
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Ketika Aslan memasuki ruangan diikuti oleh Khar, dia melihat bahwa Mischa sudah dibaringkan di atas ranjang besar milik Aslan dan sedang tertidur. Napasnya tampak terengah sementara Yesil berdiri di tepi ranjang mengawasi.
Ada Akrep dan Sevgil di sana, tetapi Kaza tidak tampak batang hidungnya, lelaki itu sepertinya memilih bertindak bijaksana dengan menghindari Mischa beserta Aslan yang sudah seperti satu paket.
“Aku sudah memberinya obat untuk menurunkan demamnya,” Yesil menoleh dengan prihatin ke arah Aslan. “Luka di lehernya menjadi penyebab demamnya meninggi dan mungkin juga dia kelelahan sehingga daya tahan tubuhnya menurun.”
“Tinggalkan kami sendiri,” Aslan sama sekali tidak menanggapi perkataan Yesil dan menggeramkan perintah.
Yesil menoleh ke arah Akrep meminta pendapat, tapi Akrep hanya mengangkat bahu, tidak mau membantah dan membuat Aslan meledak kali ini.
Akrep memberi isyarat dengan matanya bahwa sebaiknya mereka semua mengikuti perintah Aslan dan meninggalkan Aslan berdua saja dengan pengantinnya.
Tapi Yesil sepertinya memiliki pikiran lain, matanya melirik cemas ke arah Mischa yang kondisinya tampak kepayahan. Setidaknya Aslan harus dinasehati untuk menahan diri dan tidak membuat kondisi Mischa semakin parah.
“Mischa keluar untuk mencari air, ketika aku menemukannya dia sudah setengah tidak sadarkan diri, dia mengerang terus menerus untuk meminta air. Dia pasti terbangun dalam kondisi demam dan kehausan karena tidak ada air yang disediakan. Kurasa dia berusaha menemukan air tapi malahan tersesat ke area prajurit,” Yesil berucap perlahan sementara matanya menelusuri ekspresi Aslan yang tak terbaca. “Ini ketidaksengajaan, Aslan. Kau tidak boleh melampiaskan kemarahanmu kepadanya.”
Perkataan itu membuat Aslan menyeringai dan melemparkan tatapan marah ke arah Yesil.
“Tadi Khar dan sekarang kau, Yesil,” desisnya dengan nada sinis. “Kenapa aku merasa kalian semua menggalang kekuatan untuk melindungi manusia perempuan ini dariku?” tanyanya dengan nada marah sementara matanya memandang saudara-saudaranya itu satu persatu. “Keluar dari kamar ini. Mischa adalah istriku dan apapun yang akan kulakukan kepadanya, entah aku akan menghajarnya atau mungkin membunuhnya, itu adalah urusanku,” geramnya kemudian.
Mischa masih belum sadarkan diri juga, padahal ini sudah berjam-jam lamanya.
Aslan sendiri menghabiskan waktunya untuk mondar mandir di sekeliling kamar dengan gelisah sementara sedikit-sedikit matanya melirik ke arah Mischa, menanti tanda-tanda kesadaran diri perempuan itu.
Obat apa yang diberikan Yesil kepada Mischa hingga membuatnya tidur selama itu?
Manusia perempuan ini telah membuatnya tertahan hingga tidak bisa berangkat berperang seperti yang dilakukan saudara-saudaranya yang lain. Alih-alih menjalankan kesukaannya untuk menghancurkan dan menghabisi musuh, dirinya malahan terjebak di sini, menunggu untuk memastikan kondisi Mischa.
Yesil tentu saja telah menawarkan diri untuk merawat Mischa, tetapi dengan tegas Aslan menolaknya. Jika Mischa dirawat Yesil maka manusia perempuan ini akan dirawat di area Yesil, jauh dari jangkauannya. Dan karena Kara juga dirawat di sana, kemungkinan besar mereka akan menjalani pemulihan bersama-sama.
Aslan tidak suka membayangkan itu, dia ingin Mischa berada dalam kuasa dan pengawasannya entah dalam kondisi sakit ataupun sehat.
Langkah Aslan terhenti dan dia memutuskan untuk mendekat ke arah Mischa. Sedikit ragu dirinya berdiri di sisi ranjang tempat Mischa berbaring, seolah bingung hendak melakukan apa.
Setelah lama, Aslan akhirnya memutuskan duduk di tepi ranjang sementara matanya yang legam menatap tajam ke arah Mischa, menelusuri setidap detailnya dengan seksama.Mischa masih tampak kepayahan.
