Inevitable War

Inevitable War
Episode 125 : Rencana Peledakan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 




Area markas bawah tanah itu sangatlah luas sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk seluruh pasukannya supaya bisa mencapai seluruh area demi menempelkan bom-bom berdaya peledak tinggi di setiap sudut vital markas tersebut yang bisa menghancurkan serta meruntuhkan seluruh markas yang dibangun di ruang bawah tanah tersebut hingga tak bersisa.


Seluruh permukaan markas bawah tanah itu dilapisi oleh batu Lonsdaleite, tetapi itu bukan masalah bagi Kara karena batu Lonsdaleite juga sering dipakai sebagai benteng pertahanan Bangsa Zodijak di planet asli mereka sehingga Kara cukup berpengalaman dengan senjata peledak khusus yang bisa menghancurkan lapisan batu dengan struktur paling keras yang pernah ada tersebut hingga berkeping-keping.


Mereka mungkin kehilangan kewaspadaan dalam hal pemindaian dengan tidak menggunakan pemindai yang bisa menembus batu Lonsdaleite ketika menyisir wilayah ini. Itu dikarenakan sepengetahuan mereka, batu Lonsdaleite tidak terdapat cukup banyak di bumi. Kemungkinan besar ketika pergi meninggalkan Planet Zodijak dan berlabuh di bumi, Imhotep telah membawa sampel batu tersebut dan menggandakannya dengan kemampuannya sebagai seorang imuwan untuk membangun markasnya yang sangat besar dan luas tersebut.


Sudah pasti butuh waktu ratusan tahun bahkan lebih untuk membangun markas yang begitu besar dengan teknologi yang cukup maju seorang diri. Hal itu membuktikan bahwa Imhotep sudah tahu bahwa Bangsa Zodijak akan datang menyerang bumi dan sudah mempersiapkan untuk melawan mereka di kemudian hari.


Pemasangan bom di setiap penjuru markas tadi tidak menemukan kendala yang cukup berarti. Memang ada banyak pasukan manusia yang lalu lalang di dalam markas dan jumlahnya cukup banyak dengan senjata yang modern pula.


Kaza melihat bahwa manusia-manusia ini adalah jenis manusia yang dimodifikasi dengan mengambil darah Natasha karena struktur tubuh mereka tampak begitu kuat, lebih daripada manusia biasa meskipun Kaza yakin bahwa mereka tidak sekuat dan segesit Bangsa Zodijak murni.


Tetapi kekuatan itu memang bukanlah hal yang perlu mereka khawatirkan, yang lebih perlu dikhawatirkan lagi adalah senjata yang mereka pegang yang kemungkinan mengandung racun darah Natasha.


Beruntung mereka menggunakan metode penyusupan tanpa konflik dengan bergerak sehalus mungkin, berhati-hati dan menggunakan penutup seluruh tubuh kamuflase yang membuat tubuh mereka tak kasat mata. Imhotep mungkin menempatkan banyak sekali pasukan di dalam markas untuk menjaga, tetapi rupanya makhluk kuno Zodijak itu lupa bahwa kadang-kadang, Bangsa Zodijak bisa dengan cerdik menghindari konfrontasi dan memilih penghancuran dengan metode penyusupan yang lebih menghancurkan seperti yang mereka lakukan sekarang.


Imhotep mungkin menganggap bahwa Bangsa Zodijak masih sebarbar dulu, Bangsa yang memiliki hasrat tinggi dalam berperang sehingga tidak memikirkan strategi lain selain adu senjata dan saling menghancurkan secara langsung. Karena itulah pertahanan Imhotep juga hanya digandakan untuk persiapan menghadapi serangan secara langsung.


Mata Kaza yang gelap berkilat ketika menatap orang yang ditunggunya meloncat keluar dari pintu belakang markas tersebut. Dengan datangnya orang terakhir yang dikirim oleh Kaza untuk memasang bom ke seluruh area saat ini, itu berarti semua pasukan sudah kembali dan berhasil menyelamatkan diri keluar dari markas tepat waktu sebelum seluruh bom itu meledak tak terkendali.


Hal itu juga berarti bahwa setiap bom yang disebarkan telah terpasang dengan rapih, aktif dan akan meledak sesuai waktu yang ditentukan.


Kaza melirik ke arah penunjuk waktu di tangannya. Sepuluh menit lagi bom itu akan meledak dan menghancurkan semuanya. Khar yang membawa pesawat pengintai pun sudah berputar-putar di area langit dengan pesawat tak kasat mata diiringi pasukan udaranya.


Sama seperti dirinya, Khar juga sudah pasti gelisah di atas sana.Mereka belum melihat tanda-tanda Aslan dan Akrep keluar dari pintu ini dan itu mencemaskannya.


Kaza mengusap wajahnya yang kotor penuh pasir sebelum kemudian menganggukkan kepala ke arah anak buahnya yang terakhir melapor, menyuruh si anak buah kembali ke posisi dan bersiaga di tempat yang telah ditentukan sambil menunggu terjadinya ledakan di bawah mereka.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan sekarang selain menunggu.


