
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
***
Mereka memberikan minuman untuk Mischa.
Mischa semula menolak mentah-mentah, tetapi para budak tanpa ekspresi dan tanpa jiwa itu lalu mencengkeram dirinya dan memaksanya minum dengan kasar sehingga cairan berwarna biru gelap dengan rasa manis getir itu mengalir paksa ke tenggorokannya, bahkan sebagian tumpah membasahi pakaiannya.
Setelah cairan itu diminumkan, Mischa merasa tubuhnya begitu kaku, tidak bisa bergerak sesuai keinginannya seolah -olah perintah yang dikirimkan ke otaknya tidak bisa diterjemahkan oleh tubuhnya.
Seluruh perasaannya hanya bisa dilihat dari matanya yang bersinar panik, kebingungan karena tidak bisa menggerakkan tubuhnya sesuai kemauannya.
Akhirnya Mischa hanya bisa pasrah ketika dirinya dibawa ke kamar mandi, dimandikan dengan minyak beraroma harum yang menempel dan meresap di setiap pori-pori tubuhnya, membuat kulitnya menguarkan aroma wangi nan menggoda.
Sebuah gaun panjang berwarna biru muda sudah menanti Mischa ketika dia selesai mandi dan tubuhnya dikeringkan tanpa daya, warna gaun itu muda hingga menyaru dengan warna putih.
Gaun itu berbahan sama dengan gaun yang diberikan untuk Mischa sebelumnya, bahan yang halus, kain milik Bangsa Zodijak yang begitu indah membalut tubuh.
Mischa masih tidak bisa berbuat apa-apa ketika dirinya dipakaikan gaun itu, lalu rambutnya yang semula kusut karena hampir tidak mengenal air pada masa-masa sebelumnya dikeringkan setelah dicuci dengan cairan khusus, dijalin dengan lembut hingga bagian depan membingkai wajahnya dengan cantik dan bagian belakang tergulung dengan sempurna.
Tak lama kemudian, tepat setelah para budak itu menyelesaikan apapun yang mereka lakukan pada Mischa, pintu pun terbuka dan seorang budak laki-laki muncul, mengatakan perintah untuk penjemputan Mischa, karena sudah waktunya untuk upacara kontrak perjanjian pernikahan.
Mata Mischa membelalak mendengarnya dan tahulah dia bahwa apapun yang dikatakan Aslan sebelum lelaki itu pergi tadi, mengenai hal tidak masuk akal bahwa lelaki itu akan mengikatnya dengan kontrak pernikahan, ternyata bukanlah main-main.
Dia didandani karena malam ini juga – seperti yang dikatakan oleh Aslan – dirinya akan terikat oleh kontrak pernikahan dengan Aslan, si singa yang kejam dan menyeramkan
Mischa mencoba menguatkan diri untuk meronta ketika tubuhnya yang tidak berdaya dibimbing untuk berdiri, lalu setengah diseret dibawa melangkah keluar dari ruangan, melalui lorong-lorong berpenjagaan ketat, hingga akhirnya sampai ke sebuah pintu besar mengerikan, semengerikan dengan apa yang mungkin ada di baliknya.
﴿﴿◌﴾﴾
Ketujuh pemimpin Bangsa Zodijak sudah berkumpul tanpa kecuali, bahkan Kara yang memasang wajah cemberut karena tidak setuju pun terpaksa hadir di ruangan ini karena Kaza, saudara kembarnya sendiri yang menjemputnya dan menjelaskan bahwa bagaimanapun juga, Kara adalah Bangsa Zodijak yang harus tunduk pada apapun yang diperintahkan oleh pemimpin mereka, setidak setuju apapun hatinya.
Aslan adalah pemimpin mereka, karena sesuai dengan peraturan Bangsa Zodijak, yang terkuatlah yang akan menjadi pemimpin dan harus dipatuhi, dan Kara, meskipun dia termasuk dari ketujuh pemimpin tertinggi. Bangsa Zodijak, tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah pernikahan yang telah disetujui oleh Aslan sendiri.
Semuanya memakai pakaian resmi, berupa pakaian yang berpadu dengan jubah panjang berwarna hitam legam yang membungkus tubuh mereka dengan elegan. Hanya Khar yang memakai pakaian berbeda, lelaki itu mengemban kedudukan sebagai pendeta besar Bangsa Zodijak, yang berarti seluruh upacara besar menyangkut adat dan kebiasaan resmi Bangsa Zodijak ada di bawah kepemimpinannya.
Ada banyak pendeta untuk melayani berbagai upacara resmi seperti upacara kematian, kelahiran dan kontrak pernikahan bahkan upacara persiapan perang di Bangsa Zodijak, dan seluruh pendeta itu berada di bawah naungan Khar sebagai pendeta tertinggi mereka.
Dan malam ini, Khar bersiap untuk memimpin kontrak pernikahan yang sangat penting karena merupakan kontrak pernikahan pemimpin Bangsa Zodijak sendiri, kontrak pernikahan Aslan dengan manusia perempuan yang diduga merupakan perwujudan dari dewi air yang sangat penting bagi kejayaan Bangsa Zodijak.
