Inevitable War

Inevitable War
Episode 40 : Memeluk Mischa



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira



Perempuan itu masih tidur.


Aslan melirik ke arah tangan Mischa dan menyadari bahwa infus yang tergantung di atas dan terhubung dengan selang bening yang mengalirkan cairan ke tangan Mischa-lah yang menjaga perempuan itu tetap terlelap dengan damai.


Yesil meninggalkan cairan infus itu kemarin dan meminta Aslan memasangnya kalau-kalau sampai semalaman demam Mischa belum turun juga, dan Aslan memerintahkan para budaknya memasang infus itu sebelum dia berangkat berperang.


Sepertinya para budaknya telah melaksanakan perintahnya dengan baik, mereka juga menjalankan instruksinya untuk mengunci pintu ruangan Mischa dan tidak mengizinkan siapapun masuk, bahkan Yesil sekalipun.


Entah kenapa saat ini Aslan merasa sedikit kecewa karena Mischa sedang tidur.


Seharusnya perempuan itu menyambutnya dengan mata terbuka.


Lalu apa?


Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di benak Aslan dan membuatnya menipiskan bibirnya dengan miris.


Kalau perempuan itu membuka mata, yang mereka lakukan adalah saling bertarung satu sama lain. Pada akhirnya Aslan akan kehilangan kesabarannya dan menggunakan kekuatannya untuk mengintimidasi Mischa dan perempuan itu akan melawan sekuat tenaga sebelum akhirnya kalah.


Hubungan mereka akan selalu seperti itu. Mischa tidak akan pernah mendapatkan penghargaan Aslan karena dia adalah manusia rendahan yang kastanya jauh di bawah bangsa mereka, sementara Mischa tidak akan pernah menghormati Aslan karena mata manusianya yang menyedihkan memandang Aslan sebagai alien kejam yang menginvasi dan meluluh lantakkan peradaban kaumnya.


Bagaimana jika apa yang dikatakan Akrep tadi terjadi? Bahwa perempuan ini akan mengandung dan melahirkan anaknya? Setelah itu apa? Apakah akan ada hubungannya dengan air bumi yang mulai berubah menjadi air Bangsa Zodijak? Apakah setelah perempuan ini mengandung, hasratnya yang mengganggu untuk membuahi perempuan ini akan ikut lenyap? Apa  yang akan dia lakukan pada perempuan ini setelahnya?


Dengan ragu Aslan berdiri di tepi ranjang, lalu lelaki itu membungkuk untuk kemudian menyentuhkan tangannya ke dahi Mischa.


Demam Mischa sudah turun.


Obat dari Yesil yang dicampurkannya ke infus yang terpasang di tangan Mischa sepertinya sudah berfungsi dengan baik.


Mata Aslan melirik ke arah leher Mischa yang dibalut oleh perban lalu kerutan di dahinya semakin dalam. Ini sudah hampir dua puluh empat jam sejak leher Mischa dibebat, kalau sesuai dengan nasehat Yesil kemarin, dia harus membantu manusia perempuan ini melepas perbannya dan melihat kondisinya.


Aslan akan menganggap Mischa sebagai makhluk yang berada di bawah kekuasaannya. Saat ini tubuhnya membutuhkan tubuh Mischa untuk memuaskan hasratnya, jadi dia tidak keberatan untuk menjaga kondisi tubuh Mischa selalu baik karena hal itu akan menguntungkannya juga.


Mata gelap Aslan menelusuri tubuh Mischa yang meringkuk di balik selimut, dan sengatan keinginan untuk memeluk Mischa seketika muncul, langsung mendesaknya hingga membuat napas Aslan tertahan.


Mata Aslan melirik ke arah cairan infus yang sudah hampir habis dan memutuskan untuk melepaskan selang infus itu dari tangan Mischa. Sepertinya Infus itu yang membuat Mischa tetap tidur seperti dibius dan menjaga nutrisinya hingga Mischa tidak akan lapar dan haus meskipun tertidur seharian.


