
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Mereka semua mendarat dengan mulus dan tanpa kendala berarti. Akrep memerintahkan pasukan yang dibawanya untuk tetap menunggu di dalam pesawat sebelum mereka memberikan perintah strategi lebih lanjut dan lelaki itu lalu turun dari pesawat dengan diikuti oleh Kaza dan Khar untuk menemui Aslan dan Sevgil yang telah menunggu.
“Sepertinya mereka semua belum menyadari kedatangan kita,” ucap Akrep sambil memandang sekeliling dengan waspada. Mereka semua berlindung di bawa bebatuan gurun yang menjorok melingkupi dan menutup tubuh dengan jubah kamuflase yang merubah warna pakaian mereka serupa lingkungan sekitar.
Karena saat ini mereka berada di tengah padang pasir, pakaian mereka berubah menjadi sewarna pasir dan menyaru dengan sekeliling hingga sulit dideteksi dengan mata telanjang dari jarak dekat sekalipun.
“Karena Sang Dokter tidak menyadari bahwa kita memiliki Vladimir, dia pasti tidak menyangka kita akan menemukan lokasi persembunyiannya semudah ini,” Aslan menjawab cepat dan memandang sekeliling dengan waspada. “Pintu masuk ada di belakang bukit itu.” tunjuknya tenang, “Setidaknya itu adalah pintu masuk yang selalu digunakan oleh Vladimir untuk memasuki markas. Tetapi dari pengelihatanku, pintu itu dijaga ketat oleh banyak pasukan bersenjata.”
Akrep mengerutkan kening, “Jika mereka menggunakan senjata dengan peluru racun darah Natasha, maka akan sangat berbahaya bagi kita dan seluruh pasukan. Kekuatan kita tidak akan ada gunanya, kita akan dilumpuhkan dengan mudah dan mereka akan berada di atas angin,” ujarnya memberi pendapat.
Aslan menganggukkan kepala sementara saudara-saudaranya yang lain memasang eskpresi setuju atas apa yang dikatakan oleh Akrep.
“Kalau begitu kita harus mencari jalan keluar lain. Jalan yang bisa kita masuki tanpa ketahuan. Tempat persembunyian sebesar ini pasti memiliki pintu belakang untuk pembuangan limbah dan sampah. Kita akan memindai dan mencari itu sebagai jalan masuk,” ujar Aslan akhirnya sebelum kemudian menoleh ke arah saudara-saudaranya sebelum kemudian mulai memberikan instruksi sesuai keahliannya mengatur strategi penyerangan.
“Aku dan Akrep akan mencari jalan masuk dan menilai situasi. Kami akan memasuki area tanpa ketahuan. Kaza, kau berjaga di dekat pintu utama tempat persembunyian ini dengan pasukanmu dan menunggu instruksi selanjutnya dari kami. Sedangkan Khar, ketika kami menemukan pintu masuk lewat belakang, kau bawa pasukanmu di sana untuk melakukan penyergapan dari dua sisi. Sementara Sevgil, kau bertugas memimpin komando pasukan pesawat penyerang tak kasat mata dari udara untuk menyerang dari atas,” Aslan melirik ke arah Akrep dan memberi isyarat. “Ayo. Kita harus menemukan pintu belakang itu. Aku harus menemukan Mischa, dia pasti sedang kelaparan sekarang,” ujarnya tegas sambil membalikkan badan yang langsung diikuti oleh Akrep di belakangnya.
Mischa mendengar suaranya dan matanya yang tadinya terpejam langsung membuka lagi. Ditatapnya ekspresi Imhotep yang menatap jarum di tangannya dengan tertegun bercampur keterkejutan seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya.
“Tidak mungkin. Ini adalah jarum yang diciptakan untuk kulit Bangsa Zodijak paling keras sekalipun. Tidak mungkin gagal menembus kulitmu, kau berada dalam cangkang manusia biasa, begitupun dengan kulitmu…” Imhotep mengucapkan ketidakpercayaannya, dan sejenak segala keyakinan yang seolah menjadi pondasi kekuatannya runtuhlah sudah.
Misca sendiri mengerutkan kening ketika matanya memandang jarum suntik yang patah ketika didorong untuk menembus kulitnya. Sama bingungnya dengan Imhotep, Mischa tidak memiliki jawaban atas apa yang baru saja terjadi.
“Tidak mungkin…” Imhotep menatap Misca dengan pandangan menuduh. “Aku menciptakanmu. Apapun yang terjadi pada tubuhmu, semua akibat modifikasi yang kulakukan pada tubuh manusiamu yang telah kuperhitungkan dengan sangat seksama. Kau tidak diciptakan dengan kulit kuat yang tak tertembus, aku tidak membuatmu begitu.Apa yang membuat kulitmu jadi begitu?” Imhotep membelalakkan mata dengan marah seolah merasa dicurangi, dadanya naik turun ketika mengucapkan kecurigaannya. “Apakah Yesil melakukan eksperimen pada tubuhmu? Memodifikasi tubuhmu dan merusak karya ciptaku?” serunya setengah berteriak.
