Inevitable War

Inevitable War
Episode 108 : Tergila-gila



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



 


W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Kaza melangkah perlahan melalui lorong wilayah milik Aslan, tahu bahwa Aslan sedang sibuk dengan Mischa di dalam kamar dan tidak akan menghalanginya untuk sementara waktu.


Dia sedang mencari lokasi dimana Sasha ditempatkan. Dengan dilepaskannya gelang peledak dari kaki Sasha dan sikap Aslan yang melunak kepada Mischa, sudah dipastikan bahwa Sasha tidak lagi ditempatkan di penjara berkeamanan tinggi yang ada di wilayah Aslan.


Sasha pasti ditempatkan di salah satu kamar di lorong ini.


Kaza menajamkan indra penciumannya, tahu bahwa jalan untuk menemukan Sasha adalah dengan berusaha mengendus aromanya yang tercium sangat tajam di hidungnya.


Ya, Aroma Sasha begitu khas, tercium tajam di hidungnya bahkan ketika pertama kali Kaza bertatapan mata dengan anak perempuan kecil sialan itu.


Dengan frustasi Kaza menghentikan langkah, sebelah tangannya berpegangan di dinding sementara tangannya yang lain mengacak rambutnya sendiri.


Dia bahkan tidak tahu kenapa dirinya sekarang berada di sini, bertingkah seperti orang bodoh yang mencoba menemukan jejak anak perempuan sialan tersebut dan mengendus-ngendus dengan konyol.


Dia bahkan mengenakan mata palsu manusia yang menyedihkan ini seolah-olah tidak ingin Sasha ketakutan kepadanya.


Memangnya kenapa kalau Sasha takut kepadanya? Bukankah memang monster kecil itu harus takut kepadanya supaya dia menyadari bahwa Kaza jauh lebih kuat dan menakutkan?


Sambil menggertakkan gigi dan mengutuki dirinya yang bodoh, Kaza melangkah menahan marah sementara tangannya bergerak mencoba mencabut lensa mata manusia palsu miliknya dengan gusar. Tapi kemudian tubuhnya membeku dan langkahnya terhenti ketika dia sampai di depan sebuah pintu yang tertutup rapat.


Aroma itu…


Mata Kaza menyipit ketika hidungnya membaui aroma yang menghantui malam-malamnya dan menyiksanya sampai setengah mati.


Ini aroma monster cilik tersebut, tercium samar dan semakin menguat dari balik pintu yang tertutup rapat di depannya.


Kaza mematung, membeku di depan pintu untuk beberapa lama, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang memukul-mukul dengan keras hingga terasa menguar di udara, mengganggu indra pendengarannya yang tajam.


Sekuat tenaga dia berusaha menahan diri, tetapi pada akhirnya dia menyerah juga.


Kaza menyentuhkan tangannya di pintu khusus tersebut, pintu ini tidak akan bisa dibuka oleh Sasha dari dalam karena didesain hanya bisa dibuka oleh Bangsa Zodijak. Perlahan Kaza mendorong pintu itu, membukanya lebar dan melangkah masuk sebelum kemudian menutup pintu itu dengan berhati-hati.


Mata Kaza terpaku pada sosok anak kecil yang sedang memunggunginya, duduk di atas kursi dan sibuk membaca buku yang terletak di atas meja di depannya.


Kaza berusaha melangkah tanpa suara dan hanya ingin mengambil jarak aman untuk mengawasi, sayangnya gerakannya terdengar jelas di ruangan yang sunyi senyap itu dan membuat Sasha menolehkan kepala untuk mencari sumber suara.


Mata Sasha melebar ketika menemukan sosok lelaki di belakang punggungnya, sementara Kaza membeku, tidak tahu harus berbuat apa.


Kemudian tanpa terduga, Sasha mendorong kursinya dengan tubuh mungilnya, lalu meloncat ke lantai dan berlari cepat untuk menubruk tubuh Kaza tanpa sempat Kaza menghindar.Sasha menenggelamkan kepala di tubuh Kaza sementara tangan mungilnya melingkari punggung lelaki itu, membuat Kaza menundukkan kepala dengan tangan membeku di udara, terperangah karena shock tak terbatas.


“Kara!” Sasha berseru dengan kerinduan kental di dalam nada suaranya.