Menurut Aslan, saat ini sepertinya Mischa sudah cukup siap untuk bangun dan menghadapinya.


Dengan hati-hati Aslan mencabut selang infus itu dan meletakkannya di meja. Jarum yang digunakan untuk memasukan selang infus itu sebelumnya rupanya cukup besar meskipun tidak menyakiti, hingga menyisakan titik luka kecil di tangan Mischa.


Kepala Aslan menunduk, menatap pergelangan kurus nan rapuh itu, dia tidak bisa menahan diri hingga tangannya meraih tangan mungil Mischa dan membawa pergelangan tangan Mischa ke bibirnya.


Aslan memejamkan mata, lalu menempelkan bibirnya yang panas ke tangan Mischa, bibirnya lalu membuka untuk kemudian mencecap kulit Mischa dengan lidahnya.


Kulit Mischa terasa begitu lembut dan menyenangkan di lidahnya dan Aslan ingin merasakan keseluruhan diri Mischa, ingin menikmati perempuan itu dengan indra pengecapnya…


Dengan perlahan Aslan menarik tangan dan bibirnya dari kulit Mischa, melangkah mundur sambil menggertakkan gigi untuk menahan diri.


Dia akan mandi. Mandi air dingin, air yang sangat-sangat dingin.


Aslan membalikkan tubuh dan melepaskan mantel berperangnya dengan serampangan di karpet, lalu melangkah dengan kasar menuju kamar mandi.



Udara dingin membuat Mischa menggigil. Dia mengerjapkan mata lalu menggeliat sedikit dalam tidurnya. Gaunnya yang tipis berlapiskan selimut sama sekali tak membantunya melawan rasa dingin.


Secara alami Mischa beringsut, tubuhnya mencari kehangatan untuk diserap dan dia meringkuk senang ketika menemukan kehangatan itu berada di dekatnya, menguarkan hawa panas menyenangkan yang membuat Mischa tidak bisa menahan diri untuk mendekat, seperti ngengat yang tertarik pada nyala api lilin meskipun api itu pada akhirnya akan membakar sayap tipisnya untuk kemudian menghancurkan dirinya.


Lengan-lengan Mischa menemukan sesuatu yang hangat yang dikiranya selimut tebal beraroma menyenangkan yang terasa nyaman. Dalam senyum dirinya merangkulkan lengan dan kaki ke selimut itu, berusaha menjaga kenyamanan itu agar selalu berada di dekatnya.


Suara napas tertahan di atas kepalanya membuat kesadaran Mischa yang samar berangsur kembali. Matanya masih terpejam meskipun alam pikirannya mulai berputar.


Suara napas?


Selimutnya bernapas?


Pikiran Mischa masih berkabut, dia bahkan kebingungan dengan keberadaannya, ingatannya bagaikan pecahan-pecahan kaca berhamburan yang merefleksikan setiap kejadian dengan terbalik-balik dan tidak berhubungan satu sama lain.


Mischa harus memusatkan perhatiannya sekuat tenaga untuk mengumpulkan kembali kesadarannya.


Satu persatu Mischa teringat, dia mencari air, lalu prajurit-prajurit Zodijak yang mengerikan itu menyeretnya untuk kemudian membawanya ke area budak. Setelah itu yang bisa diingat oleh Mischa adalah cincinnya yang berubah warna menjadi merah….


Sasha!


Pikiran itu langsung membuat mata Mischa terbuka nyalang, menatap langit-langit kamar berwarna gelap dan mengenalinya. Napasnya terengah, dipenuhi kebingungan dan ketakutan akan nasib Sasha, lalu gerakan itu terasa begitu dekat dan mengalihkan perhatian Mischa, gerakan dari tubuh besar disebelahnya, tubuh lelaki yang kuat dan berbahaya.


