Inevitable War

Inevitable War
Episode 92 : Histeris



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17** PART BONUS ya****ng tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )**




“Dia masih belum bangun?”


Kara bertanya pelan, duduk di kursi yang ditarik dekat dengan tubuh Vladimir yang masih terbujur kaku sementara Yesil memasukkan cairan yang lain ke tubuh Vladimir.


Yesil menoleh menatap Kara kemudian mengangkat bahu.


“Cairan yang tadi digunakan untuk memicu jantungnya supaya memompakan darah yang kuat ke otaknya dan membuatnya terjaga. Aku tidak bisa menggunakan metode yang seharusnya digunakan kepada kaum manusia karena struktur tubuh Vladimir sudah pasti bukan manusia. Sayangnya obatku yang tadi gagal, jadi aku memasukkan obat yang lain.”


“Obat apa?” Kara bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Ini adalah Ambrosia,” Yesil menjawab tenang sambil menginjeksikan cairan merah muda itu ke tubuh Vladimir, tidak memedulikan alis Kara yang terangkat ketika mendengar pertanyaannya itu.


“Ambrosia?” ulangnya bertanya.


Itu adalah obat yang sangat keras, digunakan untuk menyadarkan kaum Zodijak yang terluka dan jatuh ke dalam koma.


Tubuh manusia biasa tidak akan sanggup menahannya dan akan meledak menjadi debu jika disuntikkan dengan Ambrosia, mereka semua tahu karena Yesil dengan percobaannya yang kejam telah mencobakannya pada kaum manusia malang yang tak sengaja tertangkap dan dijadikan bahan percobaannya.


“Tidak perlu seterkejut itu, Kara. Ini hanya dosis kecil dan kita tahu pasti bahwa tubuh yang ada di depan kita ini bukanlah tubuh manusia biasa. Dia dihajar oleh Aslan dan tetap hidup.” Yesil menegakkan punggung dan mengamati sosok Vladimir yang masih tertidur. “Jika dosis ini tidak berimbas apapun dan tidak membuatnya meledak, aku akan menambahkan dosisnya.”


“Jangan sampai membuatnya meledak, Yesil. Kau tahu kita membutuhkannya untuk mendapatkan informasi,” Kara menyela cepat dengan nada cemas, tahu pasti bahwa kebenaran tentang Natasha kemungkinan besar bisa mereka dapatkan dari Vladimir.


Kecemasan Kara membuat Yesil tersenyum, bibirnya terbuka hendak berkata tetapi terhenti ketika sebuah gerakan di pintu mengalihkan perhatiannya.


Ada Aslan di sana, berdiri dalam diam dengan ekspresi kelam dan mata mengamati ke arah sosok Vladimir.


Aslan melirik ke arah Kara yang duduk di sana balas menatapnya, tetapi memilih mengabaikan saudaranya yang baru pulih dari luka parah tersebut.


“Apa yang kau lakukan kepadanya?” Aslan mengedikkan dagu ke arah tubuh Vladimir.


Yesil menyeringai. “Kami hanya sedang berusaha membangunkannya untuk mendapatkan informasi.”


“Apakah berhasil?” tanya Aslan lagi.


Yesil mengangkat alis, menatap Aslan mencemooh. “Kau bisa lihat sendiri kan? Makhluk ini koma dan tidur seperti batu. Mungkin nanti kalau kau hendak membawa sumber informasi pulang, kau harus menahan dirimu untuk tidak menghajarnya sampai koma dan tidak bisa berkomunikasi,” sambungnya setengah mengejek.


Aslan sendiri tampak tidak terpengaruh, matanya malah melirik ke arah Kara dengan tajam.


“Manusia busuk itu ingin menyentuh istriku. Siapapun yang ingin melangkahiku untuk menyentuh istriku akan kuhajar sampai mati kalau perlu,” ucapnya dengan nada menyindir yang kental.


Kara berdehem pelan, tahu pasti bahwa kalimat ancaman itu ditujukan kepadanya, tetapi memilih tidak menangapi dan mengalihkan pandangannya ke area lain.


Yesil menatap ke arah Kara dan Aslan berganti-ganti, berusaha memecahkan suasana tidak nyaman yang tiba-tiba membentang di antara mereka.


“Apa yang kau butuhkan, Aslan? Di mana Mischa?” Yesil langsung bertanya. “Apakah Mischa ada bersama Sasha?”


Jawaban Aslan membuat Yesil mengerutkan kening.


“Mischa sedang makan? Apa maksudmu? Seberapa lama proses makannya sehingga dia tidak bisa mengunjungi Sasha?” tanya Yesil penuh rasa ingin tahu.


“Mischa tidak berhenti makan, dia terus mengunyah makanannya seperti orang yang tidak pernah diberi makan. Laporan dari budakku mengatakan bahwa setelah porsi keempat dihabiskannya, baru dia merasa puas dan kenyang lalu berhenti makan,” Aslan menjelaskan dengan kalimat singkat. “Karena itu aku memintamu memeriksa Mischa sekarang.”


Tubuh Yesil langsung menegang ketika mendengar perkataan Aslan itu, sebuah dugaan langsung muncul di benaknya, tersirat di matanya dan sama persis seperti apa yang ada di dalam dugaan Aslan dan Kara.


 



 


Yesil menggunakan beberapa alat khusus untuk memeriksa keseluruhan diri Mischa.


Alat yang digunakannya merupakan alat medis bangsa Zodijak yang canggih yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Mischa seumur hidupnya.