 


 



 


Perlahan Mischa mencoba bangkit tetapi sesuatu yang berat menahan tubuhnya, membuat Mischa mengerutkan kening dan barulah dia menyadari bahwa Aslan masih berbaring di sebelahnya.


Lelaki itu tampak lelap dengan mata terpejam sementara salah satu lengannya merengkuh tubuh Mischa dengan posesif dan memaksa mendekatkan tubuh Mischa supaya meringkuk di dadanya.


Kepala Mischa mendongak dan dengan hati-hati menatap ke arah Aslan yang tampak begitu lelap, mata lelaki itu terpejam sementara bibirnya sedikit terbuka dengan napas teratur yang mengiringi gerakan dadanya yang naik turun.


Jika sedang terpejam seperti ini, ciri khas Bangsa Zodijak yang paling menonjol dengan mata legamnya tiba-tiba hilang begitu saja. Saat ini Aslan tampak seperti laki-laki manusia biasanya yang tidak terlihat berbahaya sebagaimana aslinya.


Oh… Mischa tidak akan melupakan permukaan kulit Aslan yang terasa lebih keras dengan suhu yang lebih dingin dari suhu badan manusia, tetapi jika dia berada pada posisi lain sebagai orang asing yang tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba bertemu dengan Aslan yang sedang tertidur lelap, tidak menyentuh Aslan dan berdekatan seperti saat ini, dia pasti akan mengira Aslan adalah manusia biasa.


Sampai Aslan membuka matanya dan menunjukkan warna legam yang mengerikan yang menjadi ciri khas Bangsa Zodijak…


Membayangkan itu semua membuat pertanyaan muncul di benak Mischa. Pertanyaan tentang anak-anak yang berada di dalam kandungannya ini.


Apakah mata anak-anaknya ini nanti akan seperti Aslan? Apakah mereka akan sama seperti Aslan? Bisakah dia mencintai anak-anaknya nanti jika mereka sangat mirip dengan Bangsa Zodijak musuh umat manusia?


Pemikiran itu membuat kepala Mischa pening, hingga dia mendorong dirinya sendiri untuk membuang segala pertanyaan tersebut. Toh sesuai dengan janji Aslan nanti, lelaki itu akan membiarkan Mischa pergi dan membentuk koloni manusia sendiri setelah melahirkan anak-anaknya, bukan? Itu berarti nanti Mischa akan pergi dan meninggalkan anak-anaknya bersama Aslan…


Pemikiran tentang Aslan membuat Mischa kembali menatap lelaki itu, dia mengerutkan kening melihat Aslan tertidur di sebelahnya seperti saat ini.


Bukan hanya sekali dua kali lelaki alien ini tertidur setelah memanen dirinya dan itu membuat Mischa bertanya-tanya, karena dia tahu pasti bahwa Kaum Zodijak tidak membutuhkan tidur, setidaknya hasil penelitian ayahnya menemukan itu. Sistem metabolisme manusia Zodijak lebih sempurna daripada manusia, mereka bisa mengubah air menjadi energi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia sampai sekarang ini. Sistem pengubah energi inilah yang memungkinkan Bangsa Zodijak hampir-hampir tidak pernah merasa kelelahan, otak mereka tidak butuh istirahat, pun dengan bagian-bagian lain dari organ tubuhnya. Bisa dikatakan bahwa energi yang dihasilkan oleh Bangsa Zodijak adalah energi tanpa batas yang dihasilkan terus-menerus tanpa jeda dan bisa digunakan sepanjang waktu hidupnya tanpa perlu proses recharge ulang.


Apakah benar yang dikatakan oleh Aslan bahwa dengan melakukan proses panen dengan Mischa, bukan hanya Mischa yang menyerap kesembuhan yang diambil dari kekuatan tubuh Aslan, tetapi juga Aslan yang menyerap sisi manusiawi dari Mischa?


Kalau begitu akan jadi apa mereka berdua nantinya? Jika Aslan semakin mirip Mischa dan Mischa semakin mirip Aslan, apakah nantinya mereka akan menjadi sosok setengah manusia setengah zodijak?


“Kalau kau terus mengerutkan dahimu seperti itu, kau akan terlihat lebih tua daripada umurmu.”


