
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Tanpa diduga, Aslan menggerakkan jarinya ke mulut dan mencicipi rasa air mata Mischa.“Air mata manusia,” Entah kenapa setelah mencicipi air mata Mischa, suara Aslan sedikit melembut, seolah-olah perasaan Mischa tersampaikan melalui air mata itu dan mempengaruhi Aslan.
“Tahukah kau bahwa Bangsa Zodijak tidak mempunyai kantung air mata di matanya? Kami memiliki sistem biologis sendiri yang membuat mata kami tetap basah, tetapi menangis bukanlah salah satu di antaranya…mungkin itulah sebabnya mata kami berbeda dengan manusia dan berwarna hitam legam.”
Aslan menunduk, mengusap air mata Mischa yang mengalir tanpa bisa ditahan, lalu mencecap kembali dengan mulutnya. “Bahkan wanita dan anak-anak Zodijak tidak pernah bisa menangis…karena menangis adalah kelemahan bagi bangsa kami. Air matamu…” Aslan menghentikan suaranya. “Rasa air matamu membuatku….”
Suara Aslan tertelan, terdengar gemetar dan berubah serak, membuat Mischa mengangkat kelopak mata untuk melihat apa yang terjadi.
Begitu menemukan apa yang terpampang di depan matanya, Mischa terpana, pun dengan Aslan yang terpaku tampak begitu terkejut. Saat ini Aslan tampak tertegun, dengan air mata hangat yang mengaliri sudut matanya, membasahi pipinya.
Tangan Aslan bergerak perlahan, masih dipenuhi ketidakpercayaan ketika menyentuh air mata itu, lalu mengarahkan tangannya yang basah ke depan wajahnya, mengawasi tangan itu dengan ngeri.
“Menangis…” Aslan menggeram kebingungan. “Seharusnya aku tak bisa… seharusnya kami tak pernah bisa…” Suara Aslan tenggelam dan lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah Mischa, menatap dengan penuh kebencian dan frustasi,. “Kau… manusia sialan… apa yang kau lakukan kepada diriku?”
Aslan berteriak, penuh tuduhan yang tentu saja tidak bisa dijawab oleh Mischa. Dan sedetik kemudian yang melegakan, tubuh Aslan meloncat bangkit turun dari ranjang dan meninggalkan Mischa berbaring sendirian.
Aslan menatap ke arah Mischa dengan raut tak terbaca, lalu lelaki itu melangkah pergi dengan begitu cepat, membanting pintu di belakangnya.
“Kau sebaiknya tidak masuk ke sana,” Yesil mengangkat alis ketika melihat Kaza memasuki ruangan.
Kaza sendiri menghentikan langkah, menatap Yesil dengan jengkel.
“Aku hendak menemui saudaraku dan kau tidak bisa melarangnya,” desis Kaza tak peduli, “Lagi pula ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba melarangku menemui Kara?” tanyanya geram.
Yesil menghela napas panjang, tahu bahwa dia harus sedikit bersabar menghadapi sikap Kaza yang keras kepala.
“Bukan tidak boleh menemui Kara, kau boleh menemui Kara sesukamu, Kaza. Yang kumaksud adalah Sasha. Saat ini Sasha sedang bersama Kara. Dan jika kau masih ingin melindungi dirimu dari dorongan apapun itu terhadap seorang anak yang masih kecil, maka kusarankan kau tidak menantang batas pertahanan dirimu sendiri dan masuk ke dalam sana.”
Kata-kata Yesil membuat Kaza membeku, seluruh tubuhnya langsung menegang. Kaza menoleh ke arah lorong yang mengarah ke ruangan tempat Kara dirawat, mengawasinya dengan kengerian yang merayapi wajah, ketika kembali menatap Yesil, Kara tampak benar-benar ketakutan.
“Kau… kau membiarkan makhluk mengerikan itu kemari? Bersama Kara?”
Yesil menganggukkan kepala, sedikit geli atas ketakutan Kaza yang berlebihan. Sebab jika ditelaah, mungkin Kazalah yang seharusnya disebut makhluk mengerikan bagi Sasha, bukan sebaliknya.
“Sasha memberi pengaruh baik bagi Kara, mempercepat penyembuhannya, dia membuat Kara banyak tertawa, mereka saling berinteraksi dengan harmonis dan jika Kara merasa senang, dia akan lebih mudah sembuh.”
“Tertawa dan berinteraksi dengan harmonis?” Kaza benar-benar tampak ngeri sekarang, menatap Yesil seolah lelaki itu sudah gila. “Kau pikir kita ini bangsa apa? Bangsa pengasuh anak kecil? Kita ini bangsa yang diciptakan untuk berperang, berperang!Kenapa kau membiarkan Kara seperti itu? Anak itu akan menguasainya dan membuatnya makin gila!”
“Kau terlalu berlebihan, Kaza, dia hanya seorang anak kecil,” Yesil benar-benar menahan tertawa sekarang. “Kenapa kau tidak mencoba mengintip dan melihat interaksi mereka? Aku tahu bahwa kau sebenarnya merasa ingin tahu,” ucap Yesil dengan sedikit menantang, membuat Kaza kehabisan kata-kata.
Kaza mengernyit sementara kedua tangannya mengepal, ketika menatap Yesil, lelaki itu tampak marah.
“Aku tidak akan pernah merendahkan diri untuk merasa ingin tahu! Apalagi terhadap manusia rendahan yang tak berarti!”Suara teriakan Kaza memenuhi ruangan, menggema di setiap sudutnya sebelum kemudian lelaki itu melesat pergi dan mengurungkan niat untuk mengunjungi saudara kembarnya.
