar dengan permukaan pasir, dan Kaza langsung mengikuti matanya.
“Di mana Aslan?” tanyanya cepat, menyadari bahwa Aslan tak muncul untuk menyusul Akrep di belakangnya.
Mata Akrep menyiratkan kecemasan. “Dia tertinggal di belakang bersama Mischa,” jawabnya dengan dahi berkerut dalam.