
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Hentikan!”
Mischa berteriak sekuat tenaga lalu menggunakan tangannya untuk mendorong keras-keras. Kali ini Aslan tidak menahan dan membiarkan Mischa lepas dari pelukannya.
Seketika itu juga Mischa meloncat bangkit dari ranjang, sedikit terhuyung kehilangan keseimbangan karena gerakannya yang tiba-tiba.
“Hati-hati,” Aslan berucap lembut, masih berbaring miring di ranjang dengan menggunakan siku untuk menahan kepalanya. “Kau sedang hamil, jangan bergerak cepat yang bisa membahayakan dirimu, Mischa.”
“Kau… kau tidak dalam kapasitas untuk menasehatiku!” Mischa membelalakkan mata, memelototi Aslan dengan marah. “Aku yang sedang mengandung, aku yang perempuan, bukan kau!” tambahnya lagi dengan kekanak-kananakn.
Aslan membuka mulut untuk menjawab, tetapi di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja perut Mischa berbunyi sangat keras memenuhi ruangan, menunjukkan rasa lapar dan mempermalukannya.
Aslan tampak sangat ingin tertawa keras-keras, tetapi dia menahannya. Lelaki itu beranjak bangkit dari ranjang sebelum kemudian berdiri setengah membungkuk memberi hormat ke arah Mischa dengan sikap mengejek.
“Segala hidangan telah disiapkan di lemari makanan,” Aslan menunjuk ke arah lemari besar di dinding sambil lalu. “Selamat makan Tuan Puteri. Hamba akan kembali setelah Anda menyelesaikan makanan Anda,” ujarnya menggoda dan tidak memedulikan pelototan marah dari wajah Mischa yang merah padam, lalu membalikkan badan dan meninggalkan Mischa sendirian di kamar.
Kaza menunduk dan menelan ludah ketika mata besar berkilauan nan polos yang meneror malam-malamnya itu tiba-tiba mendongak penuh harap ke arahnya dengan senyum lebar tanpa dosa yang menyebalkan.
“Aku tiba-tiba dipindah kemari. Aku bertanya tentang kak Mischa, tentang dirimu tapi tidak ada yang menjawab,” Sasha mengerutkan kening kebingungan. “Seolah-olah orang-orang yang ditugaskan kepadaku… mereka sibuk dengan lamunannya masing-masing dan tatapan matanya tampak kosong.”
Kaza mengerutkan kening dan menelaah kata-kata Sasha. Sudah jelas bahwa Sasha digiring kemari oleh budak-budak suruhan Aslan yang memang seperti robot atau cangkang kosong yang bisa digerakkan dan diperintah sesuai dengan kemauan Aslan.
Saat ini Sasha sama sekali tidak curiga dan hanya menyimpan kebingungan karena Kaza yakin bahwa Sasha masih menduga mereka berada di antara klan manusia yang sedang menggalang kekuatan untuk melawan bangsa Zodijak, bukannya di kalangan bangsa Zodijak sendiri dan di dalam istana pusat kendali Bangsa Zodijak pula. Karena itulah Sasha sama sekali belum menaruh kecurigaan terhadap budak-budak manusia yang bersikap tidak wajar… atau mungkin juga karena usia Sasha yang masih kecil, pengetahuannya tentang kemampuan Bangsa Zodijak yang bisa mengubah manusia menjadi budak masih belum terbangun sama sekali.
Anak ini menganggapnya sebagai Kara.
Mau tak mau Kaza menyimpan senyum getir yang sempat muncul di bibirnya, mengepalkan tangan untuk menahan diri supaya tidak membentak dan memberitahukan kepada Sasha bahwa dia adalah Kaza dan bukan Kara dan bahwa saat ini Sasha berada di antara Bangsa Zodijak.
Dia sangat ingin melepas lensa matanya dan menunjukkan keasliannya kepada Sasha, membiarkan anak itu ketakutan lalu memudahkan dirinya untuk menjauh.
Kaza menunduk dan menatap ke arah Sasha yang masih menunggu jawabannya. Wajah anak itu polos dan tampak bahagia, tetapi tiba-tiba ada ekspresi kaget yang menyelip di sana, membuat Kaza tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Ada apa?” tanyanya dengan nada kasar setengah menggeram.
