Inevitable War

Inevitable War
Episode 85 : Tantangan



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 



Kerutan di dahi Mischa semakin dalam mendengar jawaban itu, dan dia menatap Aslan jengkel.


“Aku tahu sebagai alien aneh kau tidak butuh tidur, tetapi aku ini manusia, dan aku butuh istirahat. Coba hilangkan keegoisanmu dan jangan mengganggu waktu tidurku,” ucap Mischa dengan suara ketus.


Aslan sendiri menggertakkan gigi, sementara mata gelapnya berubah semakin kelam dan mengancam.


“Kau sudah berani kepadaku, Mischa?” cara Aslan mengucapkan nama Mischa benar-benar mengerikan, seolah-olah lelaki itu sedang merapalkan daftar korban yang hendak dibunuhnya. Hal itu membuat Mischa terkesiap, menyadari bahwa dia mungkin sudah bertindak di luar batas.


Saat ini Aslan memang bersikap baik kepadanya, tetapi itu sudah pasti bukan karena Aslan memang berjiwa baik, tetapi lebih kepada keinginan egois Aslan untuk selalu menyentuh Mischa. Jika Mischa tidak berhati-hati, dia akan membahayakan dirinya dan bukan tidak mungkin akan membahayakan nyawa Sasha juga.


Aslan mengamati perubahan-perubahan ekspresi di wajah Mischa. Ada senyum tertahan di sudut bibirnya karena tahu bahwa Mischa menyadari batas kesabarannya. Dengan gerakan cepat Aslan berguling, membiarkan dirinya membungkuk di atas tubuh Mischa dengan bertumpu pada kedua siku, membuat wajahnya sangat dekat dengan wajah Mischa.


“Kau sekarang sudah tidak butuh tidur terlalu lama seperti manusia kebanyakan,” mata Aslan menyipit sementara lelaki itu menyentuhkan hidungnya ke hidung Mischa dan menggeseknya perlahan, membuat Mischa memalingkan muka tetapi tak berdaya untuk melawan. “Aku bisa berkata begitu karena aku tahu. Aku bisa mengamatimu lebih dalam dari yang kau tahu, Mischa. Kau mungkin sadar bahwa karena begitu seringnya aku memanenmu, tubuhmu semakin lama semakin mirip dengan tubuh Bangsa Zodijak serta mengadaptasi berbagai kelebihan kami. Aku yakin lama kelamaan kau tidak butuh tidur dan tidak butuh makan seperti kami. Tubuhmu bahkan bisa menyembuhkan diri sendiri dengan baik, kau sudah jarang kambuh, bukan?”


Mischa mengerutkan kening, memalingkan wajah kembali ke arah Aslan supaya Aslan bisa melihat kegetiran di matanya.


“Apakah kau menginginkan ucapan terima kasih atas semua hal yang kau sebut tadi?” ucap Mischa kemudian dengan nada sinis.


Aslan terkekeh perlahan, lalu memejamkan mata sejenak ketika dirinya tidak bisa menahan godaan untuk menempelkan hidungnya di sisi wajah Mischa dan menyerap aroma Mischa yang rupanya sangat disukai oleh indra penciumannya.


“Aku tidak butuh kata-kata,” bisik Aslan dengan nada sensual. “Lagipula kau sama sekali belum menunjukkan dedikasimu,” sambungnya kemudian.


Mata Mischa membelalak marah. “Dedikasi?” serunya tak bisa menahan diri. “Kau pikir beberapa sesi di kamar mandi ditambah lagi di atas ranjang tadi itu bukan dedikasi?” suara Mischa meninggi, memenuhi ruangan.Aslan menyeringai, menatap Mischa dengan mata berlumur hasrat.


“Beberapa sesi? Jadi kau menghitungnya ya? Apakah kau suka menghitung kenikmatanmu sendiri?”Pertanyaan Aslan itu langsung membuat pipi Mischa merah padam karena malu, seluruh wajahnya terasa panas, hanya harga dirinyalah yang menahannya untuk menutupi wajah dari pandangan Aslan.