Suara Aslan yang terdengar tiba-tiba membuat Mischa terkesiap dan dalam sekejap berusaha menjauh. Tetapi tentu saja Aslan tidak membiarkan hal itu terjadi, tangannya bergerak merangkul punggung Mischa dan mendorong tubuh Mischa hingga membentur dadanya yang keras, membuat Mischa mengaduh.


 


“Apa yang sedang kau pikirkan?” Aslan bertanya dengan nada datar sementara matanya menyorot tajam.


Tentu saja Aslan belum melepaskan Mischa dari pelukannya, sebelah tangannya malahan bergerak untuk menyentuh dagu Mischa dan mendongakkannya lembut.Mischa membalas tatapan Aslan dengan sinar penuh tantangan yang biasa dia gunakan untuk melawan lelaki itu.


“Aku hanya berpikir apakah tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan sehingga kau malahan enak-enakan tidur disini,” ujar Mischa dengan nada berani dan tak lupa mendongakkan dagu dengan angkuh.


Sikapnya itu bukannya membuat Aslan marah ataupun jengkel, malahan membuat lelaki itu menyeringai sebelum kemudian tidak bisa menahan kekehannya.


“Kau tahu aku suka berolahraga dengan berburu untuk mengisi waktu luangku,” Aslan melanjutkan dengan tenang, membuat Mischa memucat karena tahu bahwa apa yang dimaksudkan oleh Aslan itu adalah berburu manusia.


Aslan sendiri melemparkan pandangan ke arah Mischa untuk memastikan bahwa perempuan itu mengerti maksudnya sebelum kemudian melanjutkan, “Tetapi berada di sini bersamamu, cukup melatihku untuk bugar, aku sama saja seperti berolahraga.” sambungnya kemudian sambil tak lupa menyelipkan nada penuh arti di sana.


Pipi Mischa langsung merah padam ketika berpikir bahwa apa yang dimaksud dengan olahraga adalah proses memanen dirinya… ya… itu memang melelahkan terutama bagi Mischa yang harus mengimbangi Aslan, tetapi apakah itu melelahkan bagi Aslan?


Suara kekehan Aslan membuat Mischa mengangkat kembali matanya, mendongak untuk menatap lelaki itu yang mengedip kepadanya dengan menggoda.


“Pikiran mesum apa yang ada di dalam kepala mungilmu itu, Mischa?” gumam Aslan di tengah kekehannya. “Olahraga yang kumaksud adalah berdebat denganmu. Kadang-kadang aku memerlukan banyak tenaga untuk mengimbangi sikap keras kepalamu dan itu sama saja dengan berolahraga.”


Kali ini  bukan hanya pipi Mischa saja yang memerah melainkan seluruh permukaan kulitnya, bahkan telinganya dan lehernya juga berwarna merah karena malu yang amat sangat.


Aslan sialan! Lelaki ini dengan sengaja menjebaknya supaya berpikiran mesum dengan tujuan untuk mengejek dan menertawakannya!


Dengan marah Mischa berusaha meronta, mencoba melepaskan diri dari Aslan untuk menunjukkan kemurkaannya yang tak terbendung. Tetapi seperti tadi, Aslan sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya, pelukan lengan-lengannya mengencang ketika Mischa mencoba memukul, menendang dan mencakar dengan sia-sia.Pada akhirnya ketika Mischa terengah karena kehabisan napas, barulah Aslan sedikit mengendurkan pelukannya sebelum kemudian menundukkan kepala dalam untuk menyatukan dahinya dengan dahi Mischa, membuat wajah mereka sangat berdekatan.


“Aku belum selesai dengan kalimatku, kelinci galak,” bisik Aslan dengan nada setengah serius. “Selain berdebat denganmu, bercinta denganmu juga seperti olah raga bagiku. Olahraga yang menyenangkan karena meskipun aku kehabisan tenaga, dalam sekejap seluruh diriku akan terisi kembali karena dorongan untuk menyentuhmu lagi dan lagi,” Aslan mendekatkan bibirnya ke bibir Mischa dan mengecupnya perlahan dengan menggoda. “Aku tergila-gila padamu, Mischa. Kau membuatku ketagihan.” rayunya menggoda.