
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ketiga pasang mata gelap pekat itu menatap ke arah Mischa, membuat suara Mischa yang tadinya berseru lantang langsung tertahan di tenggorokan.
Mischa menelan ludah, melontarkan kepanikan melalui tatapan matanya dan berusaha mencari jawaban dari Yesil, satu-satunya sosok bersahabat di ruangan ini yang mungkin bisa memberikan jawaban kepadanya.
Gerakan di sebelahnya membuat Mischa menoleh, dan mendapati Aslan menatap ke arahnya dengan pandangan mengejek.
“Kau pikir apa yang dilakukan Kaza pada Sasha?” ujar Aslan malahan balik bertanya, “Apakah kau tahu bahwa Kaza memiliki keterikatan yang sama pada Sasha seperti aku terhadapmu?” ucap Aslan penuh arti, menyeringai seolah menikmati kepanikan pekat bercampur rasa tidak percaya yang menyelimuti wajah Mischa mendengar kata-katanya. “Mungkin saja Kaza juga sedang menandai Sasha sebagai miliknya…. dengan cara yang sama seperti yang kulakukan kepadamu?”
Aslan bahkan belum sempat berkedip ketika menyelesaikan kalimat terakhirnya karena tangan Mischa sudah melayang dan menampar pipinya dengan keras. Tidak terlalu menyakitkan memang karena kulit Bangsa Zodijak cukup kuat menahan pukulan, tetapi mengingat Misha memiliki kekuatan aneh untuk menyakiti tubuh Aslan, pukulan itu tentu saja membuat pipi Aslan terasa lumayan panas dan mengganggu.
Ruangan itu hening, tercipta setelah suara tamparan yang keras, sementara Yesil dan Akrep memilih tidak bergerak untuk memastikan situasi dan menilai apa yang akan terjadi.
Aslan sendiri hanya memelototkan mata dengan marah ke arah Mischa karena perempuan itu berani-beraninya menampar pipinya di depan saudara-saudaranya.
Mischa menatap Aslan dengan pandangan jijik bercampur marah, napasnya naik turun menahan emosi sementara kebencian terkuar jelas dari sinar matanya.
“Menjijikkan!” semburnya ke arah Aslan. “Sasha masih anak kecil, bisa-bisanya kau berkata seperti itu! Aku selalu berpikir bahwa kau ini adalah sejenis alien barbar yang kasar dan tak berbudaya, tapi tak kusangka kau juga memiliki pikiran mesum terhadap anak-anak!” Mischa menyambung dengan suara tinggi, menumpahkan kebenciannya ke arah Aslan.
Kemarahan tampak mulai menyelimuti tubuh Aslan mendengar hinaan Mischa terhadapnya, seiring dengan tubuhnya yang menegang kaku, mata gelap Aslan tampak semakin pekat, menyorot tajam seolah-olah ingin membunuh Mischa saat itu juga.
“Berani-beraninya kau…” Aslan meraung, tetapi suaranya terhenti ketika dirinya menoleh ke arah Akrep dan Yesil yang berdiam menatap mereka dengan tertarik seolah-olah interaksi antara dua makhluk di depan mereka ini adalah sesuatu yang baru dan memancing rasa ingin tahu mereka.
Sambil menyipitkan mata tidak suka, Aslan mencengkeram pergelangan tangan Mischa dan menariknya keluar dari ruangan Yesil, sebelum kemudian membanting pintu di depan mata kedua saudaranya.
Yesil dan Akrep sama-sama terpaku ke arah pintu yang terbanting keras di depan mereka. Lalu Akrep menolehkan kepala ke arah Yesil dan mengangkat sebelah alisnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Menurutmu kita semua akan berakhir kehilangan akal seperti Aslan?” tanyanya dengan nada was-was.