Mischa mengalihkan pandangan, tidak tahan ditatap oleh mata gelap itu yang sekarang menjadi sangat intens ke arahnya.


“Tidak mungkin aku repot-repot menghitungnya! Kalau aku menghitungpun, aku sedang menghitung kapan itu berakhir karena aku sudah muak!”


Aslan tersenyum miring mendengar jawaban Mischa, seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali.


“Kalau begitu kau tentu setuju bahwa beberapa sesi yang kau sebutkan itu tidak dihitung sebagai dedikasi, bukan?” ujarnya lagi, membuat Mischa membelalakkan mata tak percaya.


“Tidak dihitung?” sekali lagi Mischa berseru memrotes. “Bagaimana bisa?”


Suara Mischa terhenti karena Aslan tiba-tiba mencuri ciuman dari bibirnya yang terbuka, begitu dalam hingga Mischa kehabisan napas.


Ketika akhirnya Aslan melepaskan bibirnya, Mischa terbatuk-batuk sambil melemparkan tatapan marah ke arah Aslan sementara Aslan sendiri tampak tak peduli.


“Aku tidak mendesah dan memejamkan mata!” Mischa menyela dengan suara tinggi, melemparkan tatapan murka ke arah Aslan sementara wajahnya luar biasa merah.


Hal itu bukannya membuat Aslan berhenti malahan membuat lelaki itu menyeringai senang.


“Bagaimana kau tahu? Kau kan sibuk memejamkan mata,” ujar Aslan dengan nada mengejek.


Seketika itu juga, karena tersulut amarahnya, Mischa menggerakkan tangan untuk mencakar Aslan. Dia akan sangat senang ketika bisa melihat kulit wajah alien mesum itu berdarah atau setidaknya sedikit terluka. Saat ini Mischa sangat ingin membuat Aslan kesakitan karena itu akan membuatnya puas.


Sayangnya apa yang dia impikan rupanya tidak terkabul, Aslan rupanya sudah mengantisipasi gerakan Mischa. Dengan mudah lelaki itu menggunakan sebelah tangan untuk mencengkeram pergelangan Mischa, dan ketika Mischa menggunakan tangannya yang lain untuk menyerang, lelaki itu dengan mudah menangkap tangan Mischa yang lain juga, menyatukannya dalam satu genggaman, dan meletakkannya di atas kepala Mischa untuk kemudian menahannya di sana.


Ketika Mischa masih tidak mau menyerah dan mencoba menendang sekuat tenaga, Aslan menggunakan beban tubuhnya untuk menekan Mischa, menahannya supaya tidak bisa bergerak.


“Lepaskan aku!” Mischa meronta, mencoba melepaskan diri tetapi tak berdaya melawan kekuatan Aslan.


Aslan mendekatkan wajah untuk mengecup bibir Mischa sengaja menggoda, tetapi dengan marah Mischa melawan, mencoba menyerang dengan menggigit bibir Aslan. Sayangnya, sekali lagi lelaki itu bisa menghindar, membuat Mischa luar biasa marah.


“Bukan dengan cara seperti itu aku ingin disentuh,” Aslan berucap seolah menahan tawa, “Inikah bentuk dedikasimu, Mischa? Kau pikir aku bersedia membantumu melindungi Sasha kalau caranya seperti ini?”


Mischa membelalakkan mata, masih dikuasai kemarahan, tetapi akhirnya perkataan Aslan berhasil membangunkan logikanya yang langsung bergerak cepat untuk mendinginkan kepala.Mischa membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mengendalikan napasnya yang tersengal dikuasai oleh emosi, kemudian dia akhirnya berhasil berucap dengan suara lelah pertanda menyerah.


“Apa yang kau inginkan?” bisiknya pelan.


