
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghur
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
“Kau akan pergi berperang?”
Kara mengernyitkan alis, menatap bingung ke arah Kaza yang memakai pakaian khusus penerbang berwarna hitam dengan senjata lengkap.
Kaza menganggukkan kepala. “Aku mewakili Sevgil untuk memimpin pasukan penerbang, sementara yang lain, Sevgil dan Khar pergi untuk melakukan tugas dari Akrep.”
Kaza telah menerima keputusan pertemuan mereka sebelumnya dimana Akrep memutuskan bahwa dia harus tinggal di Istana dan pergi berperang bersama Akrep dan Aslan, karena ada Sasha di sini, perempuan manusia lain yang harus dia jaga sama seperti Aslan harus menjaga Mischa.
Aslan sendiri sebagai pemimpin mereka semua memutuskan hal yang sama dengan Akrep, membuat Kaza tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantah lagi.
Mata Kaza menatap ke arah Kara dengan tatapan menimbang-nimbang sebelum kemudian memutuskan bertanya,
“Apa yang kau pikirkan tentang Natasha? Kenapa kau bisa memaafkannya setelah dia mengkhianatimu sedemikian rupa?”
Kara tertegun mendengar pertanyaan itu, tetapi ketika menjawab, senyum tipis muncul di bibirnya.
“Akulah yang menempatkan Natasha dalam kondisi terdesak, dia hanya melakukan apa yang dia yakini,” perlahan Kara memejamkan mata seolah mengenang. “Aku yakin Natasha juga sama tersiksanya seperti diriku ketika keadaan memisahkan kami berdua. Dimanapun dia berada saat ini, aku tahu dia akan selalu memikirkanku.”
Kaza menggertakkan gerahamnya, mulutnya gatal untuk mengatakan kepada Kara bahwa apa yang Kara yakini selama ini adalah suatu kesalahan. Jika dugaan mereka semua benar, kemungkinan besar Natasha telah mengkhianati Kara dan bekerjasama dengan pihak musuh untuk mengalahkan mereka dengan memanfaatkan air suci Zodijak pemberian Kara.
Kalimat Kaza sudah di ujung bibirnya, tetapi matanya menangkap betapa lemahnya Kara saat ini dan tiba-tiba hatinya terenyuh, tahu pasti bahwa dia tidak boleh menambahkan beban lagi di pundak Kara apalagi saat ini Kara sedang berjuang untuk memulihkan diri.
Dia harus kembali pada tujuan awalnya datang menjenguk Kara, bukan hanya untuk berpamitan, tetapi juga memberitahukan apa yang boleh diberitahukan kepada Kara.
“Kami yang tersisa akan menghabisi pasukan perang di negara area timur jauh hari ini, Aslan memutuskan sudah waktunya berhenti bermain-main. Sementara itu Sevgil dan Khar pergi mencari wanita-wanita manusia lain yang serupa dengan Sasha, Mischa dan Natasha. Akrep percaya bahwa setiap dari kami memiliki wanita manusia masing-masing yang melemahkan kita,” tanpa bisa ditahan, Kaza melirik ke arah ruang sebelah, menyadari bahwa wanita manusia kelemahannya ada di sana, dalam wujud anak-anak yang tanpa dosa.
Pandangan Kaza diikuti oleh Kara yang langsung tersenyum.
“Kau masih menganggap Sasha sebagai kelemahanmu?”
“Mereka semua adalah kelemahan yang dikirim untuk menghancurkan kita masing-masing. Kau sendiri berakhir seperti ini, apakah kau tidak melihat apa yang terjadi kepada Aslan? Dia hampir tidak bisa melepaskan tangannya dari Mischa, dan jika dia terus seperti itu, Aslan akan berubah seperti dirimu.”
Kara membuka mulut untuk menjawab, tetapi pintu ruangannya terbuka dan Akrep melangkah masuk. Saudaranya itu melemparkan pandangan penuh peringatan ke arah Kaza lalu menatap Kara kembali dengan ekspresi datar.
“Bagaimana kondisimu?” tanya Akrep tenang.
Kara mengangkat bahu, mencoba untuk tersenyum. “Aku akan pulih sebentar lagi,” jawabnya ringan.
Mata tajam Akrep menelusuri seluruh diri Kara dan kemudian menganggukkan kepala tipis.
“Bagus. Aku harap kau bisa segera bergabung bersama kami. Pasukanmu sudah menunggu.” ujarnya dingin, lalu tanpa kata lagi Akrep membalikkan badan dan meninggalkan ruangan.
Kaza melirik ke arah Kara yang mengangkat alis seolah bercanda.
“Apakah kau bisa membayangkan Akrep memiliki pasangan manusia?” tanya Kara dengan nada suara jenaka.
Kaza hanya mengangkat bahu sambil menahan tawa sebagai jawabannya.
“Apakah kau mau melepaskanku?”
Mischa memalingkan muka, menggigit bibir untuk menegarkan diri dan melontarkan pertanyaan dengan nada tegar.
Butuh beberapa detik bagi Aslan untuk mengangkat kepala, matanya yang legam menatap lurus ke arah mata Mischa sementara tangannya bergerak dengan tenang untuk merapikan pakaian Mischa yang telah dia acak-acak sebelumnya, membuat pipi Mischa merah padam.
