Inevitable War

Inevitable War
Episode 90 : Lapar



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Pada akhirnya Mischa menyerah pada dorongan tubuhnya dan menganggukkan kepala karena perutnya benar-benar meminta makanan.


Hal itu membuat Aslan mengangkat alis, tetapi tidak berkomentar apa-apa.


“Makanan akan datang untukmu,” Aslan menjawab cepat lalu mengalihkan perhatiannya ke arah tubuh Mischa. Perempuan itu mengenakan gaun biru terusan dari bahan lembut yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Aslan memerhatikan dengan seksama dan melihat memar-memar di pundak Mischa.


“Apakah aku yang melakukannya?” suara Aslan berubah dingin entah kenapa, membuat Mischa mendongakkan kepala dan menatap Aslan dengan bingung.


“Apanya?” Mischa akhirnya bertanya, menyadari tatapan garang Aslan ke tubuhnya tetapi tetap saja bertanya-tanya kenapa.


Aslan mengitari meja, lalu menarik kursi Mischa supaya miring menghadap ke arahnya, tubuh Aslan membungkuk, lalu menyapukan jemarinya ke memar-memar yang ada di pundak dan dada bagian atas Mischa.


Tanpa bisa dicegah, tangan Aslan menyelip ke balik pakaian Mischa dan menyingkirkan kain pakaiannya hingga memperlihatkan kulit Mischa.


Di sana juga ada memar-memar yang sama.


“Memar ini. Apakah aku penyebabnya?” Aslan bertanya lagi, kali ini suaranya mendesis, tertahan dari giginya yang mengatup rapat.


Mischa mau tak mau menunduk mendengar pertanyaan Aslan, dia melihat meskipun dengan susah payah, memar-memar yang ditunjukkan oleh Aslan tersebut.


Bahkan Mischa tidak menyadari bahwa memar-memar itu ada, tadi dia mandi cepat-cepat di pancuran karena takut Aslan akan menyusulnya, karena itulah dia tidak sempat melihat dirinya sendiri di cermin.


Memar itu masih baru, warnanya masih pudar, tetapi sudah pasti akan semakin menggelap seiring dengan bertambahnya waktu.


Aslan masih mengusapkan jemarinya di sana, lalu tanpa diduga, lelaki itu menekan salah satu memar di kulit Mischa, membuat Mischa menjerit karena merasakan sakit yang amat sangat.


“Apa yang kau lakukan? Itu sakit!” Mischa memekik sambil berusaha menyingkirkan tangan Aslan dari tubuhnya.


Beruntung Aslan sama sekali tidak membantah dan membiarkan tangannya ditepis.


“Aku sudah berusaha selembut mungkin ketika bercinta denganmu karena kau adalah manusia. Tubuhmu terlalu lembut sehingga tidak bisa menahan tubuh kami yang keras. Aku bahkan begitu berhati-hati ketika menyentuhmu. Bahkan juga di saat aku sedang bergairah hingga hampir meledak, aku masih sadar untuk tidak meremukkanmu,” sekali lagi Aslan mendesis, dan anehnya, kalimat itu seperti sedang diucapkan kepada dirinya sendiri. “Tapi kau masih saja memar.”


Aslan menggeram sambil meletakkan kedua tangannya di lengan kursi Mischa, membungkuk dan mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Mischa, mengintimidasinya. “Kenapa kau masih saja memar?” tanyanya kemudian.


Perkataan yang vulgar diiringi nada mengintimidasi itu langsung menumbuhkan naluri defensif di hati Mischa. Dia langsung mendongakkan dagu, menatap Aslan dengan tatapan menantang.


“Mana aku tahu? Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa memar,” Mischa melemparkan tatapan mengejek ke arah Aslan. “Tapi penyebabnya pasti kau, siapa lagi? Mungkin kau kurang berusaha.” ujarnya dengan nada mencemooh.


Kalimat ejekan Mischa langsung menyalakan kemarahan di mata Aslan yang semakin pekat dan menyeramkan. Aslan langsung menggerakkan tangan untuk mencengkeram dagu Mischa, mendongakkan perempuan itu supaya wajahnya semakin dekat ke arahnya.


