
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
“Mereka tidak kembali?”
Sang Dokter menyipitkan mata, ekspresinya terlihat tenang meskipun nada tegang terdengar di dalam suaranya.
Salah satu anak buahnya datang melapor, mengatakan bahwa ekspedisi mereka untuk mencari wanita-wanita terpilih telah gagal karena serangan Bangsa Zodijak yang mendadak. Apa yang ditemukan oleh anak buah Sang Dokter yang menyusul kemudian di lokasi hanyalah mayat-mayat tak berdaya yang meregang nyawa dan terluka akibat peperangan.
“Apakah kau sudah melaksanakan aturan main kita untuk mengumpulkan dan menghitung seluruh mayat anggota kita? Adakah yang hilang?” Sang Dokter bertanya lagi dengan penuh perhitungan, menunggu jawaban dengan tidak sabar.
Anak buahnya langsung menganggukkan kepala.
“Ya… Kale, dia menghilang. Tubuh Kale tidak ada di antara mayat-mayat itu. Saya menduga bahwa Bangsa Zodijak membawa Kale ke markas mereka, entah dalam kondisi hidup atau dalam kondisi mati,” jawab anak buah itu dengan cepat.
Sang Dokter menyeringai mendengarnya. “Jika Bangsa Zodijak membawa Kale, itu berarti kondisi Kale masih hidup. Sama seperti Vladimir yang kupercaya masih hidup di bawah tawanan mereka.” Dengan tenang Sang Dokter menganggukkan kepala, memberi isyarat dengan tangannya, “Pergilah. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik,” ujarnya dengan nada berwibawa yang langsung dituruti dengan patuh oleh anak buahnya.
Sepeninggal anak buahnya, Sang Dokter berjalan melalui lorong gerap di ruang bawah tanah semakin ke dasar untuk menuju ruang pribadinya. Ketika memasuki kamarnya yang remang dan sepi, Sang Dokter tidak bisa menahan diri lagi untuk menyeringai lebar.
Rencananya telah berhasil. Sesuai dugaan.
Semua telah direncanakan olehnya ketika mengisi senjata Kale dengan peluru khusus yang sengaja diselipkannya. Sekarang setelah Kale masuk ke dalam istana para pemimpin Zodijak itu, mereka akan sibuk menginterograsinya untuk mencari informasi tanpa mengetahui bahwa Sang Dokter telah menyelipkan sesuatu, sesuatu yang mengerikan layaknya bom waktu di dalam tubuh Kale.
Masih sambil menyeringai, Sang Dokter melangkah menuju sisi dinding di kamarnya. Dinding itu berbentuk seperti pintu raksasa yang dibuat khusus dengan ketebalan yang tak tertembus. Perlahan Sang Dokter memutar kode khusus untuk membuka dinding itu, menarik pintu raksasa tersebut dengan mudah karena kekuatannya yang memang besar, untuk kemudian berdiri dan tertawa terbahak-bahak penuh kepuasan ketika melihat apa yang terpampang di depan matanya.
Di seluruh dindingnya yang besar, terdapat rongga rahasia seukuran brankas raksasa dan dari langit-langit sampai ke dasar lantai di dalam rongga itu, terdapat peluru khusus dengan kilau kebiruan yang melambangkan rasi bintang ketiga belas yang khas. Peluru itu berjumlah sangat banyak dan sangat penuh sampai tak terhitung jumlahnya, memenuhi ruangan rahasia di dinding itu tanpa menyisakan celah.
Peluru yang telah dia ciptakan sejak lama untuk masa-masa ini akhirnya bisa digunakan.
Dengan jumlah peluru sebanyak ini dan juga pasukan kuat yang telah mendapatkan suntikan darah Natasha dalam dosis dua kali lipat lebih banyak, Sang Dokter yakin dia bisa menghabisi seluruh pemimpin Bangsa Zodijak berikut seluruh pasukannya dengan mudah.
Musuh-musuhnya akan mendapat pelajaran untuk tidak meremehkan dirinya lagi setelah ini semua selesai. Dan perang sesungguhnya baru akan dimulai.