Aslan tersenyum puas, menatap wajah Mischa dan menyadari bahwa perempuan itu sudah tunduk di bawah kuasanya. Dengan tenang Aslan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Mischa, lalu berguling dan duduk dengan tenang di atas ranjang sambil menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, membiarkan Mischa bebas.


Mischa menolehkan kepala, menatap Aslan dengan waspada. Disadarinya mata Aslan yang terarah ke tubuhnya. Segera Mischa bergerak bangkit dari ranjang, matanya mencari-cari gaun tidurnya yang tadi dilempar oleh Aslan entah kemana lalu menemukannya tergeletak di atas karpet.


Dengan malu Mischa membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu bergerak turun dari ranjang. Secepat mungkin Mischa membungkuk untuk mengambil gaun tidurnya, sementara matanya menatap ke arah pintu ruang mandi, berpikir untuk memakai bajunya di dalam ruang mandi untuk menghindari tatapan mata Aslan yang seolah mengawasi seluruh gerakannya.


“Di sini saja,”Aslan tiba-tiba berucap memecah keheningan, memberi perintah dengan suara arogan.


Mischa menolehkan kepala, menatap Aslan dengan pandangan jijik.


“Kau menyuruhku memakai bajuku di sini sedangkan kau sama sekali tidak berniat menunjukkan sikap sopan dengan memalingkan kepala?” seru Mischa dengan marah tanpa menyembunyikan nada mencemooh dalam suaranya.


Bukannya merasa malu, Aslan malahan menyeringai kembali dengan ekspresi malas yang mengesalkan.


“Untuk apa aku bersikap sopan? Kau istriku dan aku sudah hapal tubuhmu, bahkan bisa dibilang lebih hapal daripada dirimu sendiri," suara Aslan merendah dengan nada merayu, matanya menelusuri tubuh Mischa yang dibalut selimut, lalu ketika beralih menatap Mischa lagi, tatapannya menjadi luar biasa kurang ajar. “Lagipula, kalaupun kau berhasil memakai gaun itu, aku bisa menjamin gaun itu akan terlepas lagi dengan segera.”


Mischa terperangah, tidak menduga akan kata-kata vulgar yang diucapkan Aslan dengan nada santai, membuat seluruh tubuhnya membara karena marah bercampur malu. Dada Mischa sampai naik turun  menahan emosi, membuat tangannya harus mengepal sekuat tenaga karena Mischa tidak mau sampai lepas kendali lalu menyerang Aslan hanya untuk berakhir dilecehkan dan dikalahkan.


Mischa mendongakkan dagu dan melemparkan tatapan menantang ke arah Aslan, dengan gerakan angkuh dia membalikkan badan, sengaja memunggungi Aslan dengan harapan bisa mengurangi sedikit kepuasan yang tersirat di mata Aslan.


Mischa lalu mengangkat gaun ditangannya ke atas kepala dan memasukkannya ke tubuhnya, tahu bahwa Aslan tidak akan mau repot-repot memalingkan muka ataupun bersikap sopan karena alien itu terlalu mesum bahkan hanya untuk sekedar memalingkan kepala.


Ketika gaun itu sudah terpasang di tubuhnya, barulah Mischa menarik selimut yang masih terpasang membungkus tubuhnya di balik gaun itu sampai jatuh ke lantai, lalu dia membalikkan badan kembali, sengaja berkacak pinggang dan melemparkan pandangan murka ke arah Aslan.


Lelaki itu tampaknya tidak terpengaruh sama sekali, hanya mengangkat sedikit alis untuk menanggapi sikap galak Mischa.


“Sudah?” tanyanya dengan nada datar mengesalkan.Mischa menghembuskan napas keras sebagai jawaban, sengaja tidak mau menjawab.


Aslan tersenyum tipis.“Bagus,” ujarnya dengan nada arogan, lalu telapak tangan Aslan bergerak menepuk-nepuk pahanya yang terbungkus celana piyama dan tersenyum lebar. “Sekarang, kemarilah.” perintahnya lagi.