Inevitable War

Inevitable War
Episode 64 : Lebih Kuat



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 


 


 


 



 


Kesalahan Mischa karena membiarkan dirinya terbawa perasaan ketika berada di padang pasir tadi hingga traumanya muncul ke permukaan dan dilihat oleh mata Aslan yang tajam. Lelaki Zodijak yang jahat ini sengaja menggunakan matanya untuk mendesak Mischa, memaksa Mischa menyerah kepadanya… dan dia hampir berhasil.


Saat ini kembali seluruh tubuh Mischa gemetar, dia merasakan perutnya bergolak, menahan rasa mual yang amat sangat, menyebarkan nyeri ke sekujur tubuhnya. Mischa sekuat tenaga menahan dorongan untuk menjerit, menangis dan memohon supaya Aslan tidak menyiksanya lagi, dia ingin bergelung dalam air mata sambil memohon supaya dia tidak disakiti lagi, bahwa dia sudah tidak kuat lagi.


Tidak! itu adalah kelemahan!


Trauma itu membuat Mischa mudah dikalahkan karena ketakutan yang amat sangat jika Bangsa Zodijak akan menguasai tubuhnya hingga membuatnya terdorong untuk menyerah. Mischa harus bisa mengalahkan ketakutannya, atau setidaknya saat ini, dia harus berhasil melawan intimidasi yang sengaja dilakukan oleh Aslan dengan menggunakan mata kelamnya nan menakutkan.


Tangan mungil Mischa bergerak untuk menangkup kedua sisi pipi Aslan. Dia menguatkan tekad dalam hatinya, berusaha untuk tidak menyerah di tengah jalan. Mischa juga menahankan hati untuk menantang mata hitam Aslan yang begitu dekat dengan dirinya, tahu bahwa ada keterkejutan di sana.


Aslan tentu tidak menyangka bahwa Mischa akan menggerakkan tangan untuk menyentuhnya, untuk menangkup kedua pipinya, tetapi Aslan memilih tidak bergerak dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mischa selanjutnya.


Dan pada titik itulah Mischa memutuskan untuk memberikan kejutan itu kepada Aslan dengan sengaja mencoba mematahkan intimidasi yang diberikan oleh Aslan kepadanya.


Aslan bilang dia lebih kuat? Benarkah? Lihat saja apakah dia kuat menghadapi ini!


Mischa menggertakkan gigi sementara cengkeramannya di pipi Aslan semakin mengetat. Lalu di detik yang menentukan, sebelum Aslan sempat menghindar, Mischa memejamkan mata, memiringkan kepala dan mencium Aslan sekuat dia bisa.


 


 


 



Ketika dua bibir itu bersentuhan, ketika itulah percikan api panas seakan menjalar dan membakar kulit mereka berdua.


Mischa membuka mulutnya, dengan pengalaman seadanya yang dia pelajari dari sentuhan Aslan selama ini, tahu bahwa lelaki di depannya bisa lemah dengan perpaduan bibir mereka berdua.


Mata Aslan terbelalak ketika merasakan bibirnya dijajah oleh manusia perempuan di depannya ini, sesuatu hal yang sama sekali tidak dia sangka sebelumnya.


Kecurigaan menyeruak ke dalam jiwanya, tetapi langsung terkalahkan oleh sensasi khas yang selalu menguasai dirinya ketika tubuhnya berpadu dengan tubuh Mischa, ketika bibirnya dengan bibir Mischa bersentuhan. Pada akhirnya kehendak Aslan dikalahkan oleh keinginan tubuhnya hingga tangan Aslan bergerak, merengkuh punggung Mischa, merapatkan perempuan itu kepada dirinya sementara kedua tangan mungil Mischa sendiri masih mencengkeram pipinya.


Ketika Mischa memundurkan kepala untuk melepaskan ciuman itu, Aslan yang masih memejamkan mata mengerang, tidak ingin kehangatan yang berpadu di antara mereka, yang sangat dinikmatinya, harus berakhir begitu cepat.


Lalu tangan Mischa tiba-tiba ada di antara mereka, menyentuh bibir Aslan dengan kulit dingin dan sedikit gemetaran.


Masih mengerutkan kening, Aslan membuka mata gelapnya yang pekat, dirinya begitu dekat dengan wajah Mischa sementara telapak tangan mungil Mischa menahan bibir Aslan supaya tidak bergerak maju.


Mereka bertatapan, mata pekat dengan mata biru. Yang satu ingin mencari sementara yang lain menyembunyikan hati.


Pada akhirnya Aslan menggerakkan tangan untuk mencengkeram pergelangan tangan Mischa, lalu menurunkannya sementara tatapan matanya dipenuhi sikap menyelidik yang berbaur dengan rasa curiga.


