Inevitable War

Inevitable War
Episode 119: Tujuan Imhotep



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden )


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


 



Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




 


Mischa tergeragap, terkejut ketika nama Aslan tiba-tiba disebut di depan mukanya.


“Apa maksudmu?” seru Mischa cepat dengan bibir bergetar, mencoba menutupi kekagetannya.


Imhotep kembali terkekeh, bersikap seolah-olah dia bisa membaca keseluruhan diri Mischa meskipun Mischa mencoba menutupi di depannya.


“Mengingat kau diciptakan sebagai yang terkuat dari tujuh bersaudari, aku yakin kau diciptakan untuk menjadi pasangan Aslan, yang terkuat dari tujuh pemimpin Zodijak.”


Mischa membelalakkan mata mendengar kebenaran tak terbantahkan yang terlontar dari bibir Imhotep. Pada detik ini, ketakutan mulai merayapi diri Mischa ketika menyadari kemungkinan besar kebenaran dari kata demi kata yang diucapkan oleh Imhotep dengan nada meyakinkan itu.


Benarkah Imhotep menyelipkan darahnya ke tubuh Mischa dan membuat Mischa menjadi salah satu yang bisa disebut keturunannya? Benarkah keberadaan Mischa dan juga keenam saudarinya yang lain, jika hal itu bukan kebohongan, diciptakan oleh Imhotep dengan tujuan tertentu?


“A.. apa sebenarnya tujuanmu?” Mischa menyerukan pertanyaan yang langsung muncul di dalam benaknya. Napasnya sedikit terengah penuh antisipasi ketika menanti jawaban.


“Tujuanku?” Imhotep tersenyum simpul, lalu membungkuk di depan Mischa, dekat sekali dengan wajah Mischa hingga otomatis Mischa langsung memalingkan muka.


Sayangnya sikap penolakan Mischa tidak bisa berlangsung lama karena Imhotep langsung meraih dagu Mischa dan menghadapkan ke arahnya.Mata Mischa bertemu dengan mata gelap yang entah kenapa tampak begitu mengerikan.


Lebih gelap dan lebih dalam dari mata Bangsa Zodijak yang pernah dilihat Mischa dari dekat, bahkan dibandingkan dengan mata Aslan sekalipun.


“Tujuanku adalah menghancurkan Bangsa Zodijak,” Imhotep menyuarakan kata-katanya dengan santai meskipun ada kilasan cahaya menembus kegelapan matanya yang menyuarakan kesungguhan serta dendam mendalam. “Dan kau akan membantuku, Mischa. Kau membenci Bangsa Zodijak, bukan? Kau pasti akan senang membantuku melenyapkan mereka semua.”


 



Aslan bersedekap di ruang pendingin itu, tempat Vladimir yang terbaring dalam keadaan koma terbaring di sana. Vladimir seolah membeku menjadi mayat di atas ranjang besi tempatnya terbaring di tengah ruangan tersebut. Hanya alat pendeteksi gelombang otak dan tanda kehidupan yang menunjukkan bahwa sebenarnya Vladimir masih hidup meskipun kesadarannya seolah sudah tertelan dalam hingga sulit untuk dipanggil kembali.


Suara langkah kaki terdengar mendekat, membuat Aslan menolehkan kepala. Mata gelapnya semakin tajam ketika melihat Akrep yang datang bersama saudara-saudaranya yang lain. Ada tabung kaca kecil dengan air berwarna biru berkilauan di dalamnya. Air suci Zodijak.


“Bagaimana kita akan melakukannya?” Aslan menegakkan punggung, berjalan ke tepi ranjang tempat Vladimir dibaringkan dengan diikuti saudara-saudaranya yang lain. Mereka semua berkumpul mengelilingi ranjang sementara Akrep bergerak ke meja pemeriksaan milik Yesil dan memindahkan air suci Zodijak dari tabung kaca ke tabung lain berujung runcing yang merupakan tabung dengan teknologi khusus untuk menghantarkan zat apapun ke dalam tubuh hanya dengan menempelkannya ke permukaan kulit.


