
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 **PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Kara mengerjapkan mata, mencoba tersenyum sementara matanya merefleksikan rasa nyeri yang berasal dari palung hati terdalamnya.
“Natasha…” Kara meremas rambutnya dengan frustasi. “Aku baru tahu bahwa Natasha dulu pernah mengandung anakku dan dia keguguran, dan dia sendiri tidak mengetahuinya, lalu saudara-saudaraku juga memutuskan merahasiakan itu semua kepadaku, kehamilanmu membuat mereka membuka rahasia itu dan entah kenapa sekarang… aku merasa sesak, sedih semua bercampur aduk menjadi satu,” napas Kara terdengar sesak, sama seperti pernyataannya.
Lelaki itu kemudian melanjutkan. “Aku tidak tahu kenapa aku menceritakannya kepadamu… mungkin karena kau manusia juga sama seperti Natasha, mungkin jauh di dalam hatiku, aku berharap kau bisa menjelaskan kepadaku apa yang dirasakan oleh Natasha, kenapa dia melakukan itu semua kepadaku.”
Mischa menipiskan bibir, kesedihan Kara menyentuh hatinya, membuatnya hampir lupa bahwa sosok yang ada di depannya ini adalah salah satu dari Kaum Zodijak yang menjadi musuh dari umat manusia.
Tetapi Kara salah, tentu saja Mischa tidak bisa merefeksikan apa yang dirasakan oleh Natasha.
Hubungan Kara dan Natasha berbeda dengan Mischa dan Aslan. Kara selalu menunjukkan bahwa dia memperlakukan Natasha dengan baik, bahwa kisah mereka bukanlah atas dasar paksaan, itu juga ditunjukkan dengan cinta Kara yang begitu besar pada Natasha, yang dengan gamblang terefleksikan di bola matanya.
“Mungkin saudara-saudaramu tidak ingin kau bersedih?” Mischa akhirnya berucap, berusaha menghibur Kara, tetapi tidak tahu caranya bagaimana.
Kara tersenyum tipis mendengar jawaban Mischa, ketulusan Mischa untuk menghiburnya terlihat nyata, membuat Kara menganggukkan kepala perlahan sambil menghembuskan napas panjang.
“Terima kasih atas jawabanmu, Mischa. Itu sangat membantu,” ucapnya tulus, lalu mata gelap Kara tertuju pada perut Mischa dan ekspresinya berubah serius. “Jangan bunuh anak itu, Mischa. Jika kau ingin membunuh anak itu karena membenci Aslan, maka aku mohon padamu jangan lakukan. Anak itu berharga, begitupun dirimu. Aku merasakan hal ini karena aku telah merasakan kehilangan, kalau kau menganggapku sebagai temanmu, maka lahirkanlah anak itu ke dunia,” ujarnya kemudian, sarat oleh nada permohonan kental yang bersalut kepedihan.
Ketika pasukan Zodijak merangsek masuk, suara tembakan mulai membahana di mana-mana, memenuhi ruangan.
Akrep dan Kaza langsung bergerak menyebar memimpin pasukannya ke sepanjang sisi ruangan. Aslan sendiri bergerak mendekati posisi Khar dan Sevgil lalu melemparkan pistolnya kepada masing-masing dari mereka untuk membela diri.
Para tentara kaum bawah tanah itu ternyata berbeda dengan pasukan-pasukan manusia bumi lain yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Biasanya ada ketakutan di mata para tentara itu ketika mereka berhadapan dengan Bangsa Zodijak, tetapi yang ini tidak, kepercayaan diri terpancar di mata mereka, seolah-olah mereka sudah menanti pertarungan ini sejak lama.
Ruang bawah tanah yang gelap ini penuh dengan suara tembakan berpadu yang saling berbenturan. Aslan menyarungkan pistolnya dan melangkah mundur, mulai melakukan pengamatan.
Aslan merasa belum saatnya dia maju untuk membantu yang lain, mereka juga belum membutuhkan bantuannya. Dia harus mendapatkan beberapa tentara ini dalam kondisi hidup untuk memberikan informasi, dan yang diincarnya bukan tentara-tentara kelas bawah yang tidak tahu apa-apa, melainkan sosok yang menjadi atasan dari pasukan ini.
Tentara-tentara itu seperti dugaannya, bukanlah manusia biasa.