Napas perempuan itu terengah dilihat dari gerakan naik turun dadanya yang dalam, dan pipinya tampak kemerahan. Tapi berbanding terbalik dengan panas yang dideritanya, tubuh Mischa tampak menggigil, bergelung tersiksa di balik selimut yang membungkus tubuhnya.
Yesil telah memerintahkan supaya selimut tebal Mischa diganti dengan yang lebih tipis karena selimut tebal hanya akan berimbas menaikkan suhu tubuh Mischa. Sebagai akibatnya, Mischa harus menahan dingin menggigit yang melingkupi tubuhnya.Aslan menelan ludah dengan ragu, tapi akhirnya menggerakkan tangannya juga untuk menyentuh dahi Mischa.
Pertama tertahan dan tidak menempel, tapi pada akhirnya Aslan menempelkan telapak tangannya yang besar ke dahi Mischa dan menangkupnya.
Suhu tubuh mereka berlawanan, tangan Aslan yang sejuk menyentuh kulit dahi Mischa yang panas membakar, dan Aslan tidak mengangkat tangannya, seolah dengan begitu dia bisa menyerap panas tubuh Mischa ke tangannya.
Mischa menggerakkan kepala akibat sentuhan itu, bulu matanya mengerjap sebelum kemudian membuka perlahan. Mata itu tampak berkabut seolah-olah kesadaran Mischa belum sepenuhnya kembali dan perempuan itu tidak mengenalinya.Bibir Mischa bergetar, lalu membuka dengan susah payah.
“Air…,” pintanya dengan suara serak.
Mata Aslan langsung menangkap poci berisi air yang terletak di meja samping ranjang. Dirinya bergegas bangun, melepaskan pegangannya dari dahi Mischa dan melangkah ke depan meja, menuangkan air itu dengan sigap ke atas gelas kecil.
Aslan membalikkan tubuhnya ke arah Mischa dan berdiri meragu di tepi ranjang. Pada akhirnya dia mendecakkan lidah dengan kesal sebelum menggunakan sebelah lengannya menyusup ke belakang punggung Mischa, mencoba mendudukkannya.
Aslan akhirnya berhasil mendudukkan Mischa dengan dirinya ikut duduk dengan kaki lurus di atas ranjang dan punggungnya bersandar di kepala ranjang. Dia membuat kepala Mischa bersandar di sisi dadanya sementara lengan Aslan membentang di belakang Mischa, lalu mendekatkan gelas itu ke bibir Mischa.
“Minum,” bisiknya dengan suara memerintah yang kental.
Mischa menurut karena perempuan itu tampaknya kehausan. Tangan Mischa yang lunglai dan gemetaran bahkan terangkat dan menangkup jemari Aslan yang sedang memegang gelas, terasa begitu panas membakar di tangan Aslan. Bibir Mischa terbuka dan meneguk air itu dengan rakus.
“Pelan-pelan,” Aslan memerintah dengan suara tegas ketika Mischa mulai terbatuk-batuk.
Mischa menurut dan meneguk air itu perlahan, membiarkannya membasahi tenggorokan, ditandaskannya air di dalam gelas itu sampai habis dan setelahnya kepala Mischa terkulai lemah di dada Aslan sementara napasnya masih terengah kepayahan.
Aslan meletakkan gelas itu dengan sebelah tangan, lalu jemarinya bergerak untuk mengusap bibir Mischa yang basah akibat tumpahan air yang diminumnya.
Aslan menundukkan kepala, menyadari bahwa perempuan itu sudah hampir kehilangan kesadaranya lagi. Kepala Mischa terkulai pasrah di dadanya sementara tubuhnya meringkuk di bawah lengan Aslan, seolah mencari kehangatan untuk tubuhnya yang menggigil kedinginan
Kalau dalam keadaan sadar, perempuan ini sudah pasti tidak akan sepasrah ini di dalam pelukannya. Aslan menyeringai dengan penuh ironi ketika menyadari kenyataan itu.
Pada akhirnya Aslan tetap terdiam, membiarkan Mischa kembali terbawa ke alam mimpi, tidak keberatan membiarkan perempuan itu beristirahat di dalam pelukannya.
Kepala Mischa makin terkulai dan terkantuk-kantuk di lengannya, membuat Aslan tanpa sadar menggerakkan tangan untuk mendorong kepala Mischa supaya kepala perempuan itu bersandar dengan nyaman di dadanya.