Mischa hampir saja menggeleng refleks ketika mendengar pertanyaan itu, karena dia yakin sekali bahwa Yesil sama sekali tidak melakukan modifikasi apapun pada tubuhnya. Lagipula Mischa tidak merasa ada yang berubah pada dirinya sehingga sudah sepantasnya dia membunuh kecurigaannya kepada Yesil.
Lalu tiba-tiba perut Mischa berbunyi keras, pertanda lapar meminta makan. Suaranya menggema di ruangan tertutup yang dingin dan sepi itu.
Dan Mischa langsung menunduk menatap perutnya, menyadari akan kehadiran kehidupan lain di dalam tubuhnya yang sepertinya baru saja menggeliat bangun dan meminta asupan makanan.
Sayangnya tatapan matanya diikuti oleh Imhotep yang terperangah seolah tak percaya dengan pemikiran yang bertumbuh di dalam jiwanya.
“Kau hamil? Kau bisa hamil anak Aslan?” Imhotep menyerukan ketidakpercayaan kuat dalam teriakannya yang membahana. “Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin terjadia! Aku tidak membuat tubuhmu bisa mengandung anak Aslan. Seharusnya kau tidak hamil anaknya! Seharusnya kau tidak bisa mengandung anak Aslan! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?! Bagaimana bisa Aslan membuahimu?” Imhotep meneriakkan pemikirannya sambil melangkah mondar mandir mengelilingi ruangan dengan frustasi.
Sementara Imhotep tampak melampiaskan kebingungannya dengan langkahnya yang menghentak dan teriakan frustasi yang memenuhi ruangan, Mischa malahan menatap perutnya sendiri, sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam jiwanya yang bertumbuh setelah dia menyadari keberadaan bayinya.
Tadi karena terlalu tegang dalam tawanan Imhotep, Mischa hampir-hampir melupakan kenyataan bahwa dirinya sedang mengandung anak Aslan.
Anak ini sekarang pasti sedang kelaparan. Aslan telah menjelaskan kepadanya bahwa mengandung anak Bangsa Zodijak akan membuatnya kelaparan karena anaknya meminta asupan makanan dalam jumlah banyak untuk membangun kekuatan.
Dan entah sudah berapa lama waktu terbentang sejak Mischa mendapatkan asupan makanan untuk bayinya…
Suara gemuruh di dalam perutnya yang terdengar sekali lagi membuktikan bahwa anak di dalam perut Mischa sedang memprotes meminta makanan, dan jika saja Mischa bisa mengelus perutnya, pastilah dia ingin melakukannya untuk menenangkan anaknya itu. Tetapi saat ini kedua tangan Mischa terborgol sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Mata Mischa melirik ke arah Imhotep yang tampak frustasi dengan tatapan gelisah. Tanpa sadar sudut mata Mischa menyambar jarum suntik yang patah itu dan kembali hatinya bertanya-tanya
Apakah dengan mengandung anak Aslan, tubuhnya berubah bahkan menjadi lebih kuat dari Bangsa Zodijak? Karena Imhotep mengatakan bahwa jarum suntik ini bisa menembus kulit Bangsa Zodijak yang paling keras sekalipun dan sekarang jarum ini berakhir patah ketika berusaha menembus kulitnya…
“Sialan!” Imhotep tiba-tiba menghentikan langkah dan menatap Mischa dengan tatapan marah mengerikan. Ekspresi wajah lelaki itu tampak gelap dan suram sementara mata hitamnya bergolak oleh keinginan membunuh kental yang menyeramkan.
“Kalau kau sudah mengandung bayi Zodijak, maka darahmu sudah terkontaminasi. Kau tidak akan berguna lagi untukku! Darahmu tidak bisa menjadi serum kekuatan atau menjadi racun senjata!” mata Imhotep mengarah ke perut Mischa dan tiba-tiba lelaki itu menyeringai dengan nafsu membunuh. “Kecuali kalau aku berhasil melenyapkan anak itu sebelum terlambat, sebelum dia terlalu kuat untuk dimusnahkan. Mungkin itu akan berhasil menyelamatkan darahmu dari kontaminasi!”
Imhotep tiba-tiba menarik laci meja di dekatnya, meletakkan kotak berisi satu set peralatan bedah yang menyeramkan di depan mata Mischa. Peralatan itu terletak di kotak khusus yang menguarkan sinar biru terang untuk menjaga kesterilannya dan Imhotep mengambil salah satu pisau yang mengerikan, menimangnya sambil menatap Mischa penuh arti.
“Aku akan mengoperasi dan mengeluarkan bayi itu dari perutmu, Mischa,” ujar Imhotep dengan suara setengah gila.