“Dasar manusia perempuan tak tahu diri,” Aslan menggesekkan bibirnya ke bibir Mischa. “Dengan kuizinkan menyentuhku, bukan berarti kau bisa berkata dan berucap kurang ajar kepadaku. Aku pemimpin Bangsa Zodijak dan kau adalah manusia rendahan, bahkan untuk menatap mataku saja kau tidak pantas,” suara Aslan berubah serak seiring dengan gesekan bibir mereka berdua yang semakin intens.


Mischa merasakan dadanya bergolak karena perkataan Aslan tersebut. Entah kenapa Aslan selalu pandai memilih kata-kata untuk menghina kaum manusia, dan tentu saja hal itu membuat Mischa marah.


Bagi Mischa, kaum manusia, seburuk apapun atau selemah apapun mereka, memiliki hak untuk tinggal dan memiliki bumi. Bumi diciptakan untuk kaum manusia dan kaum manusia mendapatkan mandat untuk memelihara serta menjaga bumi.


Sedangkan Bangsa Zodijak ini adalah alien yang memiliki planetnya sendiri, tetapi datang mengobrak-abrik kedamaian umat manusia, lalu tiba-tiba saja mereka merasa lebih pantas meninggali bumi sambil menghina kaum manusia sebagai makhluk yang tidak becus?


Mischa sebagai manusia, tentu saja tidak akan diam saja direndahkan seperti itu!


Dengan marah Mischa memalingkan kepala, tangannya yang bebas berusaha mendorong kepala Aslan supaya menjauh, dan kali ini Aslan membiarkannya.


Punggung Aslan menegak sementara matanya menatap Mischa seolah menilai.


“Kalau memang manusia begitu rendah untukmu, maka berhentilah menyentuhku! Bukankah itu sama saja kau merendahkan harga dirimu yang pongah itu dengan terus menerus memaksa menyentuhku? Aku akan sangat senang karenanya, sebab aku jijik dengan sentuhanmu!” Mischa menggeram, menatap Aslan penuh penghinaan.


Seketika itu juga Aslan tertegun. Bibirnya menipis dan matanya menelusuri seluruh diri Mischa, sementara api murka merayapi dirinya. Aslan sudah hendak menjawab ketika suara ketukan terdengar di pintu dan dia tahu bahwa makanan untuk Mischa sudah datang.


Pintu kemudian terbuka, dua orang budak dengan nampan besar di tangannya melangkah dengan hati-hati, lalu meletakkan nampan itu di meja yang terletak di depan Mischa.


Perhatian Mischa langsung teralihkan dan keseluruhan dirinya begitu saja melupakan kehadiran Aslan untuk kemudian terfokus pada makanan di depannya.


Seluruh hidangan itu tampak begitu menggoda, begitu lezat untuk disantap. Air liur Mischa langsung membasahi mulutnya, membuatnya harus menelan ludah sambil menahan diri.Aslan mengamati reaksi Mischa dan mengerutkan kening.


Mata perempuan itu tampak sangat lapar seolah tidak diberi makan sampai berhari-hari.


Apa yang terjadi pada perempuan itu? Apakah percintaan mereka semalam telah menguras tenaganya sampai sedemikian rupa hingga membuat perempuan itu kelaparan gila-gilaan?


Tetapi malam-malam sebelumnya Aslan tidak kalah bergairahnya menyentuh Mischa, dan perempuan itu tidak sampai kelaparan seperti ini…


Pertanyaan Aslan masih menggantung di hatinya ketika tiba-tiba dia menerima panggilan telepati di dalam otaknya.


Antara bangsa Zodijak memang bisa saling memanggil melalui telepati jika mereka mau, tetapi mereka jarang menggunakan kekuatan itu karena rasanya tidak nyaman, sama seperti saling mengintip ke dalam otak satu sama lain. Karena itula mereka hanya melakukannya di saat genting dan benar-benar dibutuhkan.


Dan suara panggilan itu berasal dari Kaza.


Kaza sedang berada di depan wilayah Aslan, dan saudaranya itu meminta izin untuk bertemu.


 



 


Sang Dokter memandang dari kaca satu arah yang terletak di ruang pribadinya.


Kaca itu memungkinkan dia bisa melihat keluar dengan jelas, sementara siapapun yang berada di luar ruangan hanya melihat kaca ini sebagai cermin besar yang membentang di salah satu dinding aula ruang pemeriksaan.


