Inevitable War

Inevitable War
Episode 147 : Darah Zodijak



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )



Akrep lalu berkata bahwa pakaian yang cocok untuk Mischa akan diantarkan ke kamar, dan tak lama kemudian, ketika Aslan selesai berganti pakaian, seorang budak datang mengantarkan apa yang dijanjikan oleh Akrep.


Ketika Aslan menerima pakaian itu dan melemparkannya ke atas ranjang, Mischa langsung meraih pakaian itu dan memeriksanya, mengabaikan tatapan Aslan yang begitu tajam ke arahnya. Entah darimana Akrep mendapatkan pakaian ini, yang pasti ini adalah pakaian laki-laki, tetapi ukurannya begitu pas dengan tubuh Mischa yang mungil. Padahal kalu dipikir-pikir, tidak ada laki-laki dengan tubuh sekecil Mischa di antara Bangsa Zodijak ini. Mischa mengerutkan kening, memeriksa pakaian itu dengan seksama sambil menahan kebingungan di benaknya.


Pakaian itu lengkap, dari kemeja untuk bertempur berbahan tebal dengan lapisan khusus anti ledakan dan peluru, sama halnya dengan celananya yang juga berwarna hitam legam, ada jaket khusus dengan kantong-kantong yang sepertinya untuk tempat menyimpan senjata, dilengkapi dengan teknologi khusus untuk kamuflase serta penahan badai serta pasir.


Sudah pasti seluruh pakaian ini tahan api, serta memiliki kelebihan lainnya yang sama dengan jenis pakaian perang Bangsa Zodijak yang canggih. Bahkan di antara pakaian ini, terdapat juga sepatu boot laki-laki yang memiliki ukuran mungil seperti kaki Mischa.


Aslan sendiri berdiri di sana, menatap Mischa dengan tatapan garang bercampur ketidaksetujuan, tetapi pada akhirnya berkomentar juga ketika melihat kebingungan dan pertanyaan yang tak hilang dari mata Mischa.


“Ketika kau meminta pakaian seperti ini pada Akrep, kau meminta pada orang yang tepat. Akrep adalah satu-satunya yang paling sentimentil di antara kami. Dia juga satu-satunya yang masih menyimpan pakaian-pakaian lamanya, ketika dia masih kecil dan berukuran tubuh sama sepertimu.”


Mata Mischa melebar, seolah tak percaya dengan keterangan yang diberikan oleh Aslan. Diangkatnya pakaian itu dan dipastikannya ukurannya. Benaknya bahkan tidak bisa menerima bahwa Akrep dengan ukuran tubuhnya yang tinggi besar dan sangat kuat itu, pernah memiliki tubuh seukuran dirinya.


Aslan tersenyum masam ketika melihat reaksi Mischa.


“Kami, Bangsa Zodijak juga pernah kecil dan mengalami masa kecil, meskipun itu sepertinya sudah begitu lama.” ujarnya dengan nada tak kalah masam.


Mischa mengerjapkan mata. Selama ini dia selalu menganggap bahwa Bangsa Zodijak dilahirkan dengan tubuh kuat seperti yang mereka tampilkan selama ini. Sekarang, barulah dia sadar bahwa Bangsa Zodijak ternyata sama seperti manusia, dilahirkan sebagai bayi, memiliki masa kecil dan mengalami proses bertumbuh sebelum kemudian menjadi dewasa.


“Pada usia berapakah kau mengalami masa kecil. Kau juga pernah bertubuh seperti ini? Seukuran ini?”


Mischa bertanya kepada Aslan dengan nada tertarik, membuat geraham Aslan berkedut.


“Aku pernah sekecil dirimu. Tetapi itu sudah lama sekali. Kau pasti tahu bahwa kami Bangsa Zodijak memiliki usia yang panjang.” jawab Aslan dengan nada dingin.


Mischa mengerjapkan mata, lalu sengaja mengucapkan kalimat untuk mengganggu Aslan.


“Apakah kau mau bilang bahwa kau sudah tua sekali, jauh lebih tua dari diriku?” ejeknya dengan sengaja.


Geraham Aslan berkedut lagi, seolah sedang menahan emosi. Tetapi lelaki itu sepertinya sudah belajar untuk tidak mudah terpancing oleh Mischa.


“Mungkin aku lebih tua. Tetapi itu juga berarti aku lebih kuat, lebih berpengalaman dan lebih ahli dari dirimu,” mata Aslan menelusuri tubuh Mischa dengan pandangan sensual yang disengaja. “Dalam hal apapun, Mischa.”


Seketika itu juga pipi Mischa memerah, tahu pasti tentang apa yang tersirat di balik kalimat Aslan.


Dasar alien mesum!


Mischa memeluk pakaian berperang itu di dadanya, lalu menatap Aslan dengan tatapan bermusuhan.


“Aku hendak berganti pakaian,” ujarnya kesal.


Aslan langsung mengangkat alis. “Lalu? Kenapa?” tantangnya dengan nada menjengkelkan.


“Apakah kau tidak punya kesopanan untuk keluar dan memberiku sedikit privasi?” seru Mischa tanpa menyembunyikan kekesalannya.


Aslan menegakkan punggung, melangkah mendekat ke arah Mischa yang duduk di tepi ranjang, lalu menggunakan jemari untuk semakin mendongakkan dagu Mischa supaya menghadap tepat ke arahnya yang sedang menundukkan kepala.


