Inevitable War

Inevitable War
Episode 13 : Mengikat Sang Dewi Air



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


***


 


 


 



Setelah yakin bahwa aura keji Aslan sudah menghilang, Mischa menolehkan kepalanya perlahan untuk melirik ke belakang, dirinya lalu bangkit, duduk di atas ranjang sementara pandangan matanya terpaku pada meja di samping ranjang.


Di sana tidak ada hidangan lengkap menggoda seperti tadi. Tetapi yang berada di atas nampan itu tidak kalah menggiurkannya dengan yang sebelumnya. Segelas susu hangat dan beberapa keping biskuit yang sepertinya baru dibuat, menguarkan aroma harum nan menggoda.


Sejenak Mischa ragu, tetapi kalimat Aslan tadi mendorongnya untuk mengambil keputusan. Dirinya tidak bisa terpuruk seperti ini, menolak makan hanya karena ketakutan bahwa Aslan akan memanennya begitu dirinya dianggap siap nanti.


Yang terjadi biarlah terjadi, yang terpenting sekarang, Mischa tidak akan kehilangan semangat juangnya hanya karena rasa takut.


Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah berjuang dan melawan.Dan untuk melakukan itu semua dia butuh tenaga dari makanan. Aslan benar, Mischa tidak akan bisa melawan jika dia lemas karena lapar, dia akan lebih punya kesempatan kalau dia kenyang dan bertenaga.


Bukankah dia bisa melukai Aslan? Bukan tidak mungkin akhirnya nanti, jika dia mengerahkan seluruh tenaga, dia akan bisa mengalahkan dan membunuh makhluk buas itu?


Jemari Mischa sedikit gemetar ketika meraih gelas susu hangat itu, tidak percaya bahwa dirinya berkesempatan merasakan lezat dan nikmatnya susu di dalam tangannya.


Dengan hati-hati, menjaga supaya tidak ada yang tumpah setetes pun, Mischa mengarahkan gelas itu ke tenggorokannya, dan meneguk susu putih hangat yang langsung mengalir dan membasuh lidahnya dengan kenikmatan.


Sejenak Mischa tertegun, kemudian air mata menetes dari sudut matanya, air mata syukur bercampur ironi nan dalam. Syukur karena kesempatan menikmati makanan yang layak, dan ironi karena dia mendapatkannya dari musuh yang dibencinya.


Akhirnya, Mischa mengambil keping-keping biskuit itu, menghabiskannya dengan penuh tekad, lalu meneguk susu hangat itu sampai tandas sementara air matanya masih bercucuran membasahi pipi.


Jika Aslan nanti memutuskan untuk memaksakan kehendak kepada Mischa, Aslan tidak akan menghadapi perempuan lemah yang tunduk dan pasrah, lelaki buas itu akan menghadapi perempuan yang siap melawan dan rela mati demi mempertahankan kehormatannya.


 


﴿﴿◌﴾﴾



 


Ketika Aslan melangkah memasuki ruang makan, keenam saudaranya sudah berkumpul di sana.


Akrep seperti biasa duduk di kursi besarnya dengan wajah tegang dan tak sabar karena Yesil yang duduk di sebelahnya bersikeras menunggu mereka semua lengkap terlebih dahulu sebelum membeberkan hasil test darah Mischa.


Kara dan Kaza duduk berdua di sofa, Kara menatap Aslan dengan jengkel sementara Kaza seperti biasa memasang ekspresi tidak peduli.


Khar yang pendiam duduk di meja makan, tampak malas sambil melirik ke arah Aslan yang baru masuk.


Sevgil sebaliknya tampak begitu antusias menunggu Yesil berbicara.


“Sekarang bicaralah, Yesil. Aslan sudah datang,” Akrep melemparkan tatapan mencela ke arah Aslan karena saudaranya itu terlambat datang dan membuat mereka semua menunggu lama, lalu memusatkan perhatiannya kembali kepada Yesil.


“Kalian tahu ini apa?” Yesil mengedikkan dagunya ke arah tabung di depannya, sementara seluruh saudaranya memberikan reaksi yang sama, menggelengkan kepala.“Aku melakukan test pada sampel darah Mischa dengan berbagai cara. Jika aku menggunakan peralatan pemeriksaan manusia, aku menemukan bahwa tidak ada yang aneh dari darah Mischa, semuanya aman, kandungan darahnya sama, seperti layaknya manusia biasa. Hanya saja sel darah putih atau sel imunitas yang ada di dalam tubuh Mischa tampal lebih agresif. Bukannya  berperan sebagai tentara untuk melindungi sel imun itu malah sibuk merusak tubuhnya dari dalam.”


