
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira.
Mischa melalui lorong demi lorong gerbong kereta, mencoba mencari jalan keluar dalam kepanikan dan ketakutan luar biasa.
Semua gerbong yang dilaluinya memang terkunci, sudah sejak lama tidak dibuka hingga besi penguncinya berkarat dan tidak bisa digeser sedikit pun.Tatapan Mischa begitu panik ketika memindai semua pintu yang dilaluinya untuk mencari jalan keluar. Sayangnya semua pintu itu tertutup rapat, bahkan jendelanya juga berteralis dan tak bisa digeser.
Pintu keluar kelompok mereka memang hanya satu, dan itu harus melalui gerbong ruang makan, padahal Mischa sudah mengunci makhluk mengerikan itu di dalam sana.
Dia harus menemukan jalan keluar lain. Segera!
Mischa mempercepat langkah, membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Dia tahu bahwa mengunci Bangsa Zodijak dalam sebuah ruangan berpintu baja sekalipun hampir tidak ada gunanya. Bangsa Zodijak memiliki kekuatan super yang mengerikan. Mereka hampir sama seperti superhero-superhero yang ada di kisah rekaan masa lampau, memiliki kekuatan yang tak terbatas yang hampir tidak mungkin dilawan oleh manusia biasa.
Sekarang lelaki Zodijak yang mengaku bernama Alan itu sedang berburu, dan Mischa adalah buruannya, hidangan penutupnya.Bangsa Zodijak senang berburu manusia. Bukan untuk dimakan, karena setahu Mischa, Bangsa Zodijak sangat pemilih dalam hal makanan, dan manusia bukan salah satu yang mereka anggap lezat.
Bangsa Zodijak memburu manusia untuk dibunuh, harga nyawa manusia direnggut dan dihempaskan hanya untuk bersenang-senang.
Mischa berusaha menahan air mata yang merangsek ingin keluar ketika dia teringat teman-teman di kelompoknya. Darah yang tadi berceceran dan disentuh dengan tangannya itu sudah pasti adalah darah mereka. Mereka semua mati karena kesalahannya yang membawa masuk Alan ke dalam tempat persembunyian.
Bahkan Sasha… apakah Sasha juga menjadi korban? Dia masih begitu kecil, begitu tak berdaya… Bisakah Mischa mencari tahu seperti apa kondisi Sasha sekarang?
Rasa bersalah yang menggayuti hati Mischa membuatnya tak mampu menahan air mata. Dihelanya napas dalam-dalam sementara langkahnya terus melaju dan matanya terus memindai mencari jalan keluar.
Pikiran Mischa sendiri berkecamuk, membayangkan nasibnya nanti. Apa yang dia katakan sebelumnya pada Alan ketika menyangka bahwa Alan adalah manusa biasa dan dia mengajak lelaki itu bergabung, adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Manusia pada masa ini tidak akan bertahan hidup sebagai Kaum Penyelinap jika mereka sendirian. Untuk mempertahankan diri, mereka harus hidup berkelompok, lalu saling bahu membahu untuk mencari kebutuhan hidup menyangkut makanan, perlindungan, dan juga saling menjaga keamanan satu sama lain.
Sekarang seluruh anggota kelompoknya – jika memercayai apa yang dikatakan oleh Alan tadi – sudah dibunuh. Sedangkan Mischa tidak mengetahui kelompok lain tempat dia bisa berlindung.
Masing-masing kelompok Kaum Penyusup memang bergerak sendiri-sendiri, tidak saling berkomunikasi dan bahkan kadang hampir tidak pernah berjumpa atau berpapasan karena mereka selalu bergerak diam-diam di bawah tanah.
Bagaimana Mischa bisa menemukan mereka dan meminta bantuan?
Mischa mengusap air mata ketika membuka satu pintu yang menghubungkannya dengan gerbong terakhir. Semua itu akan dipikirkannya nanti. Saat ini dia bahkan tidak yakin bisa keluar hidup-hidup dari pengejaran Alan, bangsa Zodijak yang sedang mengejarnya.
Mata Mischa tertuju pada sebuah lubang udara yang berada di bagian bawah gerbong terakhir yang merupakan harapan satu-satunya. Gerbong terakhir itu buntu, dan Mischa tidak mungkin berbalik arah untuk kembali memindai jalan keluar, karena kemungkinan besar Alan sudah mengejar di belakangnya.
Mischa mencoba mendorong pintu seng tebal yang menutup lubang udara itu. Sayangnya usahanya tidak berhasil karena tangannya terlalu kurus dan tenaganya terlalu lemah. Akhirnya, karena putus asa, Mischa menjejakkan kakinya yang memakai sepatu kain compang camping untuk menendang pintu saluran udara itu berkali-kali.
Beberapa kali Mischa menendang hingga napasnya terengah, sementara dirinya mulai merasakan firasat tak enak melingkupinya, seseolah ada sesuatu yang mendekat, sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya berdebar dengan amat kencang. Firasat ini membuatnya benar-benar merasa seperti hewan buruan, seperti kelinci kecil yang berada di rantai makanan paling bawah, berusaha bertahan hidup dari kejaran seekor singa yang sedang tidak ingin makan, tapi ingin bermain-main sebelum membunuhnya demi kesenangan.