Yesil mengangkat bahu. “Mungkin juga kalau melihat contoh-contoh sebelumnya. Saudara-saudara kita yang menemukan manusia perempuannya tiba-tiba saja berubah menjadi laki-laki labil dengan emosi yang tidak jelas,” Yesil menghentikan kalimatnya dan mengerutkan kening seolah berpikir, lalu tiba-tiba saja Yesil menyeringai karena ide cerdas yang tiba-tiba terlintas di benaknya. “Kalau nanti aku berhasil menemukan manusia perempuanku, mungkin aku akan menyuntiknya dengan serum khusus supaya dia hanya bisa diam, tidak bersuara dan hanya mampu mengedipkan mata saja untuk berkomunikasi… selebihnya biar aku yang mengurusnya, jadi aku tidak perlu repot-repot berhadapan dengan emosi manusia perempuan yang labil.” ujarnya kemudian hingga membuat Akrep tersenyum masam.
“Ide bagus. Kau bisa berbagi serum itu denganku nanti,” jawab Akrep sambil setengah menggelengkan kepala, ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.
Sasha tidak sedang tidur seperti kemarin ketika Kaza mengunjungi kamarnya. Anak perempuan itu sedang duduk di kursi tinggi, membelakangi Kaza dan setengah membungkuk pada meja di depan tubuhnya. Meja itu terletak di bagian samping ranjang dengan posisi menempel ke dinding.
Perlahan Kaza melangkah mendekat dan menyadari bahwa Sasha sedang begitu fokus membaca sebuah buku cerita tebal yang sepertinya diberikan oleh Yesil kepadanya untuk mengisi waktu.
Mata Kaza melirik ke seluruh ruangan dan menyadari bahwa penerangan tempat itu cukup redup dan dia mengerutkan keningnya. Tangannya bergerak tanpa sadar untuk menekan saklar lampu baca yang terletak di dekat meja sehingga membuat Sasha seketika menolehkan kepala dengan terkejut ke arahnya.
Tidak ada ketakutan di mata Sasha karena Kaza mengenakan mata palsu manusia, hanya ada kebingungan pekat di sana.
Sasha mengerutkan kening, lalu senyum polosnya muncul tanpa terduga.
“Kami sudah terbiasa membaca di tempat gelap. Ketika masih berada di bawah tanah, hanya sedikit lampu yang boleh menyala, kalau tidak, Bangsa Zodijak yang kejam akan bisa mengendus keberadaan kami.” jawabnya dengan suara ceria padahal apa yang dikatakannya cukup menyedihkan.
Kaza menipiskan bibir lalu melirik ke arah buku yang sedang dibaca oleh Sasha. Itu bukan buku cerita anak-anak seperti yang dipikirkan olehnya sebelumnya, melainkan buku sejarah dengan tulisan kecil-kecil, paragraf penuh dan tampak terlalu rumit untuk anak berusia sepuluh tahun.
“Siapa yang mengajarimu membaca?”
Di usia Sasha yang baru sepuluh tahun, Kaza tahu persis bahwa anak ini dilahirkan di medan perang, itu berarti pendidikan formal yang bisa diperoleh di sekolah pada umumnya, tidak mungkin Sasha dapatkan dengan mudah, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Karena itulah Kaza bertanya.
“Kak Mischa yang mengajariku,” Sasha tersenyum lebar sambil mengenang. “Kak Mischa adalah yang terpandai di antara kelompok kami. Hampir semua di kelompok tidak mampu membaca apalagi menulis, tetapi Kak Mischa bisa melakukan semuanya, dia bahkan memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai Bangsa Zodijak. Katanya ayah Kak Mischa adalah seorang ilmuwan yang mempelajari Bangsa Zodijak.”
“Ilmuwan yang mempelajari Bangsa Zodijak?” Kaza tanpa sadar mengulang kalimat penting itu, sementara tatapan matanya menjadi tajam akibat informasi yang tidak diduga-duganya ini.
Kecurigaannya bahwa Mischa adalah senjata yang dibuat untuk mengalahkan Bangsa Zodijak muncul kembali, dan tangannya mengepal, berpikir untuk mendatangi Yesil lalu mengutarakan kecurigaannya sekali lagi berdasarkan informasi ini.
Mata polos Sasha mengawasi sosok yang dia pikir adalah Kara itu dengan seksama. Entah kenapa Kara saat ini tampak berbeda di matanya, lelaki di depannya ini memiliki aura muram, berbeda dengan aura Kara yang selalu lembut dan menenangkan.