Yesil menghela napas penuh antisipasi. “Setelah melakukan berbagai percobaan, entah kenapa aku memikirkan ide gila yang datang entah darimana. Aku mengambil sedikit sampel air suci Zodijak dari penyimpanan rahasia dan meneteskan air suci Zodijak yang berharga ke sampel darah Mischa. Tenang saja, aku hanya mengambil sedikit dari wadah berharga kita, satu-satunya wadah yang menampung air Zodijak dari planet kita yang tersisa. Dan kalian bisa lihat sendiri seperti apa sampel darah Mischa setelah ditetesi air suci Zodijak.” Yesil mengangkat tabung di tangannya.


Aslan mengerutkan kening. “Darahnya berubah menjadi air?” tanpa meminta izin, lelaki itu mengambil tabung yang dibawa oleh Yesil, mengangkatnya ke atas supaya terkena cahaya dan air kebiruan di dalam tabung itu langsung memantulkan cahaya lampu hingga menampilkan bulir-bulir air bening yang tampak segar.


Mata Aslan menatap Yesil dengan curiga. Meski sama-sama air dan memiliki komposisi yang sangat mirip, air suci zodijak memiliki karakteristik warna yang berbeda dengan air dari bumi. Air suci Zodijak berwarna kebiruan sedangkan air dari bumi memiliki warna asli bening.


“Kau tidak mengganti isi tabung ini dengan air suci Zodijak untuk mempermainkan kami, bukan?” tuduh Aslan waspada.


Yesil menggelengkan kepala, tampak tersinggung. “Kau tahu bahwa aku adalah seorang peneliti berintegritas yang menjunjung tinggi keabsahan hasil penelitian. Aku tidak akan memanipulasi hasil penelitian hanya untuk main-main,” ekspresi Yesil yang biasanya santai berubah serius.


Aslan seolah tidak peduli dengan sikap tersinggung Yesil, lelaki itu membuka tutup tabung, dan meneteskan tetesan air ke tangannya


.“Aku tidak menyarankan kau mencicipinya,” Yesil berseru cepat. “Cairan itu memang tampak seperti air, tapi kita tidak tahu itu apa.”


Aslan mengangkat alis dengan sombong. “Cairan seperti ini tidak mungkin membunuhku.” desisnya lalu mengangkat telapak tangan ke bibir dan menuangkan air itu ke mulutnya.


Seketika itu juga, ketika cairan biru jernih tersebut terasa di mulutnya dan mengalir ke tubuhnya, Aslan tertegun, dan memejamkan mata, merasakan sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata-kata, merasakan sensasi meledak luar biasa bercampur dengan rasa sesak di dada yang membuat air matanya mendesak keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.


“Aslan?” Akrep setengah bangkit dari duduk, memandang Aslan dengan tatapan khawatir, begitupun dengan saudara-saudaranya yang lain. Aslan tidak pernah menangis sebelumnya, baru kali ini terjadi.


Aslan membuka mata, menatap saudaranya satu-persatu, ketika dia berbicara, suaranya terdengar serak.


“Itu… adalah air paling murni yang pernah kurasakan… lebih murni dari air suci berharga yang tersisa dari planet Zodijak…rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata….” bahkan suara Aslan terdengar terbata ketika mengungkapkan perasaannya.


Akrep berdiri dan bergerak mendekat dengan penasaran.


“Biarkan aku mencobanya…” tangannya terulur, hendak mengambil air itu dari tangan Aslan, tetapi Aslan langsung melangkah mundur, menggenggam erat tabung berisi darah Mischa yang telah berubah menjadi air di tangannya dengan sikap posesif.


“Tidak!” raung Aslan marah. “Ini milikku. Dia juga milikku. Tidak ada satupun dari kalian yang boleh menyentuhnya. Tidak sedikitpun!” Aslan melirik ke arah Kara dengan penuh ancaman. “Kalau kalian berani melakukannya, kalian akan berhadapan dengan kekuatanku.”


“Aslan,” Kali ini Yesil bergumam dengan nada menenangkan. “Apakah kau sadar bahwa manusia perempuan itu mengubahmu menjadi sangat posesif dengan cara primitif? Kau seolah-olah rela mati hanya demi mempertahankannya tetap menjadi milikmu,” simpul Yesil dengan nada hati-hati, tahu pasti bahwa Aslan begitu mudah meledakkan kemarahannya jika disulut.


Aslan sendiri tertegun mendengar perkataan Yesil, benaknya berputar dan dirinya sendiri menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Yesil benar adanya.