Aslan menyerbu masuk ke ruang penelitian Yesil, membuat lelaki itu mengangkat kepala dari data-data digital berisi hasil penelitiannya, balas menatap Aslan dengan bingung.
“Kau…apa?” tanya Yesil seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Aslan berdiri di dekat Yesil, menyentuhkan tangannya ke sudut matanya yang basah, lalu menunjukkannya kepada Yesil.
“Ini air mata bukan? Aku sedang berusaha mengajari manusia perempuan sialan itu akan siapa yang berkuasa, lalu dia menangis, mengira aku akan berbelas kasihan dengan air matanya.”Aslan menyeringai dengan ekspresi jijik. “Kemudian aku tergoda untuk mencicipi air matanya karena kau tahu kita tidak akan bisa menemukan di kalangan bangsa kita sendiri…. dan kemudian perasanku bergolak, emosi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya… lalu air mata ini muncul,” Aslan mendesak Yesil dengan nada suaranya yang kasar. “Bagaimana bisa, Yesil? Bukankah secara ilmiah Bangsa Zodijak tidak mempunyai kantong air mata yang memungkinkannya untuk menangis?”
Yesil memutar kursinya menghadap Aslan, mengamati tangan Aslan yang basah oleh air mata dengan tenang, matanya lalu bergerak perlahan menelusuri sudut mata Aslan dan akhirnya yakin bahwa yang keluar dari sana itu benar-benar air mata. Tangan Yesil bergerak ke dagu dan mengetuknya perlahan, gaya tubuhnya khas jika sedang berpikir.
“Yah… secara teknis sebenarnya bangsa Zodijak bukannya tidak mempunyai kantong air mata,” ucap Yesil perlahan.
Aslan langsung menyipitkan mata dengan waspada. “Apa maksudmu?”Yesil memajukan tubuh, memastikan Aslan mendengar perkataannnya, “Kantong air mata Bangsa Zodijak sebenarnya masih ada, tapi bisa disebut sudah membeku. Dan struktur biologis itu berubah karena selama ratusan tahun lamanya, tidak ada dari bangsa kita yang menangis. Kita terlalu keras hati untuk menangis, hal itu secara perlahan mengubah struktur anatomi Bangsa Zodijak, membuat bayi-bayi kemudian dilahirkan dengan kantong air mata membeku, sehingga bahkan bayi sekalipun tidak menangis sampai dia dewasa.”
Yesil mengamati Aslan dengan penuh perhitungan. “Yang bisa aku katakan, mungkin dengan mencicipi air matanya, tubuhmu telah melumerkan kantong air matamu yang membeku….”
“Dan kenapa tubuhku harus melakukannya? Apa yang dilakukan perempuan itu kepadaku sehingga bisa merubah struktur anatomi tubuhku?” Aslan menggeram, dipenuhi kemarahan dan frustasi.
Yesil melemparkan pandangan dengan hati-hati. “Kurasa, Aslan… apapun yang terjadi pada hubunganmu dengan Mischa, itu adalah hubungan timbal balik,” Yesil menghela napas panjang ketika Aslan tertegun, untuk kemudian melanjutkan kembali perkataannya. “Ketika kau menyentuh Mischa… kau membuat tubuhnya sembuh, membuat usia Mischa melambat… pada intinya membuat tubuh Mischa semakin mirip dengan Bangsa Zodijak… dan Mischa sendiri… entah kenapa aku berpikir bahwa dia membuatmu… membuat hatimu entah perasaanmu, semakin mirip dengan manusia,”
Perkataan Yesil menguar di udara, membuat Aslan tertegun dipenuhi kengerian yang amat sangat.
“Menjadi mirip dengan manusia?”
Aslan mendesis sementara ekspresinya berubah gelap, mata hitamnya semakin pekat ketika menyipit menatap saudaranya. “Apakah kau pikir aku bersedia menjadi semakin mirip makhluk rendahan seperti mereka?”
“Ini semua bukan berdasarkan kau mau atau tidak mau, Aslan, bukan berdasarkan kehendakmu,” suara Yesil berubah menjadi semakin berhati-hati ketika menyadari bahwa Aslan bisa meledak kapan saja dia salah menjawab.
“Aku adalah Lelaki Zodijak yang terhormat, pemimpin dari seluruh bangsa ini! Kau pikir apa yang akan terjadi kalau aku menjadi makhluk lembek penuh emosi murahahan seperti manusia?” Aslan menyerbu maju, meraung keras sambil menggebrak meja di depan Yesil. “Lakukan sesuatu! Kau pasti bisa menemukan cara! Sudah cukup dia membuatku menangis seperti perempuan cengeng di luar kemauanku! Tidak akan kubiarkan perempuan itu memengaruhiku lagi!”
Yesil sedikit terkejut ketika mejanya digebrak hingga mengirimkan getaran ke seluruh penjuru ruangan, tetapi dia berhasil menguasai diri lalu memiringkan kepalanya sedikit dan mencoba menjawab dengan tenang karena ketenangan adalah satu-satunya jalan untuk meredam emosi Aslan.
“Sebenarnya caranya mudah. Jika kalian tidak ingin saling mempengaruhi, maka kalian tinggal berhenti bersentuhan,” ucapnya cepat.
“Apa maksudmu?” Aslan menyambar, penuh dengan rasa ingin tahu akan solusi yang diberikan oleh Yesil.
“Tidak menyentuh perempuan itu… tidak memanennya,” Yesil menatap Aslan dalam-dalam. “Dengan begitu apapun efek yang dibagi oleh tubuh Mischa dan memengaruhi perasaanmu tidak akan terjadi lagi… sayangnya, itu juga akan menghentikan kesembuhan Mischa akibat sentuhanmu… dia akan sakit seperti semula dan mati dalam waktu dekat.”