Inevitable War

Inevitable War
Episode 45 : Tersentuh



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Akrep ternganga.


“Maksudmu… Kaza merasakan ketertarikan kepada anak kecil? Bukankah Sasha masih kecil? Berapa umurnya?”


“Sepuluh tahun menurut umur manusia,” Yesil mengangkat bahu. “Kaza tidak akan menyentuh anak kecil itu, itu sudah pasti, dia mempunyai prinsip dan tentu saja tidak akan tertarik secara seksual kepada anak kecil. Tetapi saat ini Kaza merasakan dorongan yang sama. Karena Kara dan Kaza memiliki rasi kembar, aku berpikir bahwa rasi bintang yang dimiliki Natasha sudah pasti sama dengan Sasha. Natasha memiliki rasi bintang Pisces, Kara yang mengatakan kepadaku dan mengingat Pisces digambarkan sebagai dua ekor ikan kembar dengan arah berlawanan, menunjukkan entitas kembar tetapi berbeda, cocok dengan rasi bintang gemini,”


Yesil melemparkan tatapan hati-hati ke arah Aslan. “Kalau kau mengizinkanku berbicara dengan Sasha dan mengambil darahnya, aku akan melakukan penelitian terhadapnya.”


Aslan termenung berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala. “Aku mengizinkannya. Ambilah  anak itu semaumu. Kau bisa membawanya ke ruang penelitianmu kalau kau mau. Hanya saja, gelang peledak di kakinya tidak boleh disentuh,” Aslan masih tampak tertarik pada sesuatu yang lain, dan dia menanyakannya. “Apakah maksudmu rasi-rasi bintang yang sudah punah di planet kita ini bermunculan di bumi dalam bentuk manusia? Dan mereka mengikat kita semua masing-masing berpasangan dengan kekuatan misterius?”


Akreplah yang menjawab. “Setiap pemimpin Zodijak memiliki pasukan dari makhluk kelas di bawahnya yang menjadi prajurit mereka. Kau sebagai si singa, memiliki prajurit leo yang berisi makhluk-makhluk Zodijak dengan rasi bintang Leo. Aku berpikir jika manusia perempuan itu membawa rasi bintang Aquarius, dengan kekuatan yang sama, bisa meninggalkan tanda di tubuhmu dengan gigitannya, maka kemungkinan besar, seluruh manusia dengan rasi bintang Aquarius yang masih tersisa di bumi ini akan menjadi prajurit di bawah kekuasaan Mischa, dia benar-benar Sang Dewi air bagiku.”


“Sudah pasti prajurit-prajurit aquarius itu tidak tersisa banyak,” Aslan menyipitkan mata dengan sombong. “kita sudah meluluh lantakkan umat manusia sampai hampir habis.”


“Ya, mereka memang sudah bisa dibilang hampir habis, aku setuju denganmu, dan itu membuatku berpikir bahwa kemungkinan besar kita akan dipaksa melakukan penyatuan dengan makhluk bumi untuk menciptakan dan melahirkan kembali rasi-rasi bintang yang sudah punah. Tubuhmu membutuhkan Mischa untuk melakukan itu, untuk menciptakan kembali keturunan Aquarius yang sudah punah dari Bangsa Zodijak, karena itu kau berusaha menyelamatkannya meskipun kau tidak menyadarinya.”


“Dia benar-benar sekarat?” kembalinya topik tentang Mischa membuat kerutan di dahi Aslan semakin dalam. “Dan jika aku tidak menggigitnya, tidak memberikan benihku kepadanya, tidak memanennya, dia akan mati?”


“Ketika kau berhenti menyentuhnya, ketika itulah proses penyembuhannya berhenti, pun dengan perlambatan usianya akan berhenti pula, dia akan menua sama seperti manusia pada umumnya,” Yesil menatap Aslan penuh arti. “Ya, Jika kau berhenti menyentuhnya… Mischa akan mati, Aslan.”


Ruangan itu entah kenapa tiba-tiba menjadi hening, semua sibuk dengan pemikirannya masing-masing, mencoba menelaah berbagai misteri yang masih belum terungkap.


 


 



 


Mata Kara terbuka, efek dari obat tidurnya yang habis, dirinya langsung bertatapan dengan Yesil yang sudah menunggu dan tampaknya tahu bahwa Kara akan bangun di saat yang tepat.


“Aku membuat Aslan menyetujui untuk membawa Sasha kemari, sesuai permintaanmu,” Yesil langsung berkata.


Kara memang sempat terbangun beberapa kali dan berdiskusi dengan Yesil mengenai fenomena manusia-manusia perempuan yang bermunculan dan mengikat para pemimpin Bangsa Zodijak. Lelaki itu bahkan sempat menyeringai senang ketika Yesil bercerita bahwa Kaza saudara kembarnya ternyata juga terkena imbasnya, terikat dengan Sasha yang masih anak-anak.