“Aku sudah menghamilimu. Apakah perlu kujelaskan proses menghamili dan lain-lain supaya kau sadar diri? Proses reproduksi bangsa Zodijak dan manusia hampir sama, dan itu melibatkan kata ‘telanjang’. Sekarang, apakah kau akan bertingkah konyol menggelikan dengan menyuruhku keluar ketika kau sedang berganti pakaian? Apakah kau lupa apa yang kita lakukan di bawah pancuran dan di atas ranjang ini?”


“Hentikan!” Mischa menyela dengan nada marah, tangannya menepis jemari Aslan di dagunya denan kesal. “Aku tahu persis bahwa proses reproduksi Bangsa Zodijak dan kaum manusia hampir sama. Yang aku tidak tahu adalah bahwa dalam hal kesopanan kalian sangat berbeda. Manusia lelaki akan dengan sopan mundur atau memalingkan muka ketika melihat wanita berganti pakaian. Tetapi kau Bangsa Zodijak, memang tidak tahu sopan santun sama sekali! Percuma mengharapkan perlakukan bermartabat dari kalian,” dengan kaki menghentak, Mischa berdiri, menatap Aslan dengan tatapan menantang.


Bibir Aslan sedikit naik, dan barulah Mischa menyadari bahwa dalam pertarungan psikologis dan saling memancing kemarahan ini, Aslanlah yang akhirnya menang. Aslan berhasil menahan diri dari provokasi Mischa, dan malahan dia yang membuat Mischa meradang karena terprovokasi.


Aslan tiba-tiba melangkah mendekat ke arah Mischa, menyergap perempuan itu dalam kekuatan lengannya bahkan sebelum Mischa bisa memberontak lalu bibirnya tiba-tiba saja sudah begitu dekat dengan bibir Mischa.


“Kau harus menerima kenyataan, Mischa,” Aslan mendesis dengan bibir tepat menempel, menggesek permukaan bibir Mischa dengan sentuhan sensual menggoda. “Suamimu adalah Bangsa Zodijak, kami adalah kaum barbar sehingga percuma mengharapkan kami bertingkah penuh martabat seperti manusia lelaki yang lemah.”


Dan seolah ingin membuktikan kalimatnya, Aslan langsung mencium  bibir Mischa, menunjukkan sikap barbar sesungguhnya dari seorang lelaki kepada perempuannya.



 


 


Ketika kesadaran Mischa untuk membela diri kembali, dia langsung tertarik keluar dari pesona ciuman panas yang diberikan oleh Aslan kepadanya. Seketika itu juga, tangan kurusnya langsung bergerak, dengan kekuatan hati yang membuatnya mampu mendorong Aslan sekuat tenaga hingga lelaki itu bergerak mundur menjauh tanpa perlawanan.


Aslan bisa saja menggunakan kekuatan tubuhnya seperti biasa dan bergeming sehingga usaha Mischa untuk mendorongnya sia-sia. Tetapi, hal itu tidak dilakukannya. Aslan sengaja menyerah dan membiarkan Mischa mendorongnya menjauh.


Ciuman yang diberikannya kepada Mischa hanya dimaksudkan sebagai godaan, itupun Aslan harus menahan diri sekuat tenaga untuk membekukan hasratnya sendiri terhadap perempuan manusia yang entah kenapa tampak begitu menggiurkan di matanya.


Kalau Aslan tidak mampu menahan hasratnya, dia akan kembali mengurung Mischa di kamar ini untuk bercinta. Dan itu bukan keputusan tepat mengingat betapa gentingnya situasi yang sedang mereka hadapi saat ini.


“Menjauh dariku,” Mischa berucap dengan nada mengingatkan ketika menemukan kilatan di mata Aslan yang memandanginya. Saat ini Mischa lebih siap untuk berkonfrontasi daripada bercinta. “Atau aku akan menamparmu,” sambungnya lagi sungguh-sungguh.


Sudut bibir Aslan terangkat mendengar ancaman Mischa. Lelaki itu bersedekap, tetapi tidak berusaha untuk mendekat.


“Selalu menolak kenyataan. Apakah kau lupa dengan apa yang baru kau ceritakan tadi kepada kami? Jika memang apa yang dikatakan oleh Imhotep kepadamu itu benar, kau tidak bisa memungkiri bahwa ada darah Bangsa Zodijak di tubuhmu,” mata Aslan menyipit, sengaja menelusuri seluruh diri Mischa dengan menjengkelkan. “Meskipun seluruh ciri fisikmu tidak seperti Bangsa Zodijak, kau telah menunjukkan kepada kami sisi Bangsa Zodijak dari dirimu. Pantas saja kau tidak remuk ketika bercinta denganku, bahkan bisa mengandung anakku.”


Pipi Mischa memerah mendengar kalimat yang diucapkan dengan gamblang tanp disaring itu.


“Aku tetap manusia,” bantahnya dengan nada keras kepala. “Kenyataan bahwa Imhotep telah mencurangi genetikku tidak mengubah kenyataan jati diriku sebagai seorang manusia. Aku dilahirkan dari dua orang manusia yang saling mencintai, itu membuatku menjadi manusia seutuhnya, jiwa dan raga. Kau tidak akan bisa mengubah itu, Aslan.”


Aslan tampak tidak terpengaruh atas keyakinan diri Mischa yang dia ucapkan dengan nada lantang menantang. Lelaki itu malahan melemparkan tatapan mengejek ke arah Mischa.


“Manusia tidak akan memiliki darah berwarna biru serupa air suci Zodijak. Manusia tidak akan mampu mengeluarkan kekuatan dahsyat yang mengejutkan seperti yang kau lakukan. Dan manusia… tidak akan kuat menjadi pasanganku,” tanpa diduga Aslan bergerak maju, membuat refleks Mischa melangkah mundur menjauh.