Mischa menelan ludah dan menolehkan kepala, tahu pasti yang sedang dan akan dihadapinya dan napasnya tercekat ketika matanya bertemu dengan mata gelap pekat yang balas menunduk menatapnya dengan ekspresi yang sudah sangat dikenali Mischa.


Seketika itu juga Mischa menyadari bagaimana posisinya sekarang dan kenapa Aslan menatapnya dengan penuh arti.


Dirinya-lah yang mendesak Aslan hingga ke pinggir ranjang, posisinya sekarang sangat memalukan, bergayut dengan lengan dan paha melingkari tubuh Aslan seolah-olah hidupnya bergantung di sana.


Mischa memekik, lalu melepaskan pegangannya dan berguling dari ranjang, berusaha sejauh mungkin dari lelaki itu.


Sayangnya kesempatannya untuk lepas sepertinya sudah hilang karena Aslan bangkit dan menggunakan lengannya untuk meraih pundak Mischa, lalu membalikkan tubuhnya dan memaksa Mischa berbaring sementara Aslan menempatkan dirinya di atas tubuh Mischa.


Lelaki itu bertumpu pada kedua lengannya dan tubuhnya membungkuk dengan kepala sejajar dengan kepala Mischa.


“Sudah terlambat, manusia. Tidak ada gunanya kau menjauh,” desis Aslan di antara gertakan giginya. Tanpa diduga telapak tangan lelaki itu menempel di dahi Mischa, dengan gerakan lembut yang tidak disangka oleh Mischa bisa dilakukan oleh Aslan.“Sudah tidak demam lagi. Dan tidak perlu menatapku penuh teror, adik angkatmu baik-baik saja,” Aslan meredakan kepanikan Mischa sementara matanya bergerak menelusuri leher Mischa, tangannya bergerak untuk menyapu perban di sana,  mata Aslan kemudian kembali beralih menatap mata Mischa yang dipenuhi ketakutan bercampur kemarahan tak terlampiaskan karena saat ini perempuan itu terperangkap, kalah kekuatan dan frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa.Aslan terkekeh melihatnya, tidak mempedulikan kemarahan di mata Mischa yang terang-terangan ditujukan kepadanya.


“Marah kepadaku, manusia? Marahlah semaumu, tidak akan ada gunanya.” bisik Aslan sambil menundukkan kepala, lalu menempatkan bibirnya untuk mengecup sisi telinga Mischa.“Karena sepertinya kau sudah sembuh, aku akan membantumu melepas perban ini. Tapi…” suara Aslan tertahan seiring dengan kecupannya yang semakin intens di sisi rahang Mischa. “Kau akan membantuku meredakan rasa nyeri ini terlebih dahulu,” bisik Aslan serak dengan suara penuh arti.



Aslan berguling perlahan dan berbaring di samping Mischa. Napasnya masih terengah, membuat dadanya naik turun berirama. Mata Aslan sendiri terpejam, masih larut dalam euforia yang membalut seluruh tubuhnya.


Setelah berhasil menguasai diri, Aslan melirik ke arah tubuh kurus di sampingnya.


Segera setelah Aslan melepaskan dirinya, Mischa langsung membalikkan badan, meraih selimut dan bergelung menghadap sisi yang berlawanan dengan diri Aslan seolah-olah tidak mau menatap Aslan.


Perempuan itu masih memberontak, melawan setengah mati dan membuat Aslan jengkel hingga menggeram dan terpaksa mencekal tangan Mischa.


Aslan ingin menunjukkan kuasanya, dia menggunakan seluruh keahliannya bercinta untuk menguasai Mischa, sayangnya sepertinya kekerasan hati Mischa lebih kuat dibandingkan segalanya, berkebalikan dengan Aslan yang sepertinya tergila-gila pada perempuan ini.


Asalkan itu adalah tubuh Mischa, sudah cukup bagi tubuhnya.


Asalkan itu Mischa?