Seketika itu juga Sasha melangkah mundur dan melepaskan pelukannya dari Kaza, anak perempuan itu tampak ketakutan tetapi Kaza tidak memerhatikannya karena dia sedang sibuk berpikir betapa dia kehilangan pelukan lengan kecil nan hangat itu.
“Kau… bukan Kara?” Sasha menanyakan pertanyaan itu dengan ragu, ekspresinya tampak takut hingga membuat Kaza menyadari bahwa entah Yesil, entah Mischa atau entah mungkin Kara sendiri telah menceritakan tentang dirinya sebagai saudara kembar Kara kepada anak ini.
Tiba-tiba pikiran Kaza dipenuhi kecemburuan ketika menyadari bahwa Sasha menghambur memeluk ketika mengira dirinya adalah Kara dan kemudian terbirit-birit ketakutan ketika menyadari bahwa dia adalah Kaza.
Padahal anak inilah yang sebenarnya monster pembunuh di balik penampilannya yang polos dan lugu serta tanpa dosa!
“Aku memang Kaza, saudara kembar Kara. Sepertinya kau telah mendengar banyak cerita tentangku, eh?” Kaza menjawab dengan nada arogan, bersedekap dan menatap Sasha seolah menantang anak perempuan itu memberi jawaban dengan jujur.
Sasha sendiri menggelengkan kepala dengan polos. “Tidak ada yang bercerita banyak tentangmu… tapi aku tahu kau selalu datang untuk marah-marah.” ujarnya lugu.
Jawaban itu membuat Kaza membelalakkan mata marah, tangannya bergerak, menuding ke arah Sasha dan berseru setengah membentak.
“Aku? Datang untuk marah-marah? Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain selain mengunjungi seorang anak kecil untuk marah-marah hah?” hardiknya keras.
Seketika Sasha meloncat hingga punggungnya menempel ke dinding, lalu menatap Kaza dengan rasa takut yang amat sangat.
“Kau… kau marah lagi,” ujar Sasha perlahan, dan ucapannya itu membuat Kaza langsung merasa bersalah.
Saat ini barulah Kaza menyadari bahwa dia telah melakukan perbuatan bodoh, datang kemari seperti manusia yang tidak punya pekerjaan lain lalu membiarkan dirinya dikuasai amarah hanya karena seorang anak kecil yang tidak berharga.
Mata Kaza melirik ke arah kaki Sasha dan mengutuk dirinya dengan segera ketika rasa lega melingkupi dirinya ketika melihat kaki Sasha yang tidak memakai gelang peledak lagi. Perasaannya campur aduk hingga membuat dada Kaza terasa penuh, dia berusaha menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian berucap kepada anak perempuan yang masih menatapnya dengan ketakutan.
“Sasha…”Kaza tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang sangat kuat dari area bawah, begitu kuatnya hingga mengguncangkan seluruh ruangan dan menciptakan getaran dahsyat yang meruntuhkan dinding-dinding bangunan.
Mata Kaza menyambar ke arah Sasha dan menyadari bahwa anak itu saat ini hampir tertimpa reruntuhan dinding yang mulai retak dan hendak jatuh tepat di atas kepalanya.Seketika itu juga, didorong oleh reflek yang bahkan tidak sempat dipikirkannya dengan logika, Kaza meloncat untuk kemudian memeluk tubuh Sasha, lalu membawa Sasha merunduk bersamanya, menggunakan punggungnya untuk melindungi Sasha dari reruntuhan bangunan.
“Apakah kau tahu bahwa desas- desus sudah menyebar ke Istana wanita di atas sana?”
Kaum wanita Bangsa Zodijak memang tidak pernah menapakkan kaki ke bumi, mereka semua berada di salah satu pesawat raksasa yang mengapung di luar angkasa tepat di atas permukaan bumi, pesawat yang khusus menampung para perempuan itu disebut dengan Istana Wanita, ukurannya cukup besar mungkin seperlima bumi, tetapi tetap saja tidak lebih besar dari pesawat induk Bangsa Zodijak yang digunakan untuk mengangkut prajurit dan kaum lelaki Bangsa Zodijak yang lebarnya hampir memenuhi bumi.