Hanya dengan menempelkan ujung runcingnya, maka zat apapun yang berada di dalam tabung tersebut bisa dipindahkan dalam hitungan detik hingga menembus ke pembuluh darah dan bereaksi secepat kilat.


“Apakah menurutmu kita akan berhasil melakukannya?” Kaza berucap perlahan. Mata gelapnya menelusuri tubuh Vladimir yang kaku dan ada sinar skeptis muncul di sana.


“Kalian semua mundur dan berjaga. Sesuai perkiraan, kemungkinan besar Vladimir sudah bertahun-tahun menerima pasokan air suci Zodijak yang disuling dari darah Natasha. Tetapi tetap saja kita tidak tahu reaksi tubuh Vladimir jika menerima air suci Zodijak murni yang akan kita masukkan ke tubuhnya. Bisa saja air suci Zodijak yang murni ini hanya akan membangunkannya, atau malahan membuatnya kuat dan membuat kita kesulitan menanganinya. Aku sudah mengatur dosis yang paling minim untuk meminimalisasi risiko. Jika dosisnya kurang, akan kita tambahkan sedikit demi sedikit sampai bereaksi.”


Semua langsung melangkah mundur, berjaga di sekeliling ruangan dalam jarak aman untuk mengantisipasi kemungkinan risiko seperti yang dikatakan oleh Akrep. Bisa saja Vladimir terbangun dengan tubuh luar biasa kuat karena menerima air suci murni Zodijak dan membuat mereka semua harus mengerahkan tenaga untuk menundukkannya.


Yang pasti, Vladimir tidak boleh lepas dari mereka karena tahanan ini adalah satu-satunya kunci yang sangat mereka butuhkan untuk menemukan lokasi persembunyian Imhotep nan tersembunyi.


Hanya Aslan yang tetap berdiri di samping Vladimir, berseberangan dengan Akrep. Mereka adalah dua yang terkuat dibandingkan semuanya dan yang paling bisa menangani Vladimir dari jarak dekat jika terjadi sesuatu.


Akrep memegang tabung khusus berujung runcing itu sambil menatap ke arah Aslan seolah meminta persetujuan, dan Aslan langsung mengangguk tanpa kata.


Tidak perlu menunggu lama, Akrep langsung bergerak dan menempelkan tabung berujung runcing tersebut ke sisi leher Vladimir, tepat di dekat urat nadinya yang menonjol.


Dalam hitungan detik, warna tabung yang tadinya gelap berangsur menjadi terang, menunjukkan bahwa air suci Zodijak telah terpindahkan sepenuhnya dari tabung tersebut ke tubuh Vladimir.


Mereka semua menunggu reaksi dalam diam dan tidak perlu menunggu lama, tiba-tiba tubuh Vladimir tersentak ke depan seolah-olah ditarik dengan kuat.Aslan dan saudara-saudaranya langsung memasang sikap siaga sementara mata mereka menatap tajam ke arah tubuh Vladimir.


Kemudian mata Vladimir terbuka, perlahan-lahan mengerjap sementara tubuhnya seolah masih tampak lemas, jauh dari dugaan mereka bahwa Vladimir akan meletup kuat dan menyerang mereka semua.


Aslan hendak membungkuk dan membangunkan kesadaran Vladimir sepenuhnya dengan paksa, tetapi Akrep bergerak cepat, memberi isyarat dengan tangannya supaya Aslan menunggu, membuat Aslan berdecak kesal dengan ketidaksabaran memenuhi dirinya meskipun pada akhirnya dia memutuskan untuk memenuhi saran Akrep, berdiri tegak dengan siaga sambil menunggu Vladimir benar-benar tersadar sepenuhnya.