Mischa membuka mata dan merasa sedikit pening. Dia masih mengantuk tetapi perutnya terasa begitu perih, memrotes minta diisi makanan.
Perlahan Mischa menggeliat, menggulingkan badannya yang tadinya berbaring miring menjadi telentang dan mengerjapkan mata untuk kemudian menatap langit-langit kamar sambil mengumpulkan kesadarannya.
Lapar dan haus.Itulah permintaan pertama yang diucapkan otaknya, berteriak-teriak meminta dipenuhi.
Perlahan Mischa menundukkan kepala, menatap ke arah perutnya dan tanpa sadar mengusapnya sambil menahan senyum.
“Nafsu makan kalian sangat mengerikan. Tunggu sebentar, aku harus mengumpulkan kesadaranku sebelum mengambil makan banyak-banyak untuk memenuhi nafsu kalian.” bisik Mischa perlahan ke arah perutnya.
“Kau berbicara dengan anak-anakku?”
Suara itu membuat Mischa terperanjat luar biasa hingga hampir terloncat dari duduknya. Dia mendongakkan kepala dan langsung cemberut ketika menyadari bahwa Aslan sedang duduk di kursi yang berada di kaki ranjang, sedikit jauh darinya hingga Mischa tidak menyadari kehadiran Aslan dan mengira dirinya sendirian di kamar.
“Kau mengejutkanku. Jantungku hampir saja lepas,” seru Mischa dengan marah, sambil setengah menggerutu Mischa mendongakkan dagu dengan angkuh untuk menunjukkan rasa kesalnya.
Aslan bergeming, mengangkat sedikit alisnya. “Aku bertanya, apakah kau sedang berbicara dengan anak-anakku?” Aslan sengaja menggunakan kata-kata jamak untuk menyebut anak-anaknya karena dia sangat yakin bahwa bayi yang dikandung di dalam perut Mischa ada lebih dari satu.
Pipi Mischa memerah karena malu, dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri dan sikap impulsifnya tadi karena menatap perutnya sendiri yang merongrong minta diisi. Seandainya tadi Mischa menyadari bahwa Aslan ada di dalam ruangan ini, tentulah dia tidak akan berbicara pada perutnya seperti orang bodoh.
“Aku lapar,” Mischa sengaja menolak menjawab pertanyaan Aslan. Dengan perlahan setengah terhuyung Mischa mencoba berdiri, kepalanya terasa pening dan pandangannya berputar-putar hingga harus membuatnya berpegangan pada kepala ranjang.
Hal itu membuat Aslan bangkit dengan gerakan secepat kilat yang tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa dan berdiri di sisi Mischa, memegang kedua bahu perempuan itu untuk menopangnya.
Seketika itu juga Mischa berusaha menepis tangan Aslan, tidak suka dengan efek yang diakibatkan oleh jemari Aslan yang menyentuh kulitnya. Tangan Aslan terasa dingin menyejukkan tetapi entah kenapa menimbulkan gelenyar panas misterius yang mengaliri darah Mischa dengan deras tak tertahankan.
“Tidak. Jangan berusaha melepaskan dirimu,” Aslan berucap dengan nada suara yang anehnya terdengar lembut, meskipun begitu tangannya mencengkeram bahu Mischa dengan kuat dengan kekuasaan tak terbantahkan yang menunjukkan bahwa kekuatan Mischa tidak ada apa-apanya untuk melawan. “Kumohon, biarkan aku menopangmu, Mischa.”
Sikap Aslan yang berubah tiba-tiba itu membuat Mischa terpaku, mendongakkan kepala dengan bingung hanya untuk menemukan mata hitam yang tak terbaca balas menatapnya.
Apa yang terjadi pada alien pemaksa di depannya ini? Apakah racun yang melukai dadanya juga telah menjalar ke otaknya dan membuat Aslan menjadi setengah gila?
