
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )
Suara ledakan yang begitu besar membuat Mischa membuka matanya tiba-tiba, terbelalak dan menatap ke langit-langit ruangan.
Ledakan lagi. Kali ini bahkan lebih besar dari yang terakhir dialaminya ketika berada di istana milik para pemimpin Zodijak. Seluruh ruangan tampak bergetar sisa-sisa dari ledakan yang menciptakan getaran dahsyat yang terdengar menyeramkan itu.
Apa yang terjadi?
Mischa bahkan tidak sempat mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri itu karena matanya langsung tertuju ke langit-langit ruangan dimana pemandangan yang dilihatnya langsung membuatnya ketakutan.
Entah berada di mana dirinya berada sekarang, tetapi atap ruangan tempatnya sekarang tampak pecah akibat ledakan, dan pasir berwarna kecokelatan yang sangat banyak tampak mengalir dari sela-sela retakan atap itu, terus menerus mengalir dalam jumlah banyak hingga menciptakan gundukan pasir yang menumpuk di lantai.
Dan seakan hal itu belum cukup mengkhawatirkan, salah satu atap tiba-tiba rubuh jatuh ke bawah seolah tidak kuat menahan beban pasir yang tertumpah di atas mereka, menyisakan lubang yang menganga begitu besar dan memperbesar jumlah pasir yang memenuhi ruangan.
Mischa menatap gundukan pasir tersebut dan dorongan di dalam jiwanya langsung membuatnya meronta untuk melepaskan diri dari belenggu di tangannya. Kepanikan langsung melanda diri Mischa ketika dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu sia-sia.
Pergelangan tangannya terasa sakit, tetapi belenggu itu bahkan tidak bergeser sedikitpun untuk memberinya izin melepaskan diri, malahan memarnya makin terasa sakit.
Gundukan pasir itu tampak semakin meninggi seiring dengan besarnya volume yang diturunkannya ke tanah. Dan Mischa tahu, kalau dia tetap terjebak di ruangan ini, dia akan mati terkubur hidup-hidup oleh pasir yang membanjiri ruangan ini.
Mischa menoleh ke arah Natasha yang masih tak sadarkan diri. Tangannya kembali bergerak dan mengabaikan rasa sakit, ketakutan oleh kenyataan yang hampir pasti bahwa dirinya dan juga Natasha akan segera mati.
Apakah terjadi sesuatu pada markas musuh ini di luar kehendak Imhotep? Atau memang Imhotep sengaja melakukannya? Membunuh Mischa dan Natasha dengan cara mengubur mereka hidup-hidup?
“Tolong…” Mischa berusaha berteriak dengan suara lemah, dia kelaparan dan juga haus, tenggorokannya begitu sakit bahkan ketika dirinya berusaha untuk bersuara pelan. Tetapi saat ini rasa sakit yang dirasakannya bukanlah yang utama, Mischa harus berusaha meminta tolong meskipun tahu bahwa di tempat musuh seperti ini kemungkinan dirinya ditolong sangatlah kecil, Mischa masih memiliki harapan bahwa akan ada seseorang, siapapun itu yang datang untuk menyelamatkan dirinya dan Natasha.
Sambil meringis Mischa mencoba mengumpulkan kekuatan, membunuh rasa sakit yang menyiksa dari tenggorokannya dan menjerit sekuat dia bisa.
“Tolong! Tolong kami!” teriaknya sekuat tenaga.
Napas Mischa terengah menahan sakit, lalu entah kenapa, meskipun dia tahu bahwa kemungkinan baginya begitu kecil, dorongan dari dirinya tidak bisa menahannya untuk meneriakkan itu.
“Aslan! Aslan! Tolong!” teriaknya lagi sekeras dia bisa.
Ledakan sudah terjadi dan mereka belum berhasil menemukan Mischa serta Natasha, apalagi keluar dari markas ini.
Mereka harus keluar dari markas ini segera karena dilihat dari massivenya ledakan, kobaran api akan segera melalap tempat ini yang disusul oleh runtuhnya pasir dari permukaan yang akan menimbun mereka tanpa ampun.
Markas ini seperti labirin yang tak berujung, membuat mereka berputar-putar tanpa arah dan menyulitkan. Tetapi bagaimanapun sulitnya, sudah tentu Aslan tidak akan pergi tanpa Mischa.
Lalu teriakan itu terdengar oleh pendengaran Aslan yang tajam.
Suara Mischa. Perempuan itu memanggil namanya!
Secepat kilat Aslan langsung melesat maju, melompati reruntuhan, menembus hujan pasir dan gumpalan asap yang menghalangi. Tidak dia pedulikan seluruh rintangan yang ada di jalannya, Aslan bahkan menggunakan tubuhnya untuk menyingkirkan rintangan tersebut dengan membabi-buta, berusaha sekuat mungkin berlari ke arah suara Mischa yang didengarnya.
Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya menuju ke tempat Mischa berada dan menyelamatkannya. Menyelamatkan istri dan anaknya.
Aslan menghentikan langkah mendadak ketika pintu itu menghalangi langkahnya, membentang tepat di depan mata.
Pintu itu terbuat dari baja yang sangat tebal, berlapis batu lonsdaleite yang sangat kuat dan susah ditembus. Dan saat ini pintu tersebut tampak membara, terbakar oleh api hasil ledakan yang mengerikan, menciptakan aura panas menusuk yang menguar ke udara.
Tidak ada gagang pintu, apalagi celah untuk mencoba masuk. Yang tersisa hanyalah tombol pin otomatis di samping pintu yang sekarang sudah meleleh habis terbakar api. Pintu ini dirancang hanya bisa dibuka dengan menggunakan pin khusus yang diprogram dengan canggih, tetapi cara itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang.
Satu-satunya cara adalah menggunakan kekuatan untuk mendobrak pintu tersebut.Mischa ada di balik pintu besar yang tertutup rapat ini.
Entah kenapa meskipun sekarang suara Mischa sudah tidak terdengar lagi, Aslan sangat yakin Mischa ada di sana.
Tanpa pikir panjang, Aslan langsung menendang pintu itu, sayangnya pintu tersebut sangat keras dan dirancang tidak bisa rubuh hanya dengan sekali dobrakan. Pada saat yang sama, Akrep datang menyusul di belakang, lalu hanya lewat isyarat kata, berama-sama Akrep dan Aslan langsung mendorongkan tubuh mereka, menghantam keras untuk mendobrak pintu yang tertutup rapat tersebut.
Panas membakar meliputi tubuh mereka. Meskipun pakaian berperang yang digunakan oleh Aslan dan Akrep tahan api dan kulit mereka begitu keras hingga bisa menahan hawa panas sampai beberapa derajat lebih tinggi dari kaum manusia, tetap saja mereka tidak mati rasa. Indera mereka tetap mengirimkan sinyal panas yang harus diwaspadai, karena pada titik tertentu, ada batas kekuatan dimana kulit bangsa Zodijak sampai di batas kekuatannya dan bisa membuat mereka mati terbakar.
Beberapa dorongan tidak berhasil, biasanya Bangsa Zodijak sangat kuat dan mampu menghantam bangunan apapapun buatan bumi dengan mudah. Tetapi lapisan batu lonsdaleite yang lebih kuat dari berlian terkuat di bumi sekalipun menghalangi mereka. Batu ini begitu padat, hampir tak berongga dan susah dihancurkan dan seluruh bagian pintu tersebut dilapisi oleh batu ini sehingga hampir mustahil untuk dirubuhkan selain menggunakan peralatan berat khusus milik Bangsa Zodijak.
Aslan menggertakkan gigi, tahu bahwa di situasi genting seperti ini, dia harus bergerak cepat sebelum terlambat. Perlahan dia mengirup napas panjang, mengumpulkan kekuatan di seluruh otot tubuhnya dan kemudian bergerak mendorong, mendobrak sekuat dia bisa dengan seluruh tenaganya, tidak dipedulikannya kemungkinan cedera di tubuh yang mungkin menghantui akibat benturan keras yang terjadi. Sementara itu, Akrep yang berada di sebelahnya, membantu dengan dorongan kuat yang sama.
Usaha mereka ini akhirnya membuahkan hasil. Suara berderak terdengar seiring dengan gemeretak api yang membakar dan kemudian sebuah celah terbuka setelah pintu itu berhasil didorong mundur beberapa senti.
Aslan tidak membuang-buang waktu, sekuat tenaga ditendangnya pintu itu, berusaha membuka jalan untuknya masuk.
Dan beruntung setelah satu celah terbuka, pintu itu dengan mudahnya bisa didorong mundur hingga terbuka lebar.
Mata Aslan memindai nyalang ke sebuah ruangan tertutup yang sepertinya digunakan sebagai ruang laboratorium atau penelitian. Hawa dingin menerpa mereka seiring dengan pintu yang terbuka, kontras dengan api yang membakar hebat di bagian luar.
Ruangan ini sudah pasti digunakan untuk penyimpanan benda khusus yang membutuhkan suhu dingin.
Suhu dingin itu cukup membantu karena tampak bahwa ruangan ini tidak menderita kerusakan parah akibat kebakaran hebat seperti yang terjadi di bagian luar. Tetapi atap ruangan itu roboh, menciptakan lubang yang semakin lama semakin besar karena tak kuat menahan tumpahan pasir yang menggunung dari bagian atasnya.
Tumpahan pasir itu sudah menutupi sebatas lutut dan pandangan Aslan melebar ketika melihat dua tempat tidur serupa ranjang periksa di rumah sakit yang penuh dengan buliran pasir.
Sosok yang berada di atasnya itulah yang menarik perhatiannya.
Mischa!