Yesil tentu saja juga bercerita tentang insiden antara Kaza, Mischa dan Aslan di dalam ruang perawatan ini, dan menurut Kara, ketertarikan Kaza yang tak terelakkan dengan Sasha sudah cukup menjadi hukuman bagi saudara kembarnya itu atas perlakuan kasarnya kepada Mischa, selain cekikan dan hantaman dari Aslan yang mengerikan tentu saja.


Kara lalu meminta Yesil untuk membujuk Aslan supaya bisa membawa Sasha ke ruang perawatan ini. Sasha mengenal Kara dan jika Kara memasang lensa mata kamuflase manusianya, Sasha mungkin tidak akan ketakutan dan lebih bebas berbicara. Kara berharap dia bisa mengorek informasi dari Sasha, segala hal yang diketahui anak itu tentang Mischa, dan jika beruntung, dia mungkin juga bisa mendapatkan informasi tentang Natasha.


“Terima kasih,” Kara memejamkan mata dengan lega ketika mendengarkan perkataan Yesil. “Kapan?” tanyanya.


“Sebentar lagi, budak Aslan sedang membawanya kemari. Aslan mengizinkanku mengambil darah Sasha juga untuk diperiksa, untuk memastikan apakah darahnya memiliki kesamaan sifat dengan Mischa.”


Ekspresi Kara tampak sedih. “Sayang kita tidak mempunyai sampel darah Natasha yang tersisa untuk diperiksa,” suaranya serak menahan rasa sakit dan emosi. “Itu semua karena aku.”


Yesil hanya menatap Kara dengan prihatin. “Itu semua bukan salahmu, Kara. Natasha pergi sebelum kita menyadari ada yang aneh, sebelum aku berpikiran untuk memeriksa darahnya. Dulu aku mengira ketertarikanmu dengan Natasha hanyalah ketertarikan biasa,” ekspresi Yesil tampak menimbang-nimbang, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk berkata. “Mischa sedang sekarat,”


Kara tersentak, matanya membuka dan tubuhnya menegang, refleks mencoba bangkit, tetapi tentu saja tubuhnya yang penuh luka dan dibalut perban tidak mengizinkan, dirinya mengerang lalu terpaksa rebah lagi dengan lemah.


“Dia tampak baik-baik saja… apa maksudmu?” desahnya tak percaya.


“Dia baik-baik saja karena Aslan. Aslan menggigit, memanennya dan memberikan benihnya pada Mischa, dia memberikan kandungan mucisevi  di tubuhnya kepada Mischa dan dengan itu dia menyembuhkan Mischa.”


“Aku bertaruh Aslan melakukan itu bukan dengan sengaja atau karena kemauannya,” Kara menyeringai dengan ironis. “Satu-satunya yang dipikirkan Aslan ketika bersama Mischa adalah memuaskan hasratnya.”


“Apakah kau sedang memperingatkanku secara tersirat supaya aku tidak lagi mencoba memisahkan Mischa lagi dari Aslan?” ekspresi Kara tampak kesakitan, berasal dari dalam hatinya.Yesil menganggukkan kepala dengan cepat.


“Mischa akan mati kalau dia tidak bersama Aslan, Kara.”Kara membuka mulut hendak menjawab, tetapi ada suara-suara di depan ruang perawatannya, membuat mereka berdua menoleh. Yesillah yang langsung berjalan ke tirai ruang perawatan itu dan  membukanya, dia melongok sebentar, lalu menoleh ke arah Kara.


“Sasha ada di sini,” ujarnya.


 


 



 


Aslan menyandarkan tubuhnya di kursi yang diseret supaya dekat dengan ranjang tempat Mischa berada, menjulurkan kaki panjangnya hingga ke bawah tempat tidur Mischa yang tinggi. Dia berusaha membuat tubuhnya rileks dengan melipat tangan di dada, tetapi tetap saja pemikiran yang bergolak di dalam benaknya membentengi dirinya untuk bisa rileks.


Yesil akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika Aslan memaksa untuk mengambil Mischa dan membawanya kembali ke areanya, mengingat memang tidak ada yang bisa dilakukan oleh Yesil untuk menyembuhkan Mischa dari kesakitan yang kini dideritanya. Hanya Aslan yang bisa menyembuhkan Mischa dan membawa Mischa kembali ke area Aslan adalah keputusan yang paling tepat.


Aslan sendiri segera memasuki ruang perawatan Mischa yang berada tepat di samping ruang perawatan Kara, hanya dibatasi tirai tebal berwarna putih yang menjuntai sampai lantai. Tadinya dia berniat untuk langsung mengambil Mischa, tetapi dia berubah pikiran ketika mendengar bahwa Sasha akan dibawa menemui Kara.