Biasanya Aslan akan selalu menunjukkan pemaksaan, berkata-kata kasar dan sok kuasa dengan perlakuan merendahan yang membuat Mischa selalu ingin melayangkan tangan untuk menampar wajahnya sampai bengkak….Tetapi sekarang Aslan mengatakan permohonan? Alien arogan ini memohon? Bagaimana mungkin itu terjadi?
Tatapan mata Mischa yang intens dan penuh dengan kebingungan tak tersembunyi itu membuat Aslan menyeringai dan menahan senyum.
“Apakah aku sudah berterima kasih kepadamu? Kau menyembuhkanku dan aku menyerap kekuatanmu begitu banyak semalam. Aku yakin kau akan merasa sedikit pusing dan kehilangan keseimbangan selama beberapa waktu akibat tenagamu yang terkuras habis, tetapi kau akan membaik segera setelah kau makan,” Aslan tersenyum tipis. “Sekarang biarkan aku menunjukkan rasa terima kasihku kepadamu dengan melayanimu…makan.”
Mischa menyipitkan mata dengan curiga, kali ini dia yakin bahwa Aslan benar-benar sudah gila atau paling tidak kehilangan akal sehatnya. Tetapi hal itu tentu saja tidak mematikan kewaspadaan Mischa, bisa saja Aslan bersikap seperti itu karena punya maksud tersembunyi.
Mischa tidak akan lengah, dia tidak akan jatuh ke dalam jebakan Aslan.
“Kau sudah berterima kasih kepadaku. Itu sudah cukup,” desis Mischa dengan penuh perhitungan. “Bisakah kau memberiku sedikit privasi? Karena aku lebih suka makan sendirian.”
Aslan sendiri seolah menulikan telinga atas perkataan Mischa, lelaki itu menggunakan kedua tanganya untuk menekan bahu Mischa supaya terduduk kembali, lalu membalikkan badan, membuka lemari makanan dan mengeluarkan berbagai porsi makanan yang diletakkannya di atas nampan besar sebelum kemudian meletakkannya di atas meja yang diseretnya hingga mendekati tepi ranjang, di hadapan tempat Mischa duduk.
Mischa melirik ke arah makanan hangat dan buah-buahan segar yang menggiurkan itu. Sejenak perhatiannya teralihkan dan membuat perutnya berbunyi dengan tuntutan yang semakin mendesak, membuat pipi Mischa memerah karena malu.
Mischa menatap kembali ke arah Aslan dan matanya melebar ketika melihat Aslan memutari meja lalu mengambil tempat duduk di pinggir ranjang juga, tepat di sebelah Mischa dan begitu dekat dengannya.
“Kau…tidak pergi?” Mischa menyerukan pertanyaannya dengan suara bergetar, tubuhnya berusaha bergeser untuk menjauh dari Aslan, tetapi dengan gerakan tangan arogan yang sangat kontras dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya, Aslan melingkarkan lengannya ke pinggang Mischa dan menarik perempuan itu mendekat.
“Aku ingin menyuapi ibu dari anak-anakku,” bisiknya lembut dan mengambil buah serupa bulatan merah yang manis rasanya, lalu tanpa permisi memasukkannya ke mulut Mischa yang ternganga karena sikap Aslan yang lagi-lagi terasa begitu mencengangkan.
“Kunyah, kucing kecil,” perintah Aslan tenang meskipun matanya tampak mendominasi hingga tanpa sadar Mischa mulai mengunyah buah itu di dalam mulutnya. Cairan manis nan segar langsung pecah di dalam mulut Mischa, membasuh seluruh indra pencecapnya dengan nuansa menyenangkan.
Mischa menelan buah yang telah terserap sarinya itu dan membelalakkan mata ketika melihat Aslan mengambil buah yang sama dan memasukkan ke mulutnya.
“Kau…. makan?”
Mischa terperangah kembali, kali ini hanya dalam pertemuan sekejap, Aslan telah berkali-kali memberikan kejutan kepadanya.
Karena setahu Mischa, Bangsa Zodijak sebagian besar tidak membutuhkan makan dan bisa mencukupi seluruh kekuatannya hanya dengan air