Seketika Mischa menggunakan tangannya untuk menepis tangan Aslan, dan kali ini Aslan tidak menolaknya.
“Aku bisa merapikan diriku sendiri, terima kasih.” Mischa berujar perlahan, cepat-cepat merapikan pakaiannya, tidak mau melirik ke arah Aslan yang juga sedang merapikan pakaiannya sendiri.
Setelah selesai, Aslan menegakkan punggung dan melangkah mundur sementara matanya menatap Mischa dengan intens.
“Aku akan mengantarmu,” ujarnya kemudian.
Mischa membelalakkan mata menyiratkan ketidaksetujuan.
“Aku bisa ke tempat Yesil sendiri, kau sudah memberitahuku petunjuk arahnya.” ujar Mischa cepat, merasa tidak nyaman berdekatan dengan Aslan apalagi setelah lelaki itu memaksa menyentuhnya tadi dengan alasan konyol untuk menandainya.
Menandai dengan aroma? Aroma apa?
Mischa mengendus dirinya sendiri dan tiba-tiba pipinya memerah ketika menyadari ada aroma Aslan lekat pada dirinya.
Berbeda dengan penampilannya yang garang, Lelaki itu memiliki aroma khas yang menyegarkan sekaligus menenangkan, seperti campuran perpaduan vanila dengan citrus lembut yang enak di hidung.
Mischa mengerutkan kening dengan malu ketika menyadari bahwa aroma Aslan menyelubungi dirinya.
Bahkan dia yang menggunakan indra penciuman manusia biasa saja bisa mengendus aroma itu, apalagi dengan Bangsa Zodijak yang memiliki penciuman tajam?
Sebelum Mischa sempat berpikir lebih jauh, Aslan tiba-tiba meraih tangan Mischa dan membawanya dengan sedikit menyeret untuk mulai melalui lorong gelap di areanya dan melangkah menjauh.
“Kau tidak perlu mengantarku!”
Mischa setengah berteriak dalam seretan Aslan yang sedikit kasar, dan hal itu membuat Aslan menolehkan kepala, menatap ke arah Mischa dengan mata kelamnya yang tajam.
“Kau tidak dalam posisi untuk membantahku, kelinci kecil,” desisnya marah. “Jika aku bilang akan mengantarmu, maka akan kulakukan, tidak peduli kau mau atau tidak,” sambung Aslan dengan nada dingin tak terbantahkan.
Kale masih berdiri di sana, menghabiskan waktu berjam-jam untuk merenung dan menatap ke arah tubuh Natasha yang terbujur kaku tanpa daya.
Hatinya pedih tetapi dia berada dalam posisi sulit ketika itu, ketika diharuskan memilih antara nyawanya atau kasih sayangnya kepada Natasha.
Kale dan Natasha tumbuh bersama sebagai saudara, mereka tumbuh besar dengan pengertian bahwa mereka adalah kakak beradik. Sayangnya Kale tidak dilahirkan seberuntung Natasha, seorang perempuan tangguh dengan kekuatan fisik hebat dan keberanian yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan lainnya.
Natasha memimpin pasukan berperang, bergerak secara gerilya memimpin pasukan kecil yang sebagian besar beranggotakan laki-laki, untuk menyerang Bangsa Zodijak dari daerah mereka.
Semua orang menyimpan kekaguman kepada Natasha, begitupun dirinya.
Dia, adalah saudara yang tidak berguna, jauh sekali jika dibandingkan dengan kemampuan Natasha ketika itu. Dirinya dilahirkan dengan tubuh rusak dari dalam, seluruh organ dalamnya tidak sempurna, membuatnya sakit-sakitan dan tak berdaya.
Kondisi Kale yang seperti itu dianggap merepotkan kelompok mereka dan beberapa bahkan berencana membunuhnya untuk mengurangi beban. Tetapi Natasha selalu ada di sana, berusaha melindungi dan menjaganya sebagai saudara.
Sampai kemudian mereka mendengar tentang sosok misterius yang memiliki sebutan ‘Sang Dokter’, dipanggil seperti itu karena selalu memakai jubah putih layaknya seorang imuwan atau dokter yang hebat. Bahkan sesuai dengan sebutannya, Sang Dokter memiliki kemampuan hebat untuk mendiagnosis penyakit seseorang dan menyembuhkannya dengan obat-obatan yang katanya adalah hasil penemuannya.
Begitu mendengar tentang Sang Dokter, Natasha yang sudah putus asa untuk menyembuhkan Kale berusaha mencari jejaknya, berharap jika mereka bertemu, penyakit Kale bisa disembuhkan.
Butuh perjuangan yang lumayan berat hingga pada akhirnya mereka bisa mendapatkan akses untuk menemui Sang Dokter.
Kale masih ingat ketika itu, bahwa pandangan Sang Dokter langsung tertuju ke arah Natasha dengan ketertarikan mengerikan seolah-olah Natasha adalah sesuatu yang membangkitkan rasa ingin tahunya sampai ke tingkat yang paling tinggi. Setelah itu, Sang Dokter mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan Kale adalah Natasha harus bisa mendapatkan air suci Bangsa Zodijak yang hampir langka.