Mereka tidak tumbang hanya dengan satu atau dua kali tembakan peluru, mereka bahkan bisa bertarung menandingi tentara-tentara Zodijak yang berusaha meringkus mereka.
Aslan mengerutkan kening ketika dengan cepat matanya memindai sekelilingnya, menembus kegelapan. Melihat pertarungan yang terjadi di sekelilingnya, sangat mengejutkan ketika menyadari bahwa Bangsa Zodijak hampir mendapatkan lawan yang sepadan. Hampir, tapi masih di bawahnya, dan itu cukup membuatnya berpikir karena seolah-olah kekuatan pasukan ini sudah meningkat drastis jauh lebih kuat dari Vladimir dan pasukannya yang dulu dihadapi Aslan dengan tangan kosong.
Sebuah tembakan mengarah ke kepalanya, tetapi Aslan melihatnya terlebih dahulu dan dengan cepat menggerakkan kepala sehingga peluru itu meleset. Aslan menolehkan kepalanya dengan marah karena pengamatannya diganggu.
Salah seorang tentara kaum bawah tanah ternyata tengah mengincarnya dengan senapannya yang besar. Aslan langsung meloncat, bergerak secepat kilat dan bahkan sebelum tentara itu berkedip, tangan Aslan sudah berhasil mencengkeram leher tentara itu, meremukkannya hanya dalam waktu beberapa detik, lalu membuang tubuh yang sudah tak bernyata tersebut di lantai.
Suara tembakan masih membahana memekakkan telinga sementara asap dinding yang mulai runtuh memenuhi ruangan.
Aslan bersiaga sambil memutar pandangan dan mencapai kesimpulan. Tentara musuh memang kuat dan tubuh mereka tangguh, bahkan bisa dibilang tahan peluru dan pukulan, tetapi indra mereka belum sebagus Bangsa Zodijak, pun dengan kecepatan tubuh mereka masih seperti manusia biasa.
Siapapun yang menyuntikkan darah Natasha sebagai serum penguat ke tubuh tentara-tentara ini, mereka masih setengah jalan dan belum berhasil sepenuhnya.
Aslan merima serangan sekali lagi di tengah hiruk pikuk pertarungan di sekelilingnya, seseorang berusaha menembaknya dan meleset lagi, yang lain berusaha memukulnya dengan popor senjata yang cukup besar, tetapi tentu saja tidak berimbas apa-apa pada Aslan.
Sementara itu, kaum penyelinap yang berada di tengah-tengah pertarungan itu tampaknya berusaha berlindung di dinding, bingung dengan pertarungan yang tiba-tiba terjadi di depan mata mereka.
Sebuah gerakan terlihat dari sudut mata Aslan yang awas, membuat Aslan menolehkan kepala. Dia langsung melihat bahwa ada satu orang berpakaian hitam dengan seragam yang berbeda dari tentara kaum bawah tanah itu, berusaha menyelinap dan melepaskan diri dari hiruk pikuk gaduhnya pertarungan dan seolah ingin melarikan diri mencari jalan keluar.
Aslan langsung mengambil kesimpulan dengan tepat. Dari pakaiannya yang lebih bagus dan berbeda, orang itu kemungkinan besar adalah pemimpin dari kelompok ini, dan pemimpin pengecut itu berusaha melarikan diri meninggalkan pasukannya, mungkin untuk memberi laporan pada pemimpin yang ada di atasnya.Tentu saja Aslan tidak akan membiarkan itu.
Pemimpin pasukan berpakaian hitam itu telah melangkah melalui lorong yang menghubungkan ruang persembunyian bawah tanah itu ke daratan atas, sepertinya dia hendak mencapai pesawat helikopter yang terparkir di luar tanpa ketahuan.
Aslan sendiri meloncat ketika sudah cukup dekat, lalu berdiri di ambang pintu penghubung antara ruang bawah tanah dengan daratan di atas dan menyeringai mengerikan ke arah mangsanya.
“Sangat menjijikkan seorang pemimpin yang meninggalkan anak buahnya di bawah sana meregang nyawa dan malahan menyelamatkan dirinya sendiri,” Aslan mengambil pistol biusnya, memutuskan bahwa pemimpin inilah informan yang dia inginkan, dan dia harus membawanya kembali ke markas hidup-hidup.