Aslan mengerutkan kening ketika pikiran yang sama sekali tidak disangka itu mengalir begitu saja dari benaknya.


Dengan sengaja Aslan berusaha membayangkan wanita-wanita Zodijak yang dulu pernah menarik hasratnya dan menjadi teman tidurnya, sayangnya sekarang perasaannya berubah, dia tidak tertarik lagi pada mereka. Dia tidak mengingkinkan tubuh kuat yang mampu melayaninya dengan sama kuatnya, dia menginginkan Mischa dengan tubuh rapuhnya yang lembut dan hangat, melingkupinya hingga dia lupa diri.


Didorong oleh kekuatan primitif yang seolah terbangun dari dalam tubuhnya, Aslan menggerakkan tangan untuk menyentuh pundak Mischa.


Perempuan itu belum tertidur karena Aslan melihat bahwa tubuh Mischa tersentak karenanya.


“Aku akan membantumu melepaskan perban,” Aslan berucap tenang, mata gelapnya menusuk dalam ke pundak Mischa yang rapuh, terbuka karena selimutnya dicengkeram kuat-kuat oleh Mischa di bagian dada.


Seluruh tubuh Mischa menegang entah karena sentuhan Aslan, entah karena suara Aslan. Ketika berbicara nadanya terdengar tertekan.


“Aku bisa melepaskan perbanku sendiri. Terima kasih.”


Penolakan itu membuat Aslan murka. Dia tidak pernah ditolak sebelumnya apalagi saat ini ketika dia melunakkan hati dan mau sedikit merendahkan dirinya untuk membantu manusia rendahan yang tidak tahu terima kasih itu.


Dengan kasar dibalikkannya tubuh Mischa supaya menghadap ke arahnya. Mischa mengernyit ketika Aslan mendekatkan wajah ke wajahnya, membuat mata mereka begitu dekat hingga Mischa tidak bisa menghindar. Aslan sepertinya tahu bahwa Mischa merasa takut dengan matanya dan menggunakan hal itu untuk mengintimidasi dirinya.


“Itu bukan permintaan dan aku tidak menyediakan pilihan. Itu adalah perintah jadi kau harus melakukannya tanpa menolak. Ketika aku bilang aku akan membantumu melepaskan perban, itu kulakukan bukan karena aku peduli kepadamu. Aku hanya ingin tubuhmu sehat dan kuat untuk melayaniku setiap hari.” Aslan mendesiskan ancaman dalam suaranya. “Sekarang duduk dan diam selama aku berbaik hati merendahkan diri untuk membantumu!”


Ancaman itu mengena, Mischa menggigit bibir, lalu beringsut perlahan untuk menyingkirkan kedekatan Aslan dengan tubuhnya dan kali ini memilih menurut untuk duduk di pinggiran ranjang, tubuhnya kaku dan tegak seolah-olah mengantisipasi apa yang akan dilakukan oleh Aslan selanjutnya. `


Dengan sigap Aslan bangkit, meloncat turun dari ranjang, matanya melirik ke arah Mischa dan tahu bahwa wajah manusia perempuan itu merah padam menahan emosi.


Tangan Aslan terulur, mengangkat dagu Mischa untuk mendongakkannya sementara matanya mengawasi tajam ke arah perban di leher Mischa. Selama proses itu Mischa masih melemparkan pandangannya ke sudut ruangan, menolak menatapnya.


Jemari Aslan bergerak menyentuh perban Mischa dan Mischa mengernyit, sedikit beringsut secara refleks.


“Aku tidak akan menyakitimu,” Aslan mendesis dengan suara gusar sementara sebelah tangannya mencengkeram pundak Mischa dan menahannya supaya tidak bergerak. “Diam dan jangan bergerak sampai aku selesai,” ancamnya kasar.



Ini adalah versi sensor. Anda bisa melihat versi tanpa sensor (uncut) aslinya di projectsairaakira.com, Inevitable War Part 12.