Akhirnya, dorongan untuk mempertahankan dirilah yang memberinya tambahan tenaga di sela keputusasaan. Mischa menarik napas panjang, menyerap seluruh kekuatannya yang tersisa sebelum kemudian mendorongnya keluar dalam bentuk sebuah tendangan penuh semangat, menjejakkan kakinya sekuat tenaga menghantam pintu saluran udara itu.
Mischa terperangah, sejenak tidak menyangka bahwa tendangannya kali ini berhasil. Sekarang di depannya telah terpampang lubang yang cukup untuk dilalui oleh manusia. Udara dingin langsung menampar wajah Mischa, berhembus kencang dan membuat Mischa tersadar dari keterpakuannya.
Mischa langsung membungkuk, bersyukur karena tubuh kurusnya akibat kekurangan makanan ternyata memiliki guna juga, membuatnya bisa masuk ke dalam lubang saluran udara ini dengan mudah. Dalam kondisi telungkup, menggunakan siku dan lengan sebagai penopang untuk bergerak maju, Mischa mulai merayap melalui lantai besi saluran udara yang dingin, berusaha tetap fokus menembus kegelapan.
Akhirnya, Mischa sampai di ujung lorong, bertemu kembali dengan penutup saluran udara luar berbentuk teralis tipis yang terpaku dengan empat baut yang sudah berkarat di empat sudutnya.Mischa menggertakkan gigi, sekali lagi berusaha menghela kekuatan dengan menumpukan tenaga ke kedua lengan. Karena dalam kondisinya yang merayap seperti ini, Mischa jelas-jelas tidak bisa menggunakan kakinya untuk menendang.
Didorongnya penutup luar itu sekuat tenaga, membuat keringatnya bercucuran bahkan ketika udara sedang dingin-dinginnya.
Lalu entah karena keberuntungan, entah karena baut penahan penutup saluran udara itu sudah lapuk, penghalang itu terbuka, menghantarkan udara luar yang menawarkan harapan.Mischa langsung mendorong tubuhnya merayap keluar, terloncat dari dalam saluran udara dan menjatuhkan tubuh ke tanah.
Tubuh Mischa terasa sakit karena terbanting begitu keras, tapi tidak ada waktu untuk mengaduh, Mischa langsung bangkit, terloncat berdiri dan menyeberangi rel kereta tempat gerbong persembunyian kelompoknya itu berada, memanjat naik ke koridor stasiun yang dulunya dipakai sebagai ruang tunggu penumpang sebelum menaiki kereta bawah tanah, dan berlari secepat yang dia bisa untuk menyeberangi stasiun kereta bawah tanah itu.
Keheningan benar-benar menyergap malam ini, menguasai hingga tidak menyisakan satu suara pun untuk memecahnya. Keheningan ini juga membatasi gerakan Mischa karena dia tidak bisa menghentakkan kakinya keras-keras, takut bebunyian itu akan didengar oleh Alan yang pasti sudah mengejarnya. Beruntung sepatu Mischa terbuat dari bahan kain dengan sol karet tebal tetapi empuk. Hal itu membuat suara langkah Mischa sedikit teredam ketika Mischa berlari menaiki tangga stasiun bawah tanah yang hancur dan ditinggalkan itu untuk mencari tempat bersembunyi.
Naik ke permukaan ketika dini hari seperti ini bukanlah keputusan yang bijak. Karena biasanya malam hari akan ada perburuan dari prajurit-prajurit Zodijak untuk mencari dan memburu kaum penyelinap yang sedang sial berkeliaran keluar untuk kemudian tertangkap.
Posisi Mischa saat ini serba salah, jika dia tetap berada di bawah tanah, dia akan menjadi mangsa empuk bagi Alan, tapi jika dia naik ke permukaan, bukannya tidak mungkin dia akan bertemu Bangsa Zodijak lain dalam jumlah lebih banyak.
Satu-satunya jalan adalah berada di tengah-tengah, bersembunyi dan menunggu hingga terang tanah tiba sambil berharap Alan bosan mencarinya tanpa berhasil menemukan, lalu pergi.Mischa melirik ke kiri dan ke kanan, kegelapan ini membuatnya susah bergerak.
Dirinya sebagai manusia biasa memang tidak sebanding dengan Bangsa Zodijak. Bangsa Zodijak diciptakan sebagai predator yang berada di puncak rantai makanan. Mereka memiliki kekuatan luar biasa, bisa bergerak cepat layaknya predator kelas tinggi, bahkan dilengkapi dengan pendengaran, penciuman dan pengelihatan luar biasa.
Kegelapan seperti ini bukanlah masalah bagi Bangsa Zodijak.
Mischa memang memiliki pengetahuan cukup mengenai Bangsa Zodijak, karena ayahnya dulu adalah salah satu peneliti, yang mencoba memahami dan mempelajari musuh asing mereka dari berbagai sampel yang bisa didapatkan. Sayangnya laboratorium tempat penelitian ayahnya dimusnahkan dan semuanya dibunuh, termasuk ayahnya. Membuat Mischa jadi tidak punya siapa-siapa lagi, memaksa Mischa bertahan hidup sendirian di sela kehancuran yang susul menyusul kemudian.