Pada saat yang sama, tanpa diduga, pemimpin pasukan berpakaian hitam itu menodongkan senjata ke arah Aslan. Tetapi hal itu tidak membuat Aslan berlindung karena dia tahu bahwa senjata kaum manusia tidak mempan dan tidak akan bisa menembus kulitnya.
Ketika pemimpin pasukan itu menembak dengan putus asa, suara ledakan terdengar keras dan Aslan masih terpaku di tempatnya. Sebuah rasa yang teramat asing merayapi dirinya, membuat Aslan menundukkan kepala, mencari sumber rasa asing itu dan ketika menemukannya, Aslan membelalakkan mata.
Peluru yang ditembakkan oleh pemimpin pasukan itu berhasil menembus kulit Aslan, tepat di dekat jantungnya.
Peluru itu lalu meledakkan cairan kebiruan yang terasa panas dan nyeri di tubuh Aslan, membuat lukanya menganga dan mengucurkan darah yang mengalir begitu banyak hingga membasahi bagian depan pakaiannya.
Dia terluka?
Aslan masih membelalakkan mata tak percaya ketika dilihatnya Akrep meloncat mendekat, meneriakkan namanya dan langsung memukul kepala pemimpin pasukan itu hingga rubuh di tanah kehilangan kesadaran.
Mata Aslan terasa berkunang-kunang ketika Akrep mendekat ke arahnya, berusaha menopang tubuhnya yang terhuyung kehilangan keseimbangan.
“Aslan! Aslan!”
Masih didengarnya suara Akrep yang meneriakkan namanya ketika akhirnya ketidaksadaran menelan diri Aslan, membuatnya tenggelam dalam kegelapan.
Suara gaduh terdengar dari lorong kamar tempat Mischa berada. Mischa masih duduk di tepi ranjang dengan meja untuk makan yang didekatkan ke arahnya, dia masih berusaha memuaskan rasa laparnya akibat kehamilan, sementara Kara belum juga beranjak pergi, masih duduk di kursi yang dia duduki tadi dan menemani Mischa yang sedang makan sambil bercakap-cakap.
Mereka berbincang layaknya teman, kebanyakan membahas tentang Sasha.
Mereka menghindari percakapan mengenai Kaum Manusia dan Kaum Zodijak untuk mencegah terjadinya kecanggungan yang membentang, lebih memilih menceritakan hal-hal kecil tentang kecerdasan atau kelucuan Sasha daripada membahas sesuatu yang pada akhirnya akan membuat mereka bersitegang.
Suasana percakapan itu begitu damai, hingga membuat Mischa hampir-hampir lupa bahwa Kara adalah salah satu dari tujuh pemimpin Zodijak dan lelaki itu berasal dari bangsa musuhnya.
Mischa bahkan merasa bisa benar-benar menerima Kara sebagai temannya.
Suara ribut-ribut di luar membuat percakapan mereka terhenti. Karalah yang lebih dahulu menoleh ke arah pintu, menatap dengan waspada di sana.Lalu sumber keributan itu muncul dan tak disangka-sangka.
Sosok Kaza berdiri di sana dengan ditemani oleh Sevgil.
Mata Kaza melebar ketika menemukan Kara di dalam ruangan yang sama dengan Mischa.
“Apa yang kau lakukan di sini?” serunya setengah membentak.
Kara mengangkat alis melihat sikap kasar Kaza, dan dia langsung tahu ada yang tidak beres.
“Apa yang terjadi, Kaza?” tanyanya cepat, mengabaikan pertanyaan Kaza sebelumnya.Kaza sendiri mengerjap mendengar pertanyaan itu, lalu matanya beralih dan menatap tajam ke arah Mischa sebelum kembali ke arah Kara.
Sevgil sendiri memilih diam, mengamati interaksi dua saudara kembar itu dan menunggu.
“Aslan terluka. Dan kami membutuhkan wanita itu untuk menyembuhkannya.” jawab Kaza dengan suara tegas, seolah tak rela menjelaskan dengan kalimat panjang.
Perkataan Kaza membuat Mischa membelalakkan mata, pun dengan Kara. Mereka saling bertukar pandang, sama-sama dipenuhi oleh pemikiran yang sama.
Aslan terluka? Bagaimana bisa?