Di ruangan ini, prajurit-prajurit tangguh menjalani pemeriksaan kondisi tubuh oleh para dokter ahli dan ilmuwan yang mendapatkan pelatihan langsung dari dirinya.


Tubuh para prajurit itu tampak semakin kuat dan berotot setelah Sang Dokter memerintahkan dosis ganda lebih daripada yang seharusnya kepada seluruh pasukannya.


Laporan terakhir yang diterimanya mengatakan bahwa belum ada efek samping khusus terhadap dosis ganda yang diterima oleh para prajurit dan belum ada insiden terkait kebijakan itu. Hanya saja, perubahan fisik memang terjadi dengan lebih cepat, seperti kulit para prajurit yang mengeras seperti batu dan indra mereka berubah menjadi lebih peka. Tes pendengaran dan pengelihatan membuktikan bahwa mereka bisa melihat di kegelapan dan mendengar suara-suara lembut yang seharusnya tidak bisa didengar oleh manusia biasa.


Satu-satunya yang perlu dicemaskan, dan itu yang sejak dulu menjadi pertimbangan Sang Dokter hingga tidak segera memutuskan diberikannya dosis ganda adalah karena laporan bahwa jantung para prajurit itu membengkak dan dikhawatirkan, jika harus megeluarkan tenaga lebih, jantung itu akan pecah dan membunuh prajurit-prajuritnya.


Dulu Sang Dokter menahan diri karena mengkhawatirkan kehilangan nyawa prajuritnya. Tetapi sekarang, dia mendapatkan laporan bahwa ada ratusan prajurit yang tersisa dari negara timur jauh yang berhasil bersembunyi di bawah tanah dan lolos dari serangan Bangsa Zodijak.


Mereka bersedia menjadi sukarelawan dan sedang dalam perjalanan menuju markas. Sebagian besar dari mereka adalah para prajurit bertubuh kuat yang bisa menjadi tambahan pasukan nan luar biasa.


Rasa cemas kehilangan nyawa pasukannya berkurang, karena Sang Dokter tahu dia akan mendapatkan ganti dengan mudah.


Mata Sang Dokter mengawasi tubuh-tubuh kuat pasukannya yang telah mendapatkan suntikan darah Natasha. Dia tahu dan bisa merasakan kekuatan yang menguar di udara dan semakin lama sekain dahsyat… dia tahu bahwa waktunya hampir tiba untuk berperang.


Ketika Bangsa Zodijak lemah, ketika itulah mereka harus menyerang.


Pasukan lamanya yang diberikan dosis ganda akan menjadi garda terdepan untuk memberikan peringatan kepada Bangsa Zodijak dan bertugas melakukan penghancuran sebanyak mungkin.


Pasukannya yang sekarang ini berbeda dengan pasukan Vladimir yang diluluh lantakkan oleh prajurit Zodijak di tengah padang pasir ketika itu. Vladimir dan pasukannya itu bisa dibilang cukup lemah sekarang jika dibandingkan dengan pasukannya yang mendapatkan dosis ganda. Mereka beratus-ratus kali lebih kuat sekarang, dan mereka sangat bersemangat serta percaya diri untuk pergi bertempur.


Sebuah senyum jahat muncul di bibir Sang Dokter ketika menatap rona penuh keyakinan di wajah pasukannya dari balik cermin.


Dia tahu persis bahwa ketika digunakan bertarung dengan sekuat tenaga, jantung para manusia ini akan pecah pada waktunya nanti.


Misi penyerangan yang dicanangkannya ini adalah misi sekali jalan, misi bunuh diri dimana pelakunya tidak tahu bahwa mereka dikirim untuk mati.


Sang Dokter menyeringai dingin. Lagipula manusia-manusia busuk ini memang pantas mati, sama seperti Bangsa Zodijak yang akan dia hancurkan nanti.


Mereka hanyalah pion yang akan membantu dirinya mencapai tujuan.


Sebuah tujuan rahasia yang telah dicanangkannya sejak awal mula… sebuah tujuan yang hanya dirinyalah yang tahu, dan hal itu akan menjadi sebuah kejutan bagi siapapun yang melihatnya, dan dari pihak manapun mereka berada, tanpa kecuali.