Mischa meraba-raba, lalu menemukan sebuah pintu kecil di dinding. Itu seperti pintu untuk penyimpanan alat-alat kebersihan di masa lampau, hanya satu ruangan kecil yang cukup untuk meletakkan ember dan berbagai tongkat pel di dalamnya. Pintu yang sempit dan kecil itu membuat Mischa sekali lagi bersyukur akan kekurusan tubuhnya, dia membuka pintu itu, menyelinap masuk sambil mengunci pintu itu kembali dari dalam, dan duduk sambil memeluk kedua lutut dalam keheningan yang menakutkan.
Sekelilingnya gelap, pekat, ditambah kesunyian menyeramkan yang membuat Mischa bahkan bisa mendengar debaran jantungnya sendiri, membuatnya terpaksa bergerak pelan-pelan untuk menahan tangan di dada supaya debar jantungnya teredam.
Bersembunyi dari Bangsa Zodijak sangatlah sulit, mereka bisa mendengar gerakan sekecil apapun, bisa melihat menembus kegelapan dan bahkan bisa mengendus bau mangsa dari kejauhan. Yang bisa dilakukan oleh Mischa hanyalah memejamkan mata, bernapas pelan-pelan dan teratur, menjaga supaya hawa tubuhnya tidak menguar dan mencoba tidak bergerak sedikitpun.
Sungguh dia berharap makhluk buas itu tidak menemukannya….
Kadang Mischa bingung untuk apa dia bertahan hidup sekuat tenaga seperti ini. Bertahan sendirian dalam kekosongan dan kepedihan hati melihat kehancuran yang tumpuk menumpuk di sekelilingnya. Ada saat-saat dimana dia ingin menyerah, ingin mati saja, saat-saat seperti sekarang inilah... ketika pikirannya dipenuhi oleh ketakutan akan kematian yang menyongsong jiwanya.
﴿﴿◌﴾﴾
Kelinci kecil yang lincah…
Aslan berjalan perlahan, mengendus udara di sekelilingnya, membaui aroma manis menyenangkan yang sepertinya adalah aroma khas perempuan itu karena dia tidak pernah menemukan aroma seperti ini sebelumnya.
Senyum tipis terukir di bibir Aslan, senyum penuh kepuasan karena malam ini sepertinya dia akan mengalami perburuan yang menyenangkan.
Aslan suka buruan yang lincah, mencoba lari dan bersembunyi tanpa menyerah. Aslan sudah bosan menghadapi manusia-manusia yang penakut dan memuakkan, berlutut menyerah lalu memohon belas kasihan untuk nyawa mereka.
Meskipun sebenarnya, bersembunyi dan melarikan diri juga tidak akan ada gunanya.
Jika sudah menentukan buruannya, maka Bangsa Zodijak tidak pernah gagal menangkap mereka, denyut jantung penuh ketakutan dan aroma mangsa yang makin menguat ketika mereka terdesak adalah salah satu kelemahan para buruan, membuat mereka semua mudah ditangkap.
Perempuan itu berhasil melarikan diri keluar dari gerbong…
Aslan berdiri tegak sementara sepatu bootnya yang dilapisi bahan kuat mengkilat menggeser penutup saluran udara itu sambil lalu. Diangkatnya sebelah tangan untuk menyentuh permukaan dinding gerbong yang menghalangi, dan dalam satu detik yang singkat, seluruh dinding gerbong itu terlepas dari rangkanya, terlontar jatuh dengan suara berdebam keras yang memekakkan telinga.
Aslan sengaja melakukan itu, tahu bahwa suara keras tersebut akan menembus kesunyian dan sampai ke telinga mangsanya, membuatnya semakin ketakutan sehingga semakin mudah ditemukan. Sekali lagi Aslan menghirup udara di depannya dengan tenang, tidak melepaskan senyuman dari bibirnya.
Aroma manis itu terhidu semakin kuat seiring dengan rasa takut yang mungkin makin kuat mencekik mangsanya.
Aslan meloncat dari gerbong itu, mendarat di barisan rel kereta di dalam lorong gelap tak berujung, lalu memutuskan naik ke lantai atas koridor stasiun, mengikuti aroma manis yang dihirupnya. Kegelapan tak berarti baginya karena matanya bisa melihat dengan sama baiknya entah itu gelap ataupun terang.
Tanpa terburu-buru, Aslan lalu berjalan tenang menaiki tangga untuk kemudian menghentikan langkahnya ketika sampai di puncak tangga.Aroma manis menguar makin kuat di sekelilingnya, dan Aslan yakin anak perempuan itu ada di sini, berusaha bersembunyi dari pandangannya dengan sia-sia.
Mata Aslan menyisir seluruh ruangan di depannya, dan dia menyeringai ketika menemukan sebuah pintu kecil yang tertutup rapat di satu sisi tembok. Di balik pintu itu, dia mendengar denyut kehidupan yang menanti untuk ditemukan.