“Terima kasih,” suara Mischa terdengar serak perlahan dipenuhi ketidaksadaran sementara tanpa disangka-sangka sebelah tangan perempuan itu bergerak melingkar di dada Aslan dan memeluk Aslan rapat.
Aslan tertegun sementara kepalanya menunduk, menatap tak percaya pada tangan kurus yang memeluknya. Sekarang dia benar-benar bisa memastikan bahwa Mischa tidak sepenuhnya sadar, perempuan itu mungkin menganggapnya orang lain.
Siapa?
Pertanyaan itu muncul di benak Aslan.
Apakah Kara? Apakah Mischa berpelukan dengan Kara ketika tidur dan mengucapkan terima kasih kepada Kara sebelum tidur?
Kesimpulan itu membuat Aslan menggertakkan gigi menahan kemarahan dan membuat dadanya terasa panas.
“Ayah…,” Mischa seolah tidak peduli dengan kemarahan yang bergolak di dada Aslan, perempuan itu malahan mendesakkan kepalanya dengan sikap kekanak-kanakan di dada Aslan, memiringkan tubuh dan bersikap seperti anak kecil yang manja dengan menumpangkan tangan serta kakinya di tubuh Aslan, memperlakukan Aslan selayaknya guling hangat yang enak dipeluk.
Kemarahan Aslan langsung surut ketika mendengar ucapan Mischa.
Ayah? Apakah Mischa mengira sedang dipeluk ayahnya?
Tiba-tiba saja Aslan menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak pernah berusaha untuk mencari tahu tentang asal usul Mischa sebelumnya, dia bahkan tidak pernah bertanya-tanya sebelumnya darimana Mischa berasal, enapa perempuan itu bisa terdampar bersama kaum penyelinap tanpa keluarga? Apakah Mischa terpisah dari keluarganya? Ataukah perempuan ini kehilangan keluarganya dalam perang?
Ayah yang dipanggil oleh Mischa ini… apakah masih hidup ataukah sudah meninggal?
Aslan tiba-tiba teringat akan perkataan Yesil mengenai usaha mengorek informasi dari Mischa dan tiba-tiba merasa perlu untuk menyetujuinya. Nanti.
Setelah Mischa sembuh dia akan memikirkan kembali kemungkinan itu.
Aslan melirik ke arah selimut di pinggang Mischa dan menggunakan sebelah tangannya untuk menarik selimut itu dan membungkuskannya di bahu Mischa.
Perempuan itu bergerak sedikit dalam senyum dan semakin bergelung di dalam pelukannya sementara tangan dan kaki Mischa semakin erat membelit Aslan seolah-olah bergantung kepadanya.
Aslan entah kenapa tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum ironis. Membayangkan seandainya saja ada orang lain melihatnya dalam posisi seperti ini, setengah duduk di atas ranjang dalam posisi tidak nyaman sementara ada manusia perempuan yang memerangkapnya dengan tangan dan kakinya yang kurus, membuatnya tidak bisa bergerak.
Bukan tidak bisa bergerak, tapi tidak mau bergerak, karena Aslan, entah kenapa sama sekali tidak keberatan dengan posisi ini.
Sebelah tangan Aslan bergerak mengusap rambut Mischa dengan lembut, membuat tubuh Mischa semakin santai bersandar padanya seolah tulang-tulangnya dilolosi dalam kenyamanan yang menenangkan. Tangan Aslan lalu bergerak turun, menelusuri pundak Mischa, turun ke punggungnya dengan gerakan lembut memanjakan.
Napas Mischa terdengar teratur, lebih lembut dan tidak terengah-engah seperti tadi dan kepala Mischa terasa semakin berat bersandar kepadanya. Aslan menggerakkan jemarinya dan membiarkannya terlilit di rambut Mischa nan lembut dan hal itu membuat Mischa menghembuskan napas panjang dalam senyum, menunjukkan kenyamanan.
Perempuan itu benar-benar telah jatuh dalam tidur lelap, kali ini tidur yang tenang dan tidak menahan sakit seperti tadi.
Aslan tanpa sadar tersenyum, merasakan lengan dan paha Mischa yang melingkari tubuhnya dengan erat.
Rasanya sedikit mengejutkan, tetapi dia bisa menerimanya.
Aslan menyukai posisi ini. Bahkan sensasi yang dirasakan oleh jari-jarinya ketika bergelung di kelembutan rambut Mischa terasa menyenangkan, sebuah rasa baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.
Perasaan damai.