Aslan ingin mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh bocah kecil itu mengenai Mischa, entah kenapa rasa ingin tahunya kembali mengalahkan keangkuhan hatinya. Aslan akhirnya memilih duduk dan menunggu, menunda untuk mengangkat tubuh Mischa dan membawanya ke areanya sendiri.Mischa terbaring di ranjang, masih tidak sadarkan diri, wajahnya begitu pucat meskipun napasnya teratur menunjukkan bahwa kesadaran manusia perempuan itu masih tenggelam dalam tidur lelapnya.


Entah obat apa yang diberikan oleh Yesil kepada Mischa hingga membuat Mischa terlelap sedalam ini, tetapi kata Yesil obat itu diperlukan supaya Mischa bisa beristirahat dan mengembalikan kekuatannya.


Mata Aslan menyipit ketika mendengar gumaman-gumaman di ruang sebelahnya. Itu Yesil yang sedang bercakap-cakap dengan Kara. Tirai pemisah ruangan Kara dan Mischa memang cukup tebal untuk menghalangi pemandangan, tetapi tentu saja tidak bisa menghalangi suara yang tercipta dari kedua sisi, apalagi bagi Bangsa Zodijak yang memiliki pendengaran yang sangat tajam.


Yesil menuruti perintah Aslan supaya tidak mengatakan kepada Kara bahwa Mischa dirawat di sebelahnya. Dan sepertinya Kara juga tidak menyadari, entah karena Aslan yang tidak bersuara semenjak dia masuk ke ruang ini lalu memilih menunggui Mischa, atau karena kemampuan pendengaran Kara sebagai Bangsa Zodijak yang hebat belum pulih sepenuhnya akibat luka-luka hajaran Aslan.


Sekali lagi mata Aslan menelusuri tubuh Mischa, lalu Aslan menolehkan kepala dengan waspada ketika mendengarkan perkataan Yesil bahwa Sasha sudah tiba. Dia menajamkan telinga untuk mendengarkan.


Yang terdengar sekarang adalah suara gemerisik ketika Yesil mengambil lensa mata manusia kamuflase dan memasangkannya di mata Kara untuk mencegah supaya Sasha tidak ketakutan. Yesil lalu kembali melangkah ke pintu dan membawa Sasha masuk dan setelahnya Yesil meninggalkan ruangan supaya Kara dan Sasha bisa bercakap-cakap dengan leluasa.


Lalu terdengar Sasha memasuki ruangan dan keheningan tercipta agak lama di ruangan itu.


“Hai,” terdengar suara Kara yang lemah memecah keheningan dan mencairkan suasana. “Aku senang kau baik-baik saja, Sasha.”


Lama Sasha tidak menjawab, lalu terdengar suara lemah menyahut.


“Apakah kau manusia… atau bukan? Karena aku melihat kau…”


“Siapapun yang terlihat jahat, itu bukan aku,” Kara menyahut cepat. “Kau tahu bahwa aku adalah sahabat kakak angkatmu, sahabat Mischa dan dia memercayaiku. Yang pasti aku tidak akan membiarkan Mischa dan kau disakiti.”


“Apakah kak Mischa baik-baik saja?” suara Sasha terdengar gemetar, masih menyimpan ketakutan di sana, tetapi perhatiannya teralih karena nama Mischa disebut


“Dia baik-baik saja untuk saat ini, bisa dibilang dia berada di tangan yang tepat,” Kara berucap dengan nada penuh ironi, membuat Aslan yang menguping menyeringai jengkel karena dia bisa mencerna ketidaktulusan di suara Kara.


“Kau juga tidak tampak baik-baik saja, apakah mereka yang membuatmu seperti ini?” ingatan terakhir Sasha sudah pasti adalah saat penyerangan pasukan Aslan ke koloni kaum penyelinap mereka, dan itu membuatnya ketakutan karena suaranya gemetaran.


Kara melirik dirinya yang pasti tampak payah, terbalut perban di hampir semua bagian tubuhnya yang saat ini masih luar biasa sakit jika digerakkan, tetapi dia memaksakan diri untuk tersenyum.


“Aku baik-baik saja dan sudah pasti akan sembuh. Sekali lagi, kau tidak perlu mencemaskan Mischa, aku juga bisa memastikan bahwa Mischa baik-baik saja.”


“Syukurlah,” Sasha terdengar mendesah lemah, Aslan yang mendengarkan dari balik tirai bahkan bisa membayangkan anak itu meremas-remas tangannya sendiri dengan gugup.


“Karena kak Mischa sakit… aku selalu mencemaskannya,” sambung Sasha kemudian.


“Kau tahu bahwa Mischa sakit?” Kara tidak melewatkan kesempatan dan langsung menyambar.