Mata Vladimir masih mengerjap beberapa lama dan napas tipisnya yang tadinya mengiringi situasi koma di tubuhnya, tiba-tiba kembali normal. Lalu sampailah Vladimir di suatu titik ketika dia berhasil membuka matanya lebar-lebar seiring dengan kesadarannya yang semakin terbangun kuat.


Lelaki itu tampak kebingungan, seolah tidak menyadari dimana dirinya berada dan kenapa dia ada di dalam ruangan yang tidak dikenalnya ini. Ketika matanya berputar memandang sekeliling, semakin terkejut dan pucat pasilah dia ketika menyadari ada beberapa orang dengan mata hitam khas Bangsa Zodijak yang mengelilinginya.


Hingga akhirnya mata Vladimir berhenti di wajah Aslan dan dia mengenali wajah itu sebagai sosok yang membunuh seluruh anak buahnya di tengah padang gurun tersebut.


Sosok yang dikiranya manusia… tetapi ternyata adalah Bangsa Zodijak!


Vladimir terkesiap ketika menyadari kenyataan itu.


Pantaslah lelaki itu susah dikalahkan, ternyata dia adalah Bangsa Zodijak!


Ketidaksabaran Aslan sendiri sudah sampai di ubun-ubun dan dia tidak ingin memberi waktu bagi Vladimir untuk menuntaskan keterkejutannya. Digerakkannya tangannya untuk mencengkeram leher Vladimir, begitu keras hingga wajah Vladimir berubah pucat pasi karena tidak ada aliran darah dan oksigen yang mengaliri kepalanya.


“Kau akan mengikuti apa yang kuperintahkan. Dan memberikan informasi apapun yang kuminta,” Aslan berucap lambat-lambat dengan nada mengancam. “Jika kau melawan, akan kubuat kau menderita akan rasa sakit yang seolah selamanya sementara aku akan menjaga kau tetap hidup untuk merasakan siksaanku yang luar biasa.”


 



 


Kaza melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Yesil dirawat dan dia tertegun ketika menemukan Kara sudah duduk di sana. Kara masih mengenakan pakaian biasa sementara Kaza sudah mengenakan pakaian perang, lengkap dengan senjata berat yang ada di tubuhnya.


“Kita akan menyelamatkan Yesil,” ucap Kaza perlahan, matanya ikut menatap ke arah yang sama dengan yang ditatap oleh Kara. “Kau tidak perlu merasa bersalah, Kara,” sambungnya lagi.


Kara mengusap rambutnya dan menatap Kaza seolah frustasi, ada senyum penuh ironi yang mengambang di bibirnya.


“Kau tahu bahwa aku merasa bersalah,” ujarnya pelan, tidak membantah melainkan membenarkan.Kaza bergerak perlahan dan berdiri di sisi Kara, sama-sama menghadap ke arah Yesil yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.


Akrep telah mengurus Yesil dengan baik, luka-lukanya telah dibersihkan dan dibalut perban, sayangnya hal itu masih belum bisa menyembuhkan bagian dalam tubuh Yesil yang teracuni oleh racun darah Natasha hingga membuat kesadaran saudara mereka itu tidak bisa kembali dengan mudah.


“Aku selalu tahu apa yang kau rasakan,” jawab Kaza dengan nada ringan. “Dan pendapatkan tetap sama, kau tidak perlu merasa bersalah.”“Racun darah itu dibuat dari darah Natasha, perempuan yang kucintai, perempuan yang berubah darahnya menjadi racun karena air Zodijak yang kuberikan. Dan Yesil menggunakan tubuhnya untuk melindungi diriku,” Kara mengusap wajahnya, rasa bersalah tampak sangat kental menguar dari tubuhnya.


“Berapa kali kami harus bilang bahwa itu bukan salahmu? Jika memang Natasha menjadi pemasok darah musuh kita, itu di luar kendali kita semua. Aku tahu aku dulu yang paling membenci dan menyalahkan Natasha, tetapi sekarang aku sudah mencoba melihat dari sudut pandang berbeda, sudut pandang dirimu.”