 



 


Mischa memejamkan mata dan menyeringai ketakutan atas rasa ngeri yang menyelimuti tubuhnya ketika permukaan pisau bedah yang dingin itu mulai menggores tubuhnya.


Suara tercekik keluar dari bibirnya yang digigit, menahan diri untuk tidak berteriak ketakutan.


Bagaimanapun gentingnya kondisi yang dihadapi saat ini, Mischa tetap bersikeras tidak akan menunjukkan kelemaannya di depan Imhotep. Lelaki ini adala tipe penindas yang akan semakin merasa berkuasa ketika melihat korbannya ketakutan. Dan Mischa tidak akan memberikan kepuasan itu kepadanya.


Ketika ujung pisau itu menekan kulit perut Mischa, air mata bergulir dari sudut mata Mischa yang terpejam, rasa sedih bercampur aduk di dalam diri Mischa ketika menyadari bahwa anak yang ada di perutnya akan direnggut paksa dalam kondisi tidak berdosa dan tidak berdaya.


Tetapi kemudian tidak terasa sakit… sama sekali tidak ada rasa sakit…


Mischa membuka mata, mengerutkan kening dengan bingung dan matanya langsung menemukan Imhotep yang terpaku. Ekspresi Imhotep tampak marah, bercampur aduk dengan rasa tidak percaya.Tangan Imhotep yang memegang pisau di tangannya tampak gemetar sementara lelaki Zodijak itu mengangkat pisau tersebut dan mendekatkan ke wajahnya seolah tidak yakin.


“Tidak mungkin… Tidak Mungkin! Bagaimana bisa pisau dari batu paling kuat di planet Zodijak pun tidak mampu menembus kulitmu?” Imhotep membanting pisaunya ke lantai dengan frustasi dan melangkah mundur tanpa sadar, menatap Mischa dengan kemaraan yang amat sangat, “Kau ini berubah jadi apa? Dan apakah anak yang berada di dalam kandunganmu itu? Karena jelas-jelas dia bukan Bangsa Zodijak yang biasa!”


Mischa tidak mampu menjawab pertanyaan Imhotep karena dirinya sendiri pun juga diselimuti kebingungan. Perlahan Mischa mengangkat kepala untuk menengok kondisi perutnya yang terbuka. Tidak ada luka di sana, kulitnya perutnya masih baik-baik saja tanpa goresan sedikit pun.


Pantas saja Imhotep tampak sangat marah.Mischa mengalihkan pandangan dari perutnya dan kembali menoleh ke arah Imhotep yang membalas tatapan matanya dengan mata gelapnya yang berkilat menyala.


“Anakmu mungkin masih kuat karena dia memiliki masih memiliki cadangan makanan yang dia peroleh darimu sebelumnya,” Imhotep menatap penuh kebencian ke arah perut Mischa, “Aku akan membiarkanmu kelaparan, sangat kelaparan hingga anak di dalam perutmu tidak punya daya upaya untuk mempertahankan diri. Dan ketika anakmu sudah begitu lemah karena tidak punya sumber energi lagi, aku akan mengeluarkannya dari perutmu!”


Dengan marah Imhotep melemparkan pelototan penuh ancaman ke arah Mischa, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dan menutup rapat pintu yang dia tinggalkan hingga tidak ada kesempatan bagi Mischa untuk melarikan diri.


Toh dia akan melarikan diri dengan cara apa?


Mischa menghembuskan napas panjang putus asa, meringis perlahan ketika gerakan di tangannya menimbulkan rasa pedih pada bagian pergelangannya akibat memar keunguan yang mulai muncul di sana karena Mischa menghentak-hentakkan tangannya dengan kasar dari belenggu besi tersebut ketika mencoba melepaskan diri.


Kedua tangannya dibelenggu dengan begitu kuat, dan jika tidak ada yang datang untuk menolongnya, sudah pasti Mischa akan berakhir seperti apa yang dikatakan oleh Imhotep.


Dibiarkan kelaparan hingga terpuruk dalam kondisi terlemahnya sebelum kemudian Imhotep akan mengeluarkan paksa anak di dalam perutnya.


Sekarang saja perutnya sudah terasa begitu perih meminta diisi. Melilit begitu sakit hingga lambungnya seakaan mendorong asam lambung naik ke tenggorokan, menyisakan rasa terbakar di tenggorokan dan rongga dada yang menyiksa.


Mischa menelan ludah, sekali lagi menghembuskan napas panjang untuk meredakan kesakitan yang menyiksa dari dalam tubuhnya.


Apakah benar apa yang dikatakan oleh Imhotep bahwa jika anaknya kelaparan maka daya tahan untuk melindungi dirinya juga ikut menurun?


Mischa bahkan tidak sadar bahwa permukaan kulitnya menjadi begitu keras hingga tidak bisa ditembus oleh senjata dari batu terkuat Bangsa Zodijak sekalipun. Bahkan beberapa waktu yang lalu Mischa masih ingat bahwa kulitnya bisa terluka…. dan tangannya yang dibelenggu tetap bisa memar meskipun sama sekali tidak lecet atau terluka.