
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Kaza melangkah memasuki kamar kecil tempat perawatan tersebut dan langkahnya langsung membeku di ambang pintu, tidak berani lebih dekat.
Matanya terpaku, menatap ke arah sosok tubuh yang entah kenapa sekarang menjadi sosok yang begitu mengerikan baginya. Sosok itu mengerikan karena sepertinya mampu membuat tubuhnya bergerak sendiri di luar kemauannya, membuat logikanya mulai menghilang dan mendorongnya untuk hilang akal.
Anak kecil itu tertidur miring, menggunakan lengan sebagai bantalan kepala dan bibirnya sedikit terbuka dengan polos.Dia terlihat begitu rapuh dan lemah, seolah-olah membutuhkan perlindungan dari siapapun yang bisa memberikannya.
Kaza mengerutkan kening dengan marah, menyadari apa yang bergolak di dalam pikirannya. Anak-anak Bangsa Zodijak sudah terlihat tangguh bahkan di usia mereka yang masih sangat muda, tubuh mereka kuat dan ekspresi mereka tegar hingga tidak akan memancing belas kasihan dari siapapun.Tetapi makhluk rendahan di depannya ini malahan seolah memancing siapapun yang melihat untuk mengasihani, membuat Kaza menggertakkan gigi dengan marah.
Dasar makhluk licik! Ketika yang lain menggunakan kekuatan untuk melemahkan mangsa, manusia kecil yang licik ini menggunakan kelemahannya untuk memperdaya lawan, dan aromanya… aromanya…
Kaza menggertakkan gigi, menahan diri sekuat tenaga supaya kakinya tidak membawa dirinya mendekat ke arah tubuh Sasha.
Dia tidak akan dikalahkan dengan begitu mudahnya. Pada saatnya nanti, ketika dia siap menangani perasaan aneh yang bergolak di dalam dada yang diakibatkan oleh ikatan misterius ini, dia akan menyingkirkan Sasha seperti yang dilakukannya pada manusia-manusia lain yang pernah dia bunuh dengan tangan dingin.
Tapi itu nanti… sekarang… sekarang aroma Sasha yang khas saja membuat dirinya dipenuhi dengan perasaan aneh, mengunci dan bergolak di dalam dada hingga membuatnya sesak napas.
Pada akhirnya Kaza menyerah, tahu bahwa dirinya mungkin akan berbuat di luar logika jika memaksakan dirinya untuk terus berada di dalam ruangan ini, dengan memeluk anak perempuan itu misalnya, dan sudah pasti hal itu akan membuatnya malu, melukai harga dirinya dan membuatnya menyesal.
Kaza lalu membalikkan badan dengan marah, ingin bergegas keluar dari ruangan dengan aroma manis nan menyesakkan ini untuk menyelamatkan diri sebelum kemudian terdengar suara gemerisik dari atas ranjang.
Kaza tertegun, merasakan jantungnnya berdebar tak terkendali, logikanya memaksa untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu dan menyelamatkan diri, tetapi pada akhirnya rasa penasaranlah yang menang, membuatnya membalikkan badan kembali dan matanya langsung bertemu dengan mata Sasha yang telah terbuka menatapnya.
Anak kecil itu duduk tegak di atas ranjang, wajahnya polos tanpa dosa, menatap Kaza dengan seksama seolah-olah kesadarannya belum sepenuhnya kembali ketika terbangun dari tidur. Lalu ketika Shasa menyadari siapa yang berada di depannya, senyumnya melebar, penuh dengan persahabatan tulus yang tanpa prasangka.
“Kara,” seru Sasha senang, tidak menyadari bahwa perpaduan suara, aroma dan tatapan matanya yang berbinar indah membuat dunia seolah meledak di bawah kaki Kaza.
Aslan memeluk Mischa. Mereka berbaring di tepi danau, di lapisan permukaan yang dangkal dan membuat setengah tubuh Mischa terendam air yang ajaibnya terasa hangat di malam gelap yang mulai menaungi langit.
Kepala Aslan tenggelam di leher Mischa, mengecupi sisi leher itu lembut dan sambil lalu, seperti seorang lelaki yang puas bergelung di tubuh wanitanya.
Lalu tanpa diduga, Aslan mengangkat tubuhnya, melepaskan diri dari tubuh Mischa dan berbaring di sebelahnya, tidak membiarkan Mischa menjauh dengan membawa tubuh Mischa yang kaku untuk tenggelam di pelukan lengannya.
Mata Aslan menengadah ke langit gelap yang menaungi mereka, menampilkan ribuan bintang yang berkilauan dan menghiasi jauh di atas sana.Aslan menunduk untuk menatap Mischa dan menyadari bahwa perempuan itu menolak menatap ke arahnya.
Pada akhirnya perempuan itu kalah kekuatan dengan dirinya dan selalu bersikap dingin setelah mereka bercinta. Tetapi itu bukan masalah bagi Aslan. Dia menginginkan tubuh perempuan ini, tetapi memutuskan bahwa hati serta perasaan Mischa tidak penting baginya.
Tubuh mereka terendam air yang terasa hangat, dan Aslan merasa begitu damai hingga hampir saja kehilangan kewaspadaannya lalu memejamkan mata.
Tangan Aslan tidak bisa menahan dorongan untuk menelusurkan jarinya menyentuh punggung Mischa yang telanjang. Mischa langsung terkesiap, berusaha menjauh tetapi seperti biasanya, tangan Aslan mencengkeramnya hingga Mischa kembali merapat kepada dirinya.