Jika pesawat itu menembus atmosfer bumi seperti ketika menurunkan seluruh prajurit Zodijak di awal kedatangannya ke bumi pada jaman dahulu, sudah pasti seluruh permukaan langit bumi akan tertutup hingga tidak menyisakan cahaya matahari menembus ke dataran bumi, menciptakan kegelapan pekat nan mencekam dan menyeramkan.
Akrep sendiri langsung membuka percakapan mengenai pembahasan itu ketika Aslan memasuki ruangan strategi tempat mereka semua biasa berkumpul. Hanya Akrep yang berada di ruangan ini sementara yang lainnya sibuk dengan urusan masing-masing. Khar dan Sevgil berada di hanggar pesawat dan senjata, menyiapkan pasukan, senjata dan juga kendaraan tempur mereka untuk menghadapi perang berikutnya, Yesil dan Kara sedang bergerak ke penjara bahwa tanah untuk menginterograsi Kale sementara Kaza sendiri tidak ketahuan sedang berada di mana.
Jika mereka berhasil menemukan informasi dari manusia yang berhasil mereka tawan, bukan tidak mungkin mereka mendapatkan lokasi musuh dan itu berarti mereka semua harus berangkat berperang dan melakukan penyergapan dengan segera.
Semula Akrep tidak setuju melakukan serangan serta penyergapan dengan segera, sebab sebagai seorang ahli strategi, dia tidak nyaman melakukan penyerangan terhadap musuh sebelum mengetahui kekuatan musuh mereka sebenarnya seperti apa.
Sebelum melakukan penyerangan ke bumi, Akrep telah melakukan penelitian dan pengamatan sejak lama, bekerjasama dengan Yesil dia meneliti seluruh kehidupan manusia bumi baik itu penghuninya, kebudayaannya, habitatnya, gaya hidupnya dan juga yang paling penting adalah kekuatan senjata dan tempur mereka.
Penyerangan Bangsa Zodijak ke bumi tidak dilakukan dengan terburu-buru, mereka menanti saat yang tepat, membuat antisipasi untuk setiap perlawanan dan merancang strategi dengan seksama.
Hasilnya tentu saja memuaskan. Memang manusia memiliki kekuatan jauh di bawah Bangsa Zodijak baik secara fisik dan teknologi dan itu memudahkan mereka, tetapi tetap saja jika mereka tidak mengenali musuh-musuh mereka terlebih dahulu, bisa saja mereka dipenuhi kepongahan dan kecerobohan sehingga malahan dikalahkan.
Hasil dalam peperangan tidak bisa ditulis di atas kertas, semuanya harus terjadi di dunia nyata dan dalam dunia nyata, kemungkinan apapun bisa terjadi, tidak ada yang absolut dalam peperangan, kalah dan menang tidak mungkin bisa ditebak.
Khar dan Sevgil, bahkan didukung oleh Yesil serta Kara dan tak lupa Aslan meyakinkannya bahwa penyerangan ini adalah jalan terbaik. Mereka akan mencari informasi dari manusia yang berhasil di tawan dan semoga saja informasi itu bisa membantu mereka untuk mengenali musuh mereka sedikit lebih dalam.
Jika memang yang dikatakan oleh Yesil benar dan musuh yang mereka hadapi adalah Imhotep, maka mereka harus sangat berhati-hati.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Imhotep merupakan salah satu Bangsa Zodijak yang paling murni yang masih tersisa sementara yang lainnya telah kehilangan keabadiannya seiring dengan menurunnya dan musnahnya air suci Zodijak dari planet mereka.
Imhotep telah hidup ribuan tahun sebelum mereka semua dilahirkan dan itu berarti bahwa Sang Penyembuh memiliki pengalaman serta pengetahuan yang jauh lebih besar daripada mereka semua. Dan itu berbahaya, ada hal-hal yang masih belum mereka tahu sebagai Bangsa Zodijak muda sehingga mereka tidak boleh meremehkan Imhotep.
Jika memang benar Sang Dokter adalah Imhotep, kenapa dia memutuskan melawan bangsanya sendiri? Benarkah alasan sepele karena merasa dikucilkan sebagai anomali yang berbeda yang mendorong itu semua? Ataukah Imhotep memiliki tujuan lain?