Aslan sendiri baru saja tiba setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian resmi kenegaraannya. Meskipun diputuskan dengan terburu-buru dan didominasi oleh keputusan impulsif yang didorong oleh berbagai dugaan yang belum bisa dibuktikan, tetap saja upacara kontrak pernikahan Bangsa Zodijak merupakan upacara sakral nan penting yang secara mendalam dihormati oleh siapapun yang memiliki darah Zodijak.
Ekspresi Aslan amat muram ketika melangkah berdiri di depan bejana tinggi yang sudah disiapkan sebelumnya. Khar sudah menunggu di sana, siap untuk melaksanakan upacara yang hanya dihadiri oleh tujuh bersaudara, dan saat ini mereka semua tinggal menunggu pengantin perempuan tiba.
Sebenarnya manusia perempuan kurus itu tidak perlu disiapkan.
Aslan tanpa sadar mencibir ketika membayangkan Mischa. Perempuan itu didandani seperti apapun hanya akan menjadi perempuan kurus yang menyedihkan, selalu melawan dan memberontak padahal tidak punya daya upaya.
Tetapi entah kenapa perempuan itu bisa menyulut diri Aslan… menyulut hasratnya yang tidak pernah dia bayangkan akan terbangun oleh manusia perempuan, kaum rendahan yang seharusnya tidak pantas untuk menerima perhatiannya.
Membayangkan bahwa malam ini dirinya harus memanen manusia perempuan itu sebagai syarat sah-nya ikatan kontrak pernikahan ini, membuat diri Aslan dipenuhi rasa antisipasi yang bahkan tidak bisa diterjemahkan oleh dirinya sendiri…
Lamunan gusar Aslan tidak berlanjut karena pintu itu tiba-tiba terbuka dan dua orang budak masuk sambil membawa Mischa memasuki ruangan. Semua kepala menoleh, menatap tajam ke arah pengantin bertubuh pasrah yang tidak sesuai dengan sorot matanya yang memberontak, dan Aslanlah yang paling terpesona.
Matanya terpaku pada Mischa, yang mengenakan gaun berwarna biru pucat yang nyaris putih.
Gaun itu panjang, tampak indah membalut tubuhnya nan kurus. Rambut Mischa ditata dengan cantik, membingkai wajahnya dengan bagian belakang digulung rapi, menampilkan kulit lehernya yang saat ini terlihat lebih bercahaya dari sebelumnya.
Mata Aslan sendiri langsung terpaku pada tanda kepemilikannya yang terpatri jelas di leher Mischa.
Seketika darah Aslan terasa mendidih, menahankan dorongan bergolak di dalam dirinya untuk merangsek maju, memanggul perempuan itu di pundaknya dan membawanya ke kamar untuk langsung memanennya.Aslan menggertakkan gigi dan memejamkan mata sejenak untuk menahan dorongan primitif yang menguasai dirinya.
Ketika dia membuka mata, barulah dia menyadari keanehan yang meliputi diri Mischa. Perempuan itu tampak menurut, berbeda dengan biasanya yang selalu memberontak dan melawan meskipun matanya berlawanan arah dengan gestur tubuhnya yang menurut.Aslan menolehkan kepala ke arah Akrep dengan pandangan mencela.
“Kau memberinya minuman itaatkâr?” tanya Aslan meskipun dia sudah tahu jawabannya.
Minuman itaatkâr adalah ramuan khas Zodijak yang digunakan untuk memaku tubuh supaya tidak bisa bergerak semaunya. Biasanya digunakan pada tawanan Bangsa Zodijak sendiri yang membelot.
Akrep tampak tidak terpengaruh dengan tatapan mencela yang diberikan oleh Aslan, malahan balas melemparkan tatapan mencela yang sama,
“Gigitanmu tidak bisa membuatnya menjadi budak dan menurut, padahal kita tidak bisa memborgol calon pengantin perempuan, bukan? Jadi aku terpaksa menggunakan minuman itaatkâr supaya upacara pengikatan kontrak pernikahan ini bisa berjalan lancar tanpa drama berarti,” jawabnya tenang.
Aslan menyeringai, ingin mencela tapi tidak bisa karena dirinya menyadari kebenaran di balik kata-kata Akrep.
“Aku bisa menaklukkan perempuanku sendiri,” dengus Aslan dingin, lalu mengalihkan tatapan matanya kembali ke arah Mischa.
Perempuan itu seperti ingin menangis, matanya berkaca-kaca ketika Aslan mengulurkan tangan dan budak-budak itu pun menyerahkan tangan Mischa ke dalam genggaman tangan Aslan.
Tanpa kata, Aslan menarik pinggang Mischa supaya merapat ke arahnya, berdiri di depan bejana berisi air suci Zodijak yang telah disiapkan.
“Kurasa kita sudah bisa memulai upacaranya,” Khar berucap tenang, ekspresinya terlihat serius, karena upacara kontrak pernikahan adalah upacara sakral yang sangat penting.