“Kenapa kau menciumku?” tanya Aslan kemudian, suaranya serak, masih berusaha menetralkan api yang bergolak membakar tubuhnya.


Mischa memalingkan muka, tidak tahan ditatap sedalam itu apalagi oleh mata pekat nan mengerikan milik Aslan. Sikap Mischa tersebut membuat Aslan menggeram dengan nada tidak sabar, lelaki itu mencengkeram dagu Mischa dan menghadapkan ke arahnya, menahannya di sana hingga usaha Mischa untuk memalingkan wajah berakhir sia-sia.


“Kenapa, Mischa?” geraman di suara Aslan semakin pekat dan mengancam, bercampur dengan ketidaksabaran nan mendesak.


Mischa membuka mulut untuk menjawab, lalu mengatupkannya lagi begitu menyadari  bahwa tiba-tiba mata Aslan merendah dan menatap ke arah mulutnya, seolah sedang menahan diri dengan begitu kuat untuk tidak menciumnya lagi.


Secara refleks Mischa hendak memundurkan kepala, berusaha supaya wajah mereka tidak semakin dekat, tetapi Aslan menahan dagu Mischa, memaksakan posisi mereka tetap dekat serta berhadapan.


“Katakan padaku…,” Tiba-tiba suara Aslan merendah sementara geramannya memudar, “Kenapa kau menciumku padahal aku tahu kau lebih rela mati daripada melakukannya?”


Seketika Mischa mendongakkan kepala, berusaha menantang mata gelap yang masih membuat jantungnya berdebar ketakutan.


“Aku menciummu untuk menunjukkan bahwa aku lebih kuat darimu dan  bisa mengalahkanmu,” semburnya penuh keberanian.


Sejenak Aslan tertegun, lalu lelaki itu menyipitkan mata dan menatap Mischa seolah mengejek.


“Lebih kuat dariku? Hanya dengan sebuah ciuman?” Aslan menyeringai dengan nada merendahkan, menatap Mischa penuh hinaan hingga membuat pipi Mischa memerah.Mata Mischa sendiri melebar, membalas tatapan Aslan dengan tak kalah galaknya.


“Kau tidak mau mengaku bahwa kau kalah?” Mischa sengaja mencibir. “Hanya dengan sebuah ciuman kau kehilangan kata-kata, lalu memejamkan mata, bahkan mengerang penuh protes ketika aku melepaskan bibirku.” Mischa mendengus sambil mencemooh. “Seandainya saja aku memegang senjata di tanganku, kau pasti sudah mati karena seluruh kewaspadaanmu lenyap hanya dengan sebuah ciuman!”


Kali ini kalimat Mischa seolah mengena karena bibir Aslan langsung menipis sementara kemurkaan mulai menggayuti ekspresinya. Tiba-tiba saja cengkeraman Aslan di pipi Mischa menguat, sementara lelaki itu menunduk, menempelkan hidungnya dengan hidung Mischa seolah-olah wajah mereka tidak cukup dekat.


“Bagaimana dengan dirimu?” bisik Aslan sambil memiringkan wajah, menggesekkan bibirnya di bibir Mischa.


Seketika Mischa mengernyit dan berusaha menjauh, tetapi sebelah tangan Aslan mencengkeram belakang kepala Mischa, memaksa supaya wajah mereka tetap menempel. “Aku mungkin lemah karena ciumanmu, tetapi bagaimana dengan dirimu? Apakah kau kuat bertahan dengan ciumanku? Karena kupikir ketertarikan tubuh di antara kita berdua ini adalah dua arah… kau juga menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu,” Aslan berbicara tepat di atas bibir Mischa, mengirimkan kehangatan nan dipaksakan di sana.


“Dalam mimpimu dasar Alien pemaksa!”


Mischa menyembur untuk menyuarakan penyangkalan. Tetapi bahkan sebelum Mischa bisa menutup bibirnya Aslan langsung mencium Mischa kembali, hanya dalam hitungan detik dan tidak mau melepaskannya lagi.


Tangan Mischa yang bebas berusaha bergerak untuk mendorong dada Aslan supaya menjauh dalam upaya melepaskan diri, tetapi tindakannya itu sia-sia karena Aslan bahkan tidak bergerak sedikit pun, malahan dorongan dari Mischa seolah memancing lelaki itu untuk bangkit, mendesak dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Mischa.


Lalu sebelum Mischa sempat melawan, Aslan mendorong tubuh Mischa supaya berbaring telentang di ranjang lalu menyusul istrinya itu.


 


 


 



*Part ini adalah part Sensor. Lebih lengkapnya ada di projectsairaakira part 20 : The Weakness