Kenapa bisa seperti itu?Selama ini Aslan bahkan tidak pernah menghargai makhluk yang berwujud manusia karena menurutnya mereka semua memang hanyalah makhluk lemah yang tidak berharga.


Bahkan Aslan mengangkat budak manusia bukan karena dia mau, tetapi lebih karena dia membutuhkan pelayan untuk melakukan perintahnya. Tidak pernah sekalipun dia ingin memiliki manusia, dirinya bahkan dengan mudah bisa memberikan budaknya untuk dibunuh atau dijadikan mainan pasukannya hanya untuk bersenang-senang.


Tapi tidak dengan Mischa. Membayangkan perempuan itu berada di luar kuasanya, dimiliki oleh yang lain sudah membuat darahnya mendidih dipenuhi kemarahan luar biasa.


Aslan menghela napas panjang, lalu menghembuskannya untuk menenangkan diri, sebelum kemudian dia menatap Yesil menyelidik.


“Apakah dia memang senjata yang dibuat khusus untukku?” Aslan akhirnya mau menerima dugaan itu, suaranya mendesis tajam.


Yesil menggelengkan kepala. “Aku tidak menemukan apapun yang aneh di darahnya, tidak ada perubahan kimiawi yang dihasilkan oleh ulah manusia, karena jika itu yang terjadi aku pasti akan menemukan jejaknya. Darahnya sama sekali tidak bereaksi dengan semua hal yang berhubungan dengan bumi. Darahnya baru bereaksi ketika kita meneteskan air suci dari planet kita. Air yang hanya dimiliki oleh kita, dijaga ketat dan disimpan sebagai artefak berharga dimana tidak semua makhluk bisa mengaksesnya. Hanya kita bertujuh yang bisa mengaksesnya, bahkan Bangsa Zodijak yang lainpun tidak bisa, apalagi manusia. Teknologi manusia tidak akan mungkin bisa mengubah darah menjadi air dengan diteteskan oleh air Zodijak yang mustahil untuk mereka miliki.”


Yesil menatap mata seluruh saudaranya satu-persatu untuk memastikan bahwa mereka semua memahami maksudnya sebelum kemudian melanjutkan penjelasannya kembali.  “Menurutku apa yang ada di darahnya adalah sesuatu yang alami, bukan hasil rekayasa kimiawi. Darahnya membawa pesan untuk kita, sebuah pesan bahwa perempuan itu benar-benar Dewi Air dalam mitologi kita. Kau, Si Singa, terikat dengannya karena sejarah kalian berdua di masa lampau. Manusia perempuan itu adalah petunjuk bagi kita. Kalau kalian bersatu, kejayaan kita akan pulih kembali seperti di masa lampau. Kalau menurut saranku, kau harus mengikatnya, Aslan. Supaya dia menjadi bagian dari kita, karena aku yakin bahwa kehadirannya akan membawa kejayaan bagi bangsa kita, entah dengan cara apa.”


“Persetan dengan semua mitologi itu,” Aslan menyela dengan suara mencemooh yang kental. “Aku tidak menyangka kalian masih memercayai mitologi itu padahal teknologi kita sudah begitu modern. Dan aku tidak akan bersatu dengan perempuan manapun, apalagi dengan manusia perempuan hanya karena kepercayaan terhadap sebuah mitologi.”


“Kau adalah pemimpin kami, karena kau yang terkuat dari kami,” Akrep bergumam dengan nada tenang. “Seharusnya sebagai seorang pemimpin kau selalu mengedepankan kepentingan Bangsa Zodijak di atas semua egomu, Aslan. Yesil akan melanjutkan penelitiannya, berikan perempuan itu kepadanya untuk diteliti, dan jika memang nanti kesimpulannya perempuan itu benar-benar dewi air dalam mitologi kita, maka seperti yang dikatakan oleh Yesil, kau harus memikirkan untuk mengikatnya supaya dia selalu bersama kita.”


“Aku tidak akan melakukannya dan kau tidak dalam kapasitas untuk memberi perintah kepadaku, Akrep,” Aslan menggeram, membelalakkan mata dengan marah.


Akrep sendiri menyipitkan mata, lalu menatap Aslan dengan penuh perhitungan.


“Kalau kau tidak mau melakukannya, maka salah satu dari kita harus melakukannya. Aku sendiri bersedia mengikat perempuan itu jika memang perlu,” ucap Akrep dengan penuh tekad, menciptakan keheningan mencengangkan yang meliputi seluruh ruangan.


﴿﴿◌﴾﴾