Lelaki itu memeriksa seluruh diri Mischa, kulitnya, rambutnya, rongga mulutnya, matanya hidungnya, hingga hendak memeriksa permukaan perutnya.


Seluruh diri Mischa merah padam ketika Yesil memaksa menempelkan alat yang harus ditempelkan di perutnya untuk pemeriksaan. Alat itu berbentuk bulat seukuran mangkuk kecil, berwarna hitam dengan cahaya kelap-kelip dari lampu kecil di sepanjang sisinya.


Mischa tidak tahu itu alat apa karena dia tidak pernah melihatnya, tetapi Yesil meyakinkan bahwa alat itu harus ditempelkan di kulit yang telanjang untuk mendeteksi bagian dalam perut. Bagian dalam perut harus diperiksa karena selera makan Mischa yang memuncak tiba-tiba, sudah pasti berhubungan dengan perutnya.


Semula Mischa menolak karena malu bukan kepalang, tetapi setelah Yesil mengatakan bahwa dia tidak akan melihat dan memalingkan muka, barulah Mischa mau menerima.


Alat itu terasa dingin ketika menempel di permukaan perutnya yang telanjang dimana kain penutup tubuhnya disingkap ke atas, mendengungkan sedikit getaran yang terasa di sepanjang kulit Mischa.


Lalu lama kelamaan alat itu menghangat dan dengungan itu semakin keras, membuat Mischa meringis karena tidak nyaman.


Beruntung, tak lama kemudian alat itu mati dan Yesil mengambilnya, masih sambil memalingkan kepala berusaha tak melihat kulit perut Mischa yang telanjang. Mischa sendiri langsung menurunkan gaunnya kembali dan menutupi tubuhnya dengan selimut setelahnya.


Setelah itu Yesil meninggalkan Mischa dan menarik kursinya ke depan meja. Lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam alat tersebut, memindahkannya ke alat lain berbentuk kotak seperti pembaca, kemudian menempelkan matanya di sana untuk memeriksa hasil pemindaian perut Mischa secara visual.


Tak lama kemudian Yesil mengangkat kepalanya, meletakkan semua alat yang dipegangnya lalu menoleh menatap Aslan yang berdiri diam terpaku di dalam ruangan itu, dekat dengan ranjang Misha, sambil mengamati seluruh proses pemeriksaan terhadap Mischa berlangsung.


“Ya.” Yesil menegaskan pertanyaan yang tersirat di mata Aslan, “Mischa sedang mengandung, Aslan.”


Perkataan itu sampai ke telinga Mischa, membuat perempuan itu ternganga seolah  tidak percaya. Wajahnya langsung memucat dipenuhi oleh rasa shock yang begitu kuat menghantam hingga membuatnya megap-megap kehabisan napas.


“Apa?” Mischa pada akhirnya berhasil mengeluarkan kalimatnya dengan terbata. “Tidak… tidak mungkin…” kepala Mischa menunduk dan menatap perutnya yang masih rata.


Bagaimana mungkin dia bisa mengandung? Ini anak Aslan, bukan? Tapi… Aslan adalah alien dari planet lain dengan struktur tubuh yang berbeda dengan dirinya. Jadi seharusnya tidak mungkin, bukan?


Selama ini Mischa selalu berpikir bahwa dua spesies yang bisa dikatakan dari dua dunia yang berbeda tidak akan mungkin bisa bereproduksi, menyatukan dua sel yang memiliki perbedaan begitu jauh untuk kemudian terbuahi dan menjadi sosok janin yang bertumbuh di perutnya.


Ini tidak mungkin terjadi! Anak dari alien jahat yang menghancurkan peradaban manusia itu tidak mungkin berada di perutnya, bukan? Bangsa Zodijak adalah bangsa kejam yang bahkan juga membunuh ayahnya dan orang-orang yang dia cintai… dan sekarang tidak mungkin benih dari Bangsa Zodijak berkembang di dalam perutnya? Menjadi anaknya?


Mischa berusaha menipu dirinya sendiri, tapi kenyataan bahwa anak dari alien pembunuh kaumnya itu tumbuh di dalam perutnya membuat sebuah jeritan histeris muncul dari bibirnya, semakin lama semakin keras.


“Tidak! Tidak mungkin!” Mischa mengangkat kepala, berseru keras sambil menatap marah ke arah Aslan. “Aku tidak mungkin mengandung anakmu! Aku tidak mau!” teriak Mischa tak terkendali.


Aslan hanya bergeming, menatap Mischa sambil bersedekap tak peduli.


“Tapi kenyataannya kau sedang mengandung anakku,” Aslan melemparkan tatapan mengancam ke arah Misch., “Dan aku akan membuatmu serta adik kecilmu itu menderita kalau kau sampai melukai anak itu.”


Mischa ternganga sementara matanya menatap Aslan dengan ngeri. Dadanya terasa begitu sesak hingga napasnya tersengal. Emosi meluap di dalam jiwanya, bergolak membakar seluruh dirinya hingga nyaris tak tertanggungkan.


Mischa tidak mau mengandung anak Aslan! Dia tidak mau!


“Aku tidak mau mengandung anakmu! Tidak mau!” suara Mischa tak terkendali, berubah histeris.


“Pembunuh! Pembunuh! Aku menyesal bertemu denganmu!  Kau adalah pengalaman terburuk yang pernah kurasakan! Aku menyesalimu! Lebih baik aku mati saja daripada mengandung anakmu!” teriak Mischa ke arah Aslan.