Dan lelaki ini bisa berdiri dengan tubuh yang tampak sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
Sasha dilarang keluar dari ruangan ini oleh Dokter Yesil, seorang dokter baik hati yang bilang akan menjaganya, karena sedang ada pembersihan di area luar dan Dokter Yesil khawatir Sasha akan tertular penyakit atau sesuatu yang berbahaya di ruang penelitiannya. Sasha mematuhi aturan yang diberikan oleh Dokter Yesil karena yakin bahwa itu semua demi kebaikannya, karena itulah Sasha kehilangan kesempatan untuk menjenguk Kara serta menemani siangnya seperti biasanya.
Tapi rupanya perkembangan Kara sangat pesat hingga bisa berdiri di sini dan mengunjunginya… meskipun Kara yang sehat tampak sangat berbeda… lebih mirip pada sosok galak yang mengunjungi dirinya sebelumnya dalam mimpi.
Sasha menggaruk-garuk kepala dengan bingung, lalu memutuskan untuk bertanya.
“Apakah… apakah kau sudah sehat? Kau bisa berjalan-jalan…” tanyanya kemudian.
Pertanyaan Sasha yang diajukan dengan nada ragu itu sudah cukup untuk memecah Kaza dari lamunannya, dia menunduk untuk menatap ekspresi Sasha dan seketika itu juga harus berjuang keras untuk menahan debaran di dada.
Sebab… entah kenapa, hanya dengan bertatapan dengan anak perempuan kecil ini saja, sudah membuat perasaannya begitu tidak karuan.
Tanpa sadar Kaza memundurkan langkah, menjaga jarak dari Sasha demi keamanan dirinya sendiri.
“Aku bukan Kara,” ucapnya kemudian dengan suara dingin. “Aku Kaza, saudara kembar Kara,” sambungnya, memilih untuk berkata jujur, meskipun tidak benar-benar jujur karena saat ini dia menyamar sebagai manusia sesuai dengan permintaan Kara.
“Kara mempunyai saudara kembar?” Sasha membelalakkan mata dan tanpa malu-malu memandangi Kaza dengan penuh rasa ingin tahu, tatapannya tidak ditutup-tutupi, memandang Kaza dari ujung kepala sampai ujung kaki untuk mencari perbedaan dan tidak menemukannya.
Rupanya tatapan mata Sasha yang intens itu membuat Kaza tidak nyaman, lelaki itu mundur satu langkah lagi, kali ini dengan pipi sedikit merona.
“Jangan menatapku seperti itu!” geramnya setengah membentak, lalu berdiri kaku dengan serba salah menyadari bahwa Sasha beringsut ketakutan atas sikapnya. “Maksudku bukan begitu…” Kaza mulai panik kehabisan kata-kata, mengacak rambutnya dengan frustasi. “Aku hanya tidak nyaman ditatap langsung… oleh siapapun.” jelasnya kemudian, berusaha melembutkan suara untuk meredakan rasa takut Sasha.
Mereka berdua lalu bertatapan dalam keheningan yang canggung, sampai Kaza mengertakkan gigi dan akhirnya berkata,“Aku hanya datang untuk mengatakan bahwa aku akan pergi untuk beberapa lama, dan mungkin tidak kembali dalam waktu dekat, tergantung tugas yang akan kulakukan bisa selesai dengan cepat atau tidak,” ujarnya kemudian, merasa bingung kenapa dirinya harus repot-repot menjelaskan hal ini pada Sasha.
Kebingungan yang sama tampak muncul di mata Sasha, bertanya-tanya kenapa lelaki di depannya harus menjelaskan kepada dirinya seolah berpamitan.
“Bagaimana dengan Kara?” tanya Sasha akhirnya, tidak menyadari bahwa wajah Kaza menggelap karena Sasha menunjukkan kepedulian kepada Kara tapi tidak kepadanya.“Kara tetap di sini, masih dalam masa pemulihan,” Kaza mengepalkan tangan, melemparkan tatapan membunuh yang membuat bulu kuduk Sasha berdiri, lalu mendesis dengan nada tajam. “Aku akan pergi,” ucapnya lagi dan kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Sasha sendiri dalam kebingungan.