“Tidak akan ada gunanya, manusia. Kau akan membuang-buang tenagamu. Lebih baik simpan tenagamu untuk yang lain karena malam ini belum berakhir,” Aslan mencengkeram pinggul Mischa dan merapatkan ke tubuhnya. “Kara bilang perempuan manusia suka dipeluk setelah bercinta, mungkin kau adalah pengecualian…”
Tiba-tiba aroma nan tajam mengancam tercium di indra Aslan nan peka, membuat suaranya berhenti dan seluruh tubuhnya bersiaga penuh kewaspadaan.
Ada makhluk lain yang memasuki wilayah teritorialnya!
Dengan segera, Aslan bangkit, membawa tubuh Mischa ke dalam pelukan sebelum kemudian setengah menggendongnya ke tepi danau.
Begitu air danau nan hangat melepaskan perlindungannya dari tubuh Mischa, Mischa langsung menggigil ketika merasakan hawa dingin menggigit menyapa kulitnya yang telanjang.
Tangan kurus Mischa memeluk tubuhnya sendiri sementara matanya menatap ke arah pesawat Aslan yang terletak agak jauh dari sana, hampir tak kelihatan karena warnanya yang hitam menyaru dengan gelapnya malam.
Pakaian ganti yang disiapkan untuknya ada di dalam pesawat itu… tapi Mischa tidak mungkin berjalan ke sana dengan telanjang, bukan?
Tiba-tiba, sebuah kain yang berat dilemparkan ke tubuhnya, membuat Mischa refleks menangkap dan menunduk untuk menatap kain itu. Itu adalah mantel panjang yang tadi dikenakan oleh Aslan.Mischa mendongak dan menatap Aslan yang telah mengenakan celana serta atasan lengan panjangnya yang berwarna gelap.
Mata Aslan tampak tajam dan kelam meskipun masih memakai lensa mata manusia untuk penyamaran.
“Pakai bajumu, kita kedatangan tamu,” ucapnya dingin, menatap dengan tajam ke arah kegelapan di depan mereka.
Kalimat itu cukup untuk mendorong Mischa bergerak panik dan mengenakan mantel panjang Aslan secepat dia bisa, mantel itu menenggelamkan tubuh kecilnya tentu saja, tetapi Mischa tidak peduli, yang penting mantel itu berhasil menutupi ketelanjangannya dan tanpa disangka cukup hangat untuk melindunginya dari hawa dingin malam di tengah gurun yang menusuk kulit.
Dan tepat ketika Mischa berhasil mengancingkan kancing terakhir mantel itu, suara derap langkah menyapa telinganya, membuatnya mendongakkan kepala dan tanpa sadar langsung beringsut untuk menyembunyikan diri di belakang punggung Aslan nan tegak dan seolah menunggu sosok itu muncul.
Tidak perlu menunggu lama sampai sosok-sosok manusia bermunculan mengelilingi mereka, jumlahnya banyak, mungkin ada sepuluh orang. Mischa mengamati mata manusia-manusia itu tetapi entah kenapa dia tidak merasa bertemu dengan bangsa manusia sebangsanya seperti yang dia duga.
Manusia-manusia ini bukannya membuat hatinya senang, tetapi malahan membuatnya ngeri seperti ketika bertemu monster kejam layaknya bangsa Zodijak.
Entah kenapa dari seringaian jahat di mulut mereka dan mata mereka yang nanar dan menatap dengan kekejian tak disembunyikan, malahan membuat Mischa merasa lebih aman bersembunyi di punggung Aslan kali ini.
Mischa mengamati sosok-sosok yang kesemuanya laki-laki itu dan mengerutkan kening.
Manusia-manusia ini sudah pasti bukanlah bagian dari kaum penyelinap. Kaum penyelinap hidup dalam keterbatasan, berkelompok untuk mempertahankan diri dan mengisi perut hanya dengan lumut serta serangga apapun yang bisa mereka temukan, karena itulah penampilan kaum penyelinap bisa dikatakan hampir serupa, tubuh mereka kurus dan wajah mereka pucat karena kekurangan nutrisi.
Tetapi, sosok-sosok di depan mereka ini merupakan kebalikan dari kaum penyelinap yang sudah sangat Mischa kenali. Tubuh mereka besar, tinggi dengan otot-otot tebal yang hampir meyerupai Bangsa Zodijak, bahkan wajah mereka tampak segar, jahat serta tidak menunjukkan kekurangan nutrisi sedikit pun.
Mischa mengerutkan kening, berpikir apakah mereka ini Bangsa Zodijak yang sedang menyamar sebagai manusia?
Tetapi sepertinya bukan, entah kenapa Mischa sekarang bisa mengetahui perbedaan Bangsa Zodijak dengan manusia. Dari gerak napasnya, dari struktur kulitnya yang terlihat jelas… dan dari aromanya… insting Mischa mengatakan bahwa mereka ini manusia.
Dan juga, mereka tampaknya tidak mengenali Aslan dan Aslan juga tidak mengenali mereka, menunjukkan bahwa mereka bukan berasal dari satu bangsa.
Salah seorang manusia itu maju ke depan, matanya begitu tajam, menatap ke arah Mischa yang langsung beringsut di belakang Aslan. Lalu sosok itu menyeringai, menampilkan gigi kusam kecoklatan yang mengerikan.
“Sepertinya kita menemukan sepasang kekasih di sini,” Sosok manusia yang sepertinya adalah pemimpin itu menggeram dengan keji sebelum mengeluarkan perintah. “Bunuh yang laki-laki dan bawa yang perempuan untukku. Aku ingin perempuan itu di ranjangku malam ini” serunya dengan pongah memerintah ke arah anak buahnya yang secepat kilat langsung menyerbu mereka.