“Брачный договор является пожизненное обеты, которые связывают две жизни …” sebuah kalimat serupa mantra mengalun dari bibir Khar, menciptakan suasana magis yang melingkupi ruangan yang semula hening itu. Ketujuh pemimpin Bangsa Zodijak mengambil posisi, berdiri melingkari bejana dengan ekspresi serius dan mata dingin.
Mischa mendongakkan kepala, mencoba memahami mantra yang mengalun itu, tetapi otaknya tetap saja tidak bisa menerjemahkan apa yang didengar oleh telinganya. Akhirnya Mischa pasrah karena memang tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukannya.
Tubuhnya tidak bisa digerakkan, berdiri merapat dengan pinggang mungilnya dicengkeram oleh lengan Aslan yang begitu kuat menahan dirinya.
Mantra itu dialunkan dengan panjang dan semua tampak begitu khidmat mendengarkan, sampai kemudian Khar berhenti dan memberi isyarat kepada Aslan.
Aslan langsung mengambil air suci Zodijak dengan kedua tangannya, lalu menangkupkan tangannya yang basah ke kepala Mischa yang tidak bisa menolak. Kemudian Aslan menundukkan kepala untuk mengecup tanda milik Aslan di leher Mischa, hal itu menyebabkan rasa panas langsung menjalar di sana menyebar ke seluruh tubuh Mischa.
“Milikku.”
Aslan mengucapkan kepemilikannya dengan lantang layaknya sebuah mantra tak terbantahkan .Lalu Aslan mengambil air itu kembali, memasukkannya ke dalam mulut dan dengan gerakan cepat meraup kedua pipi Mischa dengan kedua telapak tangan untuk kemudian mendongakkan perempuan itu dan menciumnya.
Ciuman itu sekaligus memaksakan Mischa ikut meminum air suci yang sama, seperti yang diminum oleh Aslan, dari mulut Aslan.
Mischa terkesiap, berjuang untuk menggerakkan tubuh meskipun sia-sia karena tubuhnya masih berada di bawah pengaruh minuman aneh yang dipaksakan kepadanya tadi, pun dengan Aslan yang kali ini memeluknya erat-erat, sambil menciumnya, seolah lupa diri dan juga melupakan kehadiran saudara-saudaranya di ruangan ini yang hanya bisa melihat dengan canggung.
Lama kemudian, ketika Aslan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan ciumannya ke bibir Mischa, Akrep akhirnya mengambil sikap. Lelaki itu berdehem beberapa kali, sempat diabaikan, lalu berdehem kembali tanpa menyerah, kali ini dengan suara lebih keras.
Suara yang ditimbulkan oleh Akrep terdengar di telinga Aslan, mengembalikan kesadarannya yang tadi sempat hilang. Aslan melepaskan bibirnya dari bibir Mischa yang langsung megap-megap mencari udara sementara dirinya tertegun, menatap bibir Mischa dan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyerah pada godaan mencium Mischa lagi.
Aslan mengangkat kepala, masih memeluk erat Mischa dengan lengannya dan menatap marah pada Akrep.
“Ada apa? bukankah upacara pengikatan kontrak pernikahan sudah selesai?” geramnya serak.
Upacara pengikatan kontrak pernikahan memang diakhiri dengan pembasuhan air suci ke kepala pengantin perempuan untuk kemudian pengantin laki-laki memberikan air dari dirinya kepada perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Setelah itu, keseluruhan prosesi pernikahan ini hanya bisa dituntaskan ketika Sang lelaki Zodijak memanen istrinya, menciptakan ikatan erat nan sakral yang tidak akan bisa dipisahkan oleh siapapun juga sampai Sang Istri melahirkan keturunan dan siap melepaskannya ketika sudah cukup usia.
“Mungkin kau ingin menyelesaikan seluruh ritual di peraduanmu sendiri?” Akrep mengusulkan dengan hati-hati, tidak mau menyulut kemarahan Aslan.
Aslan termenung, matanya menatap saudaranya satu-persatu, dan terpaku lebih lama ke arah Kara, yang memilih berdiri agak jauh, di bawah bayang-bayang, tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya atas perlakukan Aslan kepada Mischa.
Rasa posesif langsung memenuhi diri Aslan, seolah terancam karena ada lelaki lain yang menginginkan perempuannya. Dengan gerakan cepat, Aslan mengangkat Mischa yang masih belum bisa bergerak untuk kemudian memanggulnya di pundaknya.
“Ide bagus,” jawabnya ke arah Akrep sambil tak lupa melemparkan tatapan mengejek ke arah Kara yang tidak bisa menyembunyikan ketegangan di tubuhnya. “Aku akan memanen istriku dan mengikatnya dengan kuat. Begitu seluruh prosesi ini selesai, maka tidak akan ada yang mempunyai kesempatan untuk menyelinap di belakang punggungku,” kata-kata itu berupa ancaman yang dihunuskan kepada seluruh saudaranya, khususnya untuk Kara yang sudah pasti merasa.
﴿﴿◌﴾﴾